"Ups, maaf tidak sengaja." Intan tersenyum tipis. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihat sikapnya.
"Apa itu sungguhan?" Tanya intan kembali. Aku hanya mengangguk pelan. Rona diwajahku kembali muncul saat aku membayangkan bagaimana hangatnya adam saat menciumku. Ciuman yang memabukkan bagi diriku.
"Semuanya terjadi begitu saja, intan. Gue bahkan seperti orang yang kehilangan kendali saat adam mencium secara tiba-tiba." ucapku menjelaskan. Aku menutup wajahku dengan telapak tanganku. Malu rasanya, menceritakan bagaimana intimya ciuman kami kemarin.
Intan terlihat tersenyum lebar. Tak berhenti senyum saat melihatku terus tersipu malu. "Jadi kesimpulannya, Kak adam punya perasaan khusus ke lo?"
"Itu. . Hmm... Gue juga nggak tau" Jawabku Ragu. Belum tentu, orang yang menciummu mempunyai perasaan kepadamu. Wajar bagi seorang lelaki reflex mencium saat ada seorang gadis yang begitu dekat dengan mereka.
"Sudah pasti kalau dia mencintaimu. . ." Aku hanya memutar bola mataku. Kalau iya, adam menyukaiku. Dan jika, dia menyatakan cinta padaku.
"Apa yang musti gue lakuin?"
"Terima saja. Lagipula, kak adam itu sangat baik. Mungkin lo bisa melupakan Reno dengan berpacaran dengan kak adam."
Aku mendengkus, "Bukankah, itu sama saja gue memanfaatin Adam Dengan menjadikannya pelampiasan?" Meskipun begitu, aku bukan w************n ataupun wanita jahat yang tega mempermainkan perasaan lelaki. Apalagi cintanya itu begitu dalam.
"Ini berbeda. Kan hanya semisalnya, kalau kak adam benar menyukai lo. Dan pada akhirnya dia akan menyatakan cintanya.Ya, kan lo bisa belajar buka hati loo buat kak adam?"
"Lo benar. Mungkin, gue emang harus mencoba" Meskipun sedikit tidak tahu apa maksud intan barusan. Yang jelas, aku harus melupakan Reno dengan memacari adam.
***
Sudah lebih dari seminggu aku bekerja di Caffe adam. Dan kami semakin akrab dengan bertambahnya ilmuku mengenai pembuatan Coffe latte yang selalu Adam ajarkan kepadaku. Kami bahkan sering jalan bersama, menonton bersama dan berbincang-bincang membicarakan banyak hal.
Aku bahkan, sudah lupa jika aku mencintai seorang lelaki bernama Reno. Hidupku begitu nyaman disini. Tak lagi melihat Reno di depan mataku. Aku cukup bahagia. Dan aku yakini itu.
"Bagaimana?" Aku bertanya pada adam mengenai Coffe latte yang ku buat baru saja. "Lumayan," jawabnya dengan senyum tipis.
Aku terkekeh, ini masih belum bisa dibilang bagus. Masih belepotan dimana-mana. Sangat tidak bagus jika disajikan untuk pelanggan.
"Jangan khawatir, aku yakin kau akan pintar dalam membuatnya. Hanya butuh waktu dan ketekunan untuk belajar."
Aku tersenyum tipis, menikmati lembutnya tangan Adam yang mengelus rambutku layaknya anak kecil. Kemudian, Adam pergi ke ruang kerjanya. Hari ini dia sangat sibuk karna mengurus pengeluaran dan pemasukan bulan ini. Dan lagi, gaji yang akan pegawai terima akhir minggu. Aku cukup memaklumi dan berusaha belajar sendirian malam ini.
Aku mengambil ponselku. Mengambil gambar dari hasil Coffe latte yang ku buat dan ku kirimkan ke intan.Saat aku mendapakan balasannya, intan tertawa melihat hasilku yang begitu buruk.
Kami pun asik mengobrol ditelfon sambil membicarakan hal-hal lucu. Hingga aku mendengar sesuatu yang aneh dipintu belakang.
"Intan, aku tutup dulu ya. Sepertinya aku mendengar sesuatu yang aneh." Aku lekas menutup sambungan telfonku saat Aira mengatakan ya.
"Adam?" aku mencoba berjalan ke belakang. Mungkinkah itu adam.
Tapi saat aku memanggilnya, tidak ada jawaban apapun selain suara langkah kaki yang begitu jelas.
Bulu kudukku tiba-tiba saja berdiri. Merasakan hawa dingin dan angin yang behembus melalui pintu yang aku yakini itu adalah pintu belakang yang terbuka.
"Adam...?" Aku kembali memanggil-manggil nama Adam. Tapi tak ada sahutan sama sekali. Mataku yang melirik kesana kemari tak menemukan apapun selain kesunyian yang dibalut dengan suasana menyeramkan.
Aku memeluk tubuhku sendiri yang gemetaran karna ketakutan. hingga bunyi pintu tertutup membuatku berteriak. Aku memekik begitu keras, sampai aku merasakan sesuatu menarik tubuhku dengan cepat. Mendorong tubuhku hingga membentur tembok.
"Ree...reno?!" Aku memekik saat tangan Reno menutup mulutku dengan tangannya. Jarak yang begitu dekat membuatku bisa melihat dengan jelas wajahnya saat ini. Wajah yang sudah lama tidak aku lihat.
"Ssst~" Aku mengerutkan dahiku saat melihat tingkah Reno yang seperti orang mengendap-ngendap. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Sejenak saat melihatku sudah lebih tenang. Reno melepas tangannya. Menatapku dengan matanya yang begitu tajam.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanyaku bingung.
Untuk apa, malam-malam begini Reno datang kemari? apalagi dengan baju kantor yang masih melekat ditubuhnya.
"Kau ...mabuk?!" Aku setengah berteriak saat mencium bau alkohol yang begitu kuat dari tubuhnya. Jarang sekali reno mabuk seperti ini kalau tidak sedang dalam masalah.
Mungkinkah Reno sedang dalam masalah, hingga dia mabuk seperti ini?
"Aku tidak sedang mabuk, Hana . . ." Ya ampun! Rasanya tidak enak sekali saat mencium bau alkohol begitu Reno berbicara. Tubuhnya begitu dekat denganku tanpa memberikan jarak. bahkan, wajahnya kini berusaha menempel padaku. Ini membuatku merasa tidak merasa nyaman.
"Ya, kau mabuk Ren...." Gumanku. Aku mencoba mendorong tubuh reno. Tapi gagal, lelaki ini sungguh kuat dibandingkan dengan yang aku pikirkan.
"Ungh, kenapa mendorongku? Ayolah, aku ingin sekali memelukmu," Aku menggeram saat merasakan tangan Reno mulai memaksaku untuk memelukku. Kepalanya sibuk bersandar pada leherku sambil mengelus bak kucing yang ingin sekali dimanja.
"Reno, hentikan!" aku mencoba kembali mendorong tubuhnya. Tapi nihil, aku justru terjebak pada pelukan Reno yang begitu kuat ditubuhku.
"Hana," suara Reno terdengar mendesah. Memanggil namaku dengan begitu lembut, hingga rasanya aku terbuai dengan panggilannya. Tanpa sadar, aku membalas pelukan Reni. Terlihat Reno sedikit tenang saat tanganku membalas pelukannya.
"Reno, apa sesuatu terjadi padamu?" Aku berbisik pelan.
Menyakitkan saat melihat Reno seperti ini. hal yang paling aku benci dari sifat buruknya. Dia akan selalu kehilangan arah jika dia merasa dalam masalah besar. Seperti halnya kematian kakaknya dulu. Hingga membuat Reno semakin menjadi orang yang penyendiri. Hanya pada beberapa orang saja Reno terbuka. Termasuk pada Anton.
"Ya, masalahnya ada pada dirimu han.. "
"Ren.." Tubuhku menegang seketika, saat bibir Reno yang dingin menciumi leherku. Menyesapnya hingga aku yakin, akan meninggalkan bekas kebiruan yang susah hilang.
"Ren..., jangan." Ku pejamkan mataku saat Reno dengan panasnya menciumi leher jenjangku. Mencecapnya dengan segala kekuatan yang dia miliki.
Aku tidak tahu kenapa dia melakukan ini, tapi tubuhku sangat sulit untuk digerakkan. Rasanya aku membeku. Tak ada tenaga hanya untuk menolak ciuman-ciuman Reno.
"Hana?" Mataku terbelalak. Mendapati Adam yang berdiri mematung didepanku. Matanya melebar melihat Reno yang mencumbuku tanpa memperdulikan kehadiran adam. Reno bahkan semakin gila menciumi leherku yang satunya lagi. Tangannya sibuk, meremas pinggangku sejak tadi.
"A...adam, tolong aku. Jauhkan Reno dariku. Dia sedang mabuk!"Aku berteriak. Tak kala aku selesai berbicara, reaksi tak terduga muncul dari Reno.
"Aku tidak mabuk!" kepalanya kini menjauh dari leherku. Menatapku dengan pandangannya yang menakutkan, aku hanya bergidik ngeri. Reno berbeda, Reno yang selama ini aku kenal. Berbeda dengan yang saat ini. Aku seperti tak mengenalnya.
"Cukup Reno!" Adam menarik pundak Reno dengan kasar, membuat Reno hampir terjatuh ke belakang. Setelah itu, Adam meraih tubuhku ke dekapannya.
Keduanya saling bertatapan penuh ketidaksukaan. Tatapan mengerikan yang aku sendiri tidak tahu apa artinya itu. "kheh, kau. . ." Reno mendesis, menatapku dan Adam secara bergantian.
Tubuhnya yang terhuyung kesana-kemari. aku takut Reno akan terjatuh dan membentur lantai. "Reno. . ." aku sudah tidak tahan melihatnya.
Tanpa memperdulikan dekapan adam, aku meraih tubuh Reno. Mencoba membantunya berdiri dengan tegap. Tapi, Reno kembali memelukku dengan erat. "Hana...," hingga Reno terjatuh. Pingsan. Aku memekik saat tubuhku hampir saja jatuh ke lantai bersama Reno jika adam tidak menolongku.
"Adam,"
"Sudahlah, kita bawa saja dulu dia." Aku mengangguk saat Adam mulai mengangkat Reno. Kami sama-sama memapah Reno masuk kedalam mobil adam.
Dahiku mengkerut saat mendapatkan parkir belakang yang kosong. Tidak ada mobil reno? Mungkinkah dia kemari dengan berjalan kaki?