Dilema

1308 Words
Hasna menatap Arga. Sejujurnya hati dan perasaannya sangat senang dan bahagia sekali karena Arga begitu menyayangi putrinya dan menganggap layaknya anak sendiri. Akan tetapi, seketika perasaan bahagia itu sirna ketika dia teringat bahwa dirinya masih terikat pernikahan dengan Pasha. Dan dia juga bingung atas pertanyaan Arga tersebut. Mata Hasna tiba-tiba berkaca-kaca. Dia merasa serba salah dengan statusnya. Dia merupakan istri, tetapi seperti tak memiliki suami. Dia benar-benar bagaikan seorang janda. Ingin bercerai pun, tapi Pasha justru mempersulitnya. "Hasna, Honey. Tolong jawab pertanyaanku. Apakah kamu udah mulai mencintai aku?" Hasna menunduk. Dia bingung harus bagaimana lagi memberi penjelasan pada Arga supaya mengerti. Arga itu merupakan tipikal lelaki pemaksa dan nekat, maka akan melakukan apa pun demi keinginannya. Semenjak ia mengenal Arga, meskipun baru mengenalnya, tetapi dirinya langsung tahu dan paham karakter sang bos. Ingin menjauh pun, ia sukar. Sebab, Arga tak akan membiarkan itu terjadi. "Hasna, kenapa kamu cuma diem aja, Sayang? Ayo, jawab aku!" Arga terus mendesak. "Apakah kamu udah mencintaiku? Tolong jawab dengan jujur, please!" "Pak Arga, tolong mengerti posisiku. Kamu tau kan, kalau aku wanita bersuami? Aku masih sah sebagai istri Mss Pasha." Akhirnya, Hasna menjawab juga. "Tapi kamu juga tolong mengerti posisiku, Hasna. Aku sungguh teramat sangat mencintaimu, aku mau menikah denganmu!" Arga tak mau kalah. "Tapi aku masih memiliki suami, Pak Arga." "Kamu bisa poliandri, Hasna. Simple!" “Awww ….” Hasna memegang kepala. Tiba-tiba sakit di kepalanya semakin menjadi mendengar ucapan ngawur dari Arga. Pria itu benar-benar seperti orang tidak waras, selalu memberi saran yang di luar nalar, menyuruhnya melakukan poliandri. Arga yang tengah menyetir mobil seketika menghentikannya. Wajahnya terlihat sangat cemas sekali. Dia langsung memegang kepala Hasna sembari menggendong Hanun. Dia merasa bersalah karena telah bertanya seperti itu. “Sayang, kepalamu sakit lagi?” Arga bertanya dengan cemas. Hasna hanya mengangguk. "Aku stres ngedenger permintaanmu yang aneh itu!" Dia menyandarkan kepalanya di jok mobil. Arga semakin panik melihatnya. Posisinya yang menyetir sambil menggendong bayi sungguh sangat menyulitkannya. Hasna seketika membuka mata. Dia menatap Arga. “Pak Ar, biar aku aja yang ngegendong Hanun.” “Gak apa. Supaya kamu bisa beristirahat sampai kita sampai di rumah sakit." Arga tersenyum. “Tapi gimana kamu nyetir mobil kalau tanganmu yang sebelah lagi sambil ngegendong?” “No problem. Aku bisa melakukannya. Sekalian aku belajar menjadi suami dan ayah yang siaga.” Hasna terpana mendengarnya. Tanpa sadar bibirnya pun ikut tersenyum. Hatinya tentu saja merasa berbunga-bunga kembali karena sikap manis dan lembut Arga. Bahkan Pasha yang merupakan suaminya dan ayah dari Hanun, justru tidak peduli pada mereka. Pasha benar-benar lepas tanggung jawab. Arga pun akhirnya melajukan mobil. Tangan kanan menyetir, sementara tangan kiri menggendong Hanun. Hingga tanpa terasa mereka telah sampai di rumah sakit yang mereka tuju. Dengan begitu sabarnya Arga menggendong Hanun dan menuntun Hasna. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang harmonis. Banyak mata yang menatap iri pada mereka. “Wah, bahagia banget ya, yang jadi istrinya. Suaminya perhatian dan sabar banget.” “Iya, gak kayak suamiku yang acuh banget. Anak kami sakit pun dia gak peduli. Berobat juga aku berangkat sendiri.” “Suamiku juga sama, Bu. Aku lagi hamil besar aja berangkat ke rumah sakit sendiri. Dia acuh banget.” Telinga Hasna mendengar semua perkataan ketiga wanita yang sedang duduk menunggu antrian. Perasaannya menjadi sedih karena teringat dengan perlakuan suaminya yang sangat acuh dan tak peduli pada dirinya dan anak mereka. Ibu-ibu itu mengira bahwa Arga adalah suaminya, ayah dari Hanun, padahal mereka salah menilai. Ingin rasanya dia mengatakan yang sejujurnya bahwa Arga bukanlah suaminya. Namun, dia urung melakukan itu, karena nanti dirinya akan dianggap wanita yang hina, sebab dia adalah wanita bersuami, tetapi justru jalan bersama lelaki lain. “Honey, ayo, kita masuk ke ruangan Dokter Della. Dia sudah menunggu kita.” Arga memeluk pinggang Hasna dan berjalan bersama menuju ke ruangan Dokter Della, yaitu dokter langganannya. Ketiga ibu-ibu tadi semakin histeris melihat keromantisan Arga pada Hasna. Mereka heboh sendiri. Arga mengulum senyum karena sebenarnya dia juga sedari tadi mendengar percakapan mereka bertiga. Dia sengaja memeluk pinggang Hasna di hadapan ketiga ibu itu agar semakin terpancing. Dan ternyata pancingannya berhasil. Mereka pun masuk ke dalam ruangan Dokter Della. “Silakan duduk, Tuan Arga dan Nyonya Arga” Dokter Della menpersilakan duduk seraya tersenyum. “Terima kasih, Dok.” Arga menjawab dan duduk. “Honey, ayo, duduk.” Arga memegang tangan Hasna dan dipersilakan duduk. Wajah Hasna bersemu merah. Dia merasa malu karena sang dokter memanggilnya Nyonya Arga. Namun, berbeda halnya dengan Arga, karena dia sangat bahagia sekali. “Dok, tolong periksa keadaan istriku ini. Dia sedari tadi selalu mengeluh sakit kepala,” ujar Arga. “Baik, Tuan Arga,” jawab Dokter Della. “Nyonya Arga, silakan berbaring dulu, saya akan memeriksa keadaan Nyonya.” Dokter Della mempersilakan Hasna. “I-iya, Dok.” Hasna pun berjalan menuju brankar. Dokter Della langsung memeriksanya. Tak lama kemudian Hasna kembali duduk di samping Arga, sedangkan Hanun masih terlelap digendongan Arga. “Dok, istriku sakit apa?” tanya Arga dengan cemas. “Istri Anda mengalami stres, Pak Arga. Mungkin sedang banyak pikiran dan tekanan, jadi membuat pikirannya tidak tenang. Harus banyak refreshing supaya otak tidak stres.” Dokter Della menjelaskan seraya menatap Arga dan Hasna bergantian. Hasna menundukkan wajah. Dia memang sedang stres memikirkan kemelut rumah tangganya dengan Pasha. Arga menatap wajah Hasna yang sudah berkaca-kaca. Perasaannya menjadi tak menentu. Dia sangat tahu tentang perasaan dan pikiran Hasna. Namun, dia akan berusaha untuk selalu membuat Hasna bahagia agar tidak stres. “Baik, Dok. Kalau begitu, kami permisi. Terima kasih." Arga berpamitan. “Honey, ayo kita mencari tempat untuk refreshing agar pikiranmu nggak stres lagi. Kita pergi ke luar negeri aja, bagaimana?” Hasna terdiam, dia menatap Arga dengan menggelengkan kepala. Dokter Della tersenyum melihatnya, dia sudah memberikan resep obat yang harus ditebus di apotek. Setelah itu, Arga pun keluar bersama wanita pujaannya tersebut. “Sayang, kamu tunggu di mobil sebentar, ya. Aku mau ke apotek.” Hasna menatap kepergian Arga. Dia berdiri di samping mobil. Sementara Hanun masih digendong oleh Arga dan masih terlelap dengan begitu nyenyaknya digendongan pria itu. Tidak berapa lama kemudian, Arga telah kembali dengan membawa obat untuknya. Dan pada saat itu Hanun sudah bangun. Hasna bergegas menghampiri Arga. “Pak Ar, sini, biar Hanun aku aja yang gendong.” “Tak apa, Mama. Anak papa masih anteng digendong sama papa.” Arga menciumi pipi Hanun. Hanun tiba-tiba menangis. Arga merasa ketakutan melihatnya. “Hanun, Sayang. Kenapa tiba-tiba kamu menangis, Nak?” Hasna tersenyum melihat kepanikan Arga. Dia pun mengulurkan tangannya dan mengambil alih Hanun. “Hanun pasti lapar ya, Nak?” Arga terdiam. Dia menatap kedua perempuan kesayangannya itu. “Apakah kamu mau menyusui anak kita di sini?” Hasna terdiam. Dia bingung akan menyusui Hanun di mana, karena mereka berada di tempat umum. Arga mengerti kekhawatiran Hasna. Dia nampak berpikir. “Gimana kalau kita ke hotel aja?” Arga menawarkan diri. Hasna menatap wajah Arga dengan mengernyitkan kening. “Ke hotel?” “Iya. Kamu jangan salah paham, Sayang. Maksudku adalah ... agar kamu bisa leluasa menyusui anak kita, dan kamu juga bisa beristirahat dengan tenang. Karena kalau pulang pasti sangat lama.” Hasna sangat malu mendengarnya, karena awalnya dia mengira jika Arga akan berbuat yang tidak-tidak padanya. Wajahnya kini sudah memerah. Arga tertawa terbahak-bahak melihatnya. “Ahaha … emangnya apa yang kamu pikirkan, Sayang? Hmm, apa kamu emang menginginkan itu? Aku sangat siap.” Arga tergelak. "Aku juga kangen pengen kayak waktu itu saat kita di toilet. Oouuhhh ... Hasna ... kapan aku bisa memilikimu seutuhnya." Wajah Hasna semakin memerah. Dia benar-benar sangat malu. “Pak Ar, jangan menggodaku terus, apalagi membahas hal itu, karna waktu itu kan, kamu yang gila ngelakuin itu ke aku. Huh!” Hasna merengek dengan manja. Arga semakin tertawa terbahak-bahak. Dia menjawil hidung bangir Hasna. Lalu setelah itu mereka pun berangkat menuju ke hotel terdekat. “Bos, mereka sekarang menuju ke sebuah hotel!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD