Persimpangan

1605 Words
Ternyata Surabaya juga sama bising dan sibuknya, apalagi panas yang tak terkira. Stigma itu langsung menyemburat di pemikiran Rainy. Namun, ia tetap senang karena sudah menginjakkan kakinya di Surabaya, salah satu kota yang luar biasa kisah tentang pejuang-pejuangnya. Dia menatap ke sekeliling, Bandara Juanda ternyata juga bandara yang besar. Tak kalah dengan bandara Sukarno Hatta. Lantai yang licin, dengan keramik yang bercorak indah, bubung atap yang tinggi, luas dan pastinya selalu ramai. Matahari yang terik menyapa matanya saat ia keluar dari bandara, mencari angkutan umum untuk membawanya ke stasiun kereta api. Tujuannya selanjutnya ialah Stasiun Kediri Kota Kediri, langsung ke tujuan utamanya. Ia menggeret kopernya yang berukuran sedang ke halte bus yang ada di depan bandara. Haltenya cukup ramai di siang ini. “Rainy!” Suara yang berseru itu mengingatkannya akan seseorang. “Jahat!” Sekarang di hadapannya adalah seorang gadis yang dua jam yang lalu bertemu dengannya di Jakarta. Dia tersenyum kecut, “Maaf, saya lupa kalau ada kamu,” ujarnya. Astri memberengut, “Padahal aku baru seneng kalo ternyata kamu masih ingat aku, Rain.” Rainy tertawa, pasalnya ia terlalu takjub dengan kota sebesar Surabaya ini. Bila dibandingkan dengan kota asalnya, mungkin berkali-kali lipat. Di kota asalnya, gedung-gedung menjulang tinggi bisa dihitung dengan jari. Tetapi di sini, justru gedung-gedung kecil yang bisa dihitung dengan jari. Sangat kontras, ia begitu terpesona. Makanya, setelah kakinya turun dari pesawat dia langsung berjalan mengikuti arah langkah. “Saya enggak pernah lihat kota sebesar ini, Tri.” Astir mendengus, “Iya, tapi ‘kan aku udah teriak-teriak manggil kamu, Rain. Masa gara-gara liat kota besar kamu jadi b***k, sih? Aku dilihat sama banyak orang karena teriak-teriak lho, Rain!” seru Astri. Sekarang ia rasakan napasnya ngos-ngosan karena emosi dan berlari. Rainy hanya tertawa kecut, lebih tepatnya meringis. Ia kembali menatap ke sekililingnya, mobil-mobil bermacam warna dan jenis hilir mudik di hadapannya, begitu pula sepeda motor, bahkan angkutan umum yang bermacam bunyi klaksonnya. “Kita langsung ke Kediri?” Rainy mengangguk ketika ia mendengarkan pertanyaan dari Astri. “Enggak mau keliling Surabaya dulu? Jalan-jalan, refres otak. Siapa tahu kamu masih galau karena pisah sama Bayu, ‘kan?” sambung Astri. Rainy tertegun. Nama itu lagi. Nama yang seharusnya sudah bisa ia lupakan rekam jejaknya. Nama yang seharusnya sudah sirna dari hidupnya. Namun, hingga bertahun-tahun ternyata nama itu masih membayangi hidupnya, menggentayangi harinya, menghantui helaan napasnya. Apakah nama itu akan abadi bersamaan dengan napasnya yang masih akan berhembus? Satu tepukkan tangan berhasil menyadarkannya. “Kenapa kalau aku sebut nama Bayu kamu langsung bengong kayak orang bingung, Rain? Tell me, apa yang aku enggak tahu tentang hubungan kamu sama dia?” ujar Astri seraya menatap Rainy dengan prihatin. Astri merasakan ada yang janggal dari sahabatnya ini. Ia dan Rainy dekat semenjak masa orientasi siswa ketika mereka masuk SMA. Dekat yang memang benar-benar sedekat itu. Bahkan, orang tua mereka saling kenal dan sering bertemu untuk membahas banyak hal, terutama pertumbuhan mereka di masa SMA. Memang, ia dan gadis di depannya ini hilang kontak setelah mereka tamat SMA. Namun, sekarang semesta mempertemukan mereka lagi. Hal ini terjadi bukan tanpa tujuan, ‘kan? “Apa pertanyaan kamu harus saya jawab?” tanya Rainy, yang ditanyakan hanya mengangguk. “Atas dasar apa? Kepedulian atau hanya ingin tahu?” “Rain, kita deket banget loh di zaman SMA, bahkan aku yang ngedeketin kamu sama Bayu. Masa kalian pisah aku enggak boleh tahu sebabnya, sih?” pujuk Astri. Rainy memutar badannya, menghadap ke arah Astri. Astri ini adalah gadis yang tinggi semampai dengan