"Karena setiap hati selalu memiliki tempat untuk kembali." - Revin ••• Pekat yang memenuhi pandangannya kala itu, sempat membuat Revin berpikir buruk tentang hidupnya. Bahkan dengungan di telinganya, membuatnya semakin diselimuti ketakutan luar biasa. Bahwa setelah ini dunianya hanya hitam dan sunyi. Hanya saja, perlahan telinganya menangkap suara di sekitarnya. Dengungan di telinganya berganti bisik yang mulai terdengar. Perlahan, gelap dari pandangannya memudar. Indra penglihatan menangkap cahaya, yang semakin lama semakin terang. Seiring dengan suara disekitarnya yang semakin terdengar jelas. Revin belum memberikan respon apapun. Bahkan saat orang-orang di sekitarnya mencoba memulihkan kinerja otaknya. Pandangan Revin masih koaong. Bola matanya bergerak berutal, tanpa tujuan. "Baga

