Hasna memejamkan mata tatkala Aida membisikkan perkataan tersebut. Ingin rasanya dia membalas, berteriak sekencang-kencangnya di depan wajah Aida. Namun, Hasna tak cukup memiliki keberanian untuk melakukannya. Hasna takut, sebab dia sadar akan posisinya yang bukan siapa-siapa. Bahkan diperistri pun belum terlaksana karena masih terhalang restu dari Aida. Dari sana saja Hasna tahu ke berapa posisinya di hati Arga dan melawan Aida tidak akan menjadi hal yang baik untuknya. "Ma, sebaiknya Mama pulang sekarang, daripada hal yang tidak diinginkan terjadi lagi. Jadi, sebaiknya mungkin kita memang harus menjaga jarak." Hasna berucap pelan. Aida tersenyum miring, lalu dengan entengnya menoyor kepala Hasna. "Mulai berani kamu kepadaku, hah? Mentang-mentang sudah dibelikan rumah oleh anakku, ber

