Saat lift telah sampai ke lantai 27. Aku dan Reno kemudian masuk kedalam. Aku mengikuti Reno dari belakang hingga kami sampai ke ruangannya. Reno duduk dimejanya. Seakan mengabaikan keberadaanku yang sudah berdiri mematun didepannya.
"Kau tidak lupa apa maksud kedatanganku ke sini, kan?" Gumanku mengingatkan. "Hmm." Dia hanya berguman tanpa sedikitpun menatapku. Sibuk dengan document- document yang ada didepannya saat ini.
Aku melangkah maju. Memberikan surat pengunduran diriku dimeja
Reno. "Ini surat pengunduran diriku." Ucapku pelan. "Dan ini, Kue dari ibu. Dia bilang, dia sangat berterima kasih kepadamu soal semalam."Sambungku lagi.
Tak ada respon sama sekali Reno masih berguman tak jelas sambil tetap fokus dengan pekerjaanya. Menyakitkan rasanya, saat kau tidak dilihat oleh orang yang kau sukai. Rasanya kau seperti tidak berguna. Lebih baik mati dari pada harus hidup seperti ini.
"Kalau begitu, aku permisi pergi." suaraku begitu rendah, seperti tak punya tenaga lagi. Aku membalikkan tubuhku dengan kepala yang tertunduk.
"Hana...?" Aku menoleh saat namaku disebut oleh nada suara Reno yang dingin. Matanya yang tajam menatapku dengan lekat. "Ya... Ada apa reno?"
"Terima kasih," Ucap reno pelan. Senyumanku mulai mengembang. Aku tahu, Reno pasti akan mengatakanya. "sama-sama,"
Aku langsung melangkahkan kaki jenjangku keluar dari ruangan Reno. Aku harus segera kembali karna intan sudah menungguku dibawah. Dan sebelum aku bertemu dengan ayah reno dan dihujani dengan berbagai pertanyaan. Aku harus segera cepat.
***
Shopping di mall adalah yang terbaik!
Kami banyak sekali berbelanja hari ini. Membeli pakaian, sepatu tas, dan beberapa accessories pendukung. Kebetulan sekali, hari ini ada disckon yang lumayan untuk menghemat uang sakuku yang hampir menipis. Semenjak aku bekerja, ibu jarang sekali memberikan aku uang saku. Ibu bilang jika aku harus mandiri. Tapi meskipun begitu, aku tidak masalah. Tak pernah kekurangan apapun karna aku memang menyukainya. Bagiku, uang dan tahta bukanlah hal yang penting. Kecuali teman. Yang akan selalu berada disampingmu entah dalam keadaan sulit atupun bahagia.
Selesai berbelanja, aku dan intan beristirahat disalah satu Caffe yang ada di mall. Membeli ice cream dan beberapa cemilan sebagai teman mengobrol kami.
"Jadi, kapan kau akan mulai bekerja?"
"Mungkin besok lusa. Kau akan selalu datang, kan? Spesial untuk sahabatku ini. Aku akan memberikan pelayanan yang sangat bagus." Aku mengedipkan satu mataku. Bergaya ala pelayan yang sangat pandai dalam melayani para tamunya, sepertinya menyenangkan.
Intan tertawa. "Dasar aneh. Itu tidak seperti dirimu." Aku mengerutkan bibiku. Biar saja aku aneh. Yang penting kan aku Cute. Hehe,
"Apa reno tahu kau bekerja ditempat kak adam?" Aku menggeleng.
Ayah dan ibuku saja tidak tahu aku sudah mengundurkan diri. Apalagi bekerja ditempat adam. Mungkin setelah ini, mereka akan diberitahu. Dan pastinya, aku akan mendapatkan amukan dari ayah dan ibuku. Membayangkannya saja itu menakutkan.
"Jangan sampai dia tahu, kau tahu sendiri kan. Reno itu tidak suka jika aku dekat-dekat dengan adam. Entah apa alasannya, aku juga tidak mengerti."
"Benar. Semenjak acara camping kita dulu, Sikap Reno jadi aneh pada kak adam." Dulu kami semua pernah pergi camping, dan entah kenapa saat kami pulang dari sana. Reno terlihat berbeda dengan adam. Meskipun mereka masih akrab dan saling berbicara. Tapi, jika aku dekat- dekat dengannya. Reno selalu marah. Ujung-ujungnya kami akan saling bertengkar.
"Sudahlah, aku sedang tidak mau membahas dia."
***
Aku hanya bisa menunduk saat aku dimarahi oleh ayah dan ibuku. Mereka kecewa karna aku mengundurkan diri tanpa memberitahu mereka terlebih dulu. Apalagi, ini adalah perusahaan teman ayah dan ibu. Yang sudah dianggap oleh keluarga kami sendiri.
Setelah menjelaskan apa yang terjadi, ayah dan ibuku agak kurang setuju. Mengundurkan diri hanya karna aku bertengkar dengan Reno. Tapi itu sudah keputusanku. Aku yang menjalaninya, tentu aku juga yang harus memutuskan jalan apa yang akan ku pilih.
Apalagi saat mereka tahu kalau aku bekerja di Caffe adam. Posisi yang menurun drastis dari posisiku dikantor Reno. Tapi itu tidak masalah. Jabatan bukanlah yang penting. Yang terpenting itu adalah hatimu benar bukan.
"Kalau ibu dan ayah tahu apa yang aku rasakan, ibu dan ayah tidak akan memarahiku!" Aku berteriak. Air mataku tak sempat ku tahan dan mengalir begitu saja. "Bagiku, sulit kalau aku harus terus bersama dengannya Ibu. Itu semakin membuatku merasa tidak bisa hidup tanpanya. Menyakitkan, saat nantinya aku akan melihat lelaki yang ku cintai bersama dengan wanita lain."
Bukan hal rahasia lagi, ayah dan ibuku tahu mengenai perasaanku pada Reno. Yah, saat kecil. Aku suka sekali bercerita pada ibuku jika nanti. Saat aku dewasa aku ingin sekali menikah dengan Reno. Mempunyai anak dan hidup bahagia. Aku bahkan masih menyimpa gambar yang aku buat. Diriku dan Reno bersama dengan seorang anak kecil yang ku sebut sebagai anak kami nantinya. Tapi sepertinya itu hanyalah angan belaka. Tak akan pernah terjadi dalam kehidupan nyata. Karna memang hanya aku yang mencintainya.
"Aku sudah memutuskan ini. Dan aku akan menjalaninya." Aku semakin mendesak ayah dan ibuku. Tidak mau kalah beradu pendapat dengan mereka.
"Hana..."
"Aku harap ibu mengerti. Mengenai paman dan bibi, aku bisa mengobrol dengan mereka nantinya. Aku akan meminta maaf, aku janji itu." Aku langsung melangkah pergi ke kamarku. Meninggalkan ayah dan ibuku tanpa menunggu jawaban dari mereka.
Tidak apa hana, ini kerap terjadi. Setiap kali aku bertengkar dengan Reno. Pasti ayah dan ibu akan selalu membelanya. Anggap saja ini seperti itu. Yah, dalam beberapa jam. Mereka akan kembali baik padamu. Dan kami akan berbaikan.
Aku mengunci pintu kamarku. Tidak memperdulikan ibuku yang mengetuk pintu kamarku. Mencoba untuk masuk. Tapi aku menolaknya.