Kita dua bab hari ini, ya! Hehehehe.
***
Rainy mengurung dirinya di kamar mandi asrama, membiarkan tubuhnya dalam keadaan basah dengan air di ember, juga basah dengan air mata. Sekarang, jantungnya berdetak sangat kencang, air matanya juga luruh tiada henti. Masa lalu itu ternyata benar-benar kembali, benar-benar memunculkan batang hidungnya lagi.
Pancuran air yang ia biarkan hidup dengan kencang, menghasilkan ember di sampingnya yang berkali-kali penuh. Saat sudah penuh, Rainy kembali mengucurkan air itu ke permukaan kepalanya. Mencoba mendinginkan pikiran, tetapi pikiran tersebut semakin liarnya menjalar. Menyapa bagian-bagian hati yang menyimpan masa lalunya. Menarik keluar dan membiarkan semuanya menari dengan baik di dalam otaknya.
Satu dua tetes air mata berhasil masuk ke mulut melalui bibirnya, terkecap oleh lidahnya, asin. Seandainya air-air ini bisa ia ubah jadi gula dalam waktu sekejab mata, mungkin akan ia minum dengan segera. Berusaha untuk menemui cara hidupnya yang pahit ini agar memiliki rasa yang berbeda, rasa manis. Namun, ia tidak bisa.
“Bayu …,” lirihnya. “Kenapa kamu tiba-tiba kembali? Kenapa enggak mati saja? Kenapa muncul? Kenapa kamu enggak tenggelam di laut saja? Kenapa timbul? Kenapa kamu enggak hanyut di sungai saja?” racaunya pelan dan terbata. Saat ini Rainy benar-benar takut, padahal ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia takuti.
Matanya menatap ke arah tangannya yang sudah mengkeriput, tanda bahwa ia sudah lama menyiksa dirinya dengan berdiam di kamar mandi. Astri yang memanggilnya sedari tadi sama sekali tak ia gubris, dirinya biarkan sampai gadis itu capai sendiri.
“Marun dan Senja enggak ada yang mirip kamu. Harusnya kamu enggak perlu hidup lagi,” lirihnya lagi.
BYUR!
Rainy menyiramkan satu centong air ke kepalanya, bukan menyembuhkan, tetapi justru membuat dia seperti orang gila.
BYUR BYUR BYUR BYUR BYUR!
Ia siramkan berkali-kali centong air ke kepalanya, bahkan sesekali centong tersebut menggetok kepalanya. Sakit, dia masih hidup, ini bukan mimpi.
“AAAAAAAAA!”
“RAIN!” sergah Astri di luar sana. “BUKA ATAU AKU PANGGILKAN SELURUH ANAK ASRAMA?” ancamnya. Untungnya saat ini asrama mereka cukup sepi, terlebih di lorong tempat kamar mereka ada.
“ENGGAK!!!”
“RAINY HULYA ARRUM!”
Ceklek! Rainy membuka pintu kamar mandi tempat ia mengurung diri. Sekarang terpampang jelas wajahnya yang sudah pucat dengan mata yang sudah hitam dan bengkak.
BRAK!
“Rain!” pekik Astri panik. Sahabatnya itu jatuh pingsan dengan kepalanya yang menabrak pintu kamar mandi.
***
Sekarang Rainy sedang meringkuk di kasurnya dengan dilingkupi selimutnya, menggigil bukan karena sakit, melainkan karena takut. Astri hanya memandanginya dengan kasihan. Sahabatnya itu sangat serius dengan traumanya. Astri sampai berpikir untuk membawa Rainy ke psikiater. Dia butuh jujur dan didengarkan.
“Rain …,” panggil Astri lembut. Ia mendekat ke arah Rainy yang memandanginya dengan mata yang nanar. “Kita makan dulu, yuk?” ajaknya. Di tangannya sudah ada bubur yang barusan ia beli. Sepertinya sahabatnya itu akan melalui malam ini dengan panjang dan mimpi buruk.
Astri mencoba untuk mengelus bahu Rainy yang tertutup selimut. Kentara sekali gadis itu sedang takut karena tubuhnya bergetar, giginya bergemelutuk. Sepertinya sahabatnya ini memang benar-benar butuh dipertemukan dengan orang yang mengerti tentang masalah kejiwaan.
Astri menaruh bubur yang ia bawa di ranjang, lalu menyentuh Rainy lagi. “Bangun dulu, ya?” pujuknya lalu menggapai kedua bahu Rainy dan membangunkannya. “Aku suap?” tanyanya.
Rainy hanya mengangguk lemah.
Astri hampir saja menitikkan air matanya melihat keadaan sahabatnya yang seperti orang yang sangat sakit. Mungkin akan lebih mending jika yang sakit itu fisik, bisa disembuhkan dengan obat. Namun bagaimana dengan yang sakit itu jiwanya? Mendapatkan ketenangan dengan masalah yang kembali menguar tidak pernah semudah itu.
“Aku enggak bisa bilang apa-apa ke kamu, Rain, bahkan mungkin aku enggak bakal sanggup melaluinya. Aku juga enggak bisa ngebayangin, gimana kalau yang mendapatkan hadiah dari semesta yang sebesar ini bukan kamu, bukan seorang Rainy? Pasti dia sudah gila.” Astri menyeka air matanya yang sudah benar-benar turun.
Rainy tersenyum. “Sayapun sepertinya sudah gila, Tri,” jawabnya. Lalu, kembali menerima suapan bubur dari Astri.
“Tapi aku yakin akan ada hikmah yang luar biasa dengan kemunculan Bayu ini, Rain. Enggak tahu apa, mungkin ini adalah jalan kamu menuju kebahagiaan yang sebenarnya?”
Rainy mengedikkan bahunya, “Entahlah, Tri. Sudah banyak yang berkata seperti itu semenjak masalah pertama muncul, tetapi hingga hari ini tidak pernah saya temui.”
Astri bungkam, benar-benar bungkam. Ia paham bahwa sahabatnya sekarang tidak butuh perbincangan basa-basi yang berisi nasihat, melainkan hanya ingin tenang dan damai dalam hidupnya. Astri hanya tersenyum, lalu kembali menyuapi Rainy.
Mereka sama-sama berakhir diam, bingung harus melakukan apa? Yang ada hanyalah suara sendok yang beradu dengan gigi Rainy, juga terkadang terdengar isakannya, helaan napasnya yang berat, juga terdengar langkah kaki yang berada di luar kamar mereka.
KRING!
Astri mengambil telpon genggamnya, tertera nama Ardan di sana. Kenapa laki-laki itu menelponnya? Ditatapnya mata Rainy yang seolah-olah bertanya siapa yang menelpon.
“Ardan.”
Rainy hanya mengangguk, lalu dengan mandiri ia mengambil mangkuk buburnya. Siapa tahu Ardan ingin berbicara dengan Astri, ia bisa menyuapkan bubur itu sendiri.
“Halo!”
“Tri.”
“Ya?”
“I don’t know, aku merasa enggak enak banget saat ini. What happended with Rain? Apakah dia baik-baik saja? Tadi sore aku ketemu dia, dia menangis.” Terdengar embusan napas panjang di telpon.
“Aku enggak bisa kasih tahu sama kamu, Ardan. Apa kamu mau berbicara sama dia aja?” tawar Astri.
“Boleh, kalau dia mau.”
“Kamu mau berbicara sama Ardan, Rain?”
Rainy mendongak, menatap Astri. Ardan? Mungkin berbicara dengan laki-laki itu adalah pilihan yang cukup baik saat ini. Ia hanya menganggukkan kepala, menyelesaikan suapan terakhirnya, lalu menerima telpon genggam dari Astri.
“Halo!” sapa Rainy dengan suaranya yang serak.
“Masih ada Astri di sana, Rain?” tanya Ardan.
Rainy hanya mengernyit, lalu memandangi Astri, di wajah mereka menunjukkan kalau mereka tidak mengerti. “Ada.”
“Usir deh, aku mau berbicara berdua saja sama kamu.” Terdapat kekehan di akhir suaranya.
“Heh, Bocah!” seru Astri. Ia mendengar dengan jelas apa yang Ardan bicarakan, karena dia sedang ada di samping Rainy.
“Heh, kamu nguping, ya!?” tanya Ardan ketika sudah menyelesaikan tawanya. “Rain, jauh-jauh, dong! Aku enggak mau pembicaraan kita terdengar sama Nenek Lampir,” pinta Ardan di seberang sana.
“Catat, ya, Ardan! Besok kamu akan aku tampol!” teriak Astri, sebelum Rainy berdiri dan berjalan menuju rooftop dan menjauhinya sesuai dengan permintaan Ardan.
“Sekarang sudah ada di mana?”
Rainy menggembungkan pipinya dan menatap ke sekitar. “Rooftop.”
“Sedang kangen aku?”
“Enggak.”
“Masih menangis?”
“Menggigil.”
“Dingin?”
“Takut.”
“Jangan takut ada aku, ‘kan aku hantunya.”
“Ada hantu baru yang sudah lama enggak muncul, tiba-tiba timbul.”
Jantung Ardan mencelos, ia tak paham apa yang dikatakan Rainy. Mungkin berbincangan mengenai hantu ini ia cukupkan sampai di sini saja. Dirinya harus mencari topik yang baru karena sepertinya topik ini tidak menguntungkan.
“Marun dan Senja apa kabarnya?”
Rainy terdiam sebentar, membayangi wajah anak-anaknya yang terakhir ia telpon dua hari lalu. “Tambah tembam.” Ia menitikkan air matanya, tidak sanggup bila akhirnya Marun dan Senja bertemu dengan ayah mereka. Akan jadi apa nantinya?
“Aku jadi ingin bertemu sama mereka.”
“Mereka ada di Bengkulu.”
“Berarti boleh bertemu?”
“Memangnya ada yang melarang kamu bertemu dengan mereka?”
“Okay, kalau begitu, bilang sama mereka ada om tampan yang mau bertemu.”
“Ha ha ha.” Rainy hanya meresponnya dengan suara tawa yang sumbang.
“Rain, sebesar apapun masalah kamu saat ini, kamu harus percaya bahwa aku bersedia untuk tetap ada di samping kamu.”
“Iya.”
“Menjadi tempat kamu berkeluh kesah, menumpahkan segala pahit dan sakitnya kamu, menerima cerita tentang masalahmu.”
“Iya.”
“Aku ada di garda terdepan untuk melindungi kamu.”
“Iya.”
“Menjadi pasangan hidup kamu, yang selalu menemani kamu dari pagi sampai mati.”
“Enggak.”
Terdengar dengusan di sana, lalu Ardan tertawa. “Aku pikir kamu juga akan menjawab iya.”
“Enggak.”
“Kamu capek, Rain? Istirahat, ya?”
“Takut mimpi buruk.”
“Mimpi Ardan aja.”
“Berarti mimpinya hantu?”
“Bisa jadi, tuh!” jawab Ardan terdengar riang.
“Tolong mintakan ke semesta supaya saya mimpinya indah malam ini.”
“Itu yang selalu aku doakan untuk kamu, lebihnya adalah aku berdoa untuk kamu semoga hidup kamu akan indah. Entah pada akhirnya aku yang menjadi bagian hidupmu yang indah ataupun tidak, doa itu akan selalu ada, Rain,” ujar Ardan tulus. Ada serak suara di sana.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
“Tutup telponnya, Ardan.”
“Iya, Rain, sampai berjumpa besok.”
“Semoga.”
“Kamu tetap sudah boleh untuk rindu padaku.”
TUT!
Air mata sudah membasahi pipi Rainy. Kenapa jalan ceritanya menjadi begini? Ia letakkan telpon genggan Astri di sampingnya. Lalu, merapatkan tubuh dengan kakinya. Merenung dan melamun sampai malam tiba.
***
Terima kasih karena sudah membaca cerita ini.
Salam sayang.
Rumy.