“Rain!” seru Astri saat melihat punggung dengan baju yang sama persis dengan baju sahabatnya yang baru saja ia temui beberapa jam yang lalu, diapit dua koper, yang satu sedang dan yang lainnya jumbo. “Oh my God, aku pikir kamu hilang!” serunya lagi, setelahnya ia memeluk Rainy.
“Saya bukan anak kecil lagi, Tri,” keluh Rainy. “Napas saya sesak kalau kamu memeluk seerat itu,” sambungnya.
“Eh, maaf-maaf. Ternyata copet yang nyopet dompet aku tuh anak pinyik, Rain. Dia laki-laki yang tinggal sama adiknya yang belum makan, dia nyopet juga buat kebutuhan kehidupan mereka berdua. Aku kasihan, tapi aku enggak bisa toleransi kerjaan dia yang nyopet gitu.”
Rainy menatapnya dalam, iya, gadis di depannya ini memang benar. “Terus kamu apain? Kamu laporin polisi?”
Astri menggeleng, “Enggak, tapi aku kasih dia uang, siapa tahu uang itu bakal lebih berguna untuk dia dan juga buat dia sadar kalau masih ada orang-orang yang peduli sama dia.”
“Kenapa enggak dilaporin polisi saja? Supaya direhabilitasi begitu?”
Astri mengela napasnya lelah, “Enggak, dia orang baik, Rain. Aku bisa lihat dari matanya yang masih tulus, polos, dan aku juga enggak bisa ngebayangin gimana adiknya kalau kakanya aku laporin ke polisi. Dan juga, kita enggak pernah tahu bagaimana perjalanan dia setelah ini, setelah ketemu kita, setelah aku kasih rezekiku yang memang hak dia. Siapa tahu beberapa tahun lagi, aku ketemu lagi sama dia dengan keadaan dia dan adiknya yang lebih baik, ‘kan?”
Rainy terenyuh, sahabatnya ini memang memiliki hati malaikat sejak dulu. “Sini peluk,” ujarnya, ia merentangkan tangannya dan meraup Astri di pelukannya. “Kita enggak pernah tahu apa yang bakal terjadi di esok hari, yang penting kita sudah berusaha untuk melakukan hal baik di hari ini. Gitu, ‘kan?”
Astri melepaskan pelukannya, lalu mengangguk semangat. “Ternyata kamu masih ingat slogan kita zaman penjajahan dulu, Rain.”
“Gimana juga aku bisa lupa?” Astri mengedikkan bahunya, lalu mereka sama-sama tertawa.
Sekarang sudah jam dua siang, semakin terik, semakin membuat kehausan, juga menambah kadar kelaparan. Rainy dan Astri langsung menaiki bus yang akan membawa mereka ke stasiun. Lagi-lagi penuh, bau, sesak, dan mereka lagi-lagi berdiri. Untungnya, kali ini tidak ada copet yang berhasil menunda perjalanan mereka.
Beberapa hal memang harus dimaafkan untuk membuat hati lebih tenang. Beberapa hal lainnya bisa dilupakan agar kalbu bisa damai. Sisanya, biarlah semesta yang mengambil peran terbesarnya. Jika pada akhirnya, beberapa itu membuat perasaan menjadi gelisah, biar juga semesta yang memainkan skenarionya. Menemukannya dengan penyembuh terbaik yang sudah terlatih untuk gelisah. Atau, bisa juga saling menemukan untuk saling menyembuhkan. Biar saja semesta masih menyimpan rapat rahasianya.
***
Kediri, entah cerita baru akan dimulai, atau hanya hadir sebagai peralihan dari selesainya cerita lama yang bahkan sampai sekarang tak temu ujungnya.
Rainy mengembuskan napasnya saat Simpang 5 Gumul Kota Kediri sudah tampak di retinanya. Sebentar lagi dia akan benar-benar sampai ke tujuannya. Melarikan diri sejenak dari masalah yang-mungkin- tak akan menemukan jalan keluarnya. Melainkan, hanya mengalir, sehingga pada akhirnya menemukan akhirnya sendiri. Bukan sebagai masalah yang menemukan kata menyelesaikan, tetapi sebagai masalah yang pada akhirnya terpaksa untuk terselesaikan.
Dia akan mengukir cerita di kota ini, kota Kediri yang menjadi salah satu bagian dari provinsi Jawa Timur. Kota yang tak pernah menjadi daftar tempat yang ingin ia kunjungi. Namun, semesta berbaik hati mengenalkannya pada kota ini. Membuat perjalanannya pada akhirnya berhenti sementara pada kota kecil yang akan menjadi tempat tinggalnya selama beberapa bulan depan.
“Ternyata Gumul indah banget, ya, Rain?” ujar Astri.
Saat mereka sudah sampai di Stasiun Kediri, mereka memilih untuk menaiki taksi online untuk membawa mereka berkeliling sejenak di Kota Kediri. Untungnya, mereka dapat dengan mudah mendapatkan taksi online yang diinginkan. Serta yang paling penting adalah harganya yang sesuai dengan kantong mereka.
Rainy menatap Monumen Simpang Lima Gumul yang sangat indah, monument yang sangat mirip dengan bangunan Arc de Triomphe yang berada di Perancis. Salah satu bangunan yang masuk ke daftar tempat yang ingin ia kunjungi. Perancis, negara impiannya.
“Arc de Triomphe,” gumam Rainy. Lalu, ia menunduk dan membayangkan semua janji-janji semu yang terikrarkan saat dia masih memiliki hubungan dengan Bayu.
“Impian kamu sama Bayu,” ujar Astri, lalu ia mengembuskan napasnya kasar. “Aku enggak tahu gimana hubungan kamu sama Bayu, Rain, tapi kayaknya hubungan yang kalian jalani itu terlalu rumit dan membingungkan. Bahkan aku baca dari kilatan mata kamu, kamu saja tidak bisa menjelaskannya, ‘kan?” sambungnya, ia menatap dalam ke mata Rainy yang sudah berkaca-kaca. “Memang ada beberapa hal yang tidak bisa dijelaskan, karena hal itu menyakitkan.”
Rainy menunduk, semakin dalam hingga ia sendiri sudah bisa mendengarkan deru napasnya yang melemah. Rasa itu masih ada, masih mengobar dengan kurang ajarnya. Rasa cinta yang diracuni kecewa, rasa sayang yang dicampuri marah, rasa kasih yang dinodai pengkhianatan. Akhirnya, air mata yang sudah sering terjatuh itu terjatuh lagi, luruh lagi, luruh yang semakin membiru.
“Menangis kalau kamu ingin menangis, Rain. Sederas apapun, sekencang apapun. Tidak apa-apa, kamu kuat, aku tahu itu,” ujar Astri. Ia tahu, saat ini di bahu sahabatnya sedang ada beban yang menimpa.
“Saya sudah capek menangis,” keluh Rainy di tengah-tengah isaknya.
“Tapi air mata kamu enggak pernah capek untuk keluar, Rain.” Astri memeluk erat sahabatnya.
Mereka terdiam lama, mendengarkan isak Rainy yang nyaris tak terdengar. Membiarkan keramaian menyembunyikan hening yang mereka ciptakan. Mempersilahkan keributan menyusup di antara senyap yang ada pada mereka.
Astri melepaskan pelukannya, “Hei!” serunya. “Masa sampai-sampai di Kediri malah nangis, sih, Rain? Enakan kita foto-foto kayak orang-orang, selfie-selfie, menciptakan kenangan, daripada nangis-nangis di sini. Jauh-jauh cuma untuk nangis? Enggak banget, ‘kan?” selorohnya. Rainy tersenyum, benar, sahabatnya benar. Ia melarikan diri ke Kediri ini memang untuk menuntaskan segala sesak yang selama ini dia rasakan. Lalu, kenapa pula dia terlalu terlena dalam lukanya lagi?
“Ya sudah, ayo foto!” ajak Rainy. Lalu, ia melihat seorang laki-laki yang sedang membaca buku di dekat mereka, menujunya. “Mas, bisa fotokan saya dan teman saya?” pintanya. Laki-laki itu mendongak, lalu mengernyit.
Dia mengangguk, “Oke.” Rainy tersenyum.
***
Hari sudah menjelang malam, saat ini mereka sedang berada di mobil untuk menuju ke Pare. Tujuan utama mereka adalah kantor tempat mereka akan kursus. Menikmati dinginnya malam pertama di Kota Kediri. Menikmati desauan angin yang berbeda dari kota asalnya.
“Eh, kita enggak kemalaman sampai office-nya?” tanya Astri tiba-tiba.
Rainy menghembuskan napas, benar juga. “Sekarang jam berapa?” tanyanya.
“Delapan.”
“Kantornya tutup jam Sembilan, Tri.”
“Sekitar lima belas menit lagi kita sampai, Tri.”
“Ya sudah, artinya kita enggak terlambat.”
Lalu, mereka kembali berdiam diri. Tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Melayang untuk khayalannya sendiri-sendiri. Menerka-nerka segala hal yang akan terjadi esok, nanti dan seterusnya dari jauh. Menebak-nebak akan yang akan mereka alami dalam jarak yang sejauh ini dari rumah. Terakhir, masih tetap untuk mencoba berdamai dengan jahatnya semesta pada mereka.
Perkiraan waktu yang Astri lakukan ternyata cukup tepat. Lima belas menit setelah obrolan terakhir mereka, mereka sudah tiba di pintu gerbang depan kantor kursusnya. Lampu sudah redup, tetapi orang-orang masih saja berlalu-lalang. Ternyata Pare seramai itu, pula sebising itu.
Mereka masuk dan menemui petugas administrasi yang masih muda, cantik, ramah dan memiliki senyum yang menarik. Wajar, sudah seyogyanya kesan pertama yang harus diterima pendaftar adalah yang baik-baik. Setelah urusan administrasi terselesaikan, maka mereka diantarkan ke asrama yang sudah disediakan. Kabar baiknya, mereka dibuat satu kamar. Dan, kabar lebih baiknya lagi di satu kamar itu hanya diisi oleh mereka berdua, yang seharusnya diisi oleh tiga orang. Astri sudah sumringah dari tadi, Rainy masih menjaga senyum setengah garisnya.
***
Terima kasih karena sudah membaca cerita ini.
Salam sayang,
Rumy.