Hasna terdiam mendengar ucapan Arga. Entah mengapa perasaannya menjadi tak menentu. Apakah ini balasan untuknya karena selama ini Arga selalu mengajaknya menikah, tetapi dia selalu menolak. Semangatnya tiba-tiba hilang dan mata berkaca-kaca. Arga memperhatikan Hasna. “Sayang, apa kamu gak ngedenger omongan aku?” “A-ku denger, Pak Ar. Tapi —” “Tapi apa?” “Aku gak punya kuasa dan gak punya hak untuk melarangnya.” Hasna menunduk. Arga berpikir jika Hasna memang belum mencintainya hingga berkata sedemikian rupa. Hatinya sedih dan sakit, sebab sudah berbulan-bulan Hasna selalu menolak lamarannya. Tanpa terasa bulir-bulir bening jatuh menetes di pipinya. Perlahan Arga menyusut cairan bening tersebut. Berulang kali dia menghela napas panjang. Sementara Hasna masih saja menunduk. “Aku tau

