"Biarkan semesta yang memutuskan, siapa yang pantas bertahan." - Rival ••• "Aw a-bang, jangan.. sakit!" Rintihan Rival semakin membuat Radit kalut. Dia hanya ingin menggeser sedikit tubuh adiknya, tapi Rival sudah menjerit kesakitan. Sejak semalam, setelah menjenguk Revin, kondisi Rival kembali menurun. Bahkan sejak semalam, Rival tidak bisa tidur dengan tenang. Berulang kali terbangun karena merasakan sakit. Obat penghilang rasa sakitnya pun seakan tidak mempan. Radit kembali mendekat. Mengusap pelan rambut Rival yang basah. "Maaf, ya. Abang gak tahu harus gimana." Jujur, tidak ada yang lebih sakit dari melihat kedua adiknya sakit. Bahkan Radit harus memilih siapa yang dia utamakan. Inginnya juga menemani Revin disana, hanya saja dia tahu Rival jauh membutuhkannya. "Sakit, bang. Ja

