***
Untuk ke sekian kalinya aku menghela nafas resah. Entah sudah berapa kali aku melakukannya. Sepertinya, aku sedang terkena penyakit galau. Pikiranku terus terbayang oleh kalimat yang di ucapkan Adam kepadaku.
Lelaki itu melamarku dengan sangat manis. Aku sungguh tersanjung, saat dia berlutut kepadaku. Memperlihatkan sebuah cicin perak yang begitu indah. Yang sudah dia persiapkan khusus untukku.
Tapi, dengan bodohnya. Aku mengatakan jika aku harus memikirkannya dulu tanpa mengambil cincin yang diberikan adam. Aku menyuruhnya untuk menyimpannya, jika kelak aku menerima lamaran Adam saat itu.
Aku belum siap untuk menikah. Dengan perasaanku yang masih bimbang, aku belum sempurna melupakan Reno. Perasaanku kepadanya serasa semakin tumbuh setiap kali hari demi hari ku lalui tanpa dirinya.
Seperti buku diary yang belum terselesaikan. Aku mencoba mencari cerita-cerita yang telah hilang dan menyambungkannya kembali.
Tapi itu sulit, seperti ada dinding besar yang menghalangiku untuk melihat apa yang ada dibaliknya.
"Apa aku harus menerimanya, intan?" untuk sekian kalinya aku bertanya pada intan. Aku sengaja mengajak intan pergi hari ini. Meminta ijin untuk tidak masuk sehari karna alasan lain. Dan Syukurlah, adam mengijinkannya.
"Itu sudah menjadi keputusanmu yang tidak bisa dicampuri oleh orang lain. Aku sebagai sahabatmu hanya bisa menerimanya, dan berdoa supaya kelak kau akan bahagia dengan kak Adam."
Aku mendesah, apakah aku akan bahagia jika aku menikah dengan orang lain selain Reno. Apakah ini memang takdirku yang sebenarnya?
Bahwa aku tidaklah berjodoh dengan Reno. Dan tuhan memberikanku jawaban atas lamaran yang diberikan oleh adam padaku. tuhan seakan berkata lupakan Reno karna dia bukan untukkku. Aku hanya akan menyakiti perasaan Reno serta diriku sendiri. Membuat hubungan kami semakin renggang dengan perasaan egois yang aku miliki selama ini.
Padahal, kami dulunya berteman baik. Dan, sekarang semuanya hancur karna diriku. Baru ku sadari bahwa Reno sangatlah penting bagiku. Entah itu sebagai teman ataupun lelaki yang sangat aku cintai.
"Cobalah untuk mendiskusikannya dulu dengan ayah dan ibumu, han..." Aku meremas tanganku dengan kasar apakah akhirnya memang harus seperti ini.
"Aku sudah mengatakannya pada mereka, dan mereka menyuruhku untuk menerimanya asalkan aku memantapkan hatiku, intan." Kalimat mereka yang begitu tegas saat mengatakannya membuat nyaliku seakan menciut untuk menerima adam.
Aku masih ragu dengan perasaanku yang sebenarnya, tapi disisi lain aku ingin menerimanya untuk bisa melupakan Reno dari dalam hatiku apakah aku egois melakukannya pada orang sebaik adam.Apa itu keterlaluan? Aku seperti w************n yang memperalat lelaki hanya untuk urusan pribadi saja. Aku sungguh kejam.
"Lalu apa lagi yang kau tunggu?"
"Intan...., berikan aku satu alasan yang logis untukku menerima lamaran dari adam. Apapun itu, aku akan menerimanya." Ku lihat raut wajah intan berubah.
"Kak Adam orang yang sangat baik. Dia mencintaimu dengan tulus, sedangkan Reno tidak, Hann.... Sebentar lagi kau akan tahu kebenaran yang pahit. Aku tidak mau kau menyesal karna sudah menolak lamaran
Kak adam." Guman intan.
"Dan sejujurnya aku ingin sekali kau menerimanya agar aku bisa melihatmu bahagia. Tidak menderita karna cinta sepihak yang selama ini kau rasakan. Percayalah hana, semuanya akan membaik seiring berjalannya waktu." Intan mengalihkan pandangannya dariku.
Apa itu? Apa maksud dari perkataannya tadi. "Katakan, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanyaku menyadari perubahan sikap
Intan yang berbeda. Dia terlihat percaya diri sekali untuk membuatku menerima lamaran dari adam.
"Apa ini ada hubungannya dengan Reno?" Tanyaku kembali.
"Maafkan aku hana, aku tak bisa mengatakannya padamu. Aku sudah janji pada seseorang kalau aku harus merahasiakan ini padamu." Intan menangis, membuatku merasa teriris saat air mata itu semakin membanjiri wajahnya yang cantik.
"Tapi aku tidak bisa." Tangannya meraih tanganku dan memegangnya erat."Reno. Sebentar lagi, dia akan menikah dengan gadis yang sudah dipilihkan orang tuanya Han... Dan mereka semua sudah mempersiapkan pesta pernikahan yang akan mereka adakan 1 bulan kemudian. Ini semua menyangkut perusahaan ayah Reno yang sedang tak stabil. Dan mereka membutuhkan bantuan financial. Karna itulah, Reno akan menikah dengan gadis pemilik perusahaan yang akan membantu perusahaan ayahnya agar berdiri dengan baik."
Aku tersentak. Jantungku serasa ingin berhenti saat mendengar penjelasan dari intan. Wajahku memanas, air mataku mulai menurun.
"Apa maksudmu, intan." Hanya itu yang bisa ku katakan.
Aku seakan lemas tak berdaya untuk menerima kenyataan jika Reno akan menikah dengan gadis lain.
Seperti orang bodoh yang tak dianggap, aku sama sekali tidak tahu mengenai perjodohan ini. Bahkan permasalahan pelik yang tengah dialami Reno. Pantas akhir-akhir ini dia berbeda.
"Kau ingat saat kita pulang dari bioskop dan mendapati Reno ada dirumahku. Saat itu, aku tak sengaja mendengar pertengkaran Reno dan anton ditelfon. Mereka sedang membicarakan perjodohan yang tengah dilakukan oleh orang tua Reno."
Oh astaga tuhan. Aku tak mau mendengarnya lagi. aku terlalu rapuh untuk mendengar bahwa Reno menerimanya dan akan hidup dengan wanita lain. Aku tak sanggup membayangkan apalagi melihat itu terjadi.
"Dan Reno menerimanya?" Aku terisak, menghapus air mataku yang mengaburkan pandanganku. Intan tak mengatakan apapun selain, tersenyum getir kepadaku.
***
Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi.
Itulah kalimat yang selalu muncul setiap kali aku menghubungi nomor Reno. Lelaki itu mematikan ponselnya sejak tadi. Aku telah menghubungi rumahnya dan ibunya bilang jika Reno sedang bekerja dikantor dan belum pulang.
Ingin rasanya aku ke rumahnya tapi aku tak bisa. Tak mampu melihat Reno dalam kondisiku yang seperti sekarang. Apalagi nantinya, aku akan mendapatkan kenyataan yang lebih pahit yang keluar dari mulut ibunya. Pasti bibi akan bercerita padaku mengenai wanita yang akan dijodohkan dengan Reno. Dan aku tidak mau mendengarnya.
Kembali, aku meringkuk dalam ranjangku. Mencoba menungggu kalau-kalau Reno kembali mengubunginya setelah melihat notice panggilanku yang sudah entah berapa kali. Aku seperti peneror yang tak tahu diri.
Tubuhku langsung bangun dari ranjang saat ku rasakan ponselku berdering. Pada awalnya aku merasa girang saat ku pikir itu adalah panggilan dari Reno. Tapi ternyata tidak.
"Ya adam ?" gumanku pelan. Aku sudah tak ada tenaga hanya untuk meladeni adam. Padahal dia adalah kekasihku, tapi entah kenapa aku selalu menyia-nyiakan dirinya.
"Suaramu berbeda. Apa kau sakit?" Terdengar nada bicara Adam yang begitu khawatir.
Ah, aku semakin merasa bersalah padanya. Bagaimana jika dia tahu keadaanku yang kacau saat ini. Dan itu karna aku masih mencintai lelaki bernama Reno.
"Aku baik-baik saja."
"Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja, han. . .. Lihatlah keluar jendela, aku ada didepan rumahmu saat ini." Reflek, tubuhku langsung melompat turun dari Adam. Membuka tirai jendelaku yang menuju tepat dihalaman rumahku. Ku lihat adam sedang tersenyum kepadaku sambil melambaikan tangannya.
Untuk apa Adam malam-malam begini datang?
"Turunlah." Aku mengangguk. Kemudian mematikan sambungan telfon dan keluar dari kamarku. Tak lupa aku memakai sebuah jaket sebelum aku benar-benar meninggalkan rumah.
"Adam, apa yang kau-" Tubuhku membeku saat aku mendapatkan sebuah pelukan dadakan yang diberikan adam kepadaku. "Aku merindukanmu. . ."
Aku terdiam, sedikit-demi sedikit tubuhku mulai melemas, dan membalas pelukan adam. Ku rasakan, tangan lelaki itu begitu kuat memeluk tubuhku. Sesekali menciumi tengkuk leherku yang terbalut oleh anak-anak rambut yang tergerai bebas.
Setelah lama berpelukan, adam kemudian melepas pelukannya. Menatapku dengan wajah sendu dengan kedua tangan yang sibuk memegangi tanganku. Ada yang berbeda dari adam, malam ini.
"Sesuatu terjadi?" Tanyaku khawatir.
Dahi Adam berkerut. Mendesah resah. "Aku takut kau akan meninggalkan aku hana. Aku tahu ini egois. Tapi, aku begitu mencintaimu, dan aku tidak mau kau pergi ke pelukan lelaki lain." Adam kembali memelukku. Kali ini lebih erat hingga membuatku sulit untuk bernafas.
Aku mencoba mendorong tubuhnya. "Tu-tunggu dulu. Apa maksudmu, adam."
"Aku tahu, kau sudah mengetahui perjodohan yang dilakukan orang tua Reno kepadanya." Raut wajahku berubah sayu. Lelaki itu selalu tahu.
Ya, itu karna kami semua adalah teman sejak kecil.
"Aku takut, perasaanmu akan goyah padaku dan kau memilih pergi ke pelukan Reno. Meninggalkanku sendirian disini." Tangannya yang dingin meraih telapak tanganku. Membawanya ke wajahnya sebelum dia merasakan hangatnya tanganku yang lembut.
"Adam, apa kau tahu. . ." tanyaku padanya. "Satu hal yang sangat menyedihkan adalah saat kau tahu, kau tidak akan pernah bisa memilikinya."
Ya, sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa mendapatkan hati Reno. Kenyataannya bahwa lelaki itu tidaklah mencintai diriku. Jadi artinya, sampai kapanpun. Hatinya tak akan pernah berpaling dan melihatku.
"Perasaanku sama dengan apa yang kau rasakan saat ini adam. Perasaan takut kehilangan orang yang sangat kita sayangi. Aku juga merasakannya. Tapi aku tak mampu menahannya. Saat aku tahu Reno akan menikah dengan wanita lain. Saat itu juga, kesempatanku telah berakhir."
"Menangislah, kalau kau ingin menangis." Dengan lembut, adam kembali memelukku.