bc

Sekretaris Double Job

book_age18+
277
FOLLOW
4.0K
READ
revenge
dark
forbidden
love-triangle
contract marriage
one-night stand
family
age gap
forced
playboy
badboy
boss
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
city
office/work place
cheating
childhood crush
secrets
affair
friends with benefits
like
intro-logo
Blurb

Vanilla datang ke Amerika membawa sejuta harapan saat nasib keluarganya harus diselamatkan. Masalah bertubi-tubi menghantam keluarganya di Indonesia, hingga akhirnya dia terpaksa meminta bantuan pada atasannya sendiri, Harrison White, sang CEO dingin, arogan dan perfeksionis yang selalu memandang segalanya sebagai transaksi.Harrison tak peduli pada air mata atau harga diri orang lain. Baginya, segalanya di dunia ini bisa dibeli dengan uang, termasuk kesucian Vanilla. Tapi yang tidak dia duga justru terjadi saat gadis yang ditawarnya dengan sinis ternyata mampu mengguncang egonya, menantang permainannya, dan menolak tunduk meski sedang berada di titik terendah.Saat keduanya terikat dalam kesepakatan gelap selama tujuh hari penuh, batas antara benci dan ketertarikan mulai kabur. Di balik dinginnya Harrison dan rapuhnya Vanilla, tersembunyi rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.Apakah ini hanya sekadar transaksi ... atau awal dari sesuatu yang jauh lebih dalam?

chap-preview
Free preview
Bab 1. Jual Diri Demi Dolar
"Sir, maaf sebelumnya, tapi ... apakah saya boleh meminta bantuan Anda?" tanya Vanilla dengan tubuh gemetar saat menatap mata biru Harrison. "Memangnya kamu butuh bantuan apa dariku?" Harison tersenyum tipis, seolah menikmati kecantikan wajah Vanilla yang saat ini terlihat pucat. Vanilla menelan salivanya, berusaha menahan tangis dan rasa malu. Dengan suara pelan tapi tegas, dia berkata, “Saya butuh uang, Sir. Seratus juta rupiah … atau sekitar enam ribu dolar. Rumah keluarga saya di Indonesia disita bank. Kalau saya tidak kirim uang secepatnya, maka ibu dan adik saya akan kehilangan tempat tinggal.” “Tiga puluh dua ribu dolar bukan jumlah kecil, Vanilla.” Harrison bersandar di punggung kursi. "Dan bagaimana caramu melunasinya? Kamu saja masih pegawai tidak tetap di sini, gajimu juga masih kecil karena baru beberapa bulan bekerja di sini." “Saya tahu kalau saya lancang berbicara seperti ini kepada Anda, Sir. Tapi saya benar-benar butuh, saya juga tak bisa pinjam di bank karena status kewarganegaraan saya." Vanila mengengam kedua telapak tangannya hingga kukunya memutih. "Soal cara melunasinya, sudah pasti saya akan bekerja lebih keras. Anda bisa memotong gaji saya, setengahnya atau semuanya juga tidak apa-apa. Karena Saya akan mencari pekerjaan tambahan setelah saya pulang ker—” "Memotong gajimu setiap bulan itu juga terasa sangat lama bagiku.” potong Harrison sambil berdiri dan melangkah pelan ke arah Vanilla. Harrison berhenti tepat di samping Vanilla, lalu menunduk dan berbisik, “Ada cara cepat yang bisa kamu lakukan untuk mendapatkan uang itu tanpa harus mengembalikannya lagi padaku." "Tidak perlu mengembalikannya?" beo Vanilla dengan alis terpaut. "Apa maksud Anda, Sir?" "Tidur denganku malam ini, buat aku puas berkali-kali, dan kau pasti akan mendapatkan uang itu tanpa harus mencicilnya.” Harrison tersenyum smirk. "Mudah sekali bukan?" Jantung Vanilla mencelos, napasnya tercekat, dan rahangnya mengeras, dia benar-benar marah dan merasa dilecehkan oleh Harisson. “Wajahmu cantik, Vanilla. Kulitmu exotis dan tubuhmu seksi. Aku tidak memaksamu, tetapi tawaranku hanya berlaku malam ini,” lanjut Harisson, seolah sedang menawarkan makan malam pada gadis yang ada di hadapannya. Tamparan keras mendarat di pipi Harrison. “Apa Anda pikir harga diri saya semurah itu?” Suara Vanilla meninggi, matanya berkaca-kaca. “Saya datang ke sini untuk meminta bantuan Anda, tapi Anda malah menghina dan merendahkan harga diri Saya!” Dengan d**a bergemuruh, Vanilla berbalik dan berjalan cepat keluar ruangan, membiarkan Harrison berdiri di sana dengan wajah datar, tapi matanya menyipit tajam. *** Vanilla membanting pintu apartemen kecilnya dengan tubuh gemetar. Napas tersengal, dadanya terasa sesak oleh kemarahan dan rasa malu. Gadis itu berjalan ke dapur, menuang segelas air bening, lalu meneguk cepat. Tapi sial sekali, air yang terasa segar itu tak mampu menghapus rasa perih yang masih tertinggal di tenggorokannya. Detik itu juga, ponsel Vanilla bergetar di atas meja. Nama adiknya, Vandella, terpampang di layar ponsel. Vanilla buru-buru mengangkat. “Halo, Dek?” “Kakak .…” Suara Vandella terdengar lirih, seperti habis menangis. “Aku lagi di rumah sakit sekarang. Ibu tadi pingsan di rumah, aku panik, langsung minta tolong ke tetangga dan bawa Ibu ke IGD.” Jantung Vanilla mencelos. “Ibu kenapa, Dek?” “Kata dokter, tekanan darahnya drop, Kak. Terus ternyata ada indikasi sakit lambung yang semakin parah. Tapi itu belum pasti, soalnya harus ada pemeriksaan lanjutan. Kak … apa Kakak masih ada uang?” Vanilla terdiam, dia menatap dompetnya yang kosong di atas meja. Di sana hanya tersisa beberapa lembar dolar, yang bahkan untuk makan 3 kali sehari sampai akhir bulan saja sudah dipastikan uang itu tidak akan cukup. "Buat apa, Dek? Buat biaya berobat ibu?" tanya Vanilla dengan kening berkerut karena dia sudah mengirimkan uang makan yang cukup banyak untuk ibu dan adeknya belum lama ini. “Kita kan masih ada asuransi kesehatan." Hening beberapa detik. “Kak, aku tadi tanya bagian administrasi ternyata Ayah udah mutusin semua asuransi premium kita. Apalagi kita juga enggak punya BPJS. Jadi kemungkinan uang makanku dan Ibu akan teralihkan buat bayar rumah sakit." "Dasar pria b******n! Pria seperti itu tidak pantas disebut Ayah!" batin Vanilla, air mata mulai menetes dan tangannya gemetar menggenggam ponsel. “Kak … kalau besok Ibu harus rawat inap, terus aku bayar pakai apa?” Suara tangis Vandella terdengar jelas di telinga Vanilla. "Jangan nangis, Dek." Vanilla mencoba menahan isakan, di memejamkan mata, tubuhnya jatuh ke lantai dingin, bersandar di dinding. “Kakak janji akan kirim uang buat biaya berobat Ibu. Jadi kamu tenang ya, kamu jangan nangis, kamu harus jagain Ibu!" "Iya, Kak." Vandella mengangguk seolah sang Kakak ada di hadapannya. "Ya sudah aku tutup dulu ya, Kak. Aku mau ambil hasil lab." Setelah sambungan telepon itu berakhir, pikiran Vanilla semakin kacau. "Aku harus apa biar dapat uang?" Dengan tangan gemetar, Vanilla kembali menatap layar ponselnya. Nama "Mr. Harrison" terpampang jelas. Napasnya berat, pikirannya berkecamuk. Hatinya menjerit, tapi wajah ibunya di ruang IGD dan suara tangis adiknya yang ketakutan terus menghantui. "Demi Ibu … Demi Vandella." Vanilla akhirnya menekan tombol hijau, nada sambung berdering. Sekali … dua kali … dan .... "Harrison speaking," Suara itu terdengar di ujung sana, tenang, datar, dan dingin. Tapi Vanilla tahu, pria itu pasti sedang tersenyum di balik nada cueknya. Vanilla menggigit bibir bawahnya, mencoba menguatkan diri. “Ini saya, Vanilla.” “Oh? Vanilla? Ada apa, ya? Kenapa kamu menelponku?" balas Harrison, seolah kejadian tadi hanyalah lelucon di kantor. Vanilla menggenggam ponsel lebih erat, hingga jari-jarinya memucat. “Saya … saya mau menerima tawaran Anda, Sir.” Sunyi, beberapa detik tidak ada jawaban. Hingga akhirnya terdengar suara kursi yang berderit dari seberang, kemudian disusul suara bariton milik Harisson. “Benarkah? Apa kamu yakin, Vanilla?” "Ya," jawab Vanilla cepat. “Tapi dengan satu syarat, Sir." Harrison menaikkan alis, walau Vanilla tak bisa melihat ekspresinya. “Apa syaratnya? Coba kamu katakan sekarang!” “Saya minta dua kali lipat dari jumlah yang saya minta tadi ... dua belas ribu dolar, karena saya masih perawan.” Suara Vanilla terdengar jelas, tanpa gemetar, tapi air matanya jatuh diam-diam. "Dua kali lipat?" Harisson tertawa terbahak-bahak. “Itu cukup mahal untuk seseorang yang tadi berani menamparku.” “Bukan cuma sekali, Sir." Vanilla memejamkan mata sebelum melanjutkan. “Maksudnya, aku tidak hanya menemanimu selama satu malam. Jika Anda bersedia membayar saya sebanyak itu, maka saya ... saya akan menemani Anda selama satu minggu penuh.” Harrison menyeringai, dia tentu saja tertarik dengan tawaran yang diberikan Vanilla. “Aku suka dengan keberanianmu." Tangis Vanilla semakin tumpah, dia menutup mulut dengan tangan, tubuhnya semakin bergetar, d**a sesak, karena menahan isak tangis agar Harisson tak bisa mendengarnya. “Persiapkan pasport dan dokumen penting milikmu, Vanilla. Kamu tidak perlu bawa koper berisi baju atau apapun, karena kamu cukup membawa diri saja. Besok kam 6 pagi, aku akan menjemputmu di depan apartemenmu." Lalu, sambungan diputuskan Harrison tanpa menunggu jawaban dari Vanilla. "Kenapa jalan hidupku jadi seperti ini?" Vanilla menjatuhkan ponsel ke lantai, tubuhnya lunglai. "Kenapa harus aku yang lebih banyak berkorban? Hancur sudah ... masa depanku hancur ... aku berakhir jadi p*****r, gara-gara p*****r sialan itu!"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.1K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
68.6K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook