"Kau pulanglah, ini sudah malam. Biar aku yang mengantar Reno sampai rumah." Ucap Adam
Meninggalkan Reno dalam keadaan seperti ini ohh itu tidak akan pernah terjadi. rasanya aku tidak tenang. Aku harus memastikan dirinya pulang dengan selamat. Bibi pasti khawatir melihat Reno mabuk seperti ini.
"Jangan khawatir, aku akan menjelaskannya nanti pada bibi." Adam kembali berguman. Seakan mengerti dengan apa yang aku pikirkan barusan.
Cukup merasa lega, aku menganggukan kepalaku. "Terima kasih, adam." Kemudian, menatap kepergian Adam hingga mobilnya tak terlihat lagi.
Aku langsung beranjak masuk kembali ke dalam Caffe. Mengambil tasku dan mengunci pintu belakang sebelum aku kembali pulang.
Setelah ini, aku harus mencari tahu kenapa Reno bisa seperti tadi. Meskipun aku harus langsung bertanya padanya.
***
Semalaman aku tidak bisa tidur karna memikirkan Reno yang tiba- tiba seperti tadi malam. Mataku sampai hitam karna kurang tidur. Semalam aku hendak menghubungi intan, tapi aku takut menganggunya karna sudah tidur. Jadi aku, memutuskan untuk pergi ke rumah Reno untuk menanyakan apa yang terjadi padanya semalam.
Sesampainya dirumah Reno. Aku sudah disambut oleh pelayan yang ada dirumah. "Non hana, Kenapa pagi-pagi datang ke sini?" Sang pelayan tadi nampak kebingungan melihatku sepagi ini datang.
Aku hanya tersenyum tipis, "Apa bibi ada?"
"Nyonya sedang merawat tuan reno, Nona. Semalam, Tuan Reno pulang dalam keadaan mabuk. Dan malamnya, tuan Reno demam."
"Reno demam?!" Aku memekik kaget.
Apa separah itu? Aku langsung menghambur masuk kedalam tanpa memperdulikan pelayan tadi. Berlari menaiki anak tangga hingga aku menemukan pintu kamar yang ada disudut. Pintu yang terbuat dari kayu jati dengan warna kecoklatan. Aku berjalan pelan mendekati pintu. Hendak membuka, tapi tiba-tiba saja pintu kamar Reno terbuka lebih dulu.
Menampilkan bibi yang keluar dengan membawa sebuah wadah berisi air dan handuk kecil. "Hana?"
"Bibi, ku dengar Reno sakit. Apa dia baik-baik saja?" Tanyaku khawatir. aku bahkan sudah tidak sabar lagi ingin masuk kedalam untuk melihat kondisi Reno. Lelaki itu jarang sekali sakit. Sekali sakit, akan lama sembuhnya. Dan aku selalu khawatir setiap kali melihat Reno seperti itu.
Bibi tersenyum padaku. sepertinya dia senang melihatku datang.
"Syukurlah kau datang. Reno sejak tadi memanggil-manggil namamu. Sebenarnya, aku ingin sekali menghubungimu tapi. . . Bibi sedikit merasa tidak enak."
Aku mengerutkan keningku. Kenapa? Apa ada hal yang salah yang tidak aku mengerti?
"Bibi, bisakah aku melihat Reno?"
"Masuklah. Tolong jaga Reno, selama aku membuatkan dia bubur ya?" Aku mengangguk. Menatap bibi pergi hingga menghilang dari balik tangga. Aku kemudian masuk kedalam kamarnya. Membuang nafas panjang dan kemudian menutup pintu kamarnya.
Saat ini bukanlah waktunya untuk merasa gugup karna masuk ke kamar lelaki yang aku sukai. Reno sedang sakit, sudah seharusnya aku merawatnya sejak dini.
Mataku berubah sayu saat melihat sebuah ranjang yang berisi tubuh Reno yang lemah. Lelaki itu terbaring sakit dengan wajah pucat. Wajah yang biasanya terlihat dingin dan kejam. Saat ini, seperti orang yang tak berdaya. Tak berkekuatan, seperti Reno yang biasanya.
Perlahan, aku mendekati Reno. Menaruh tasku diatas meja dan duduk ditepi ranjang. Ku perhatikan lagi, setiap lekuk wajah Reno yang begitu pucat pasi. Ada keringat dingin yang ada disekujur leher dan dahinya. Reno terlihat tersiksa jika seperti ini.
"Reno. . ." bisikku pelan. Tanganku meraih tangan Reno.
Menggenggamnya erat untuk kemudian aku tempelkan diwajahku. Tangannya sepanas api yang membara. Menyatu dengan dinginnya wajahku karna terkena udara pagi yang dingin.
Lama aku memandangi wajah Reno hingga kedua matanya terbuka. Memperlihatkan kedua bola mata tajam seperti biasanya, namun ini sedikit berbeda. Pancaran matanya terlihat seperti sebuah kerinduaan dan kekecewaan? Apa yang sebenarnya terjadi pada Reno?
Apa, dia patah hati dengan gadis yang di cintainya ataukah gadisnya ketahuan silingkuh?
"Reno, kau sudah bangun?" Tanyaku pelan. Melepas tangannya. Saat itu, Reno dengan cepat kembali meraih tanganku. Menggenggamnya erat. Sangat erat hingga membuatku tertegun.
"Kau baik-baik saja? Kau merasa baikan?" Tanyaku lagi. "Bibi sedang membuatkan bubur untukmu. Tunggulah sebentar lagi." Lanjutku.
Reno hanya diam, tak menjawab pertanyaanku. Matanya hanya sibuk menatapku tanpa berkedip. "Reno,"
Seakan sulit untuk sekedar berkata. Reno menelan ludahnya. Sepertinya tenggorokannya kering. "Hmm, aku tahu hana."
"Kau mau aku ambilkan minum?" Tanyaku. Aku seperti ibu-ibu cerewet yang terus menanyakan apa yang ingin aku tanyakan saat melihat anaknya sedang sakit.
Reno menggeleng tanda tidak. Melihatnya seperti ini, aku jadi tidak tega untuk menanyakan kejadian yang terjadi semalam. Tidak disaat Reno sedang sakit seperti ini. atau mungkin, aku harus membuangnya dari ingatanku tapi aku juga penasaran kenapa Reno sampai mabuk apa benar dia patah hati tapi siapa yang bodoh hingga menolak seorang seperti reno. Dan tentang kejadian semalam Saat itu Reno sedang mabuk, semua lelaki tidak akan sadar dengan apa yang dia lakukan saat itu. Dan pastinya, Reno juga sama. Dia mengira aku wanita yang dia cintai dan melakukan hal seperti itu padaku.
Tak ku sadari aku mendesah resah. "Apa-apaan itu?" Dahi Reno berkerut.
Sepertinya dia menyadari perubahan raut wajahku.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman. "Bukan, bukan apa- apa. Aku hanya khawatir saat tahu kau demam. Kenapa kau bisa sampai jatuh sakit?"
"Aku tidak tahu. Ini hanya demam biasa, beberapa hari istirahat, aku akan kembali sembuh."
"Kau tidak bekerja?" Tanya Reno. "Ba-bagaimana kau tahu aku sudah bekerja?" Aku mendelik. Mataku melotot penuh kebingungan.
Seingatku. Aku hanya memberitahu kedua orang tuaku dan juga intan.
"Kau tahu, Anton tidak bisa berbohong padaku. Dia sudah bercerita, kalau kau bekerja di Caffe adam." Jelasnya. Aku hanya tersenyum getir. Aku jadi merasa tidak enak saat Reno tahu mengenai pekerjaanku dari orang lain. Harusnya dari awal aku mengatakannya. Mengingat hubungan adam dan Reno tidaklah baik.
"Benar, dia memang tidak bisa berbohong kepadamu." Gumanku pelan. Mataku tak berani menatap matanya. Sulit bagiku untuk melihat mata penuh kesedihan yang tersirat dikedua mata Reno. Atau hanya hayalanku saja yaa mungkin memang begitu.
Kenapa denganku ini? setelah aku sedikit demi sedikit mengikis rasa cintaku pada Reno. Hanya dengan melihatnya sekali saja, semuan pengorbananku selama ini runtuh begitu saja. Tembok besar yang sudah ku bangun seakan sia-sia. Hancur begitu saja, saat mataku kembali melihat sosok Reno yang sangat aku cintai.
"Itu tidak menjawab pertanyaanku, hana."
"Aku sudah meminta ijin pada adam, kalau hari ini aku tidak masuk bekerja. Aku ingin merawatmu reno."
"Kau tidak perlu merawatku. Ada ibu, dan juga pelayan disini. Jadi, kau tidak perlu khawatir."
"Tapi,"
"Kau sudah melihatku baik-baik saja, kan? Sekarang pergilah bekerja. Kau justru akan membuatku tidak bisa sembuh karna mengangguku." Hatiku bersedir sesak saat mendengar ucapan Reno.
Sekejam itukah dia harus berbicara? Apa aku disini hanya di anggap penganggu?
"Kalau tujuanmu hanya ingin mengusirku. Kau tidak perlu mengatakan hal sekejam itu padaku, Reno!"setengah membentak Reno. Aku tidak peduli, bibi mau dengar atau tidak. Aku sama sekali tidak peduli. Aku berdiri dari dudukku karna mungkin sebentar lagi aku akan menangis Dan aku tak ingin reno semakin senang melihat itu.
"Sejak awal, seharusnya aku tidak perlu repot-repot datang kemari. Apalagi mengkhawatirkan orang kejam seperti dirimu. Aku menyesal!Sangat menyesal sudah mengenal orang sepertimu Reno!"Aku langsung meraih tasku yang ada ditas. Setengah berlari keluar dari kamar Reno. Bisa ku dengar lelaki itu menghela nafas, saat melihat kepergiaanku.
"Ah, hana. Kau mau kemana?" langkahku terhenti saat aku berhadapan dengan bibi yang baru kembali dengan bubur dan segelas minumam beserta obat diatas nampak.
Aku hanya membungkukkan kepalaku sejenak, sebelum aku pamit pergi. "Maaf, bi. Aku harus segera pergi." ucapku kemudian, sebelum aku berjalan melewati bibi dan melenggang pergi dari Rumah Reno.
Ku kendarai mobilku dengan kecepatan penuh. Emosiku begitu tak tertahankan saat aku kembali mengingat ucapan Reno yang membuat hatiku terluka. Aku menjerit. Memukul stir mobilku dengan kasar.
Kenapa aku selalu seperti ini. merasakan indahnya cinta, hingga pada akhirnya aku dihempaskan begitu saja ke tanah. Ini menyakitkan. Saat kau merasakan hatimu selalu disia-siakan oleh orang lain. Saat kebaikanmu dianggap buruk. Dan saat senyumanmu dianggap sampah olehnya.
Aku buruk. Selalu buruk dimata Reno. Andai saja, saat ini aku boleh meminta. Aku ingin kecelakaan saat ini juga. Pergi dari dunia ini, agar Reno tak lagi melihat gadis penganggu seperti diriku. Dia akan bahagia. Mungkin sangat bahagia tidak lagi harus melihatku setiap hari.