Kejanggaan

1529 Words
Baiklah, mulai dari sekarang kita update setiap hari! *** Hari-hari berlalu dengan segala hal yang semakin terlihat baik-baik saja. Rainy sudah berhasil berusaha mempercayakan hatinya untuk Ardan, meskipun dia masih tak yakin-yakin. Trias dan Astri yang baru seminggu yang lalu jadian pun semakin lengket, walaupun isi kehidupan mereka berdua hanyalah bertengkar dan adu mulut. Seperti saat ini, pasangan tersebut sedang saling melemparkan delikkan mata. Hal itu dikarenakan perbuatan Trias yang justru menggoda Mira. Sengaja, ingin membuat Astri panas karenanya. “DAH LAH, RAIN, KITA PULANG AJA!” teriak Astri yang sukses membuat semua mata memandang ke arahnya. “SEPET LAMA-LAMA DI SINI!” sambungnya, lalu menarik tangan Rainy yang kebingungan. “Eh, jangan narik-narik Rainy!” seru Ardan. Astri mendelik dan membesarkan matanya ke arah Ardan. “APA!?” Ardan langsung kicep, entah kenapa akhir-akhir ini ia selalu dibuat diam seribu bahasa oleh Astri. “Eng … enggak … enggak ….” “Tri, sabar …,” ujar Rainy. “Enggak bisa sabar, Rain. Atau, kalau kamu masih mau di sini, aku pulang sendiri!” sungut Astri, lalu berlari tergesa keluar dari kelas mereka. “Tri!” panggil Rainy yang sama sekali tidak digubris oleh sahabatnya tersebut. Rainy mengembuskan napasnya, sepertinya Trias belum mengerti sikap Astri yang seperti ini. Dan sekarang laki-laki itu justru dengan tenangnya mengobrol bersama Arga dan Wahyu tanpa mempedulikan kekasihnya yang sedang merajuk. Melihat itu, Mira hanya tersenyum sinis. “Trias!” sergah Rainy. Mereka semua kaget karena tidak pernah mendengar Rainy menyergah seperti itu. “Apa, Rain?” balas Trias tak acuh. Rainy membuang napasnya kasar. “Saya kasih tahu, ya, sama kamu. Astri adalah perempuan yang hobinya merajuk, apa-apa jadi bahan untuk dia merajuk. Saya harap kamu mengerti, sekarang saya yakin dia sedang menangis dan memikirkan banyak hal, apalagi hal buruk, hal negatif atas apa yang kamu lakukan barusan,” ujarnya panjang. Trias memutar bola matanya, “Iya, tapi ‘kan ….” “Enggak ada satupun perempuan yang pengin dipermainkan, Trias, walaupun kamu main-main tetap saja perempuan merasa dipermainkan,” sanggah Rainy. Ia geram saat melihat laki-laki yang berperilaku seperti tidak menghargai perempuan. “Kalau memang pada akhirnya kamu mau mempermainkan sahabat saya, lebih baik kamu enggak perlu memulai.” “Apalagi mempermainkan dengan cara menggoda wanita lain di depan pacarnya sendiri, apalagi kalian baru jadian seminggu, Tri. Dea heran,” sambung Dea. “Dan, wanita yang digoda pun senang-senang saja. Apa enggak mikir kalau kalian itu sama-sama wanita?” sembur Kinan. Ia juga kesal dengan kejadian seperti ini. “MAKSUD LO APA!?” sergah Mira. “LAGIAN JADI CEWEK KOK AMBEKAN BANGET! UDAH GEDE KALI!” sambungnya. “LAGIAN JADI CEWEK KOK MURAHAN BANGET, ENGGAK PUNYA OTAK KALI!” sambar Kinan. Mira berdiri dan mendekat ke arah Kinan, bersiap untuk mendorongnya. “Lo bisa nyantai, enggak?” tanyanya seraya mendorong Kinan. “Yang enggak bisa nyantai sama enggak punya otak itu lo!” balas Kinan. Mira membelalakkan matanya, “Terus maksud lo, lo punya otak, hah?” tanyanya kencang. “Lagian si Astri udah gede kali, hubungannya enggak harus dibuat banyak drama kayak anak kecil begini kali!” sambungnya. Kinan memicing, kemudian tertawa sumbang. “Lagian kalau cewek murahan mah enggak bakal tahu tentang perasaan perempuan lain, sih!” “MULUT LO PEDAS BANGET, ANJING!” “HEH, LO HARUSNYA SADAR KALAU HIDUP LO ITU BANYAK BANGET DRAMANYA!” “Eh udah woi, berhenti!” ujar Trias. “Masalah gue kok kalian pada heboh, sih?” “Karena lo enggak punya otak!” sahut Tuti. “Eh, Kambing, lo enggak mau ngejar Astri?” tanya Arga yang melihat Trias hanya diam saja dari tadi. “Ya udah, gue kejar deh!” “Dih, begonya permanen tuh orang,” ucap Wahyu seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. *** Astri sudah menangis, baginya apa yang barusan diperbuat Trias adalah hal menyakitkan. Mungkin, jika perempuan yang digoda kekasihnya tersebut bukan Mira, ia tak akan sesakit hati ini. Namun itu Mira, perempuan yang ia benci setengah mati atas perbuatannya untuk Rainy. Perempuan yang sudah ia masukkan ke daftar gelap orang-orang yang ada di hidupnya. Sekarang Astri lebih memilih untuk memberhentikan sepedanya di salah satu kedai jus yang ada di Jalan Anyelir, memesan jus buah naga kesukaannya. Dengan tujuan untuk mendinginkan kepala dan hatinya yang panas. Lagi pula, kenapa Trias itu menjadi sebodoh itu berbuat untuk memancing emosinya? “Hai ….” Astri mendongakkan kepalanya, sekarang sudah ada Trias di hadapannya. Ia lebih memilih untuk menatap ke arah jalan, lalu beralih ke blender yang digunakan oleh Ibu Tukang Jus, dibandingkan dengan memandangi muka tengil Trias yang sangat ingin ia jambak. “Tri, gue enggak tahu gimana cara yang bener buat minta maaf,” ujar Trias. Astri memutar bola matanya, “Terus ngapain ke sini? Pulang aja sana!” usirnya. “Gue juga mau pesan jus.” Astri sekarang benar-benar ingin menimpuk Trias dengan kamus lima ratus halaman yang ada di tasnya. Laki-laki yang sudah berstatus menjadi kekasihnya ini memang keterlaluan minta ampun. Dengan teganya dia berkata seperti itu. Astri sudah menggenggam kamusnya. “Eh, iya, Sayang! Jangan ditimpuk!” seru Trias, ia mencoba melindungi kepalanya dengan tangan jika tiba-tiba saja tragedi penimpukkan itu terjadi. “Dah lah, sana pulang!” sungut Astri. “Tapi gue enggak mau.” “Ya sudah, terserah.” Astri memalingkan mukanya. “Sayang …,” panggil Trias seraya mengelus wajah Astri dan membawanya untuk kembali melihatnya. “Gue emang keterlaluan banget, ya, Tri? Enggak ada otak emang mancing-mancing begitu, maaf, ya?” ujar Trias tulus, ada guratan penyesalan di matanya. “Iya.” “Apa?” “Sudah dimaafin.” “Kok cepet banget? Enggak mau dibujuk dulu?” “Ah, gelap!” seru Astri. Ia mengembuskan napasnya kencang-kencang. “Makasih, ya, Tri.” Trias mengembangkan senyumnya. “Gue sayang banget sama lo, meski lo keterlaluan cerewetnya. Gue juga sadar kalo gue juga keterlaluan jailin lo.” “SADAR!” bentak Astri, lalu mereka sama-sama tertawa. *** Rainy mengendarai sepedanya keluar dari Jalan Anyelir, ia ingin pergi ke Al Amin, salah satu swalayan yang ada di Jalan Brawijaya. Ia ingin membeli sabun cuci dan alat mandinya yang beberapa sudah hampir habis, sekalian membeli cemilan untuk merampungkan naskahnya nanti malam. Gadis itu mengambil jalan ke kiri dari ruang kelas mereka, lalu ketika ada simpang empat, belok kiri lagi. Saat kayuhan sepedanya sudah sampai di Jalan Brawijaya, dia belokkan sepedanya ke kiri dan lurus terus hingga ke Al Amin. Hari ini Astri merajuk dengan Trias, sehingga tidak bisa menemaninya ke swalayan. Ardan juga, ada target yang harus ia selesaikan katanya, laki-laki itu sangat menyesal karena tidak bisa menemani Rainy. Padahal Rainy bersikap biasa-biasa saja, dia sudah sering sendirian. Jalan Brawijaya selalu ramai, dibisingi oleh suara klakson mobil dan motor yang bersahut-sahutan. Tak kalah banyak juga putaran sepeda yang berada di pinggir jalan. Melewati bermacam-macam toko yang isinya juga bervariasi. Ada toko buku, dengan nama hingga bagian empat dan lima, seperti toko buku Berkah. Di Jalan Anyelir ada Berkah 1, lalu di Dahlia ada Berkah 2, begitu seterusnya. Selain itu, toko yang paling menjamur di lingkungan Kampung Inggris ialah toko yang menjual makanan. Mulai dari makanan yang berkuah hingga ke makanan yang kering kerontang. Primadona di daerah ini ialah nasi pecel. Dengan harga lima ribu rupiah sudah cukup membuat kenyang yang mengonsumsinya hingga bertahan selama lima jam. Ada juga gerai yang menyediakan foto studio dengan bermacam-macam paket dan harga. Saat Rainy dan teman-teman kelasnya sudah melewate fase dua minggu pertama, sebelum mereka ke Blitar, mereka memilih berfoto di salah satu gerai foto tersebut. Mereka memilih berfoto di ujung Jalan Brawijaya, dekat persimpangan menuju Masjid Agung Pare. Ciri khas gerai foto tersebut ialah Bapak yang memotonya akan berteriak sebagai kode mereka untuk berganti gaya. Rainy tersenyum saat mengingat itu. Tak hanya ada toko buku, gerai makanan atau gerai foto studio, di Jalan Briwijaya juga terdapat toko-toko yang menjajakan baju dan jilbab, oleh-oleh khas Pare, souvenir khas Pare dan pernak-pernik lainnya. Souvenir khas Pare biasanya adalah baju yang bertuliskan “Kampung Inggris, Pare”, “Pare Menyimpan Kenangan” dan masih banyak tulisan lainnya. Rainy memilih berhenti di salah satu toko pusat oleh-oleh tersebut, yang bernamakan “Era Pare”. Padahal di depan asramanya terdapat toko tersebut, bahkan dengan nama yang sama. Namun, ia lebih memilih untuk berhenti di Era Pare Jalan Brawijaya. Menstandar sepedanya dan memilih masuk. Tidak cukup ramai, sehingga ia akan lebih leluasa untuk melihat. Mata Rainy menangkap sesosok laki-laki yang cukup tinggi, sedang memakai hoddie hitam yang berdiri dekat dengan tempat asbak dan bingkai-bingkai yang ada tanda nama Parenya. Laki-laki itu nampak sedang memilih-milih pernak-pernik untuk oleh-olehnya. Rainya hanya mengedikkan bahunya, tidak peduli. Ia lebih memilih untuk ke outlet baju-baju. Melihat baju-baju kaos yang dituliskan macam-macam kalimat. Sedang asyik memilih, Rainy menangkap pergerakkan laki-laki tadi yang membayar ke kasir, lalu keluar. BRUK! “Maaf ….” Laki-laki itu menyenggol bahu Rainy tanpa sengaja, lalu pergi dengan begitu saja. Namun Rainy menegang, bukan karena ia marah atau kesal ditabrak seperti itu. Namun, suara itu ialah suara yang sudah lama terekam di otaknya. Ia mengenali dengan baik tubuh seseorang yang baru saja menyenggolnya. “Bayu ….” *** Terima kasih karena sudah membaca cerita ini. Salam sayang, Rumy
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD