Bab 1: Ditandai (Versi 18+)
Aku seharusnya tidak masuk ke hutan itu.
Tidak malam ini. Tidak saat kabut menggantung seperti napas terakhir dari mimpi buruk.
Tapi malam itu, aku tidak punya pilihan. Motor tua yang kupakai untuk pulang dari kampus mogok di tengah jalan, tepat di depan jalur menuju Hutan Atheris. Kabarnya, hutan itu terlarang. Tak ada yang berani masuk ke dalamnya setelah matahari tenggelam, dan tak seorang pun yang pernah masuk ke sana kembali dengan cerita yang utuh.
Aku bukan tipe gadis yang percaya mitos. Aku logis. Aku realistis. Tapi malam itu, dengan hujan gerimis yang mulai turun dan bayangan gelap di belakangku yang terasa seperti mengejar, aku memilih kabur ke dalam kegelapan.
Kabut langsung menyambutku, menebal dalam hitungan langkah. Udara di dalam hutan terasa berbeda. Lebih berat. Lebih... hidup. Setiap ranting yang terinjak membuatku menggertakkan gigi. Aku tidak tahu apa yang mengejarku. Tapi naluriku berteriak untuk lari. Dan itu yang kulakukan.
Aku berlari. Melewati semak-semak, akar pohon, hingga akhirnya aku terjatuh—tergelincir di tanah licin dan menghantam batu besar. Darah mengalir dari pelipisku. Nafasku terengah. Aku nyaris pingsan.
Sampai suara itu datang.
—Grrrrr...
Bukan suara anjing. Lebih berat. Lebih dalam. Lebih mengancam. Aku membeku.
Mataku menatap sekeliling, dan di antara kabut—aku melihatnya.
Dia berdiri di bawah pohon besar. Bayangannya samar, tapi auranya jelas. Tinggi, dengan rambut gelap yang menyatu dengan malam, mata kuning emas yang bersinar seperti bara api. Tatapannya menusuk langsung ke dalam jiwaku.
Aku terdiam. Bahkan ketika dia melangkah mendekat, pelan, seperti pemangsa yang yakin buruannya tak akan lari.
“Kau bisa melihatku,” gumamnya.
Suaranya berat, serak, dengan aksen asing yang asing namun indah di telingaku. Aku tidak menjawab. Bibirku terkunci. Tapi tubuhku... tidak bisa berpaling.
“Manusia seharusnya tak masuk ke sini.”
Dia berhenti hanya satu meter dariku. Aku bisa mencium baunya—tanah, hutan, dan sesuatu yang primal. Tangannya terulur, besar dan kuat, dan sebelum aku bisa mundur, dia sudah mencengkeram pergelangan tanganku.
“Kenapa kau? Kenapa sekarang?”
Aku menggigil. Tapi bukan karena dingin. Ada sesuatu yang lebih besar daripada rasa takut yang menjalar dari sentuhannya.
Lalu itu terjadi.
Sakit. Panas. Membakar. Di leherku, tepat di bawah telinga.
Aku menjerit.
Kulitku menyala. Ada simbol—lambang yang membentuk pola spiral dan garis-garis kuno, bersinar dalam cahaya samar bulan.
Aku telah ditandai.
“Tidak...” suaranya nyaris lirih. Tapi matanya... penuh gejolak. “Kau tidak seharusnya jadi milikku.”
Tatapannya berubah. Dari bingung, menjadi frustrasi. Dari frustrasi, menjadi gelap. Nafasnya memburu. Dia melepaskanku sejenak, tapi tidak benar-benar mundur.
“Kau bukan serigala. Kau manusia. Tapi tubuhku... tubuhku mengenalmu.”
Aku tidak mengerti. Tapi tubuhku—di luar kendaliku—menjadi hangat di tempat ia menyentuh. Seolah api ditanamkan dalam nadi.
“Kau... mate-ku.”
Dan dengan itu, takdirku berubah.
Aku yang biasa, manusia tanpa darah khusus, kini terikat pada makhluk yang bukan manusia. Pada dunia yang tersembunyi dari semua orang. Pada naluri yang lebih tua dari akal sehat.
Dan malam itu, aku berdiri di antara dua dunia—dunia manusia yang kutinggalkan... dan dunia yang kini mengklaimku.