Kami berdua berjalan santai dilorong rumah sakit sambil mengobrol. Sampai kami sampai didepan pintu ruanganku. Aku mengeryit saat melihat seseorang yang sangat ku kenal berdiri dengan mata tajam ke arah kami.
"Dari mana saja kau?" Suara Reno terdengar sangat marah. Matanya yang tajam mengisyaratkan kalau dia tidak suka melihat Adam ada disini. Bersama denganku, berdua saja.
"Aku....-"
"Kami baru saja dari taman." Adam dengan cepat memotong ucapanku. Keduanya saling menatap dengan pandangan tak suka. Aku sampai merinding melihat mereka berdua seperti mau saling membunuh. Aura dingin yang membuatku ketakutan.
"Bukankah tadi, sudah ku suruh kau untuk tidur Hana...?" Kali ini, Reno beralih melirikku dengan tajam. Aku tak berani menatapnya, hanya menjawab pertanyaannya dengan sewajarnya.
"Dia hanya ingin ke taman Reno. Kau tidak perlu semarah itu. Aku temannya, dan aku tidak akan melukai Hana seperti yang kau lakukan selama ini."
Oh astaga, seharusnya adam tak mengatakan hal itu. Kalimatnya cukup membuat raut wajah Reno mengeras. Bisa ku lihat, Reno semakin marah dibuatnya.
"Kau!!" Reno menggeram. Tangannya dengan cepat mampu meraih kerah baju adam dan mencengkramnya. Aku yang melihatnya sampai bergidik ngeri.
Ini kali pertamanya aku melihat Reno semarah ini. Lebih parah dari amarahnya yang selama ini aku lihat. Reno benar-benar berbeda. Membuatku takut sekaligus sedih. Karna aku tidak mau melihat Reno seperti ini. Sisi darinya yang selalu membuatku ketakutan.
"Kalau kau merasa itu tidak benar. Kau tak perlu sampai semarah ini, tuan Reno yang terhormat" adam masih terlihat begitu tenang. Bahkan, dia sama sekali tidak menampilkan raut marah.
Justru, sepertinya akulah yang kelabakan. Tak terasa, tanganku sudah memegangi lengan adam dengan erat. Takut kalau Ruvel akan melakukan tindakan kasar. Ini dirumah sakit, dan aku tidak mau mereka berdua mendapatkan masalah hanya karna aku.
"Aku peringatkan padamu untuk terakhir kalinya adam. . ." Reno mendesis. "Lakukan, kalau itu membuatmu puas Reno. Selamanya, aku akan tetap mencintai hana. Bahkan, saat dia tak lagi disampingku. Aku akan berusaha merebutnya."
"RENO.... jangan!" Aku menjerit histeris saat Reno hendak meninju wajah adam dengan keras. Tanganku dengan sigap meraih tubuh Reno. Memeluknya dengan erat dan mendorongnya untuk memberi jarak antara kami dan Adam. Aku tak mau pertengkaran ini berlanjut.
Tubuhku saja sampai gemetar hanya karna menahan rasa takutku saat melihat Reno marah. "Ini rumah sakit. Aku mohon, jangan berkelahi." Wajahku menengadah ke atas. Menatap Reno yang begitu kecewa karna aku melerainya.
"Kau melindunginya?"
"Aku tidak melindungi siapapun Reno." Ku remas baju Reno.
Mencoba mencari pegangan karna aku merasa tubuhku terasa lemas. Rasanya ingin jatuh begitu saja, tanpa adanya tenaga dalam diriku.
"Aku mohon. Kita kembali saja ya?" Aku kembali memohon.
Awalnya Reno menggerutu tak suka. Matanya melotot ke arah adam sebelum tangannya meraih pinggangku. Membawaku ke dekapannya.
"Adam...maafkan aku!" Aku berteriak cukup keras saat reno menarikku paksa, untuk masuk kedalam ruanganku. Dia bahkan tak memberikan waktu bagiku untuk berbicara sejenak dengan adam.
Aku merasa bersalah sudah membuat Adam seperti sekarang. Meninggalkannya begitu saja, karna sikap kasar Reno.
Reno membanting pintu dengan kasar. Melepaskan tangannya dari pinggangku. Dia marah, aku tahu dia sedang marah padaku.
"Kembalilah tidur." Ucapnya dingin. Mengabaikan diriku dan melenggang pergi ke sofa untuk kembali tidur. Aku hanya diam melihatnya bersikap seperti itu.
Sebenarnya apa salahku sampai membuat Reno semarah itu?
"Selamat malam, Reno." Gumanku pelan. Aku langsung beranjak ke ranjangku. Tidur dalam pertengkaran kami yang belum selesai.
***
Paginya, aku melihat Reno tak ada diruangan. Hanya ada Ibu dan juga intan. Saat ku tanyakan, dimana Reno. Intan hanya menjawab kalau Reno sedang pergi. Tapi, dia tidak tahu kemana perginya.
Ibuku mendekati ranjang. Memberikan beberapa obat dan air mineral kepadaku. "Tadi, saat Reno pergi. Ibu lihat dia sangat tergesa- gesa. Mungkin dia sedang ada urusan penting. Mangkanya dia tidak mengatakan apapun."
Aku mengambil satu persatu obat yang sudah disiapkan ibuku, meminumnya seteguk demi seteguk.
"Baru ditinggal sebentar, sudah kangen sama Reno." Intan terkekeh.
Menggodaku tepat didepan ibuku, hingga membuatnya tersenyum kecil. Aku hanya memandanginya dengan mata melotot.
"Aku bukannya kangen. Hanya ingin tahu saja, kemana dia pergi."
"Itu sama saja, anakku sayang." Ibuku mencubit pipiku dengan gemas. "Sudah ya, ibu tinggal dulu." Lanjutnya kemudian.
"Apa ayah tidak datang?" Ibuku menggeleng. "Kau tahu sendiri dia itu sangat sibuk. Apalagi sekarang dia sedang membantu memulihkan perusahaan ayah Reno."
Aku hanya berguman. Benar juga, aku sampai lupa soal hal itu. Kemudian ibuku beranjak pergi meninggalkan kami berdua.
"Semalam, apa yang terjadi dengan kalian berdua?" Aku mendelik saat intan menanyakan pertanyaan yang aneh kepadaku. "Memangnya apa yang terjadi?" Tanyaku balik.
"Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu semalam kalian hanya berdua saja diruangan ini. Kau. Dan juga Reno." Ucap intan penuh penekanan. Ada seulas senyum menggoda yang dia tunjukkan kepadaku.
Aku hanya menghembuskan nafasku, raut wajahku jadi kusut mengingat kembali kejadian semalam. "Kami bertengkar. Lebih tepatnya, dia bertengkar dengan adam ." Ucapku kemudian.
Intan melotot kaget ke arahku. "Kenapa bisa begitu?!" Ucapnya setengah berteriak.
Aku hanya mengangkat bahuku. "Semalam aku merasa bosan terus-terusan diatas ranjang. Jadi aku keluar dengan diam-diam dan pergi ke taman. Tidak sengaja, Adam menjengukku dan kami mengobrol bersama. Sampai adam kembali mengantarku ke ruangan. Reno melihat kami."
"Aku tidak tahu apa yang sedang mereka pertengkarkan. Reno marah karna ucapan adam dan dia hampir memukulnya." Aku menghembuskan nafasku resah. "Itu kali pertamanya aku melihat Reno semarah itu. Wajahnya, sangat menakutkan sampai membuatku takut."
"Tapi, intan. . ." Ku pandangi wajah intan dengan resah. " Sebelumnya, saat aku sadar dari pingsanku. Aku merasa Reno terlihat berbeda. Dia mengatakan hal yang aneh kepadaku."
"Apa itu?" Intan nampak kebingungan. Sekaligus penasaran dengan kelanjutan ceritaku.
"Saat ku tanya apakah dia khawatir padaku. Dia menjawabnya dengan begitu serius. Pandangan matanya kepadaku, waktu itu. . . Aku merasa dia benar-benar sangat mengkhawatirkan aku." Aku menjelaskannya dengan susah payah sampai dahiku berkerut.
Sulit untuk mengatakannya dengan kata-kata saat ku lihat ekspresi wajah Reno saat itu. antara sesuatu yang menyulitkan dan perasaan bersalah. Tapi juga ada rasa sayang dan rindu yang saat itu aku rasakan.
Reno seperti ingin menggenggamku. Tapi, seperti ada sesuatu yang menghalanginya untuk bisa berada dekat denganku.
"Entahlah, aku sulit mengatakannya. Tapi yang jelas, Reno sangat berbeda." Lanjutku kemudian.
"Mungkin, dia sudah sadar kalau kau sangat berarti untuknya. Atau mungkin, dia melakukan ini karna sebentar lagi dia akan menikah. Maaf hana, bukannya aku ingin membuatmu sedih. Tapi, kurasa dia seperti itu karna dia tahu. Sebentar lagi, perhatiannya tak akan sama seperti dulu kepadamu."
Aku tersenyum getir. "Aku tahu itu intan. Bibi juga pernah mengatakannya kepadaku. Aku juga tak meminta lebih. Cukup melihat Reno bahagia. Aku juga sudah bahagia."
"Lagipula intan... aku sudah siap untuk menghilangkan perasaan cinta ini dari hatiku. Aku berdoa dari hatiku yang paling dalam. Semoga Reno bahagia dengan orang yang dicintainya. Wanita yang memang telah ditakdirkan untuk dirinya."
Intan meraih tanganku. Kami saling mengeratkan pegangan kami satu sama lainnya. Tersenyum penuh, meskipun saat itu hatiku sedang terluka. Tapi aku mencoba menyembunyikannya sebaik mungkin.
"Aku sangat bangga, punya teman seperti dirimu hana."
***
"Hana...!" Tubuhku terlonjak merasakan keterkejutanku saat intan tiba- tiba masuk kedalam ruanganku dengan berteriak. Matanya melotot dengan ponsel yang masih berada ditangannya.
Ku letakkan majalah yang sejak tadi ku jadikan bacaan ke atas meja. "Ada apa? Kenapa kau panik seperti itu?" Tanyaku kemudian.
Intan berjalan ke arahku dengan wajah pucat pasi. "Reno. Ada berita buruk mengenai dirinya." Jantungku rasanya seperti hendak berhenti. Tubuhku menegang sempurna dengan pikiran kacau yang berkecamuk dipikiranku.
"Apa? apa yang terjadi pada Reno?" Aku mengguncang kedua tangan intan. Menginginkan lebih dari sekedar ucapan yang menggantung.
"Aku baru mendengar kabar, kalau calon istri Reno membatalkan pernikahannya. Dan perusaahan ayah Reno terancam bangkrut."
Mataku melotot sempurna. Apa ini? kenapa bisa terjadi hal seperti ini. Reno. Pasti dia sangat terluka mendengarnya.
"Intan.., aku ingin bertemu dengan Reno.....SEKARANG!" Aku menjerit histeris. Beranjak dari kursiku dan meminta intan untuk mengantarkanku bertemu dengan Reno.
***
Aku berlari keluar dari mobil. Membanting pintunya dan melesat masuk kedalam rumah Reno. Mataku melebar saat ku dapati ibu Reno jatuh dengan lemas. Dibantu oleh bibi pembantu.
"Bibi!" Langsung berlari mendekati Ibu Reno. Merengkuhnya dalam dekapanku dan membantunya untuk duduk disofa, sementara Reno masih berdiri mematung ditempatnya.