bab 5

1129 Words
Aku merenung di dalam kamar merasa ingin Berteriak, yah, untuk saat ini. aku butuh waktu sendiri. aku tidak ingin diganggu. Aku ingin hatiku tenang. Meringkuk diatas ranjang dengan air mata yang terus mengalir. Aku terus menangis tanpa henti sepanjang malam ini. Tanganku sibuk memegang boneka beruang yang diberikan Reno sebagai hadiah ulang tahunku yang ke 17. Yah, kado yang sangat aku sayangi ini sudah menemaniku lebih dari 5 tahun. "Reno...." entah kenapa, aku malah menggumamkan namanya disaat- saat seperti ini. tak pernah berubah. Saat sedih, senang ataupun sedang ketakutan. nama Reno selalu muncul dalam benakku. Berharap lelaki itu akan muncul secara tiba-tiba dan membuatku tenang. Tapi itu mustahil. Benar kan? Karna Reno sama sekali tidak peduli. Kebaikan, keramahan, kelembutan, bahkan kepeduliannya kepadaku selama ini semata-mata hanya untuk rasa sopan yang dia tunjukkan kepada ayah dan ibuku. Karna keluarga kami berteman baik. Reno merasa memiliki tanggung jawab seperti seorang kakak yang melindungi adiknya. Dan sampai kapanpun itu semua tidak akan pernah berubah. *** Sesuai janji, hari ini aku datang ke rumah Reno saat hari menjelang malam. karna semalaman aku begadang, aku jadi tertidur sampai siang hingga pada akhirnya badanku sakit semua. Seperti tulangku hampir patah dan tak tertolongkan. "Ayo masuk." Ibu Reno mempersilahkan aku masuk saat aku mengetuk pintunya. Tersenyum tipis dan mengajakku ke ruang tamu yang sepi. Paman pasti sedang bekerja, begitupun dengan Reno. Bibi mencoba menawarkan aku minuman. Dan tak berapa lama kemudian, bibi kembali dari dapur dengan dua gelas minuman yang dia bawa. Akupun menjelaskan semua perkara yang ada. Sungguh diluar dugaan kalau bibi tidak marah jika aku mengundurkan diri. Justru dia malah marah pada Reno karna tidak mempertahankan aku dan malah mengiyakan permintaan mengundurkan diriku begitu saja. "Justru bibi yang merasa bersalah. Kau tahu sendiri Reno memang selalu dingin sejak kecil. Karna sifat dinginnya itulah, semua orang merasa terganggu. Apalagi, saat dia berbicara tidak memikirkan perasaan orang lain." Yupz! Benar sekali, ibaratnya. Reno berbicara tanpa ada alat penyaring yang membuat semua perkataannya terasa pahit ditelinga orang. Termasuk aku yang selalu merasa tersakiti dengan kata-katanya yang pedas. "Bibi juga bingung sendiri bagaimana bibi harus merubah sifatnya itu. Bibi khawatir, jika dia tidak akan bisa mendapatkan seorang wanita untuk dijadikannya istri. Padahal.. Umurnya sudah sangat cukup untuk membina rumah tangga." Aku mendelik. Menatap bibi yang sibuk membicarakan calon istri yang mau menerima Reno apa adanya. Dadaku rasanya panas sekali. Ingin berdoa supaya Reno tidak akan pernah mendapatkan gadis lain. Dan berbalik mencintaiku. Agar cintaku tidak menjadi cinta sepihak terus. "Apa kau punya teman gadis yang menurutmu cocok, yang bisa mengatasi sifat Reno ini?" Aku menggeleng pelan, saat bibi menanyakan apakah aku punya teman gadis. Meskipun aku punya, sampai matipun aku tidak akan pernah mengenalkannya. Maaf ya bi, aku jadi egois seperti ini. "Bibi ingin sekali Reni cepat menikah, ya?" Aku mulai bertanya. mungkin saja, bibi bisa sadar jika aku ini cocok untuk Reno. "Begitulah, umurnya hampir 25 tahun. Dan bibi tidak mau Reno terus sendiri. Jujur saja, bibi ingin sekali punya cucu." Benar juga, pasti bibi ingin sekali kehidupannya diwarnai oleh kehadiran seorang anak kecil. Meskipun, ya. Bibi punya satu cucu hasil dari anak kak raka dan istrinya. Tapi, ketika sepeninggalnya kak raka. Istrinya tinggal bersama dengan kedua kakek neneknya yang berada diluar kota. Jarang bagi istri kak Raka main ke rumah Reno. Bibi pasti sangat kesepian. Bisa dimaklumi itu. "Oh, ya. Sebentar lagi Reno akan pulang. Kita makan malam bersama ya?" Aku tersentak saat mendengar bibi mengatakan mengenai kepulangan reno Aku sampai mau menyemburkan minumanku karna terlalu kaget. "Kenapa pulang?" Aku melongo. Menaruh gelas berisi minuman tadi kembali ke atas meja. "Kenapa apanya? Tentu saja untuk pulang ke rumah." Tidak biasanya Reno pulang cepat seperti ini. Biasanya dia akan lembur dan terus merecokiku untuk bekerja lebih giat. Belum ada beberapa menit kami selesai membicarakan Reno sii mahluk es itu. Suara mobil Reno yang datang terdengar dari halaman rumah. "Itu pasti Reno" Wajah bibi terlihat senang dan mulai melangkahkan kakinya menuju pintu. Dan benar saja, saat pintu dibuka. Sosok Reno tengah keluar dari mobilnya. Membawa sebuah tas kerja dan mulai berjalan masuk ke dalam mobil. Bisa ku dengar dari ruang tamu kalau bibi mengatakan pada Reno jika aku ada dirumahnya saat ini. Reno berjalan dengan ibunya yang sibuk memegang lengan Reno. Matanya yang sipit hanya menatapku sekilas sebelum dia pamit pergi ke kamarnya. Sepertinya dia marah lagi kepadaku. "Hana, kau mau menunggu disini atau ke kamar Reno?" Aku menelan ludahku saat Bibi menanyakan hal seperti itu padaku. sudah sangat lama sekali aku tidak pernah menginjakkan kakiku dikamar Reno. Itupun sudah sejak sd. Ya ampun, haruskah aku pergi ke kamar Reno? Kita kan bukan lagi anak-anak seperti dulu. Setiap kali bermain ke rumah Reno aku selalu menungguinya di kamarnya. "Tidak perlu! Lebih baik, bantu ibuku untuk menyiapkan makan malam." Reno berteriak dari atas tangga. Menyuruhku untuk membantu ibunya dari pada harus masuk kedalam kamarnya. Aku hanya menggembungkan pipiku kesal. "Siapa juga yang sudi masuk ke dalam kamarmu!" aku balik berteriak padanya. Sang bibi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah kami yang selalu bertengkar setiap kali bertemu. Tapi, entah kenapa. Kami selalu saja bisa bersama dalam keadaan genting. Seperti halnya saat aku kecil. Aku tersesat ditaman bermain. Dan Reno dengan jiwa kepahlawanannya membuatku tenang dengan membelikanku permen kapas. Reno yang kecil, manis, yang memelukku dengan hangat. Dia terus mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja. Saat itu juga, aku langsung berhenti menangis. Dan pada akhirnya, disinilah aku. Sibuk dengan membantu bibi menyiapkan makan malam didapur. Berbekal pelatihan masak yang selalu diajarkan oleh ibu dan bibi. Aku cukup mahir dalam memasak, yah meskipun terkadang masih tidak ada rasanya. Atau yang lebih parah akan berakhir menjadi asin. Setelah makanan selesai disiapkan. Aku dan bibi menunggu Reno turun untuk memulai makan malam bersama. Tak butuh waktu lama sampai pada akhirnya, Reno turun dengan baju harian yang begitu pas dibadannya. Kulit kecoklatan dengan rambut yang masih acak- acakan. Reno terlihat begitu manis. Lebih tepatnya sexy hmm. Makan malam kami dibalut rasa sunyi, Reno yang lebih memilih menikmati makan malamnya dalam diam membuatku merasa tidak nyaman. Aku seperti penganggu yang tidak dibutuhkan disana. "Tumben pulang cepat?" Aku mencoba bertanya karna rasa penasaranku yang muncul secara tiba-tiba. Tapi Reno menjawabnya dengan sikap dingin seperti biasanya. "Hmmm...." Aku menghela nafas panjang. Berkacak pinggang melihat sikap dingin Reno yang membuat selera makanku jadi hilang. Dengan wajah kesal, aku menaruh sendok dan garpu ke atas piring yang masih tersisa banyak sekali makanan. "Aku kenyang." Ungkapku kemudian, Bibi terlihat menatapku dengan was-was. "Kenapa makanmu sedikit sekali? Apa makananya tidak enak?" Aku langsung menggelengkan kepalaku cepat. "Bukan, makanannya sangat enak bi Hanya saja, aku sedang tidak nyaman untuk makan. Bibi tahu sendiri, kan?" Ungkapku lagi. Bibi nampak memakluminya. Seakan mengerti dengan penjelasanku barusan. Ya, tentu saja. Karna kami sama-sama wanita. Sedangkan, Reno. Dia hanya menatapku sambil mengerutkan dahinya bingung. Cekk dasar menyebalkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD