Bangun dalam keadaan lelah setelah apa yang Tian lakukan tanpa henti membuat diriku terlalu berat untuk bangun, aku berpikir bagaimana bisa Tania bertahan selama ini dengan papa. Aku mengakui stamina Tania tersebut yang ternyata tidak dapat aku tandingi. "Mama" teriak Boy ketika aku keluar kamar. "Sudah makan? masak apa papa?" aku menatap meja makan dan dapur yang sangat berantakan "ke mana bibi?" mencari keberadaan bibi. "Belanja ke pasar" jawab Tian tanpa mengalihkan pandangan dari kompor. "Aku saja sini" ucapku mengambil spatulla yang dipegang Tian. "Mama adik untukku mana?" hampir saja aku tersedak ludah ketika mendengar perkataan Boy, dengan segera aku menatap Tian tajam meminta dirinya yang menjelaskan pada Boy. Aku tersenyum ketika melihat dirinya menghembuskan nafas, dari sin

