Auditorium sudah dipenuhi para peserta.Setelah melakukan briefing bersama Atifa dan kawan-kawannya, Tania melangkah menuju panggung utama.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” suara Tania terdengar nyaring memenuhi ruangan aula.
Salam yang dia ucapkan dibalas kompak oleh semua orang di ruangan itu.
Kemudian melanjutkan ucapannya dengan membaca mukaddimah dalam bahasa Arab. Dia memanjatkan puji dan syukur dan melantunkan shalawat kepada Rasulullah saw.
Tania menyapukan pandangan ke seluruh peserta dari bagian kanan hingga ke kiri. Masya Allah, alhamdulillah pesertanya banyak, Tania berkata lirih dalam hati. Seluruh kursi sudah hampir terisi penuh, hanya tersisa, dalam hitungan jari.
Setelah itu, Tania pun menyapukan pandangan dari arah depan depan hingga belakang.
Saat menyapu pandangannya ke bagian belakang, jantung Tania jadi berdenyut lebih kencang. Sosok Erlangga lagi memandanginya dan saat sepasang mata itu bersirobok, Erlangga tersenyum.
Kok dia masih di sana, apaan ya, kan ini khusus acara muslimah? Dasar ngeyel? Gerutu Tania dalam hati. Beruntung udah nggak ada Kak Rendra, kalau ketahuan kamu bisa dijitak, tahu rasa!
Tania segera menguasai dirinya. Dia tak boleh terpengaruh dengan kehadiran Erlangga yang terus menatapnya. Dia harus membawakan acara ini dengan sukses. Titik. Itulah tekad Tania saat ini.
Tak lama kemudian, Tania memanggil para pemateri dalam talkshow. Para pemateri terdiri dari seleb muslimah yang hijrah, ada juga aktivis muslimah, dan seorang ustazah.
Satu per satu dari pemateri itu pun dipanggil untuk duduk di panggung utama.
Talkshow dimulai dengan dari seorang seleb hijrah. Di dunia hiburan tanah air, namanya sudah sangat popular. Namanya Vina Rosalina. Dia sengaja diundang menjadi pembicara dalam acara talkshow ini karena keputusannya yang sangat menginspirasi kaum muslimah. Dia memutuskan berhijab dan menikah mudah di saat usianya masih amat belia dan pamornya tengah melejit.
“Kak Vina, masya Allah ya, jadi apa sebenarnya yang melatarbelakangi Kakak untuk berhijab, padahal karir lagi di puncak. Apa nggak takut ditinggalin fans nih Kak,” tanya Tania.
Di hadapan audiens sekira 400-an, Vina pun mulai bertutur, awal mula dia hijrah dan memutuskan untuk mengenakan hijab.
Audiens tampak sangat antusias saat mendengarkan penuturan Vina. Sesekali suasana acara dibuat lebih cair dengan banyolan-banyolan yang terlontar dari Vina.
Sembari mendengarkan penuturan Vina, Tania pun mengedarkan kembali pandangannya untuk melihat bagaimana reaksi dan antusiasme para peserta. Lagi-lagi, tak sengaja dia menyaksikan Erlangga yang lagi nyengir padanya dari bagian belakang.
Tania tak merespon sama sekali dan buru-buru mengalihkan pandangan ke Vina yang sedang menjelaskan pengalamannya.
“Apa hal utama yang mendorong Kakak untuk segera memilih berhijab?”
“Ada satu hal dalam diri saya yang benar-benar sangat mendorong saya untuk segera berhijab.”
“Apa itu, Kak? Wah kayaknya teman-teman penasaran juga kan?” Tania mencoba memancing Vina dan serius menatap Vina, persis gayanya mirip Najwa Shihab saat membawakan acara Mata Najwa.
Pertanyaan itu sengaja Tania ajukan supaya Vina menjelaskan lebih banyak lagi. Dan membuat suasana makin seru lagi.
“Kematian. Ya saya ingat mati. Setiap mengingat kematian, saya membayangkan bagaimana jadinya kalau saya mati dan masih belum sempurna menutup aurat. Bagaimana saya nanti mempertanggungjawabkan di hadapan Allah.”
Vina menitikkan air mata. Para panitia di belakang layar bergerak cepat. Untung ada salah satu panitia yang membawa tisu pribadi. Ini benar-benar di luar skenario acara. Ini alamiah terjadi.
Tisu pun segera diberikan di depan meja. Dan Tania segera berinisiatif memberikan tisu itu kepada Vina.Vina menerima dan menyusut air matanya yang meleleh.
Para peserta pun ikut terhanyut. Tidak sedikit dari mereka yang ikutan terisak menangis.
“Munculnya kesadaran dalam diri saya untuk mengingat kematian sebenarnya bukan sekonyong-konyong. Saya kerap kali mengingat mati setelah saya kehilangan mama saya, dan mama juga seringkali mengajak saya untuk menutup aurat, tapi saat itu saya selalu menolak dan masih senang tenggelam dalam ingar bingar dunia hiburan yang penuh kemaksiatan.”
Penjelasan terakhir Vina benar-benar menghujam jiwa Tania. Pengalamannya tidak jauh berbeda dengan dirinya. Tiba-tiba Tania pun teringat pada mendiang mamanya. Dan tak terbentung, air matanya pun meleleh. Buru-buru dia menyusutnya dengan tisu.
Mama, aku kangen Mama. Semoga mama bahagia dan mendapatkan kenikmatan di sisi Allah. Allahummaghfir laha warhamha Wa'aafiha wa’fu anhaa wa akrim nuzulaha wawasi’ madkhalaha...
“Jadi teman-teman sekalian pun, ingatlah mati, supaya kita tetap teguh istikamah berhijab dan memperbanyak bekal untuk masa depan kita di akhirat sana,” pungkas Vina.
“Masya Allah, penjelasan Kak Vina luar biasa. Kelihatannya hampir semua yang ada di ruangan ini terharu. Saya juga ikut terharu, terlebih pengalaman Kakak ditinggal mama juga persis seperti yang saya alami. Semoga kesedihan kita diganti dengan ridha dan pahala Allah ya, Kak. Semoga kita diberikan kesabaran dan keistikamahan dalam ketaatan.”
“Aamin,” Vina menjawab singkat.
Kemudian kedua pembicara berikutnya menuturkan tentang sejarah hijab dari masa ke masa. Pembicara juga menyampaikan tinjauan hijab di tanah air. Menurutnya, di Indonesia sendiri, hijab yang merupakan bagian dari syariat Islam sempat mengalami hambatan dalam penerapannya.
“Di antaranya terjadi pada masa rezim orde baru. Pada masa tersebut, penggunaan gamis, kerudung, jilbab, atau hijab itu dibatasi. Bahkan pada masa itu, orang yang mengenakan hijab tidak bisa menjadi PNS, atau bisa mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan. Ini pernah terjadi dalam sejarah di negeri ini,” tutur aktivis muslimah itu.
“Berarti kita, alhamdulillah bersyukur ya, Kak. Di masa saat ini, kita bisa leluasa mengenakan hijab?” tanya Tania.
“Iya, alhamdulillah. Namun di samping itu juga, kita tetap harus berjuang bagaimana agar hijab ini tidak dikampanyekan negatif. Sebab ada saja upaya-upaya ke arah sana. Seperti niqab atau cadar misalnya. Sampai saat ini, masih ada upaya pihak-pihak yang tak suka, sehingga cadar diidentikkan misalnya dengan teroris, bom bunuh diri dan lain-lain. Padahal sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali.”
Tania mengangguk-angguk. Sebagian peserta pun mengangguk-angguk.
Pembicara terakhir pun turut menjelaskan bagaimana tata cara mengenakan hijab syar’i. Dia mengutip dalil-dalil tentang hijab dan mulai menjelaskannya kepada hadirin.
“Hijab syar’i itu simple sebenarnya, nggak neko-neko dan tidak perlu ada tutorial yang terkadang bikin ribet ya hehe, ” jelas sang ustazah. “Untuk mengenakannya, hijab itu terdiri dari kerudung dan gamis. Bahannya yang tidak transparan atau menerawang, dan tidak memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh kita. Hijab itu kan pakaian luar ya, jadi sebelum mengenakan kerudung dan gamis, kita bisa menggunakan pakaian dalam....”
“Tunggu... tunggu, ustazah, pakaian dalam? Maksudnya apa nih?” tanya Tania tersenyum.
“Hehe, pakaian dalam di sini maksudnya bukan daleman ya, tapi mihnah atau baju biasa yang biasa kita pakai sehari-hari selama di rumah, bisa berupa kaos, celana apa pun itu modelnya.”
“Jadi pakaian dalam itu mihnah ya, teman-teman,” kata Tania sembari mengarahkan pandangan kepada para peserta.
“Jadi, kenakan kerudung hingga menutupi d**a, kenakan gamis sampai menjulur ke bagian bagian kaki. Karena kaki juga adalah aurat, maka sempurnakan menutup aurat dengan menggunakan kaus kaki. Gunakan selalu kerudung, gamis, dan kaus kaki selama keluar rumah.”
“Selanjutnya, bila ada di dalam rumah kita, selama tidak ada lelaki asing kita tidak masalah menanggalkan gamis dan kerudung, hanya mengenakan pakaian mihnah. Dan mahram kita, misal, Ayah dan Kakak laki-laki boleh melihat bagian tubuh tempat melekatnya perhiasan, seperti pergelangan tangan, pergelangan kaki, leher, telinga, dan yang lainnya.”
Acara berikutnya beranjak ke sesi tanya jawab. Tania memberikan kesempatan kepada beberapa peserta untuk bertanya. Mereka tampak antusias. Terlihat dari banyak orang yang mengacungkan tangan. Satu per satu Tania menunjuk dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertanya.
Sementara itu, Erlangga tampak masih asyik di tempatnya di bagian belakang. Dia mengikuti acara itu dari awal. Erlangga bisa mencerna materi yang disampaikan dari ketiga pembicara. Namun sebenarnya hal itu bukan menjadi fokusnya, tetap saja fokusnya hanyalah Tania.
Tania, lu kok ngebosenin ya, sebelum pake hijab, lu cantik. Sekarang udah pake hijab, lu makin cantik.
Saat lagi terpana mengagumi kecantikan Tania, Erlangga tak menyadari kehadiran seseorang di sampingnya.
Dia baru sadar, setelah kedua pandangannya oleh sebuah telapak tangan. Lalu Erlangga pun kaget, menatap perlahan si empunya telapak tangan itu.
Mati gue, ketahuan ini. Susah ini, gimana gue mau bela diri?!
“Jadi, lu dari tadi di sini?” tanya Rendra menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Inget, Bro. Allah tahu apa yang kamu lakuin. Allah melihat semua yang kamu kerjakan, di tempat terbuka maupun di tempat tersembunyi. Jaga pandangan. Jangan memandang dengan s*****t dan penuh hasrat!” Rendra kembali menasihati Erlangga.
“Dan sebagai kakak Tania, gue nggak ikhlas nggak ridha kalau adik gue ditatap dengan tatapan yang tidak halal. Tolong camkan itu!”
Erlangga hanya menghirup napas dalam-dalam sembari menutup kedua kelopak matanya.
Bersambung