bab 12

1340 Words
"Maafkan aku adam, maaf. . ." Gumanku pelan. Adam mencoba menenangkanku dalam tangisku yang pecah. Aku sudah terlalu berbuat salah kepada adam. Meskipun, dia tahu aku masih memiliki perasaan cinta pada Reno. Tapi adam tetap mencintaiku dengan segenap hatinya. Lelaki yang memiliki perasaan hangat dan lembut. Selamanya aku tidak akan pernah melupakannya. Pacar pertamaku. Adam saputra. *** Cantik. Itulah kata pertama yang keluar dari mulutku saat bibi memperlihatkan aku foto calon istri yang akan dinikahi Reno kelak. Pantas Reno tak menolaknya. Gadis itu terlihat begitu anggun dan juga terlihat baik. Kulitnya putih mulus, bahkan melebihi diriku. Alisnya begitu bagus dengan bulu matanya yan begitu lentik. Mereka berdua terlihat serasi jika berdiri berdampingan. Meskipun ini pada awalnya bertujuan untuk menolong perusahaan ayah Reno. Tapi, kelak ini akan menjadi pernikahan yang sakral yang akan dilaksanakan Reno. Dia pasti akan sangat bahagia mendapatkan wanita seperti gadis yang ada difoto itu. "Kami sudah menyiapkan semua keperluan untuk pesta pernikahan mereka nanti. dan kami tinggal memilih cincin dan juga baju untuk mereka. ku harap kau bisa membantu pelaksanaan ini. bibi ingin kau ikut serta dalam kebahagiaan Reno." Bibi tersenyum bahagia. Rasanya tidak tega jika aku harus menolaknya. "Baik bi, aku pasti akan membantu semampu yang kubisa." Ucapku lembut. menyunggingkan senyum palsu untuk menutupi rasa sakit yang tengah kurasakan. "Hallo?" saat kami sibuk berbincang, bibi mendapatkan sebuah panggilan entah dari siapa. Tapi sepertinya itu penting. "Hana..., bibi ada keperluan sebentar. Kalau kau ingin melihat Reno. Dia sedang ada dikamarnya." Bibi berbisik pelan sebelum melenggang pergi. Aku hanya mengangguk saat itu. Melihat tangga yang menuju lantai dua. Dimana kamar Reno berada, aku beranjak dari sofa. Berjalan menuju atas dan mengetuk pintu kamar Reno. "Ren...reno, ini aku. Hana." Ucapku pelan seraya mengetuk pintu kamar. Sesaat, suanana begitu sunyi hingga suara pintu terbuka. Reno muncul dengan kaos hitam dengan celana panjangnya. Wajahnya terlihat acak-acakan. "Apa kau baru bangun tidur?" tanyaku memastikan. Reno hanya berguman tak jelas sebelum dia mempersilahkan aku masuk. "Masuklah," Aku langsung masuk kedalam kamar Reno. Disuguhkan oleh bau khas dari seorang Reno. Aku duduk disebuah kursi kecil didekat ranjang. "Kau mau minum apa?" Tanya reno menawarkan. Dia sudah berada didepan kulkas kecil yang ada didekat jendela. "Terserah kau saja." Reno sibuk mengambil minuman didalam kulkas, sementara aku melihat ke penjuru kamar Reno. Untuk ukuran kamar lelaki, kamar Ruvel sangatlah bersih dan rapi. Banyak sekali foto-foto masa kecilnya bersama dengan paman dan bibi. Dan juga diriku? Aku melangkah mendekati foto yang terpanjang di dinding. Fotoku bersama dengan Ruvel disebuah taman. Aku memeluknya dari samping dengan ceria, sedangkan Reno hanya memasang wajah cemberut. Aku sangat inga sekali. Waktu itu, dia sedang kesal padaku karna aku bermain dengan anak laki-laki lain yang ada ditaman. Mengabaikan Reno yang ada disampingku. Dia bilang jika dia tidak suka kalau aku bermain dengan orang lain selain dirinya. Tanpa terasa aku tersenyum. Rindu dibalut sebuah luka. Aku ingin kembali mengulang masa-masa indah saat bersama Reno dulu. Dulu. . . semuanya terlihat mudah dan menyenangkan. Tapi, seiring berjalannya waktu. Saat kami sedikit demi sedikit mulai dewasa. Permasalahan mulai mendekati kami. Mendorong kami untuk lebih dewasa dan pandai menyelesaikan masalah. Kadang saat menghadapi masalah yang rumit. Kita harus mengerti dan belajar apa itu masalah. Agar kita bisa menghadapi dan menyelesaikannya. Mencari tahu asal dari permasalahan dan memperbaikinya agar kita mendapatkan sebuah kebahagiaan. Meskipun itu melalui jalan yang menyakitkan. "Ini," aku menoleh, melihat Reno menyodorkan jus jeruk kesukaanku. Keningku berkerut, dia bahkan tak suka dengan jus jeruk. Menyentuhpun dia tak mau. Tapi kenapa dia menyimpannya di kulkas. "Foto masa kecil." Reno berbisik pelan di telingaku. Ikut memandang foto kami saat kecil. "Hmm. . . Rasanya aku ingin kembali ke masa-masa dulu. Saat kita masih bisa tersenyum lepas tanpa adanya masalah yang membelit kita." "Itu semua sudah berlalu." Reno berbalik. Duduk ditepi ranjang dan membuka kaleng soda yang dia pegang sejak tadi. Bisa ku dengar dia meminumnya seteguk dan menatapku kembali. "Semuanya sudah bebeda. Tidak lagi sama." Bisikku pelan. Haaah, aku menghembuskan nafasku. Kemudian ikut duduk disamping reno dan meminum jusku dalam diam. "Bagaimana?" Aku kembali membuka suara. Dahi Reno berkerut. Tak mengerti dengan maksud pertanyaanku. "Soal pernikahanmu. Ku dengar dari bibi, semuanya sudah siap. Hanya perlu membeli cincin dan juga baju. Dan, beberapa hal lainnya lagi." Ucapku rendah. Mataku menatap jus yang ada ditanganku. Tak memandang ke arah Reno yang ku yakini saat ini terus memperhatikan gerak-gerikku yang berbeda. "Semuanya sudah diatur ibuku dengan sempurna jadi aku tidak perlu melakukan apapun." Jawab Reno. Aku hanya membalasnya dengan gumanan. Sebelum aku menaruh jusku dimeja dengan ranjang untuk kemudian aku berbaring diatasnya. Aku mendesah dengan keras sambil menikmati tiduran diranjang Reno yang sangat empuk dan nyaman. Ini adalah tempat dimana dulu kita sering tidur bersama. Bau dan rasanya tidaklah sama seperti yang dulu. "Kemarilah," aku menepuk sisi ranjang sampingku. Menyuruh Reno yang sejak tadi memperhatikan aku untuk ikut tiduran disampingku. Reno menurutinya tanpa protes sama sekali itu sangat terlihat bukan Reno sama sekali. Dia Menaruh kaleng sodanya dilantai dan kemudian tidur disampingku. Tubuhnya yang tinggi membuat posisinya berada tepat diatas kepalaku dengan kedua lengan yang merentang. Aku langsung merubah posisiku untuk tidur dilengan Reno. Mendekatkan diriku hingga aku berada tepat didekatnya. Bisa ku rasakan bau harum yang keluar dari tubuh Reno yang begitu khas. Bau parfum kayu-kayuan yang sering ku cium. "Sudah lama kita tidak melakukan ini." Gumanku pelan. Aku menarih diriku lebih dalam. Menenggelamkanku ditubuh kekar Reno yang begitu nyaman. Tak ada penolakan, Reno hanya diam. Sepertinya dia menungguku menyelesakan perkataanku. "Dulu, saat kita masih kecil. Kau sering memelukku setiap kali aku susah tidur ataupun saat aku mimpi buruk." Aku mendongak, menatap reno yang tengah memejamkan matanya. "Reno, Peluk aku." Ucapku rendah. Untuk terakhir kalinya sebelum Reno menjadi milik orang lain. Aku ingin merasakan pelukan Reno yang hangat seperti dulu. Dan ku rasakan, tubuh Reno mulai memiring. Tangannya yang kuat memelukku lebih dekat ke dekapannya. Sesaat aku merasa perasaan kami saling terhubung. Perasaan cintaku seakan tersampaikan saat aku merasakan Reno memelukku dengan lembut dan kasih sayang. Aku merasa, kami memang saling mencintai dan mengasihi. Ada sesuatu seperti benang merah yang membuat kami sulit melepaskan satu dengan yang lainnya. Tapi itu semua hanya imanjinasiku. Toh kenyataanya. Reno tak memiliki perasaan lebih, selain teman kecil. Ku pejamkan mataku. Merasakan hangatnya tubuh Reno yang mulai menyatu dengan tubuhku. Saat itu, ku dengar samar-samar Reno seperti mengatakan maaf kepadaku. Sampai pada akhirnya, aku tertidur. Jatuh dalam mimpi indah bersama dengan kekasih hati yang sangat ku cintai walau hanya aku yang menganggapnya begitu. *** Aku terbangun saat ku rasakan pagi seakan telah tiba. Dengan kamar yang remang-remang aku mulai membuka mataku sedikit demi sedikit mengerjap beberapa kali hingga aku mengangkat tubuhku. Bersandar pada punggung ranjang dan melihat ke sekeliling. Tubuhku langsung menegang saat ku sadari bahwa aku tengah tidur diranjang Reno. aku menoleh ke sampingku. Tidak ada reno disampingku. Hanya ada aku, sampai kedua mataku menangkap sosok yang tengah tertidur pulas disofa panjang yang bisa digunakan untuk tidur. Segera aku turun dari ranjang dan berjalan mendekati Reno yang masih tertidur pulas. Tidak ku sangka, aku akan tertidur dikamar Reno. Entah kenapa, wajahku terasa memanas saat aku membayangkan semalam aku tidur dikamar seorang lelaki yang sangat ku cintai. Bisa melihat wajah Reno saat tertidur membuat hatiku damai. Cita-cita yang selama ini aku dampakan adalah melihat Reno bangun dipagi hari tepat disampingku. Mencium puncak kepalaku dan mengatakan selamat pagi. Aku kemudian tersenyum lembut. "Selamat pagi Reno." Ucapku pelan. Aku kembali ke ranjang, mengambil selimut untuk kemudian aku gunakan menyelimuti tubuh Reno. Sebelum aku keluar dari kamar, ku lihat bibi tengah sibuk membuat sarapan pagi untuk semuanya. "Selamat pagi, Bibi." Sapaku. Bibi menoleh kepadaku. Membalas sapaanku dengan senyum lembutnya. "Sudah bangun ya, apa semalam tidurmu nyenyak?" tanyanya kemudian. Aku yang sudah berdiri disampingnya ikut membantu Bibi membuat sarapan. "Nyenyak. Ehm. Maaf, semalam aku tidak sadar kalau aku sudah tertidur. Padahal. . ." Suaraku mengantung. Tidak baik, rasanya kalau aku tidur dikamar Reno yang hendak menikah. Kalau calon istrinya tahu. Pasti dia akan marah besar. "Tidak apa-apa. Justru, bibi malah senang. Berkat kau, ini kali pertamanya Reno bisa tidur dengan nyenyak." Aku mendelik. Alisku bertautan. "Maksud bibi?".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD