9 – Salah Timing

2020 Words
Miquel dan Pandu menatap Rindu yang terlihat tidak seperti biasanya dengan heran. Gadis yang biasanya selalu menghabiskan banyak waktu untuk membaca lembar demi lembar buku, kini tengah senyum-senyum tidak jelas sambil menatap ke luar jendela. Parahnya, gadis itu juga mengabaikan kedua temannya. Sekali lagi Pandu dan Miquel saling menatap, dan menggeleng karena tidak mendapatkan jawaban atas alasan gadis itu menjadi aneh. “Rindu, lo gak sakit kan?” “Apaan sih pegang-pegang?” Rindu menepis tangan Pandu yang berada di keningnya. Rindu selalu kesal jika disentuh, apalagi di kening. “Ya kan lo dari tadi kayak orang kehilangan tujuan hidup tau gak sih? Senyum-senyum aja dari tadi, kenapa, lo kesambet apaan di jalan tadi? Jangan-jangan arwah nenek moyang di gedung Fakultas teknik nyangkut lagi ke lo!” “Sialan, tuh bibir bisa gak sih di jaga cara ngomongnya?” “Ya kan lo gak jawab senyum-senyum karena apa.” Pandu masih ngotot, mereka berdua terdiam selama beberapa menit sambil menunggu dosen yang mengajar kelas mereka hari ini. Mendadak Pandu memikirkan sesuatu yang menurutnya sedikit mustahil, “atau jangan-jangan lo….” “APA?!” Sebelum Pandu melanjutkan ucapannya, suasana yang tadinya sedikit berisik mendadak tentram. Rindu yang melihat siapa yang masuk tidak bisa menahan senyuman di bibirnya. Kejadian semalam sangat mengganggu kesehatan mentalnya. Selama ini dia tidak percaya kekuatan menyukai, dan kali ini dia bisa merasakannya. Dia sekarang mengerti kenapa orang bisa gila karena menyukai seseorang. Bahkan sanggup melakukan hal-hal bodoh demi orang yang dia sukai. Ayolah Rindu, sadar…sadar, dia itu berbeda jauh darimu. “Rindu…” Pandu menyenggol lengan sang sahabat. “Apaan sih?” “Lo di lihatin anjir!” “Terus?” Rindu semakin dongkol, “ya kan gue…” menyadari dia dilihatin oleh siapa, membuat Rindu gugup. Dia langsung mengatupkan mulutnya dan menundukkan wajahnya. Tidak hanya Pandu dan Miquel yang heran, tapi seisi kelas mereka juga dibuat heran. Tidak biasanya seorang Rindu menjadi perhatian kelas jika bukan karena prestasinya. Wajah Ragata tidak ada ramah-ramahnya, begitulah ucapan semua mahasiswa di kelas. “Baik, ada pertanyaan?” Miquel mengacungkan tangannya. “Baik, silahkan!” Ragata berjalan mendekati tempat duduk lelaki itu yang berdekatan dengan tempat duduk Rindu. Pusat perhatian Ragata kali ini tertuju pada gadis itu, satu point yang dia tangkap darinya. Pintar. Semua pertanyaan yang tadi dia ajukan semua bisa dijawab olehnya, dibantu dengan kedua lelaki yang duduk di sebelahnya. Mendadak Ragata mengingat bagaimana dulu dia berada di fase itu. “Saya ingin bertanya pak, jikalau saraf putus dan dalam keadaan operasi sudah tidak ada harapan. Haruskah dilanjutkan dengan resiko biaya bertambah, atau….” “Lakukan!” Ragata buru-buru menjawab saat Rindu menatapnya, jadi dia punya alasan agar tidak terciduk sedang memandangi gadis itu. “Apapun yang terjadi di ruang operasi, kalian harus melakukan semaksimal mungkin, apapun itu. Sebagai seorang dokter, kalian sudah dipercaya untuk melakukan tugas ini, jadi…jangan pernah mengecewakan orang lain!” Miquel mengangguk, jujur dia sangat puas dengan penjelasan sosok di depannya. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia sangat mengagumi beliau. Namun ada perasaan terusik saat Ragata menatap sahabatnya—Rindu. Tatapan yang berbeda, dan Miquel merasa itu bukanlah hal yang baik. Rindu adalah sosok yang sangat polos dalam hal asmara, dan dari tatapan Rindu, dia juga sadar bahwa sahabatnya itu menyukai sosok di depan mereka saat ini. Rindu memiliki tipe yang aneh, dia mudah tertarik pada lelaki pintar, dan tidak pernah memandang rupa. Beberapa kali Rindu dimanfaatkan karena terlalu polos dan tidak peka. “Baik, ada pertanyaan lain?” Ragata kembali ke depan, “baiklah, jika tidak ada maka kelas saya cukupkan sampai di sini. Jika ada yang ingin bertanya silahkan kirimkan email kepada saya!” Sama seperti mahasiswa pada umumnya, Rindu dan teman-temannya juga pergi ke kantin untuk mengisi perut. Di perjalanan, dihiasi dengan berbagai canda tawa. Dan aktivitas mereka tidak lepas dari pandangan Ragata. Dia memang berjalan di belakang ketiga orang itu. Ragata sadar bahwa ketiganya bersahabat dengan tulus. Yang dia takutkan, salah satu dari mereka saling menyukai. Itu akan merusak harga persahabatan yang tercipta di antara mereka. “Ragata, wait!” Panggilan itu menghentikan langkahnya, dia memalingkan wajahnya dan sesuai tebakannya. Itu adalah Angga yang juga mendapat jatah mengajar hari ini. “Lo mau ke kantin?” “Ya!” “Buset, jawaban singkat macam doi aja!” Ragata menaikkan bahunya dan kembali berjalan, Angga sudah terbiasa sebenarnya namun masih saja dia kesal karena tingkah Ragata. Wajah datar yang tidak pernah memancarkan senyuman, padahal dia yakin jika saja Ragata lebih ramah, pasti akan banyak perempuan yang mendekati. Tidak seperti sekarang ini, semua wanita takut untuk mendekat. Bahkan untuk bertegur sapa pun mereka terlihat tidak percaya diri. Sungguh miris. “Oh iya, lo tau gak buku gue yang gue simpan di lemari ruang kerja lo kok tiba-tiba gada di situ sih? Semalam gue nyari-nyari kok gada, apa lo lagi baca?” Tangan Ragata yang sedang sibuk menyuapi daging ayam itu ke dalam mulutnya mendadak terhenti. Dia baru ingat jika buku itu masih berada di tangan gadis yang sudah membuat jantungnya berdebar semalam. “Lo lagi belajar?” ulang Angga. “Bukan!” Angga menyerngitkan keningnya. Jika buku itu tidak sedang berada di Ragata, jadi dimana buku berharganya itu? Jelas sekali dia menyimpan buku itu dengan baik di ruangan Ragata, selama ini bukunya tidak pernah hilang dari sana. “Dokter, apa kami bisa join bareng? Meja lain sedang penuh!” Rindu bertanya gugup. Angga dan Ragata saling menatap satu sama lain. “Silahkan, jangan sungkan-sungkan. Duduk di sebelahku saja, Rindu!” ujar Angga ramah seperti biasa. “Terimakasih dok!” “Tidak usah panggil dokter jika di ruang lingkup kampus, panggil seperti dosen pada umumnya saja!” kekeh Angga. “Ahhh…maaf, sir!” kekeh Pandu, “oh iya. Bukannya lo bilang dapat bukunya ya, Rindu? Lo bawa ga, gue mau baca sumpah. Penasaran banget sama bukunya, udah dari 3 bulan lalu gue cari di sss tapi sold out semua!” “Gue bawa, bentar!” ujar Rindu semangat 45. Ragata melebarkan matanya, dia menelan makannya secepat kilat. Belum sempat dia menghentikan Rindu, gadis itu sudah lebih dulu mengeluarkan buku itu di atas meja. “Wait!” Angga yang merasa familiar angkat suara, “boleh saya lihat bukunya sebentar, Rindu?” “Ahh…silahkan, sir!” Angga membuka lembar pertama, dan tanpa banyak bicara dia sudah sangat tahu jika buku itu adalah miliknya. Senyuman Angga mendadak terbit, dia menatap Ragata dengan jahil. Yang di tatap hanya memasang wajah datar, seolah tidak melakukan kesalahan sama-sekali. “Kenapa, sir?” Rindu bertanya, masih tidak menyadari ada perubahan suasana. “Tidak apa, silahkan di lanjutkan saja!” “Gue mau lihat, Rindu!” lanjut Pandu. Buku itu dengan cepat sudah berada di tangan Pandu. Dia terlihat exited dengan buku itu, begitu juga dengan Miquel. Rindu memang mengabari jika dia mendapatkan buku itu, seseorang kenalannya meminjamkan buku itu padanya. Tidak banyak bertanya, Pandu dan Miquel langsung membuat giliran untuk membaca. Ragata sesekali melirik Rindu, gadis itu juga terlihat exited dengan buku itu. Bahkan sampai tidak menyentuh makanannya. Entahlah, inilah perasaan yang tidak Ragata sukai dari gadis itu. Dia ingin sekali mengeluarkan perintah agar gadis itu makan dulu, baru lanjut belajar. “Makan dulu, baru nanti lanjut baca bukunya. Kalian kemari buat mengisi perut bukan?” Angga menginterupsi, dia sangat tahu arti tatapan dari Ragata. “Ahh…maaf, sir. Kami terlalu excited dengan buku ini!” “Kalian suka buku?” “Ya, sangat!” Miquel menjawab. “Jika kalian tidak sibuk, kalian bisa datang ke apartemenku. Ada banyak buku yang dulu aku gunakan saat masih kuliah!” “Bener, sir?” Rindu bertanya dengan mata berbinar-binar. “Iya, tentu saja. Kenapa tidak, bahkan dokter Ragata bisa meminjamkan buku yang paling berguna juga, bukan begitu dok?” Angga sengaja memancing Ragata. “Bener dok?” lanjut Pandu “Hmmm. Saya permisi dulu!” “Ngomong-ngomong, kamu dapat buku ini darimana siapa, Rindu?” Angga mengeraskan suaranya, dan itu sukses menghentikan langkah Ragata. Jika saja tidak terjadi kejadian itu, mungkin saja Rindu mengatakan dengan jujur jika buku yang dia dapatkan ini adalah dari Dokter Ragata. Namun menatap wajah lelaki itu, membuat Rindu sadar jika sosok itu tidak ingin mengatakan bahwa buku itu darinya. “Hahaha, saya meminjamnya dari seorang kenalan, sir. Kebetulan semalam kami bertemu di rumah sakit, jadi…aku meminjamnya?” jawab Rindu tidak yakin dengan jawaban terakhirnya. “Begitu ya. Ahh…saya sudah selesai, duluan ya!” “Baik sir!” Langkah panjang Angga berhasil mengejar langkah Ragata yang terlihat jelas ingin menghindarinya. Sengaja Angga tidak bertanya, dia ingin mendapatkan jawaban dari sahabatnya itu secara langsung. Sejujurnya dia terkejut kenapa bisa buku itu ada di tangan Rindu. “Gue meminjamkannya!” Ragata menjawab sebelum ditanya hal-hal aneh. “Perasaan gue gak nanya deh!” “Tapi lo pengen tahu bukan?” “Lo suka?” “Siapa?” “Tidak usah berpura-pura, gadis itu, lo suka sama dia?” Ragata menatap Angga bingung. “Hanya karena meminjamkan sebuah buku, bukan berarti gue suka sama dia. Semalam Rindu memang lagi ngurus beberapa berkas di rumah sakit, trus gak sengaja ketemu gue. Dia nanya buku itu, dan gue ngasih. Udah itu aja, lo puas?” Angga tidak bisa menyembunyikan wajah jahilnya. “Padahal gue gak nanya sih! Hahaha, baru kali ini lo ngomong banyak. Tapi kalo lo memang suka sama dia, gue dukung kok!” “Ck. Apaan sih, lepasin tangan lo sialan!” “Ya elah, jangan galak-galak dok. Nanti gada yang suka sama lo!” “Gue gak butuh!” Angga yang ditinggal pergi hanya bisa menghela nafas. Jujur, dia sangat mendukung jika Ragata menyukai gadis itu. Dia hanya ingin yang terbaik untuk Ragata. Setelah di tinggal nikah, lelaki itu sangat anti terhadap perempuan. *** “Eh, malam ini kita harus ke rumah sakit lagi gak sih?” Rindu, Pandu dan Miquel masih berada perpustakaan dengan buku-buku tebal di depan mereka. Langit kelabu sudah muncul, dan sebentar lagi perpustakaan kampus juga akan tutup. “Neng, mas. 10 menit lalu perpus bakal tutup, hari ini ada penyemprotan lagi!” “Ahh…iya pak!” Sejak covid, jam buka perpustakaan memang dipercepat hanya sampai pukul 6 sore. Dan ini sudah pukul setelah 6 lewat 15. “Gue kayaknya gak bisa, bokap gue minta gue ikut ke acara kantornya!” “Lo baik-baik saja kan?” Rindu meyakinkan. Pandu mengemasi buku-bukunya dan mengangguk. “Tenang, gue aman kok. Mau gue anter pulang gak? Gue bawa mobil, motor gue lagi di service!” “Gak usah, habis ini gue mau ke rumah sakit lagi!” “Oh...yaudah, gue duluan ya kalo gitu. Anyway, bukunya gue balikin besok juga ya,please!” “Iya, aman. Lagian gue tinggal baca dikit lagi kok!” “Oke, gue cabut!” Tinggal Rindu dan Miquel, lagi-lagi Pandu meninggalkan mereka lebih dulu. Miquel menatap Rindu yang berjalan di sebelahnya. “Rindu, minggu ini lo sibuk gak?” “Minggu?” “Iya, lo ada acara gak?” “Ga ada sih, kenapa?” Jujur, Miquel sedikit gugup untuk mengatakannya. “Itu, keluar yok!” “Boleh, udah bilang Pandu?” Inilah yang membuat Miquel berdebar, niatnya hanya ingin mengajak Rindu seorang. Selama ini, mereka memang jalan bertiga terus. “Kalo kita berdua aja, emang kenapa?” Langkah Rindu mendadak berhenti, dia menatap Miquel dengan tatapan mengamati. Miquel memalingkan wajahnya yang sedikit panas. Dia berusaha menghindari kontak mata Rindu. Kadang dia tidak bisa melakukan hal itu, terlalu gugup. “Lo…lagi berantem sama Pandu?” Speechless. Inilah yang Miquel katakan, sebagai seorang cewek, Rindu itu tidak ada pekanya sedikitpun. Rindu pintar, cantik juga, sayangnya tidak bisa mengerti situasi. “Bukan sih, nanti gue kabarin dia!” “Beneran lo berdua gak lagi berantem kan?” “Iya hahaha!” “Oke Deh, gue bisa kok. Eh, apa kita gak nge camp aja?” “Cuacanya lagi gak ngedukung sih, lagi musim penghujan dan lagi banyak bencana juga.” “Lo bener!” kekeh Rindu, “Yaudah, gue duluan ya!” “Ehh…” Sebelum Miquel menawarkan untuk mengantarkan gadis itu, Rindu sudah lebih dulu menghilang di balik tembok. Miquel menatap langit yang sudah sepenuhnya hitam, mentari sudah pergi ke peraduannya. Dia meletakkan tangannya di atas dadanya yang terasa sakit. “Gue salah timing lagi!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD