Rainy tak menceritakan apa yang kemarin ia alami dengan Astri, dirinya mencoba untuk melupakan hal tersebut. Siapa tahu itu hanya wujud dari perasaannya yang akhir-akhir ini sering diaduk dengan banyak kejutan. Siang ini, dia dan Astri sedang ingin membeli sempol dan macaroni telor yang berada tak jauh dari asrama mereka. Sempol dan macaroni telor yang enak sekali, menurut mereka.
“Rain ….”
Rainy menegang, ia mengenali betul suara itu. Suara yang selama ini hilang dari peredarannya, sekarang kembali terdengar. Rainy menoleh ke arah sumber suara, dan napasnya seketika tertahan.
“Ini benar-benar kamu, Rain! Sudah lama aku enggak ketemu sama kamu. Aku … aku … aku kangen banget sama kamu, Rain.”
Mata Rainy memanas seketika mendengar penuturan laki-laki yang ada di hadapannya ini.
“Kamu apa kabar? Aku enggak nyangka kita malah bertemu di Pare.”
Apa yang ia temui kemarin itu benar-benar Bayu?
Rainy menggeleng keras, Astri di sampingnya juga tidak kalah terkejutnya. Seketika memori lama itu menguar lagi dan kembali menjadi pahit yang tak terkira. Berulang kali semesta lagi-lagi memaksanya untuk kembali pada rasa sakit yang menyedihkan. Bayangan pertama kali mereka kenalan, dekat dan memutuskan untuk berpacaran, hidup sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai, lalu dengan teganya ia ditinggalkan. Bayangan tentang Marun dan Senja juga masuk ke dalam benaknya.
“Rain ….” Laki-laki itu melambaikan tangannya di depan wajah Rainy. “Kenapa bengong?” tanyanya. “Kamu baik-baik saja selama ini, ‘kan?”
Astri menggeram, ingin ia bersuara untuk mewakili suara sahabatnya. Namun, suara itu tercekat saat melihat perubahan ekspresi wajah dan kondisi Rainy yang tiba-tiba menegang. Lagi pula, Bayu sungguh aneh saat memastikan Rainy baik-baik saja, padahal tiga tahun lalu ialah yang membuat Rainy berada dalam posisi terburuk di hidupnya.
“Baik-baik saja katamu?”
Rainy menggeleng keras sekali lagi. Kenapa saat dia sudah hampir saja berhasil melupakan dengan level tertinggi yaitu mengikhlaskan, bayangan masa lalunya justru kembali hadir dan saat ini ada di hadapannya? Apa semesta memang begitu tega tidak memperbolehkan dia berdamai dengan masa lalu yang sudah belajar ia terima dengan baik? Kenapa semesta justru memunculkan lagi orang yang selama ini sangat ingin ia lenyapkan dari hidupnya? Apa semesta memang tidak ingin melihat dia bahagia?
“Kandungan kamu, anak kita bagaimana, Rain?”
PLAK!
Satu tamparan mendarat di wajah Bayu yang mulus. Tamparan yang mewakili kesakitan yang selama ini Rainy rasakan. Tamparan penuh emosi yang selama ini ia tahan. Belum sepenuhnya, karena energinya sudah terkuras habis saat suara laki-laki itu masuk ke telinganya. Ingin rasanya dia terduduk di lantai dan menangis meraung-raung, tapi dirinya berusaha untuk menahan rasa sakit itu. Rainy mengambil napas dan mengembuskannya berkali-kali, berusaha untuk meredamkan segala amarah yang menguar.
“Rain … maaf untuk ….”
PLAK!
Satu tamparan lagi mendarat di wajah Bayu, tamparan yang lebih kencang dengan rasa sakit yang lebih dalam. Rainy sudah tenggelam dalam air mata yang sudah bersusah payah ia tahan. Namun, air mata itu mendesak keluar, membuatnya terisak, dia luruh bersamaan dengan perasaan Rainy yang pilu. Ia hanya menatap nanar pada wajah laki-laki yang pernah menjadi bagian paling penting di hidupnya itu.
Rainy memeluk tubuhnya sendiri, seperti yang selama ini ia lakukan. Memeluk semua rasa sakit yang selama ini menimpanya tanpa henti, tanpa ampun dan tanpa tapi. Mukanya meringis, tangannya mengeram, hatinya susah payah dia redam agar tidak meledak. Ia menangis sesenggukan, menahan diri agar tetap bisa bernapas di tengah sesak yang menimpa dadanya, serasa memberhentikan kerja saluran pernapasannya.
Bayu memegang kedua bahu Rainy, yang membuat gadis itu semakin ingin menerjangnya. “Rain, dengarkan aku, bisa?” ujarnya.
Rainy menggeleng keras, lalu melepaskan tubuhnya dari cengkraman Bayu. Berlari meninggalkan laki-laki yang berteriak memanggil namanya.
“Rain, tunggu dulu!”
Laki-laki itu berhasil menggapai tangannya. Dan, dengan sekuat tenaga ia menghentakkan tangan. Melepaskan kulitnya dari sentuhan laki-laki jahat yang pernah menjadi begitu berharga. Berlari dan berusaha meninggalkan rasa sakit yang selama ini Rainy kumpulkan, tetapi rasa sakit itu masih saja membuntutinya.
Bayu berusaha mengejar Rainy, tetapi tangan Astri mencegahnya. Ia menoleh dengan penuh tanda tanya ke arah Astri. “Tri, lepas!” sergahnya.
Astri membesarkan matanya, “Lo diem!” ujarnya seraya menggeleng. Bayu hanya menatapnya nanar.
“Gue enggak tahu gimana rasa sakit yang selama ini Rainy rasain saat lo dengan bijaknya pergi meninggalkan dia bersama dengan kandungannya, meninggalkan dia saat satu hari lagi pernikahan kalian digelar. Gue enggak bisa membayangkan betapa hancurnya seorang gadis yang baru berumur tujuh belas tahun, ditinggalkan, dikucilkan, dibenci bahkan dengan keluarganya sendiri.” Astri menarik napasnya yang terengah-engah.
Kemudian Astri memijit keningnya, pening. “Dan sekarang, lo datang dengan entengnya menanyakan kabar Rainy? Ngotak, Bay!” teriaknya. “Lo enggak bisa seenaknya lagi memperlakukan dia.”
“Astri, please, saat itu gue benar-benar takut dan labil, gue ….”
“APA LO PIKIR RAINY ENGGAK TAKUT? APA LO PIKIR RAINY SAAT ITU DALAM KEADAAN STABIL, HAH!” teriak Astri. “APA LO ENGGAK MIKIR KALO RAIN BISA AJA BUNUH DIRI KARENA SAKING FRUSTASINYA, HAH?”
Dada Astri menderu, detak jantungnya memburu. Membayangkan betapa hancurnya posisi Rainy tiga tahun lalu sungguh sangat memanggil emosinya hingga sampai ke ubun-ubun. “Lo pikir pakai otak lo, kalaupun lo masih bisa memungsikan otak lo dengan baik. Saat itu, Rainy berumur tujuh belas tahun, dengan semangatnya mendaftar kuliah, lalu tiba-tiba dia tahu bahwa dia hamil. Hamil anak lo, Bay! ANAK LO!”
Astri tidak bisa lagi menahan emosinya, ia berteriak seraya meredam tangisnya. Dia juga tidak memedulikan lagi tatapan orang-orang yang terfokus dengannya.
“Okay, dia mencoba berdamai, menarik napasnya berulang-kali, meskipun yang dia dapatkan hanyalah sesak dan sakit yang bertubi-tubi, mencoba berpikir dengan tenang, minta pertanggung jawaban sama lo. Ngajak lo buat ngadap ke bokap dan nyokap dia, minta nikah! Kalau dia enggak mikir, mungkin dia udah bunuh diri, Gila!”
“Lo enggak ngerti, Tri, lo enggak ngerti! Gue enggak bisa ….”
“Gue emang enggak ngerti, Bay, tapi sikap lo itu culun dan cupu banget!” sergah Astri, ia menunjuk Bayu, lalu mendorong d**a laki-laki dengan tangannya. “Dan apa lo tahu kalau gadis yang baru akan berumur delapan belas tahun yang malang itu melahirkan prematur, hah!? Dia melahirkan saat kandungannya berumur delapan bulan, tanpa ditemani suami, tanpa didampingin ayahnya! Dia sendirian bertarung nyawa di meja operasi dengan Ibu yang cemas menunggunya di kursi tunggu. Apa lo pernah mikir itu?” semburnya.
“Lo juga enggak tahu gimana gue ngejalanin hidup gue, Tri!” seru Bayu. Dia sudah mengencangkan suaranya.
“GUE ENGGAK PEDULI SAMA HIDUP PECUNDANG MACAM LO!” Astri menggeram. “Lo enggak perlu bentak-bentak gue, enggak guna, gue enggak takut!” balasnya lebih kencang.
Astri menarik napasnya, mencoba bernapas normal kembali. “Di kehidupan lo selama kurang lebih tiga tahun meninggalkan Rainy, apa lo pernah mikirin tentang dia? Nyari tahu kabar dia dan anak lo, apa dia masih hidup semenjak lo tinggalin, hah! Apa pernah, Bay, apa pernah?!”
Napas Astri naik turun, Bayu hanya menggeleng lemah.
“b**o lo, Kambing! Gue pikir tiga tahun ini hidup lo dibayang-bayangin Rain, nyatanya enggak! Lo ngegeleng kayak sapi gila! Dan sekarang, saat Rainy sudah mulai berdamai dengan masa lalunya yang sangat amat kelam yang lo ciptain, lo malah datang dengan pertanyaan, Rainy, kandungan kamu, anak kita gimana? Lo sinting banget!” Astri menggeleng-geleng dramatis. “Gila lo, Bay …, GILA!”
“Gue nyesal, Astri, gue nyesal. Gue mau memperbaiki semuanya, ketemu anak gue, apa gue enggak boleh ngelihat anak gue?”
Astri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum sinis. “Memperbaiki apa, hah!? Memperbaiki hati dan kehidupan Rainy yang udah berhasil lo rusak? Lo telat banget, Bay! Dan lucunya, lo malah mau berusaha memperbaiki saat lo dan dia ketemu di sini? Alibi lo enggak guna banget, Bay. Gue kasih tahu sama lo kalau Rainy dan keluarganya enggak pernah pindah rumah. Masih tinggal di rumah yang sama seperti saat lo dihajar sama Ayahnya Rainy!” ujarnya geram.
“Iya, Tri, gue tahu gue salah, salah banget udah memperlakukan Rainy sebegitu kejamnya.”
“Ya, emang lo salah lah, b**o!”
“Tapi gue tetap punya hak untuk memperbaikinya, Tri. Gue punya hak ketemu anak gue!” sentak Bayu.
Astri berdecih, lalu menggeleng. “Hak apaan, hah? Hak asasi orang jahat?” tanyanya sarkas. “Kalau lo nanya sama gue apa lo boleh melihat anak lo? Jelas jawaban gue adalah enggak, gila aja lo, enggak tahu diri banget!”
Bayu menatap nyalang ke arah Astri, napasnya sesak bukan main. “Tapi Rainy bukan lo, Tri,” balasnya.
PLAK!
Kali ini adalah tamparan keras dari Astri yang diterima oleh Bayu. “Gue emang bukan Rainy, Bay, tapi gue enggak bakal pernah membiarkan lo masuk lagi ke kehidupan sahabat gue yang udah tenang tanpa lo! Lo mending jauh-jauh deh, lo itu laki-laki cupu yang enggak berguna!” sergah Astri, lalu pergi dari hadapan Bayu.
***
BRAK!
Rainy menabrak sesuatu di depan asramanya, air matanya sudah mengalir deras, menyebabkan bagian atas bajunya basah. “Maaf,” ujarnya dengan suara yang serak.
“Hei, Rain!” Itu suara Ardan. “What happened?” tanyanya. Ia mencoba melihat wajah Rainy, mencoba menyeka air mata gadis itu. “Kamu menangis, why?” tanyanya lembut. “Ada sesuatu yang nyakitin kamu?”
Rainy menggeleng, lalu menghambur ke pelukan Ardan, memeluk laki-laki itu dengan erat dan menumpahkan tuntas air matanya. “Ardan, boleh enggak kalau saat ini saya benar-benar mengamuk sama semesta, lagi?” tanyanya.
Ardan merenggangkan pelukannya, “Why? Semesta punya salah apa ke kamu?” tanyanya, Rainy hanya menggeleng. “Kamu butuh teman bercerita?”
Rainy hanya diam.
“Ke Al Fazza, mau?” tawar Ardan. Rainy tetap hanya diam.
Rainy melepaskan perlahan pelukannya dari Ardan. Ardan menatap dalam ke mata Rainy. Membaca betapa sakit gadis itu dari sorotan matanya. “Kamu butuh tenang, Rain. I don’t know what happened to you, but kamu harus tahu kalau aku punya bahu yang dengan siap sedia menampung air mata kamu,” ujarnya.
Rainy hanya diam, sambil berkali-kali menarik dan menghembuskan napasnya secara kasar. “Saya masuk duluan, Ardan,” ujarnya. Lalu, masuk ke dalam asrama dan meninggalkan Ardan yang hanya memandangi punggungnya yang hilang di balik pintu asrama.
***
Terima kasih karena sudah membaca cerita ini.
Salam sayang.
Rumy.