Serin, wanita yang dijodohkan dengan Arga menatap nyalang pada Hasna. Dia bersedekap d**a sambil berjalan mendekatinya. “Eh, Office Girl! Kamu bisa bekerja gak, sih?! Kalau gak bisa, biar calon suamiku memecatmu. Paham?!” Serin berkata dengan pedas. Hasna menunduk sambil memegang jarinya yang berdarah. Bola-bola kristal sudah mulai menganak sungai di pelupuk mata, tetapi ditahan. Arga sejak tadi menatapnya dalam diam. “Heh! Kamu bisu dan tuli, ya? Kok gak menggubris omonganku?!” Serin kembali membuka suara. “Ma-af, Mbak. Sa-ya ceroboh.” Hasna menunduk. “What! Mbak? Emangnya aku tukang jamu dipanggil mbak, norak banget sih! Panggil aku nona aja, itu lebih berkelas!” “I-ya, No-na.” “Dasar cewek kampungan, norak, miskin, hhh.” Serin terus menggerutu sambil berjalan ke arah Arga. “Baby,