badan yang bisa dikategorikan sebagai badan yang diinginkan oleh para wanita. Rainy menengadah hanya untuk mempertemukan matanya dengan mata Astri. Menatap mata bulat berwarna coklat itu sebentar, lalu menghembuskan napas kasar. Ia memejamkan matanya, merekam semua kedekatan mereka di zaman SMA. Lagi-lagi, nama laki-laki itu muncul di permukaan otaknya. Rainy menggeleng, “Saya enggak harus jawab pertanyaan kamu, Tri.” Ia membalikkan badan, matanya sudah berkaca-kaca. Astri mendengus, “Tapi, Rain….” “Itu busnya, kita harus segera ke stasiun. Yuk!” Astri menghentak-hentakkan kakinya mengikuti langkah kaki Rainy menuju bus yang akan membawa mereka ke stasiun kereta api. Sementara itu, Rainy hanya tertawa melihat temannya yang kesal. Lagi pula, rasanya hal tersebut tidak perlu lagi dibahas di kehidupannya yang sekarang sudah lebih baik-mungkin. Busnya penuh, sesak, sumpek, panas, ramai, bau, itu kesan pertama sampai ke enam yang Rainy rasakan saat kakinya sudah menginjak lantai bus. Bapak-bapak petugas bus memakai baju seragam kemeja berwarna ungu yang sudah pudar. Di kemeja pudar itu ada secerca harapan dan sebongkah doa yang dititipkan keluarganya. Juga keringat yang membuat kemeja tersebut sudah tampak pudar, keringat jugalah yang menghiasi wajah dan tangan dari petugas bus. Rainy tersenyum, ia ingat akan ayahnya. *** “Uya, dengar ayah baik-baik. Ayah enggak bakal memaksa kamu untuk menuruti apa yang ayah mau, ayah enggak bakal meminta kamu menerima saran dan permintaan ayah, lalu menjadi apa yang ayah inginkan.” Rainy hanya menatap ayahnya seraya menghapus bulir-bulir air matanya. Pak Muham tampak berkaca-kaca memandangi anaknya yang juga sedang memandanganya. Anaknya sudah gadis, tumbuh dengan baik dan berwajah cantik. Anaknya, yang ia panggil Uya, juga tumbuh menjadi gadis yang ramah, sopan dan santun, juga cerdas. Ia merasakan bahwa gadisnya ini adalah harapan terbesar bagi keluarganya. “Kalau Uya nanti gagal dalam jalan atas paksaan ayah, ayah yang akan sakit dua kali, menyesal dua kali. Menyesal karena tidak menuruti kemauan Uya, lalu menyesal karena ayah sudah memaksakan kehendak ayah sama Uya. Uya sudah besar, sudah bisa menentukan jalan Uya sendiri. Ayah dan Ibu cuma bisa kasih Uya saran dan wejangan, tidak ada hak untuk memaksa Uya menjadi seperti ayah dan ibu inginkan.” “Yah ….,” lirih Rainy. Ayahnya begitu bijak untuk menghadapi kenakalan-kenakalan dan rasa ingin tahunya. “Maafin Uya.” Ia berdiri, lalu menghambur ke pelukkan sang ayah. Merasakan pelukan paling nyaman yang selama ini ia temukan dengan rasa aman. “Ayah percaya sama Uya.” Rainy tersenyum dalam tangis di pelukkan ayahnya. Sesalah apapun dia, ayahnya akan selalu bisa kembali menerimanya. Senakal apapun dia, ayahnya akan selalu memberikan kata maaf dan diakhiri dengan wejangan terbaiknya. *** Tak terasa air matanya menetes saat bayangan masa SMP nya itu memutar di ingatannya. Ayahnya yang sabar, bijaksana, lucu, humoris, penuh cinta, murah senyum dan masih banyak sikap-sikap menakjubkan lainnya. “Maafin Uya,” lirihnya. “Rain, dompet aku!” teriak Astri histeris saat ia menyadari bahwa dompetnya sudah tidak ada lagi di tasnya. “Kenapa?” “Dompet aku enggak ada di tas aku, Rain!” seru Astri panik. Rainy terkejut, “Kok bisa?” Astri hanya menggeleng. “Mbak, jangan-jangan diambil sama orang yang di belakang mbak tadi, yang barusan turun,” ujar seorang ibu-ibu yang duduk di kursi. “Pak, stop!” teriak Astri. Lalu, ia meloncat turun sebelum bus benar-benar berhenti. Laki-laki yang dimaksudkan itu masih ada dalam jangkauan matanya. Ternyata benar, laki-laki itu berlari saat ia memanggilnya. “Astri!” panggil Rainy. Sahabatnya itu meninggalkan kopernya yang berukuran besar. “Pak, bisa tolong saya menurunkan koper ini?” pintanya kepada salah satu petugas. “Terima kasih.” Rainy menyusul melompat turun seraya menggeret dua koper dan menggendong satu tas. “Astri! Hati-hati,” teriaknya. Padahal ia sudah tak melihat ke mana larinya Astri. *** “Eh, b**o! Pulangin dompet gue, lo periksa deh, enggak ada isinya!” seru Astri. “Eh, lo kok bebal banget, sih? Ayo kita ke ATM kalo lo beneran butuh duit, gue kasih deh! Beneran.” Copet itu berhenti dan tangannya berhasil diraih oleh Astri. “Buset! Lo masih pinyik gini udah nyopet?” tanyanya saat melihat wajah laki-laki yang baru saja menyopetnya masih muda. “Maaf, Kak, adik gue belum makan.” “Alasan lo standar kayak di tipi-tipi, cari alasan lain!” “Maaf, Kak, tapi beneran adik gue belum makan. Dia juga butuh untuk bayar sekolah.” Astri tertegun. Ia mengernyitkan dahinya, teringat akan teman-temannya di Jakarta yang saat ini sedang gencar-gencarnya mengajari anak-anak yang putus sekolah hingga membuat rumah singgah. “Lo enggak sekolah?” “Udah putus, Kak. gue cuma tinggal berdua sama adik gue, gue yang nyari nafkah.” “Enggak bisa dengan cara baik-baik? Kerja kek.” “Mana ada yang mau nerima gue yang SD aja nggak tamat, Kak?” tanya laki-laki itu, Astri terenyuh. “Ya udah, ayok kita ke ATM,” ajak Astri. Laki-laki itu menggeleng, “Enggak perlu, Kak, gue nggak mau dikasihani.” Astri bingung, “Daripada lo nyopet?” tanyanya. Toh, lebih baik ia memberikan sedikit rezekinya yang menjadi hak adik ini, ‘kan? Dari pada membiarkan dia melakukan dosa mencopet begini. Lagian, apa tidak ada orang yang bersedia membantu dia memenuhi kebutuhan sehingga dia harus menjadi copet? “Yang penting gue usaha.” Astri yang gemas langsung menoyor kepala bujang tanggung yang ada di hadapannya, “Enggak gitu konsepnya, b**o!” ujarnya, “Mending sekarang lo anterin gue ke ATM, gue kasih lo modal buat dagang asongan kek, apa kek, daripada lo nyopet, kasihan adek lo makan uang haram.” Astri menyeret laki-laki itu hingga ke dekat ATM. Baru sehari yang belum penuh ia menginjakkan kakinya di Surabaya, langsung ada-ada saja hal yang membuat dia bingung, berpikir, menerka-nerka, mengandai-andai. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa yang akan memenuhi rongga perjalannya kali ini? Terlebih, ada Rainy yang saat ini di dekatnya. Gadis yang bahkan dari zaman SMA selalu punya teka-teki tersendiri. *** “Rain, bagaimana hubungan kamu sama Bayu?” Rainy menoleh ke arah Astri atas pertanyaan yang gadis itu ajukan, berhenti mengunyah siomaynya dan tersenyum. Ia mengedikkan bahu seraya menahan senyum dengan menggembungkan pipi. “Ish, apaan senyam-senyum! Ayo, ih, gimana hubungan kamu sama Bayu?” Rainy menatap langit-langit kelas mereka, kelas sekarang sedang sepi, masa yang biasanya ribut sedang melakukan keributan di kantin. Ia memejamkan matanya, mengingat bagaimana Bayu menembaknya minggu lalu. “Ya, kita jadian udah seminggu, Tri.” Astri mendengus, lalu melipat kedua tangannya di atas meja. “Enggak, maksud aku tuh Bayu gimana orangnya? Romantis. ‘kan?” “Kalau mau tahu, kamu saja yang pacaran sama dia, enggak usah saya,” balas Rainy, menoleh dan mengedipkan matanya. Hal yang sukses membuat Astri lagi-lagi mendengus sebal. *** “Eh, mampus! Rainy!” teriak Astri histeris saat ia sudah memberikan sejumlah uang kepada adik yang tadi baru saja menyopetnya. “Kenapa, Kak?” “Eggak, aduh, gue duluan yak! Assalamulaikum.” Astri memberikan tangannya yang disambut bingung oleh laki-laki di depannya ini. “Salam, b**o!” serunya. Laki-laki itu langsung mengambil tangan Astri dan menyalaminya. Setelahnya Astri lari terbirit-b***t ke tempat tadi ia turun dari bus, jangan sampai Rainy hilang. “Waalaykumussalam, makasih, Kak! Nama gue Jordan!” teriak Jordan, entah didengar atau tidak oleh perempuan yang barusan sangat berbaik hati dengannya itu.    *** Terima kasih karena sudah membaca cerita ini. Salam sayang, Rumy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD