Reno melepas ciumannya Dan menatapku dengan lembut"Aku khawatir, sebagai seorang lelaki yang menyayangi gadisnya."
"Reno,....."
Reno nampak menggeram. Kemudian menjaukan tubuhnya dariku. Sampai dia melepas genggaman tangannya sejak tadi. Saat ku tahu, dibelakangnya ternyata sudah ada seorang suster yang memandangi kami dengan wajah memerah.
"Ma-maaf tuan, saya kemari ingin mengatakan pada anda, jika anda harus mengurus mengenai urusan administrasi terlebih dulu." Ucap suster tadi.
"Hn, aku mengerti." Ucapan reno terdengar begitu berat. Seakan terganggu dengan kedatangan sang suster. Lalu, dengan lembut Reno mengelus lembut rambutku.
"Istirahatlah, aku akan segera kembali." Ucapnya kemudian, sebelum Reno pergi bersama dengan suster tadi.
Aku yang masih tak mampu mencerna apa yang terjadi, hanya bisa mengerjapkan mataku berkali-kali ini seperti hal mustahil bagiku. Sikap Reno tadi, seperti seorang kekasih yang sedang mengkhawatirkan gadisnya.
Sebenarnya apa arti dari semua itu. Dihatiku yang terdalam, aku sangat bahagia Reno begitu perhatian kepadaku.
Tapi, saat aku kembali mengingat Reno yang segera akan menikah. Semaunya runtuh bagai bangunan yang dihancurkan dengan paksa.
Meninggalkan luka mendalam yang sulit untuk disembuhkan.
***
Sepeninggalnya Reno. Aku mencoba mengambil ponselku yang ada dimeja dekat ranjang. Menghidupkannya dan melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dan juga sms dari beberapa orang. Termasuk adam.
Mereka pasti mengkhawatirkan aku. Termasuk adam, akupun berinisiatif untuk membalasnya dengan sms. Menyuruhnya untuk tidak khawatir karna aku sudah baik-baik saja. Dan Adam bilang dia akan kemari secepatnya setelah Caffe tutup. Aku hanya mengiyakannya begitu saja.
Sampai, intan datang menjengukku dengan wajah khawatir. Dia bahkan tegopoh-gopoh untuk sampai di sini.
"Dasar bodoh!" Aku meringis kesakitan saat intan baru tiba, tangannya yang panjang memukul kakiku dengan kasar.
"Kenapa bisa sampai jatuh sakit?! Kau kan, bukan anak kecil lagi!" Aku hanya terkekeh kecil saat melihat Reaksi intan yang seperti ibuku yang cerewet.
Temanku yang satu ini memang paling tidak bisa melihat orang terdekatnya jatuh sakit.
"Maaf. Lagipula aku tidak berdaya untuk menolaknya." Gumamku dengan masih tersenyum. "Oh ya, Dimana kak anton?" Tanyaku. Mataku sejak tadi tidak melihat sosok anton. Reno tadi bilang jika dia akan datang bersama intan.
"Dia sedang bersama dengan Reno. Kami bertemu ditempat kasir, saat kami ingin kemari." Aku hanya menjawabnya dengan gumaman. Sampai intan menanyakan keadaanku. Aku hanya menjawabnya dengan kata "baik-baik saja‟.
"Lain kali. Bilang padaku kalau kau sedang tidak enak badan. Jangan meyembunyikannya sendiri seperti itu." Intan nampak lebih rewel dari biasanya. "Iya, aku tahu many intan. Ini hanya pusing biasa, dokter bilang aku hanya terlalu banyak fikiran. Aku juga akan pulang."
"Tidak bisa! Kau harus tetap disini sampai kau sembuh. Tubuhmu itu tidaklah sekuat yang terlihat." Alisku bertautan. "Jadi, maksudmu, aku ini lemah?" Cibirku kemudian.
Intan menyilangkan tangannya didada. "Ya, begitulah. Sebagai sahabatmu. Aku putuskan, kau akan tetap dirawat dirumah sakit sampai kau sembuh. Titik, dan tidak ada tawar menawar lagi."
Aku hanya menggerutu sendiri saat intan bertindak seperti ibuku. "Ya sudah, mau bagaimana lagi. Dokter intan sudah memutuskannya. Sulit bagiku untuk menolaknya, benar kan?"
Kami tertawa. Entah sudah berapa lama kami tidak tertawa seperti sekarang ini.
Tak terasa, aku dan intan berbincang-bincang begitu lama, sampai anton dan Reno kembali. Anton kemudian duduk disamping intan. Sedangkan, Reno duduk tepat didekatku.
"Kau baik-baik saja?" Tanya anton padaku. Aku hanya berguman seraya tersenyum tipis.
"Kenapa lama sekali?" Tanya intan.
"Kami berbincang banyak hal."
Aku dan intan saling pandang. Menatap Reno dan anton secara bergantian. Banyak hal yang tidak aku mengerti tentang anton dan Reno. Mereka terlalu pintar menyembunyikan rahasia diantara mereka.
"Bukan hal penting." Reno menambahi. Menangkap ekspresi wajahku yang masih penasaran.
"Bukan hal penting, tapi kau tetap merahasiakannya dariku." Cibirku kemudian. Tapi setelahnya, aku mendapatkan sebuah sentilan tepat didahiku.
"Pikirkan dulu kesehatanmu, baru memikirkan hal lainnya." Bibirku mengkerut. Di tambah pipiku yang menggembung membuatku semakin terlihat seperti anak kecil. Anton dan intan hanya menatap kami dengan menggeleng-gelengkan kepala.
"Sudah lama sekali, aku tidak melihat kalian bertengkar seperti anak kecil." Anton tersenyum kecil.
"Itu bukanlah hal yang bisa dibanggakan. Bukankah tadi kau bilang, akan pergi?"
"Kau mengusir kami?" Mata intan menajam. Menatap Reno dengan pandangan tak suka. Ku yakini, perkataan Reno tadi memang mampu membuat intan kesal.
"Aku hanya mengingatkan." Reno hanya menanggapinya dengan nada dingin. Sesekali melirikku yang hanya diam melihat.
Kemudian, ku dengar suara tawa anton. "Oke, Oke, cukup bertengkarnya. Ini rumah sakit, dan hana juga pasti perlu istirahat." Ucap anton. "Kebetulan, aku harus pergi ke kantor karna ada urusan tertentu. Jadi, hana.....Aku harap kau cepat sembuh agar aku bisa melihat kalian berdua bersanding bersama."
Mataku mendelik, menatap anton dengan dahi berkerut. Sementara, Reno nampak menatap anton dengan tajam. Melotot pada anton yang hanya terkekeh kecil seakan menyejek reno.
"Apa maksud-"
"Sudahlah, cepat pergi sana!" Ucapanku terhenti. Digantikan suara nyaring Reno yang membentak anton. Mengusirnya untuk segera pergi. Aku merasa ada yang aneh dengan mereka berdua.
"Kami pergi dulu ya hana. Sepertinya, iblis penjagamu ini sudah tidak tahan untuk melihat kami berdua pergi dari hadapanmu." Intan beranjak dari sofa. Melirik Reno dengan jengkel.
Aku tertawa mendengarnya. "Hum, sampai ketemu nanti." Ucapku pelan.
Kemudian anton dan intan beranjak pergi. Sebelum pergi anton seperti mengatakan sesuatu kepada Reno. Entah apa itu, tapi sepertinya anton sengaja menggoda Reno. Memancing amarahnya agar keluar. Tapi Reno seperti menahannya karna sesuatu.
Mungkinkah itu karna aku?
"Apa yang kalian sembunyikan?" Aku kembali mengintrograsi Reno selang setelah mereka berdua pergi. Tapi Reno hanya bilang bukan apa- apa, sebelum dia beranjak ke sofa untuk membaringkan tubuhnya.
"Reno. . ." Aku merengek. Menatap sebal Reno yang pura-pura tidur.
"Reno..Reno. reno.... Reno....RENO..." Aku berkali-kali memanggil- manggil namanya. Sampai ku dengar sebuah geraman. Reno melompat dari sofa dan mendatangiku.
Aku tersenyum puas. Bagian yang paling ku suka saat aku mampu membuat Reno tak berkutik lagi.
***
Bosan rasanya terus-terusan berbaring diranjang, dan tak melakukan apapun selain membaca buku atau berkutat pada ponselku.
Melihat Reno yang telah tertidur sejak tadi, aku memutuskan untuk keluar dari ruanganku sebentar. Ingin menghirup udara segar dimalam hari.
Aku keluar dengan diam, tak mau membuat Reno terbangun, dan nantinya dia akan marah-marah karna melihatku turun dari ranjang. Sudah seharian ini dia menungguiku meskipun ibuku telah datang. Reno bahkan, bilang jika dia akan terus menungguiku sampai aku sembuh.
"Haaah~ Rasanya nyaman sekali." Desahku. Ku renggangkan semua otot-ototku yang terasa kaku. Mengirup udara malam yang sungguh menyegarkan. Angin bertiup dengan sejuk malam ini, bahkan bulan dan bintang bersinar dengan terang.
Ku langkahkan kakiku menyusuri taman rumah sakit dengan selang infus yang masih tertempel di tanganku. Aku duduk disebuah kursi panjang. Duduk disana sambil menikmati suasana malam yang sunyi.
"Haaah~" Aku kembali menghembuskan nafas panjang. Damai rasanya saat ku rasakan diriku seperti bebas. Rasa sesak dan segala pikiran yang ku rasakan seakan hilang diterpa angin malam. Menembus sela-sela otakku dan membiarkannya Rilex.
"Aku khawatir, sebagai seorang lelaki yang menyayangi gadisnya." ku ingat kalimat yang keluar dari mulut Reno tadi pagi. Rasanya seperti mimpi dia mengatakan hal semanis itu, apalagi dengan sikapnya yang cuek dan dingin.
"Hana. . .!" Aku menoleh saat namaku dipanggil. Adam tengah berjalan ke arahku. "Adam? Dari mana kau tahu aku ada disini?" Tanyaku bingung.
Adam kemudian duduk disampingku. Tersenyum ramah, "Dari suster. Dia melihatmu keluar, dan berjalan ke taman." Jawabnya.
"Oh, Lihat. Tanganku di infus." Aku memperlihatkan tanganku yang ada selang infusnya kepada adam. Tapi yang ku dapat, Adam terkekeh. Lelaki itu kemudian mengacak rambutku gemas.
"Malam-malam begini, seharusnya kau tidak keluar sendirian. Setidaknya ajak Reno bersamamu."
"Reno sudah tidur. Aku tidak enak karna dia sudah seharian ini menungguku. Lagipula, tidak mungkin dia mengijinkan aku turun dari ranjang. Hari ini, Dia seperti ibu-ibu arisan yang cerewet." Ku denga adam tertawa lebar. Aku hanya menyunggingkan senyum kecil ku kepadanya.
"Dia peduli padamu hana."
"Oh ya? Aku tidak merasa begitu. Meskipun, ya. Ada sedikit perubahan dari sikapnya. Tapi tetap saja, aku. . ." Suaraku tercekat.
Terhenti di kalimat yang paling membuatku terluka. Wajahku menunduk seketika dengan kedua tangan yang saling menggenggam.
"Tetaplah berfikir positif. Aku tahu dia sangat menyayangimu melebihi siapapun. Suatu saat, kau akan menyadari hal itu hana." Adam meraih tanganku digenggamannya. Aku hanya membiarkannya sampai aku menyenderkan kepalaku dibahunya.
"Kau tahu, hari ini, semua orang terlihat berbeda. Kau, Reno dan juga Anton . Kalian semua mengatakan hal yang tidak ku mengerti. Aku jadi sebal." Bibirku mengkerut. Agak jengkel karna semua orang mengatakan hal aneh yang tidak ku pahami.
"Jangan terlalu dipikirkan,"
Kami berdua menikmati malam sunyi hanya berdua saja. Ku anggap ini sebagai kencan terakhir kami setelah berakhirnya hubungan kami. Aku pasti akan sangat merindukan saat-saat hangatku bersama dengan adam. Perlakuan lembut dan juga kata-katanya yang selalu membuatku tenang.
Lama kami berada di taman rumah sakit, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke ruanganku. Kasihan Adam, karna besok dia harus bekerja. Aku tidak mau dia kelelahan dan pulang lebih larut lagi.