bab 6

756 Words
*** "Main kemari lagi ya? Bibi jarang ada teman mengobrol. Kalau ada Hana, bibi jadi merasa lebih baik." Bibi mengantarkan ku sampai kedepan pintu rumah. di ikuti Reno yang kini sudah berdiri disampingku dengan gagah. "Iya bi, tentu saja." Ucapku penuh senyum. "Reno, antarkan hana pulang ya?" "Tidak perlu!" Aku langsung menyanggah ucapan bibi. "Aku bisa pulang sendiri. Akan merepotkan jika Reno mengantarkan aku pulang. Lagipula, aku bawa mobil sendiri." Gumanku lagi. "Ya sudah. Terserah kau saja," Bibirku mengkerut saat disuguhkan sikap dingin Reno yang mnerima penolakanku begitu saja. Parahnya, Reno langsung melangkah pergi. Meninggalkan aku dan bibi yang masih ada diluar rumah. Berdua saja. "Maklumi sikap Reno ya nak." Aku hanya tersenyum kecut. "Itu sudah biasa Bi. Aku pergi dulu, sampai ketemu nanti." Aku kemudian pamit pergi. masih dengan rasa kesal. Aku mengemudikan mobilku dengan pelan dijalanan raya. Raja kutub "Hati-hati dijalan"..... Aku tersenyum penuh senang saat mendapatkan sebuah pesan yang singkat namun begitu bermakna bagiku. Dari Reno. Hal tak terduga yang selalu dia lakukan. Hatiku rasanya sangat senang sekali. *** Hari pertama kerja setelah beberapa hari aku menjadi pengangguran dirumah. Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar. Dan aku bisa melakukan perkerjaanku dengan baik. Sengaja aku datang lebih awal untuk bertemu dengan adam dulu. Mengenalkan seluruh tempat yang ada di Caffe dan segala peraturan yang ada disana. Semuanya terlihat baik-baik saja untuk saat ini. Hingga satu persatu pegawai mulai berdatangan. Adam pun mengenalkanku pada mereka semua. "Namaku Hana, senang bekerja dengan kalian." Bukan hal sulit untuk berkenalan dengan mereka karna aku sering sekali datang kemari dan terkadang aku mengobrol dan bercanda dengan salah satu pegawai disini. Ini sangat perfect. Tuhan sepertinya tengah berpihak kepadaku. Aku memulai kerja pertamaku dengan sangat baik. Melayani pelanggan dan aku juga disuruh membuatkan pesanan untuk beberapa meja. Dan hasilnya, memuaskan! "Kau seperti seorang ahli saja," adam tersenyum padaku saat aku selesai mengantarkan pesanan ke meja pelanggan. "Benarkah?" Aku tersipu. Aku tidak merasa seperti seorang ahli. Yang ku pikirkan adalah, bagaimana caranya aku bisa memuaskan pelanggan dengan apa yang aku lakukan saat ini. Itu saja. "Ya, aku sangat bangga padamu. Oh ya, sepulang kerja. Kau tunggu aku sebentar ya. Ada hal yang ingin aku perlihatkan padamu. . ."Adam tersenyum. Menepuk pundakku sebelum dia pergi. Kembali ke ruang kerjanya. Apa yang akan dia perlihatkan padaku? aku jadi penasaran. Menunggu jam pulang hingga akhirnya tiba juga. Aku menunggu dimeja pelanggan sesuai dengan apa yang dikatakan Adam tadi pagi. Suasana sudah sangat sunyi karna Caffe sudah ditutup dan semua pegawai sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Mataku melirik jam yang menunjukkan pukul 11 malam. Hmm. . . lumayan malam, dan aku mulai mengantuk. "Hana! Kau menunggu lama?" Aku tersentak, membuyarkanku yang hampir saja tertidur karna mengantuk. "Kau mengantuk?" Adam tertawa kecil melihat kedua mataku yang begitu berat untuk dibuka. Aku hanya terkekeh. "Begitulah. Ngomong-ngomong, apa yang ingin kau perlihatkan padaku?" Tanyaku mendekati adam. Tangannya kemudian meraih tanganku. Mengajakku untuk pergi kedapur. "Aku akan mengajarimu caranya membuat Coffe latte." Ucapnya penuh senyum. Aku hanya melongo tak percaya, Coffe latte? Sungguh? Yang benar? Aku bahkan tidak pernah berfikir jika aku akan bisa melakukannya. Itu terdengar sangat sulit. Meskipun aku suka sekali mengkomsumsinya. "Kau yakin?" Aku menaikkan alisku. Meyakinkan diriku sendiri atas ucapan yang baru saja adam katakan. "Ya, sangat yakin hana. Sebagai pegawai disini, aku ingin kau belajar cara membuat Coffe latte. Kau tertarik?" "Kau bercanda? Tentu saja aku tertarik." Ucapku penuh girang. "Jadi, kita akan mulai dari mana?" Tanyaku lagi dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu didadaku. Aku memulai pelajaran membuat Coffe latte bersama adam. Secara pribadi dan dibimbing langsung oleh sang pemilik Caffe. Ini sangat menakjubkan. Apalagi melihat adam yang begitu mahir membuat pola-pola, dan gambar yang sangat lucu dan unik. "Cobalah dengan gambar yang mudah dulu," Ucapnya kemudian. Aku sudah setengah berkeringat saat hendak melukis sesuatu diatas minuman. Rasanya ingin berteriak saja ini lebih sulit daripada ujian kelulusan sekolahku dulu. Dengan hati-hati aku mulai mencoba menggerakkan tanganku. Tapi tidak berani. "Aah! Bagaimana ini? aku jadi gugup sendiri!" Aku berteriak seperti orang bodoh disamping adam. Ini menyenangkan, menegangkan sekaligus membuatku semakin gila untuk terus mencoba. "Kemarilah, aku akan membantumu." Aku tertegun, merasakan tangan Adam yang secara tiba-tiba menyentuh kedua tanganku. Tubuhnya yang tinggi dan tegap begitu menempel dipunggungku. Secara tidak sengaja kami hmmm.... berpelukan! Jantungku rasanya berdebar-debar merasakan hembusan nafas adam yang begitu teratur. Apalagi bisikkan suaranya yang begitu merdu.Tepat digendang telingaku. "Ikuti aku," Tanganku sibuk mengikuti arah tangan adam. Sedangkan hati dan pikiranku melayang entah kemana. Aku merasa malu. Bersemu merah dan terus memikirkan hal-hal aneh yang membuatku jadi gugup sendiri. Pergilah pikiran aneh. "Aa...adam. . ." Aku berguman pelan. Memanggil namanya setengah berbisik. Nada bicaraku sempat bergetar. Aku sudah tidak sanggup lagi untuk menahan rasa berdebarku yang sulit untuk berhenti. Untuk bernafaspun aku sulit dan begitu susah. "Ya Hana..?" Oh astaga! Kenapa adam memanggil namaku dengan begitu merdu. Namaku terdengar begitu indah saat adam mengatakannya dengan lembut. Begitu pas dan sangat menenangkan. "A-akuu. . ." Aku tergagap. Tak mampu berkata apa-apa lagi selain tertegun ditempatku. Bisa ku rasakan tangan Adam beralih menuju pinggang dan sebelah tanganya mencoba beralih ke kepalaku. Dan tanpa diduga, aku merasakan sebuah kecupan lembut yang mendarat dibibirku. Ohh astaga adam menciumku! Aku memekik dalam hati saat adam semakin memperdalam ciumanku. Ciuman yang begitu lembut yang membuatku sulit untuk menolaknya. "Adam...," Aku mendesah, memanggil namanya dengan begitu b*******h saat adam memutar tubuhku. Mendorongku hingga aku terduduk pada meja dapur yang ada dibelakangku. Adam yang masih sibuk menciumku mencoba semakin memperdalam ciumannya. Membiarkan aku ikut menikmati sensasi aneh yang menjalari tubuhku. Tanganku yang sejak tadi bebas kini beralih ke atas pundak adam. Meremas rambutnya dengan kasar. Menikmati setiap cumbuan panas yang diberikan adam. Ini membuatku menggila. Seakan memanjakan bibirku yang begitu kering. Membuatnya semakin memanas. "Hann," Ricky menggeram. Melepas ciumannya sejenak sebelum kami kembali melanjutkan ciuman panas kami. Hingga aku kehabisan nafasku. Aku mendorong tubuh Adam untuk memberi tanda jika aku butuh udara untuk bernafas. Aku menempelkan dahiku didahi adam. Sejenak kami, saling mengisi oksigen diparu-paru kami yang terasa kosong. Bisa ku dengarkan adam terus terengah-engah sama seperti diriku saat ini. Tak pernah ku sangka jika aku akan berciuman sepanas ini dengan lelaki lain. Selain Reno. Aku bahkan belum pernah berciuman dengan Reno sekalipun. "Han, apa aku sudah keluar dari jalur?" Adam berbisik pelan kepadaku. Masih dengan nafas yang terengah-engah. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan diriku sendiri. Perasanku saat ini, aku seperti menyukai semua ciuman yang diberikan Adam padaku. Tapi, disisi lain aku merasa kecewa karna adam bukanlah Reno yang selama ini aku bayangkan menjadi lelaki yang akan menciumku. Adam menciumku sejenak, sebelum melepaskannya kembali. "Sepertinya, latihan hari ini sudah cukup." Ucapnya lembut. aku melepas tanganku dari pundaknya, melirik kesana-kemari karna merasa canggung pada adam. "Ya, kau benar," Gumanku pelan. "Ayo, aku akan mengantarkanmu pulang." Adam membantuku turun dari meja. Mengantarkanku pulang dengan mobilnya, sedangkan mobilku tetap berada di Caffe. Tidak masalah, karan adam bilang padaku jika dia akan menjemputku besok. *** "Apa?! kak Adam menciummu?!" "Ssstt~ Jangan keras-keras." Aku segera membungkam mulut intan saat dia berteriak dengan keras. Mataku melirik kesana-kemari mencari sosok penguping yang mungkin saja sedang memperhatikan kami. Ini terlalu berbahaya untuk mengatakannya dengan keras. Karna kak anton sedang ada dirumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD