"Kalaupun iya, itu tidak masalah." Mata dingin itu beralih menatapku. "Selamat untuk kalian berdua, aku turut bahagia." Ucapnya kemudian.
Entah kenapa, dadaku terasa sesaak saat Reno memberiku selamat dengan senyuman yang begitu jelas. Reno seakan tidak masalah dengan hubungan kami.
Ya. Jelas saja, Reno tidak masalah. Toh, dia tidak punya perasaan khusus kepadaku. Tentu saja, dia akan sangat senang aku punya kekasih.
Aku mendesis. "Kau salah, kalau kau mengatakan itu didepanku, Reno." Raut wajahku berubah menajam. Mata kami saling beradu, menampilkan ekspresi aneh yang sulit untuk diartikan.
"Kau selalu bersikap kita ini adalah teman akrab yang tidak ada masalah lain yang terjadi diantara kita. Nyatanya, itu tidak benar."
Suaraku begitu parau. Leherku seakan ingin putus saat aku berbicara, air mataku hampir terjatuh. Tapi aku tetap berusaha untuk menahannya. Aku tidak ingin terlihat lemah dihadapannya.
"Aku yakin, selama ini kau tahu aku menyukaimu. Tapi, kau bersikap seolah-olah itu bukanlah hal penting yang harus kau pikirkan. Aku benar, kan?" Aku tersenyum getir. Miris rasanya, saat cintamu tak dianggap penting bagi lelaki yang kau cintai itu.
"Ku akui aku salah, karna sudah menyukai lelaki yang bahkan tidak akan pernah menyambut cintaku dengan hangat." Air mataku mengalir.
Aku sudah tidak sanggup lagi, untuk menahan rasa sakit yang selama ini aku rasakan. Aku akan mengakhirinya. Sudah ku mantapkan hatiku, aku akan melupakannya.
"Aku merasa, aku seperti menunggu sesuatu yang tidak akan pernah terjadi aku bodoh bukan. Berharap, kau akan membalas cintaku suatu saat nanti. Aku benci untuk mengatakannya, tapi Aku seperti wanita egois yang menginginkan dirimu lebih dari orang lain." Aku terdiam sejenak. Tak ada ekspresi lain selain tatapan dingin yang Reno perlihatkan.
Aku benar-benar sudah hancur saat ini. "Aku rasa, sudah saatnya aku mengubur perasaanku ini. Melihat kedepan, dan mencari kebahagiaanku sendiri."
Reno menunduk kepadaku. Meraih daguku, untuk kemudian mencium bibirku dengan kasar. Aku memekik. Sampai-sampai tubuhku limbung ke belakang, aku terlentang diatas sofa dengan Reno yang berada diatasku. Tanganku secepat kilat diborgol oleh Reno ke atas. Memberikan akses bebas untuk Reno menciumi dengan ganas.
Apa ini, kenapa Reno seperti ini. Kenapa dia tega melakukan ini padaku?
Aku menangis. Reno yang sejak tadi menciumku bahkan, tak peduli dengan isakanku yang semakin dalam. Dia sibuk dengan dunianya sendiri. Memperlakukanku seperti seorang p*****r yang tak ada harganya mungkin memang aku seperti itu dimatanya sejak dulu aku hanya sampah baginya.
dia menciumku dengan nafsu. Bukan Cinta. Tak lama, Reno melepas ciumannya. Terkekeh kecil, dengan senyuman seperti mengejek. Dia berguman pelan. "Biar kau lihat sebagaimana bejatnya aku dimatamu. Jadi, kau tidak perlu lagi repot- repot untuk melupakanku."
Dengan ucapannya tadi, Reno langsung melangkah pergi. Menatap anton dan intan yang entah sejak kapan mereka berdiri disana dengan wajah kaget.
Aku hanya merintih, menangis dalam diam sebelum ku dengar suara langkah intan berlari mendekatiku. Dia memelukku, "intan. . ."
Tangisanku pecah. Menangis dengan keras dipelukan intan. Aku merasa, baru saja telah dilecehkan oleh orang yang ku cintai sendiri. Didepan teman-temanku. Aku dilecehkan.
"Sst~ Aku disini, Han... Tenanglah. . ." "aku tak bisa tenang intan, setelah rasa sakit yang ku alami saat ini. Aku begitu membenci lelaki bernama Reno."
Sesaat, mataku yang dipenuhi genangan air mata, menangkap sosok Anton yang berlari keluar. Aku yakin, Anton hendak mengejar Reno yang baru saja pergi.
***
"Wajahmu pucat, apa kau sakit?" Aku hanya menggeleng saat ibuku menanyakan hal itu padaku. Duduk diam sambil menikmati sarapan pagiku bersama dengan ayah dan ibuku. "Kau yakin, tidak apa-apa?"
Tanyanya lagi.
"Aku baik-baik saja, Bu. Hanya terlalu lelah."
Terlalu lelah merasakan rasa sakit dihatiku. Lanjutku dalam hati.
"Kalau kau lelah, lebih baik istirahat dirumah saja. Ibu sangat khawatir padamu, apalagi melihatmu malam tadi pulang dalam keadaan menangis." Aku tersenyum miris, benar juga. Semalam aku pulang dalam keadaan menangis karna kejadian yang terjadi di rumah intan. Perlakuan kasar yang dilakukan Reno kepadaku, seakan terus teringat dikepalaku dan tidak mau menghilang.
Aku menyendok sarapanku tanpa memperdulikan ucapan ibuku.
"Apa kau bertengkar dengan Reno lagi?" Tubuhku reflek berhenti bergerak. Hingga aku kembali menyendok makananku dan memakannya dengan pelan.
"Tidak." Ucapku datar. "Lalu kenapa kau pulang dalam keadaan menangis?" Ibuku kembali bertanya. Membuatku merasa tidak nyaman karna dihujani oleh ribuan pertanyaan yang terus membuatku mengingat kejadian pahit yang ku alami semalam.
"Bu. Bisakah, ibu berhenti bertanya kepadaku? Aku lelah, aku hanya ingin tenang dalam menjalani hidupku ini. Apa aku salah? Aku mohon ibu jangan ikut campur urusan pribadiku!" Ku gebrak meja makan dan langsung melenggang pergi.
Ya ampun, tidak seharusnya aku meluapkan amarahku kepada ibuku. Harusnya aku lebih bersabar. Semuanya terasa kacau semenjak masalah datang bertubi-tubi dikehidupanku. Entah itu masalah biasa hingga sampai masalah yang rumit.
Selepasnya aku meninggalkan rumah. Aku langsung melesat pergi ke Caffe adam. Satu-satunya tempat yang mungkin membuatku nyaman. Aku langsung mengganti pakaianku dengan seragam kerja. Membersihkan meja dan menata kursi sebelum Caffe milik kami dibuka.
Ku lihat Adam yang baru datang ke Caffe dengan setelan jas putih yang begitu cocok dibadannya. Tak ku sangka, lelaki itu akan setampan ini. Aku sampai tak menyadarinya jika adam punya badan yang bagus. Matanya saat tersenyum selalu menyipit seperti orang yang sedang menutup kedua matanya.
Manis dan juga ramah. Itulah dirinya. Selalu menyapa karyawan setiap kali dia baru datang ke Caffe. Kenapa aku tidak menyukai lelaki seperti dirinya? Kenapa harus Reno yang mampu membuat hatiku merasa bahagia dan juga sedih dalam waktu yang bersamaan.
"Adam..." aku masuk kedalam ruangan Adam saat kami telah menutup Caffe kami. Sebelumnya, aku juga sudah mengganti bajuku dengan pakaian biasa. Sebelum aku mulai mengatakan jawaban yang sudah lama adam tunggu.
"Hana, masuklah. Duduklah disini." Adam beranjak. Mengambil dua gelas minuman dimesin pembuat kopi dan menaruhnya diatas meja. Aku duduk disamping adam.
"Ad, aku kemari ingin menjawab pernyataan cinta yang kau ungkapkan waktu itu padaku." Ucapku pelan. Adam tersenyum.
Membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arahku.
"Aku akan mendengarkannya dengan baik. Entah itu penolakan atau penerimaan. Aku akan menerimanya dengan senang hati." Adam kembali tersenyum terlihat begitu tulus.
Aku menghembuskan nafasku pelan. Ini sulit bagiku. Tapi aku akan mencobanya. "Adam, aku ingin memulainya denganmu."
Dahi adam berkerut. "Maksudmu kau menerimaku?" Tanyanya memastikan. "Ya.... Adam. Aku menerimamu." Aku tersenyum tipis.
Merasakan tangan kekar adam meraih tubuhku dan memelukku dengan hangat.
Ku balas pelukan adam. Melihatnya tersenyum seperti ini membuatku merasa terluka. Entah ini keputusan yang benar atau tidak. Aku akan menerima konsekuensinya nanti.
Yang ku harapkan saat ini adalah, saat aku bersama dengan adam. Aku harap aku bisa melupakan Reno yang selalu ada didalam hati dan pikiranku.
"Aku berjanji, aku akan selalu membuatmu bahagia, Hana " Bisikknya pelan.
Aku menunggunya adam. Sangat menunggu hari itu datang. Dan ku harap aku tidak salah mengambil keputusan.
***
"Kau belum pulang?" Ku rasakan tangan Adam meraih pinggangku.
Menyenderkan dagunya dipundakku sementara aku sibuk belajar membuat Coffe latte.
Aku hanya menjawabnya dengn gumanan. Cukup fokus pada pekerjaanku walaupun adam terus mengangguku dengan sikap manjanya yang entah sejak kapan dia mulai. "Ini sudah malam, latihannya cukup sampai disini saja."
"Tumben, biasanya kau yang paling tegas dalam hal ini." Adam terkekeh. "Itu karna aku cemburu. Kau meluangkan waktumu yang banyak untuk belajar membuat Coffe latte. Sedangkan denganku hanya saat kau sedang bekerja.
Senyumku mulai mengembang. Berbalik menatap adam dan meninggalkan pekerjaanku. "Jadi kau mulai mencemburui Coffe latte, begitu?"
Adam mengangguk Dan itu terlihat sangat lucu. "Yah, seperti itulah aku. Apapun yang membuat titik fokusmu teralihkan dariku. Aku akan mencemburuinya. Entah itu anting, baju ataupun tas yang sering kau bawa. Aku akan cemburu pada mereka semua."
Aku tak tahan mendengarnya. Sampai-sampai tawaku meledak saat itu juga. Yang benar saja, kenapa harus cemburu pada benda yang mati.
"Oke, jadi apa yang harus aku lakukan tuan Adam yang terhormat?" ucapku penuh sopan.
"Menikahlah denganku."