Setelah menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit, Rindu bergegas untuk pulang. Namun baru saja beberapa langkah dari lobby, hujan deras sudah melingkupi malam hari. Padahal rencananya Rindu masih harus membeli beberapa kebutuhannya di supermarket dekat rumah sakit. Mana dia tidak bawa payung lagi.
“Neng, mau pulang?” tegur pak satpam.
“Ya pak, sekalian mau ke supermarket terdekat sih. Tapi hujan, gak bawa payung lagi!”
“Mending pesen taxi aja neng, besok-besok aja ke sononya.”
“Iya pak!”
Rindu menghela nafas, dia merasa sedikit sakit di perutnya. Sepertinya dia akan datang bulan, dan dia kehabisan stok pembalut. Bukan kabar baik tentunya. Rindu berjalan mendekati hujan, menaikkan tangannya dan merasakan air hujan membasahinya.
Rindu Senja dan hujan. Dia menyukai setiap kali hujan turun, rasanya damai ketika mendengar bunyi air mengalir. Banyak perasaan yang ingin dia tuangkan ketika hujan turun. Namun Rindu tidak suka petir.
Tekad Rindu sudah bulat, sepertinya dia harus menerobos hujan. Dia tidak bisa naik mobil dengan keadaan seperti ini. Kalo kotor, nanti dia yang merasa bersalah. Sebelum Rindu mengambil langkah pertama, seseorang menarik ranselnya dari belakang.
Otomatis Rindu berbalik dan terkejut mendapati sosok di depannya saat ini.
“Dok?”
“Bodoh, ini!”
Menatap apa yang ada di tangannya, membuat Rindu memerah. Yang bener saja, darimana Ragata tahu dirinya sedang datang bulan?
“Tadi saya gak sengaja lihat itu…” Ragata memalingkan wajahnya, “maaf tidak sopan, tapi sepertinya kamu harus menggantinya lebih dulu!”
Deg. Jantung Rindu memompa dua kali lebih cepat, putus sudah urat malunya. Rindu meraba celana belakangnya, dan sialan, dia baru menyadari kalau dia bocor?
Rindu makin terkejut saat tubuhnya ditarik, dan dipasangkan jaket? Oh My God, jantung mana jantung. Sepertinya Rindu bisa meleleh saat ini juga. Kakinya lemas seperti jeli merasakan aroma maskulin dari sosok di depannya. Oh Tuhan, bahkan satpam tadi juga melotot tidak percaya.
“Sudah, ganti dulu. Saya tunggu di lobby, makan ini juga. Wajah kamu pucat!”
Coklat batang silverqueen dan satu s**u coklat dalam kantong kresek berwarna putih.
“Tunggu apa lagi? Kamu mau saya temenin kamu ke toilet?” Ragata menaikkan alisnya bertanya saat Rindu tidak kunjung bergerak.
“Eh…b…baik dok!”
Sampai di toilet, Rindu menatap wajahnya lebih dulu. Memerah dan tidak bisa dijelaskan seperti apa bentuknya.
“Arghhh…malu…malu!”teriak Rindu di toilet.
Beruntung toilet sedang sepi, jika tidak orang-orang pasti sudah menggapnya gila. Rindu melepas jaket yang diikatkan di pinggangnya untuk menutupi noda darah di celananya, dia menghela nafas. Selalu saja seperti ini, dan kali ini jantung Rindu berdebar keras.
Usai membersihkan diri, Rindu berjalan ke lobby. Hujan sudah berhenti…sepertinya. Dan dia bisa menatap sosok yang sudah membuat jantungnya berdebar-debar keras bahkan sampai saat ini sedang berbicara dengan salah satu perawat yang sudah berumur. Perawat yang banyak membantunya juga.
Wajah dokter itu tidak ada ramah-ramahnya, kaku dan tidak tersenyum barang sedikitpun. Rindu jadi penasaran, kenapa sosok itu bisa seperti orang yang dimasukkan berbulan-bulan ke kulkas? Dan sekali bertindak, bisa membuat anak orang meleleh.
Tanggung jawab dong, arghhh. Rindu berteriak dalam hati.
“Sudah selesai?”
Rindu bahkan sampai tidak sadar jika Ragata berjalan ke arahnya, saking dia sibuk merutuki hatinya yang tidak mau diajak kerja sama.
“Su…sudah dok!” Rindu gugup, tentu saja.
“Ayok!”
“Hah? Eh…kemana dok?”
Ragata menaikkan sebelah alisnya, ekspresi lugu Rindu membuatnya hampir saja tersenyum. Namun dia tahan, tidak mau membuat banyak pertanyaan dari orang yang melihat mereka. Karena sejujurnya, Ragata juga tidak tahu kenapa dia mau melakukan hal tidak berguna ini. Ini wasting time saja.
“Saya anter pulang!”
“T…tidak perlu dok, saya pesen taxi online saja!”
Sebenarnya Rindu mau saja jika diantar, dia senang malahan. Tapi dia tidak enak hati, dan merasa berhutang budi. Sudah dibantuin, malah merepotin juga. Buru-buru dia mengambil ponselnya, dan berkali-kali mencoba menghidupkannya. Namun sama-sekali tidak berhasil. Ponselnya habis baterai, dia lupa tidak bawa charger tadi.
Jadilah sekarang Rindu kikuk.
Ragata menghela nafas, dia menunggu gadis itu untuk meminta diantar.
“Dok…” Rindu menampilkan deretan giginya, “sepertinya saya terima tawaran dokter tadi. Baterai saya lowbat, jadi tidak bisa….”
“Ayo!”
Tanpa menunggu Rindu, Ragata sudah berjalan lebih dulu ke arah basement.
“Buset, main tinggal-tinggal aja. Manis tapi agak gimana gitu!” kesel Rindu sambil senyum-senyum tidak jelas. Dia akhirnya mempercepat sedikit jalannya untuk mengejar sosok dokter itu.
Ragata menyetir sesuai dengan arahan Rindu. Selama di mobil sama-sekali tidak ada percakapan. Rindu adalah 1% dari perempuan yang mengalami sakit jika sedang datang bulan, apalagi hari pertama. Wajah Rindu sangat pucat, dan sejak tadi tangannya menekan perutnya yang melilit. Ini benar-benar sakit, biasanya tidak sesakit ini.
“Di depan dok, yang warna pink!”
Ragata menghentikan mobilnya, dan menatap sekilas kosan Rindu. Barulah dia menatap kembali gadis itu, dan Ragata sadar jika gadis itu tengah menahan sakit. Sebagai seorang yang juga memiliki adik, Ragata paham bagaimana sakitnya. Adiknya sering kali uring-uringan dan menangis saat haid hari pertama.
“Kamu yakin gak perlu ke rumah sakit?”
“Iya dok, tidak apa-apa. Makasih dok udah di anterin!”
Pintu terbuka, Rindu keluar dengan tubuh sangat lemas. Kepalanya berkunang-kunang, tangannya kasar meraih dimana dia meletakkan kuncinya. Tangannya bergetar hebat, dia menekan kembali perutnya yang semakin sakit luar biasa. Rindu mendadak ingat jika tadi sore dia sempat makan.
Tubuh Rindu tidak tahan, nafasnya tinggal satu-satu sampai tidak sadar tubuhnya mulai melorot.
Ragata panik, dia bergegas keluar dari mobilnya dan menangkap tubuh itu sebelum terjatuh.
***
“Dia siapa?”
“Mahasiswi aku mah!”
“Kamu yakin?”
Tika, wanita paruh baya itu tersenyum menggoda putra satu-satunya. Jarang-jarang putranya itu membawa pulang seorang gadis, apalagi ini adalah mahasiswanya. Padahal putranya itu masih baru mengajar di kampus karena permintaan temannya.
Jujur, Tika mengenal siapa yang putranya itu bawa ke rumah. Dia adalah dosen di tempat gadis itu belajar. Gadis pintar dan jenius, begitu dia menyebutnya.
“Kok kamu bisa kenal sama dia nak?”
Sayangnya Ragata tetaplan Ragata, putranya itu tidak akan pernah memberikan banyak jawaban. Bahkan sekarang putranya itu sudah beranjak dari kamar, terlihat kesal karena dia banyak bertanya. Niat untuk menggoda putranya itu lebih banyak dia urungkan.
“Aku masih harus ke rumah sakit ma, kalau Rindu sudah siuman bilang aja….”Ragata diam, tidak tahu lanjutan dari kekhawatirannya barusan. Terlebih melihat sang mama yang tersenyum menggoda,membuatnya menghela nafas.
Ragata bingung kenapa sampai membawa Rindu ke rumah mamanya. Dia sangat panik karena suhu gadis itu begitu tinggi, dan satu-satunya tujuannya adalah rumah mamanya. Tidak mungkin dia membawa gadis itu ke apartemennya. Dia tidak mau dituduh hal yang tidak-tidak.
“Raga pergi dulu!”
“Nak…”
“Hmm?”
“Tidak ada, lain kali sering-seringlah pulang ke rumah mama ya!”
“Hmm…”
Tika terkekeh, lalu meninggalkan Rindu yang masih tertidur dengan pulas. Jujur, dia menyukai gadis itu. Selain pintar, attitude-nya juga sangat bagus. Dan kejadian ini benar-benar tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tika memang tidak pernah membuat perjodohan dengan anak-anaknya, dia membiarkan mereka bebas memilih jodoh.
Dan pernikahan putranya yang gagal benar-benar melukai dirinya. Gadis yang mengkhianati putranya itu adalah cinta pertamanya, dia mengenalnya dengan baik. Namun semuanya bisa saja terjadi, dan Tika tidak tahu harus melakukan apa-apa.
Baginya, Ragata yang pulang dengan wajah khawatir sambil membawa seorang gadis sudah menunjukkan perubahan yang sangat besar.
Ragata sebenarnya bohong, dia tidak pergi ke rumah sakit. Tapi berdiam diri di dalam mobilnya, sambil merenung kenapa dia bisa melangkah sejauh ini. Dia jadi teringat kejadian tadi sore, saat gadis itu dengan sigap membantu seorang suster yang kewalahan menangani pasien.
Jujur, Ragata terkesan.
Hanya terkesan, tidak lebih kan? Ragata meyakinkan dirinya bahwa hatinya tidak akan mengalami hal yang sama.
Dia…takut untuk jatuh cinta.
“Woi anjir, lo dimana? Lo lupa malam ini kita ada shift?”
Ragata menjauhkan ponselnya karena teriakan itu begitu dia menekan tombol hijau itu.
“Hah? Bukannya gue shift besok?”
Angga di seberang telepon menghela nafas kasar, “makanya kalo mau bucin jangan pas jadwal shift bego. Cepetan, jadwal operasinya 1 jam lagi!”
Ragata menatap jadwal ponselnya dan baru sadar jika dia juga ada shift malam. Sebelum mengeluarkan mobil dari bagasi, Ragata menatap mobil sang ayah yang juga baru masuk.
“Nak? Bukannya kamu ada shift malam ini?” Hadi yang baru turun lekas menghampiri putranya.
“Ini sudah mau otw, pah!”
“Tumben ke rumah papah, what’s the problem?”
“Nothing, aku pergi dulu!”
“Take your time!”
Ragata sudah tiba di rumah sakit, dan wajah ditekuk Angga beserta Andreas sudah menyapanya. Tidak merasa bersalah, Ragata melalui keduanya dan mengambil jass labnya.
“Sialan, dia sepertinya tidak akan mau bercerita siapa gadis itu!”
“Gadis apa?” Ragata menatap Andreas.
“Angga bilang lo…” Andreas memasang wajah meledek, “lo….”
“Bukannya kita harus operasi?”
“Oh iya sampe lupa, ayo cepat!” Angga buru-buru mengambil jass nya.
“Yaelah, lo gak asik!”
Mereka berjalan menuju ruangan operasi. Begitu masuk dan membersihkan tangan dan memastikan sudah cukup mengisi perut barulah mereka mengenakan pakaian bedah. Seorang perawat memasangkan penutup kepala pada Ragata.
Seorang dengan tumor otak, dan sedang mengandung hingga melibatkan Angga. Semuanya langsung fokus pada tugas masing-masing. Ragata memimpin operasi kali ini, dan semuanya berjalan sesuai dengan perintahnya.
11 jam menghabiskan waktu di ruang operasi, akhirnya operasi itu dapat berjalan dengan lancar. Wanita usia 22 tahun, Ragata menghela nafas sebentar. Nikah muda memang bukan jawaban atas segala masalah yang dihadapi. Dia baru mendapat catatan medis wanita itu, dan ada beberapa kekerasan fisik yang pernah dialami.
“Operasi selesai, selesaikan sisanya!”
“Baik dok!”
Ragata, dan Andreas keluar. Angga sudah selesai sekitar 3 jam lalu, dan sekarang sudah pukul 7 pagi. Suara perut keroncongan terdengar. Begitu keluar, Ragata disambut dengan seorang wanita tua. Terlihat itu adalah orang tua dari perempuan tadi.
“Dokter, bagaimana keadaan putri saya?”
“Dimana suaminya?”
“Dia sedang bekerja, jadi saya yang datang.”
“Operasinya berjalan dengan lancar, tapi lain kali jaga putri Anda, nyonya. Dia mendapati beberapa kekerasan verbal di kepala, sepertinya ada KDRT di rumahnya!”
“Ta…tapi itu tidak…tidak mungkin terjadi, dok.” Wanita tua itu terkejut sekaligus terlihat tidak percaya.
“Salah satu faktor yang memicu tumornya adalah karena kekerasan fisik. Kami tidak berhak bertindak ke hal yang lebih serius, tapi tolong perhatikan keselamatan putri Anda sendiri!”
“Tidak mungkin!” wanita tua itu menyanggah dengan suara bergetar, air matanya sudah turun.
“Ibu!” seorang lelaki berumur sekitar 30-an berlari, “bagaimana keadaan adik saya dok?”
“Dia baik, operasinya berjalan lancar. Mungkin akan siuman sekitar 3 hari lagi, dia butuh waktu untuk kembali pulih. Untuk sementara, kalian tidak bisa menjenguknya. Dia masih di tempatkan di ruangan steril!”
“Terima kasih dok, terima kasih sudah menyelamatkan adik saya.”
“Apa Anda tahu dia sering mendapati kekerasan fisik?”
“Apa? Kekerasan fisik?”
“Tolong perhatikan untuk kedepannya!” Ragata mengakhiri percakapan itu, dia berjalan bersama dengan Andreas.
Badannya cukup lelah, dan perutnya butuh nutrisi. Keduanya lekas memasuki kantin rumah sakit, dan mengisi perut.
“Aigo, kalian habis selesai operasi?” kepala koki rumah sakit menyapa, “ini…aku beri bonus!”
“Makasih tuan muda!” kekeh Andreas, ramah seperti biasanya.
“Yaampun, masih muda tapi wajahmu selalu saja datar.”
“Sudah biarkan saja, pak. Dia adalah si dingin yang sudah mulai luluh!” Andreas ikut-ikutan meledek Ragata yang sama-sekali tidak peduli.
“Apa seseorang berhasil melelehkan tembok esnya?” Hans terkekeh.
“Begitulah kira-kira!”
“Ahahaha, itu kabar baik bukan?”
“Anda tidak bekerja?” Ragata bertanya dengan sarkas dan dingin, “jika tidak, biar saya….”
“Ya Tuhan, kau selalu saja datar. Tidak usah ditanggapi, Sir. Temanku ini lagi PMS, jadi mudah sensian!”
“Sudah biasa nak.”
Keduanya duduk dan makan dalam diam.
“Hari ini dan besok kan libur, lo ada rencana buat main ga?”
“Tidak!”
“Ke kebun teh kayaknya seru buat healing!”
“Gue mau tidur!”
“Mau tidur apa mau apel bareng doi?” Andreas menggoda.
Sendok Ragata berhenti, dia menusuk daging sapinya dan menatap Andreas dengan tajam. Membuat yang di tatap menelan ludahnya kasar.
“Sorry…sorry, gue gak ada maksud apa-apa kok!”
***
Rindu baru terbangun setelah merasakan cahaya menusuk matanya. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, dan menatap langit-langit kamar yang tidak familiar. Buru-buru Rindu duduk begitu sadar dia tidak berada di kamar kosnya yang langit-langitnya putih dan tidak terlalu tinggi.
Matanya memindai objek sekitar, dan semuanya di d******i warna hitam. Ini jelas-jelas bukan kamarnya. Mendadak dia panik, dan hendak beranjak. Namun pintu kamar yang terbuka membuat tindakannya terhenti. Seorang wanita yang sudah berumur tersenyum ke arahnya.
Bu Tika?
Kata-kata itu yang terlintas di pikiran Rindu. Tunggu-tunggu, kenapa bisa dia ada di sini?
“Kamu sudah sadar nak? Masih ingat dengan saya bukan?”
“Bu…bu Tika?” Rindu meringis kebingungan.
“Sudah lebih baik?” Tika menyentuh kening Rindu, dan menghela nafas lega karena Rindu sudah tidak panas lagi, “kamu pasti lapar. Ahh…kalo mau mengganti baju, silahkan. Ibu tunggu di luar ya.”
Ribuan pertanyaan kini ada di benak Rindu. Wait, kenapa bu Tika yang merupakan dosennya sewaktu semester 1 ada di depannya? Semalam Rindu merasa lemas, dan apa mungkin Ragata yang membawanya kemari? Tunggu dulu…Rindu benar-benar merasa apes.
Jadi bu Tika itu…istrinya pak Ragata?
Jadi itu alasan Ragata baik padanya, itu karena beliau adalah suami dari dosennya?Tapi, Ragata terlalu muda jika harus menjadi istri dari Bu Tika. Jadi…Ragata itu siapanya? Arghhhh….Rindu berteriak dalam hati. Dia memikirkan kembali siapa sosok Ragata, apa mungkin anaknya?
Tidak mau membuang banyak waktu, Rindu segera membersihkan dirinya. Dia meletakkan baju kotornya di dalam tas, dan mengenakan baju yang diletakkan di atas ranjang. Dia keluar, dan mendapati dia tengah di tunggu.
“Kak, sudah selesai? Ayo duduk di sini, kakak masih ingat aku kan?”
Gadis itu. Rindu masih tidak bisa berkata-kata saat Lia, sosok yang merupakan adik asuhnya sedang menariknya untuk duduk bersebelahan. Lia juga mahasiswi kedokteran semester 3. Mereka cukup akrab, karena Lia sering kali menanyakan perkara tugas kampus.
Wait? Mereka ini?
“Ahhh…semalam abang bawa kakak kemari.”
“Hah?”
“Ragata, dia itu abang Lia!”
DAMN.