Rindu Berat

1247 Words
Sesuai janji, pagi-pagi Erlangga meluncur ke kampus.Tiba di kampus dia langsung menuju ke auditorium, tempat acara bakal dilangsungkan.  Dari jarak kurang lebih 15 meteran, Rendra dan Kevin tampak sudah berdiri dan tengah mengobrol bersama salah seorang panitia perempuan. Semakin dekat semakin terdengar apa yang mereka bicarakan. “Tania lagi dalam perjalanan,” sayup-sayup suara Rendra terdengar. “Oh iya, alhamdulillah, saya sudah ingetin dia semalam, supaya on time,” balas Atifa. Sesaat percakapan Rendra dan Atifa dan Kevin terhenti karena kehadiran Erlangga. Kedatangan Erlangga disambut senyuman Rendra dan Atifa. Erlangga pun membalas senyuman mereka. Kevin tersenyum agak canggung. Erlangga hanya menatapnya sekilas. Berarti Tania juga ke sini. Dia juga terlibat dalam acara ini, pikir Erlangga. Kebahagiaan membuncah di dadanya. Sekalipun tak direncanakan, akhirnya dia bisa bertemu dengan gadis yang dicintainya. Akhirnya, rindu berat ini, terobati juga, pikir Erlangga. “Kalau begitu saya pamit dulu, ada keperluan lain yang perlu saya bereskan,” ujar Atifa. “Ya, silakan,” kata Rendra. Yang dimaksud pamit Atifa adalah pamit dari hadapan ketiga lelaki itu, kemudian dia kembali bergabung dengan teman-teman-temannya sedang berdiskusi menyiapkan acara di area tengah ruangan auditorium. Pagi itu auditorium sudah terlihat rapi. Spanduk acara sudah terpasang di depan. Beberapa panitia wara-wiri, terlihat sibuk mengatur posisi kursi dengan berbagai perlengkapan untuk menunjang acara. Sementara kursi-kursi masih tersusun rapi di samping auditoriuum bersandar ke dindingnya. “Sudah siap?” tanya Rendra. “Ayo kita mulai pasang kursi-kursinya.” Rendra melangkah menuju ke tempat di mana kursi masih terlipat. Langkahnya diikuti Erlangga dan Kevin. Kevin dan Erlangga masih terlihat enggan saling berpandangan. “Disusun berapa baris?” “Dua puluh ke arah belakang, dua puluh ke arah samping, jadi total  ada empat ratus kursi” “Siap,” ucap Erlangga. Mereka bertiga pun mulai menyusun kursi-kursi itu. Sambil beraksi menyusun, terkadang terselip obrolan di antara mereka.  “Oh iya, aku baru inget. Kalian nanti bakal ngaji bareng ya. Sudah mulai belum ya?” Erlangga dan Kevin saling pandang.  “Belum, Ren. Kan minggu lalu aku sakit.” “Oh iya. Mumpung kalian ketemu, saran saya obrolin aja waktunya ya, biar lebih enak.” Apanya yang enak? Lagian siapa juga yang mau ngaji sama dia? Erlangga menggerutu dalam hati. “Bisa, nanti bisa diobrolin,” balas Kevin. “Ya kan, Ngga?” lanjut Kevin sembari menatap Erlangga yang berdiri tak jauh dari sisinya. Mampus gue, gue harus ngomong apa. Pliis, kenapa gue  terus-menerus dihadapin dalam kondisi yang gue nggak pernah suka sama sekali. “Oke,” jawab Erlangga, pendek. Dia terpaksa mengucapkan hanya satu kata itu. Dia tak enak hati sama Rendra. Tak terasa, kursi-kursi sudah rampung mereka susun. Berikutnya, Rendra mengajak Erlangga dan Kevin ke area panggung utama auditorium. Di sana mereka memastikan lagi, spanduk sudah terpasang dengan rapi.  Mereka juga memastikan, sound system sudah terpasang dengan baik. “Chek ... chek... satu dua tiga,” suara Rendra melalui mikrofon menggelegar memenuhi ruangan auditorium. “Kebesaran menurutku, kecilin lagi dikit,” kata Kevin. Rendra pun mengacungkan jempol ke arah Kevin. Lalu dia melangkah, menurunkan sedikit volume mikrofon.  Satu per satu dicek beberapa mikrofon di panggung itu, hingga suaranya sudah terdengar oke. Suasana hari sudah mulai panas. Cahaya matahari memasuki ruangan auditorium itu melewati celah-celah kaca. “Lumayan juga ya, udah kayak olahraga pagi. Langsung keringetan,” ucap Erlangga. “Benar-bener. Anggap saja ini olahraga pagi ya.” Erlangga menatap ke sekeliling, mencari-cari sosok Tania, berharap gadis pujaannya itu sudah ada di lokasi acara.  Namun setelah ekor mata berkeliling memandang ke segala penjuru, yang dicarinya ternyata tak ketemu.  Kenapa waktunya, baginya saat ini terasa lama. Apakah karena rasa rindu? Apakah rindu yang bisa menahan bergulirnya waktu? Ah, mustahil, ini hanya karena perasaannya saja? Dia tak sabar menunggu seseorang yang dirinduinya. Kevin, Erlangga, dan Rendra pun duduk sejenak di kursi yang usai baru saja selesai mereka rapikan.  “Kayaknya sih pekerjaan kita sementara udah beres,” ujar Rendra. Erlangga menggarisbawahi kata ‘sementara’. Emang berikutnya masih ada ya? Duuh gue udah cape, dan berasa rugi. Astagfirullah, Angga beristigfar. Dia teringat ucapan Rendra. Melaksanakan tugas harus ikhlas. Ya Allah, maafin gue ya, Allah. Astagfirullah.  Tapi rindu gue sama Tania belum terobati, ke mana sih dia kok kagak muncul-muncul. Tan, gue kangen elu! “Jadi, paling nanti jam 11 atau jelang Zuhur nanti kita ke sini lagi, buat beres-beres lagi.” “Oke, kalau gitu aku pamit duluan, aku harus siap-siap, ada jadwal ngisi kuliah,” ucap Kevin. “Siap, sampai ketemu lagi.” “Ngga, kamu habis ini mau ke mana?” tanya Rendra. “Nggak ke mana-mana, kayaknya aku di sini aja ya.” “Ngapain? Kan ini acara khusus perempuan!” “Ya nggak apa-apa kali. Aku nggak duduk di  kursi, palingan duduk di luar aja. Habisnya aku males pulang lagi ke rumah.” Rendra, berpikir sejenak. Ada apa dengan tingkah Angga yang menurutnya agak aneh begini. Setelah berpikir keras, akhirnya dia dapat menerka-nerka jawabannnya. “Sorry, ya Ngga. Jangan-jangan elu modus pengen ketemu Tania ya?” Erlangga kaget. Kok bisa sih lo, tahu isi hati dan pikiran gue, Ren. “Apaan sih, lu. Lu mah ngarang aja, Ren. Lu kan udah bilang, pacaran nggak nggak boleh. Oke, gue udah ikut. Gue nggak macarin Tania lagi. Sekadar liat emang nggak boleh ya?” “Sekadar lihat lo bilang. Eh denger, ya, Ngga. Ngelihat itu mubah. Boleh. Tapi ngeliat dengan hasrat status bisa berubah dari mubah ke haram.” Erlangga mati kutu. Dia tak bisa mendebat lagi ucapan Rendra. Kalau sudah urusannya sama agama, kalah dia. Kalau mau ngarang-ngarang juga justru malah dia sendiri yang malu seperti yang pernah terjadi dulu. Dulu waktu ditanya soal pacaran saat ngantuk, Erlangga jawab ngasal, dan yang terjadi dia malah ditertawakan sesama teman sepengajiannya. “Lha terus sekarang gue gimana dong?” tanya Erlangga. “Terserah lho, asal lu jangan berada di lokasi sini. Ini khusus acara akhwat, cewek, muslimah,” jawab Rendra galak. “Tapi gue kan pengen tahu acara ini, siapa tahu gue dapat ilmu juga, Ren,” Angga mencoba berdalih. Angga menahan emosinya. Susah memang meladeni Erlangga. Kelakuan ngeyelnya masih susah dihilangkan. Rendra pun geleng-geleng kepala. Di satu sisi dia pun harus buru-buru pergi dari tempat itu, karena mau mempersiapkan bimbingan tesisnya.  “Terserah lu deh. Gue mau bimbingan tesis.Jangan lupa nanti kumpul lagi jam 11-an. Dan inget ya, kalau lu mau ikutan acara ini. Ada syaratnya?” “Apa syaratnya?” “Lu harus berjenis kelamin perempuan. Habis itu pake hijab, baru boleh tuh diam di sini mengikuti acaranya.” Rendra pun menutup ucapannya dengan salam dan melangkah meninggalkan Erlangga yang masih mematung. “Kak Rendra,” tiba-tiba suara sayup-sayup itu terdengar. Suara yang tak asing. Rendra dan Erlangga bersamaan menoleh ke arah suara. Erlangga benar-benar terpana dengan penampilan Tania yang memadupadankan gamis violet dusty pink dengan kerudung purple.  Tania tidak mempedulikan Erlangga, bahkan seolah-olah tak melihat Erlangga sama sekali. Dia menghambur ke arah Rendra. “Dik, ayo cepat masuk kamu harus siap-siap,” Rendra menuntun Tania menuju auditorium. “Ingat Dik, nggak boleh gugup ya, kamu menjadi salah satu penentu suksesnya acara ini,” lanjutnya. “Oke, Kak. Doain ya, mudah-mudahan aku lancar ngomongnya saat di depan.” “Insya Allah bakal, lancar. Jangan lupa baca doa Nabi Musa, ya. Rabbish rahli shadri...” Tania mengingat doa itu. Doa supaya diberikan kemudahan saat berbicara. Doa itulah yang diucapkan oleh Nabi Musa saat berdakwah di hadapan Fir’aun.  Sementara itu, Erlangga masih mematung, dia masih ingin terus memandangi Tania tanpa bosan. Dia sama sekali enggan meninggalkan tempat itu. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD