"Selama ini, Reno suka sekali tidur larut malam. Setiap malam lampu kamarnya selalu menyala. Dan saat ku lihat kedalam, dia sibuk membaca buku. Saat ku tanya, dia bilang tidak bisa tidur. Awalnya ibu khawatir, karna itu tidak baik untuk kesehatannya. Apalagi, paginya dia harus bekerja dikantor." Bibi terhenti. Kemudian tersenyum tipis kepadaku.
"Tapi, semalam. Belum ada jam sembilan, Reno sudah mematikan lampu kamarnya. Dan saat ku lihat kedalam. Kalian berdua sudah tidur nyenyak sekali." Aku tersanjung mendengarnya. Perasaan senang seakan menyelimutiku.
Meskipun semua itu hanyalah hal kecil. Tapi aku senang sudah membantu Reno. Setidaknya, dia bisa tidur nyenyak.
"Terima kasih ya hana, selama ini kau sudah banyak membantu reno dalam segala hal."
"Bibi. . ." Gumanku resah. Tidak ada hal yang bisa ku lakukan untuk membantu Reno. Kami bahkan selalu bertengkar.
"Bibi sangat bersyukur kau adalah orang yang dekat dengan Reno. selain kau baik, kau seakan bisa mengontrol Reno untuk tetap berada pada jalurnya. Bibi saja, yang ibunya sulit untuk melakukannya." Bibi terkekeh geli.
Aku hanya memutar bola mataku bingung. Masih tidak mengerti kenapa bibi melakukan hal itu. Aku bahkan tidak tahu apa arti dari mengontrol Reno. Memangnya apa yang ku lakukan selama ini?
Yang ku lihat, Reno selalu kasar kepadaku. Sama sekali tidak baik dan juga dingin. Dia juga tak acuh sekali. Apanya yang bagus dari itu. Aku mencibir dalam hati. "Bibi sepertinya terlalu berlebihan. Kami bahkan selalu bertengkar setiap kali bertemu. Lalu apanya yang bagus."Ucapku bingung.
Bibi terlihat tersenyum. "Nanti kau juga akan tahu." Ungkapnya.
"Bibi minta maaf ya. Karna mulai sekarang, Reno akan menikah. Mungkin perhatiannya kepadamu akan sedikit berkurang." Dahiku berkerut. Semakin ke sini, pembicaraan Bibi semakin membuatku bingung.
"Reno memang harus lebih perhatian kepada istrinya kelak."Ucapku pelan.
Percakapan kami tak sampai disitu saja. Bibi membicarakan banyak hal mengenai calon istri Reno. Bibi bilang, besok mereka akan pergi untk menyiapkan baju dan juga cincin yang sangat penting untuk pernikahan mereka.
Bibi awalnya ingin mengajakku. Tapi aku menolaknya dengan halus. Beralasan kalau aku harus bekerja.
Tak lama. Masakan kami akhirnya selesai. Paman dan Reno keluar dari kamar mereka dan kami sarapan bersama pagi ini. Reno terlihat berbeda. Dia lebih ramah kepadaku dan mau berbicara denganku sepanjang sarapan pagi hari ini. dia juga mengantarkan aku kembali ke rumah sebelum mengantarku berangkat ke Caffe adam.
Awalnya aku sempat takut karna nantinya, Reno akan bertemu dengan adam. Tapi sepertinya Reno tidak lagi bermasalah dengan hal itu.
"Kau ingin mampir sebentar?" Tawarku pada Reno. "Tidak perlu. Ucapkan salamku pada adam." Guman Reno.
Aku mengangguk. Kemudian turun dari mobil. "Aku pergi dulu." Ku jawab dengan gumanan. Melambaikan tanganku ke arah reno yang sudah melesat pergi. Sampai mobilnya tak terlihat lagi, aku masuk kedalam Caffe.
Ternyata Adam belum sampai. Akupun bergegas berganti baju sebelum membantu pegawai yang lainnya bersih-bersih. Mempersiapkan semuanya sebelum kami membuka Caffe kami.
