Para karyawan yang menghina Hasna, kini telah dipecat oleh Desti, HRD di A Company. Mereka pun di black list agar semua perusahaan tidak menerima mereka.
Arga benar-benar menunjukkan kekuasaannya. Semua itu dia lakukan demi Hasna, wanita yang sangat dia cintai. Hasna yang mengetahui itu merasa tak tenang dan tak enak hati. Dia merasa bahwa dirinya penyebab semua itu.
"Pak Arga, kenapa kamu memecat mereka?" Hasna bertanya dengan raut wajah cemas.
"Aku melakukan itu semua demi dirimu, Honey. Karna aku gak suka dan gak terima mereka menghinamu dan berkata buruk tentang dirimu." Arga menjawab sambil tersenyum puas.
"Tapi itu terlalu berlebihan, Pak. Aku gak berarti apa-apa untukmu dibandingkan para karyawan di perusahaanmu."
"Siapa bilang kamu gak berarti apa-apa untukku? Hasna, kamu adalah segalanya untukku. Aku sungguh mencintaimu dengan tulus." Arga memegang wajah Hasna seraya menatapnya penuh cinta. "Nggak akan ada yang kubiarkan kalau ada yang mengganggu hidupmu, Sayang. Kalau itu terjadi, maka mereka akan berhadapan denganku!"
Hasna membalas tatapan Arga. Dia bisa melihat kejujuran dan juga cinta yang tulus dan besar di matanya. Mata Hasna berkaca-kaca, dia sungguh tak menyangka jika Arga akan memiliki perasaan sedalam itu terhadapnya.
Akan tetapi, dia belum bisa secepat itu menerima cinta Arga. Sebab, kisah masa lalunya dengan Pasha masih terus melekat dalam pikiran. Dia masih mengalami traumatik berat tentang cinta dan kata-kata manis dari lelaki.
"Terima kasih untuk semua yang kamu lakukan untukku, Pak Arga." Hasna menunduk.
"Aku nggak butuh terima kasihmu, tapi aku butuh cintamu, Honey." Arga tersenyum manis.
Hari-hari pun berlalu, hubungan Arga dan Hasna semakin dekat. Sementara Pasha tidak pernah pulang menemui Hasna dan anaknya. Pasha memang tidak pernah memberikan nafkah lahir maupun batin kepada Hasna.
Hasna berstatus istri, tapi sudah seperti janda, tidak bercerai, dan juga tidak bersama. Hasna bahkan bekerja sendiri untuk menghidupi dirinya dan anaknya.
Arga adalah orang yang selalu memperhatikan dan memberikan kasih sayang kepadanya dan Hanun. Dia terus meminta Hasna untuk menikah, tapi Hasna tidak bisa menerimanya karena dia masih berstatus istri Pasha.
"Menikahlah denganku, aku mohon. Agar kita bisa hidup bersama dan agar Hanun mempunyai sosok ayah.” Untuk kesekian kalinya Arga meminta Hasna menikah dengannya.
“Pak Arga, nggak semudah itu. Karna kamu tau bahwa aku adalah wanita yang bersuami, aku nggak bisa melakukan itu.” Untuk ke sekian kalinya juga Hasna menolak.
"Aku akan mengurusnya Hasna, mengurus perceraianmu dengan Pasha agar dia cepat menjatuhkan talak padamu, dan agar kita bisa menikah."
"Tapi Mas Pasha pasti nggak akan membiarkan semua itu terjadi begitu aja. Aku sangat mengenalnya, aku sangat memahami sifatnya."
Wajah Arga tiba-tiba menjadi muram ketika mendengar Hasna mengatakan hal seperti itu. Kecemburuannya kembali berkobar dan emosinya meledak.
“Hasna, aku ngerti bahwa bukan karna itu alasanmu yang sebenarnya, melainkan karna kamu masih sangat mencintainya!” Arga berkata dengan sarkas. "Kamu gak perlu berpura-pura ngomong kayak gitu, bahwa kamu tau tentang karakternya. Apa yang aku katakan itu benar, kan? Bahwa kamu masih sangat mencintai Pasha, tapi kepadaku … kamu gak pernah mencintaiku.”
Hasna terdiam karena apa yang dikatakan Arga tersebut memanglah benar, bahwa dia masih sangat mencintai Pasha, meski Pasha selalu memberinya luka dan pengkhianatan yang sangat menyakitkan. Namun, tidak semudah itu baginya untuk melupakannya, apalagi ada seorang anak di antara mereka.
Arga menghela napas dengan berat. Sungguh sakit hatinya menerima kenyataan ini. Ia ingin menyerah dan melupakan Hasna, lalu meninggalkannya, tapi ia tak bisa melakukan itu.
Cintanya pada Hasna sungguh sangat besar, apalagi melihat kondisi Hasna dan Hanun yang tanpa sanak saudara, tanpa keluarga, benar-benar sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan.
Arga membuang egonya sekuat tenaga. Demi cintanya yang tulus pada Hasna, maka ia akan melakukan apa saja, yang terpenting Hasna bisa menjadi miliknya seutuhnya.
“Hasna, kalau Pasha gak mau menceraikanmu, aku bersedia menikah denganmu, aku bersedia menjadi suami keduamu.” Arga kembali mengatakan hal itu.
Betapa terkejutnya Hasna mendengar ucapan Arga yang tak masuk akal itu. Dia sungguh tak habis pikir karena sudah kedua kalinya Arga mengatakan hal tersebut.
"Jangan gila, Pak Ar. Itu berarti aku poliandri. Suamiku ada dua? Begitu?”
"Ya!" Arga menjawab dengan tegas.
"Nggak! Nggak! Jangan … jangan!"
Hasna tidak bisa berkata-kata lagi, otaknya tiba-tiba kosong dan tidak bisa berpikir. Dia benar-benar frustasi dan stres dengan saran yang Arga berikan.
"Honey, ngomong-ngomong panggilanmu padaku sangat manis dan penuh kasih sayang," goda Arga.
"Hah? Panggilan yang mana?" tanya Hasna.
"Ar —"
"Aduh, kepalaku sakit banget. Entahlah ... tiba-tiba kepalaku sakit sekali, Ya Tuhan.” Hasna memegang kepalanya.
Arga sangat bingung dan khawatir melihat Hasna yang tiba-tiba menjerit kesakitan. "Sayang, ada apa denganmu? Ayo, kita ke rumah sakit untuk memeriksa kondisimu.”
"Nggak, aku gak mau ke rumah sakit, aku cuma butuh istirahat aja, Pak. Sebaiknya kamu pulang aja, aku mau istirahat."
"Apa-apaan ini, Hasna? Kamu mengusirku?"
"Nggak ... Nggak ... aduh ... bukan seperti itu, Pak. Aduh, Pak Ar. Kepalaku sakit sekali. Ya Tuhan."
Arga segera membopong tubuh Hasna dan membawanya ke dalam mobil. Dia menurunkan tubuhnya, lalu bergegas duduk di kursi pengemudi untuk mengendarai mobil, sedangkan Hanun masih digendong oleh Meli.
"Pak Arga, Hanun —"
"Eh! Oh, iya ... Ya Tuhan, kenapa aku bisa melupakan putriku. Tunggu sebentar. Kamu tunggu di sini, aku mau mengambil putriku dulu." Arga bergegas menghampiri Meli dan segera menggendong Hanun.
"Bu Meli, kami mau ke rumah sakit," kata Arga, “aku mau membawa Hasna dan Hanun ke rumah sakit."
"Apa yang terjadi sama Hasna, Pak?" tanya Meli, “apakah Hasna sakit?”
"Hasna sakit kepala, jadi dia harus dibawa ke dokter."
“Oh, baiklah. Hati-hati di jalan.”
Arga segera membawa Hanun ke dalam mobil. Mereka langsung pergi menuju ke rumah sakit. Kini mereka bertiga tampak seperti keluarga kecil yang sangat harmonis dan bahagia. Arga menyetir sambil sesekali memegang jari Hasna, dan sesekali mencubit pipi Hanun yang sangat tembem dan menggemaskan.
“Anak papa sungguh sangat cantik, seperti Mama. Aku sayang pada kalian.” Arga menatap kedua perempuan yang sangat dicintainya.
Hati Hasna berdebar dan berbunga-bunga mendengarnya. Sungguh, dia sangat terharu atas perlakuan Arga yang begitu baik dan manis. Sangat berbeda sekali dengan Pasha, yang justru selalu memberinya luka.
Terkadang dia berpikir, mengapa dulu dia begitu tergila-gila padanya hingga rela menyerahkan kehormatannya? Dulu, kata-kata manis dan ungkapan cinta selalu Pasha berikan dan curahkan padanya. Dan sekarang, Arga pun melakukan hal yang sama.
Tiba-tiba hati Hasna yang tadi berbunga-bunga, kini kembali layu. Dia kembali tersadar. Dia tidak mau semudah itu mempercayai ucapan cinta dari lelaki karena trauma yang mendalam.
Arga memperhatikan raut wajah Hasna yang kini berubah muram. “Honey, kamu kenapa? Kenapa wajahmu sangat muram?”
“Ah, nggak. A-aku cuma lagi ngerasain sakit di kepalaku.” Hasna hanya menjawab itu.
Seketika Arga menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia mengambil alih Hanun. “Kamu tidur aja, biar Hanun sama aku.”
“J-jangan, Pak. Nanti gimana kamu mau nyetir mobil kalau sambil ngegendong Hanun?”
“Jangan khawatir. Aku bisa mengatasinya.”
Arga pun mengambil tubuh mungil Hanun. Dia tak berhenti menciumi wajah cantik itu. “Sayangnya papa, bobo yang nyenyak, ya. Dan jangan dulu bangun sebelum kita sampai di rumah sakit.”
Hanun yang masih terlelap dengan nyenyak hanya menggeliat saja. Hasna tiada henti memperhatikan interaksi Arga dan sang putri. Arga belum melajukan mobilnya. Seketika dia melupakan niatnya yang ingin segera sampai di rumah sakit. Dia justru sibuk mengajak Hanun berbicara.
“Gadis kecil papa yang cantik dan pintar, harus menjadi perempuan yang kuat dan hebat ya, seperti Mama.” Arga melirik Hasna. “Kamu harus ingat bahwa akulah papamu, hanya aku seorang. Pokoknya kamu gak boleh memanggil orang lain dengan sebutan papa. Mengerti!?”
Hasna tercenung mendengarnya. Namun, dia hanya diam saja. Dia tidak berniat memotong ucapan Arga, karena Hanun terlihat begitu nyaman. Perlahan Arga mulai melajukan mobilnya.
“Nanti Hanun sekolah sampai jenjang tertinggi. Pokoknya Hanun harus menjadi orang yang hebat dan berprestasi." Arga terus berbicara pada Hanun. "Papa akan selalu mendukungmu, mendukung pendidikanmu, dan seluruh kehidupanmu.”
"Hasna, apakah kamu udah mulai mencintaiku?!"