***
Sudah ku putuskan sejak semalam. Saat aku berada dirumah Reno. Aku ingin mengundurkan diri dari pekerjaanku ditempat adam. Aku merasa aku tidak pantas berada dihadapan Adam setiap saat setelah penolakan yang ku lakukan atas lamaran yang dia berikan waktu lalu.
Lama aku memikirkan semuanya, aku ingin hidup mandiri. Setelah pernikahan Reno. Mungkin aku akan pergi keluar kota maupun luar negeri. Merinti karir dari bawah hingga nantinya aku bisa sukses. Selain alasan itu, aku juga ingin melupakan Reno tanpa ada yang harus menggunakan seseorang sebaik Adam aku akan melepaskan mereka berdua.
Jika aku tetap berada ditempat yang sama yang dipijaki Reno. Aku akan terus mengingatnya dan sulit untuk melupakan Reno yang telah memiliki pendamping hidup.
Aku juga sudah mengatakannya pada Adam alasanku yang sebenarnya. Hingga dia bisa memakluminya. Tak heran jika adam tidak marah sama sekali. Dia memang orang yang sangat baik. Terlalu baik bagi gadis munafik seperti diriku.
Adam sempat menawarkan bantuan kepadaku. Ada salah satu temannya yang berada dilondon. Dan mungkin aku akan kesana, ikut bekerja dengan teman Reno setelah aku membicarakan semua ini kepada keluargaku.
Aku juga harus mengatakannya dulu kepada intan, dia satu-satunya temanku yang berharga yang akan ku beritahu saat nantinya aku akan pergi.
"Terima kasih, sudah mengantarku pulang." Gumanku pelan.
Adam tersenyum kepadaku, "Masuklah." Mencium dahiku sejenak dan kembali menatapku dengan lembut. Aku rasa tak ada lelaki lain sebaik adam di dunia ini.
"Kau orang yang baik adam. Aku percaya, suatu saat kau akan mendapatkan gadis yang lebih baik." Ucapku penuh hati. Adam kembali tersenyum. "Ya, tentu saja Hana..."
Kemudian, aku masuk kedalam rumah. Melambaikan tanganku sebelum aku menutup pintu rumahku. Suasana sudah sepi mengingat jam menunjukkan pukul 1 pagi.
Ku langkahkan kakiku ke dapur. Hendak mengambil minuman karna aku merasa sangat kehausan. Dan pada saat aku hendak meminum air mineralku. Aku merasa ada sesuatu yang aneh pada diriku.
Perutku terasa begitu sakit. Kepalaku terasa begitu berat dan pusing, sampai aku harus berusaha mencari pegangan untuk membuat tubuhku tetap berdiri.
Tapi itu terlalu sulit. Semakin aku mencoba menahan diriku dalam keadaan sadar. Kepalaku semakin terasa pusing dan menyakitkan. Berdenyut-denyut hingga membuat penglihatanku terasa begitu kabur. Gelas yang sejak tadi aku pegang pun terjatuh ke lantai. Menimbulkan suara nyaring yang begitu memekikkan telinga.
Sampai pada akhirnya aku jatuh tersungkur diatas lantai.
***
Bau harum yang sangat familiar begitu tercium dihidungku. Bau obat-obatan dan juga beberapa suara orang tengah mengobrol tertangkap ditelingaku saat ku rasakan mataku sedikit demi sedikit terbuka. Saat itu juga ku rasakan tanganku seperti diberi sesuatu.
Selang infus. Ucapku dalam hati.
Aku menengadah. Menatap ke sekeliling. Aku berada dirumah sakit. Tapi kapan? Kenapa aku bisa ada disini?
Ku coba mengingat apa yang terjadi. Tapi kepalaku langsung terasa begitu sakit sampai membuatku meringis kesakitan.
"Hann...kau baik-baik saja?" Aku terkejut saat tiba-tiba Reno muncul dengan wajah khawatir. Tubuhnya langsung berada disampingku saat dia menyadari aku kesakitan. Dengan cekatan, Reno meraih kepalaku.
Berkali-kali dia bertanya apakah aku baik-baik saja, tapi aku hanya tetap diam dengan kebingungan.
.
.
Kenapa Reno ada disini?
.
.
Dan kenapa denganku ini?
"Reno, apa yang terjadi padaku?" Tanyaku kemudian.
"Kau pingsan. Dokter bilang kau terkena radang usus, karna terlalu stress dan banyak tekanan. Kau sudah lebih baik?"
Aku mengangguk kecil. Rasanya masih sakit saat aku mencoba menggerakkan kepalaku. Baru ku sadari jika semalam aku pingsan karna perutku yang sakit.
"Kenapa kau ada disini?"
"Saat tahu kau pingsan, bibi langsung menghubungiku. Mereka sudah berjaga semalaman, dan saat ini mereka sedang pulang ke rumah untuk membawakan beberapa baju dan keperluanmu ke sini." Aku mendesah, menelan ludahku dengan sangat susah. Aku butuh minum. Leherku terasa kering karna kehausan.
"Kau mau minum?" Aku mengangguk saat Reno menyadari apa yang ku inginkan. Dengan lembut, tangan Reno meraihku.
Membantuku untuk bangun dan menyenderkan tubuhku dipunggung ranjang. Reno kemudian membantuku untuk minum sebelum dia kembali membaringkan tubuhku.
"Terima kasih," Ucapku pelan.
"Istirahatlah. Mungkin, sebentar lagi intan dan Anton akan datang untuk menjengukmu. Saat aku menghubungi anton, dan intan tahu kau jatuh sakit. Dia begitu mengkhawatirkanmu." Aku tersenyum tipis. Senang rasanya, dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangimu dan ada disampingmu saat kau benar-benar butuh.
"Apa kau juga mengkhawatirkan aku?" Pertanyaan itu, entah kenapa muncul secara tiba-tiba dari mulutku. Bisa ku lihat raut wajah reno berubah saat mendengarnya. Mungkin, dia tidak terganggu.
Tak sanggup mendengar jawaban dari Reno. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Mengabaikan perasaanku yang mulai tersakiti lagi. Seharusnya aku tidak bersikap seperti ini pada Reno.
"Eh?" Aku menoleh saat merasakan tanganku digenggam oleh
Reno. Dia menatapku dengan begitu lembut sampai aku sulit untuk memalingkan wajahku dari matanya yang tajam.
"Lebih dari yang kau ketahui, Hann... Aku sungguh mengkhawatirkanmu." Jantungku berdebar. Dadaku terasa sesak dengan gemuruh aneh yang mendadak membuatku sedih.
Apa ini? hanya dengan kalimat kecil yang dia ucapkan. Aku meras begitu bahagia, tapi juga merasa terluka. Leherku terasa tercekat, sulit untuk sekedar berucap.
"Aku mohon, jangan menyiksaku dengan melihatmu sakit Hana..."
Hatiku berdesir. Merasa jika saat ini, Reno seakan menjadi belahan jiwaku yang sangat mencintai diriku.
"Apa ini, salah satu dari peran teman kecil, Ren...?" Tanyaku dengan suara parau. Aku tak lagi mau mendengar bualan yang nantinya akan kembali meruntuhkan hatiku yang sudah memantapkan untuk melupakan reno.
"Bukan hana . ." Reno berbisik dengan lembut. Seakan tengah menyatukan hati kami dengan menempelkan dahi kami satu sama lain. Reno kemudian mencium bibirku dengan lembut.
Saat itu, aku hanya mampu diam seribu bahasa. Dengan keterkejutan yang sulit untuk aku buyarkan. Aku merasa dalam keadaan mimpi saat menyadari seorang Reno menciumku dengan begitu lembut dan hangat.