Part 7 Tentang Semuanya Part 2

1023 Words
dr.Albercio P.M nama yang tertera di jas putih itu. Karin merasa pernah melihat melihatnya, tapi dimana? Untung ada mereka, jika mereka tak lewat. Entah apa yang akan dialami Karin selanjutnya. Kebetulan mereka baru pulang dari rumah sakit, sedangkan pria yang satunya bernama Dafin. Terdengar helaan nafas panjang Karin. Ia bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup. Bayangan jika ia jadi mengalami kejadiaan naas tersebut membuat dirinya bergedik sendiri. Tanpa sadar ia memeluk jas putih itu. Aroma maskulin yang masih tercium, menjadi penyemangatnya pagi ini. "Ah, lupa nanyain nomornya lagi. Padahal kan mau ngembaliin jas ini kalau udah aku cuci bersih!" ucap Karin. Sudah 1 bulan sejak kejadian, Karin dan sipenyelamatnya tak pernah bertemu. Sebenarnya mudah saja untuk menanyakan info tentang pria itu. Tapi, ia tak ingin orang lain beranggapan lain. "Rin, temenin aku ketemu sama tutor aku dong. Kak Cici namanya!" ajak Biru pada Karin. "Ah, males! Kamu aja deh!" elak Karin. "Ih, rugi deh! Kak Cici tuh, punya temen yang ganteng pisan euy! Rugi kamu kalau gak ikut. Ayoklah!" rengek Karin. "Ok, tapi gak lama ya! Kalo lama aku tinggal!" ujar Karin mengiyakan ajakan Biru sambil berjalan mendahului Biru. "Wokeh! Wokeh, sayangku!" teriak Biru sambil berlari mengejar langkah Karin. Di sudut cafe, yang sedang hits di kota besar terlihat berkumpul anak-anak muda yang sekedar ngopi bareng teman, dating, atau mengerjakan tugas sambil menikmati wifi gratis. Disinilah Biru dan Karin, menunggu teman yang sedang dikatakan oleh Biru. "Aku mau jujur ya sebenarnya Kak Cici itu pacar aku!" ucap Biru memulai perkacapan. "Apa kamu?" potong Karin menutupi dadanya. "Maksud kamu?" tanya Biru keheranan. "O, bukan aku normal!" lanjut Biru yang langsung mengerti kemana arah pembicaraan Karin. "Bru!" suara khas pria yang tentu saja dikenali Biru dan Karin. Mereka berdua menoleh pada sumber suara. "Kak Cici!" seru Biru yang terlihat kegirangan. "Maaf, nunggu lama ya?" ucap Cio pada Biru. "Lah, kamu kan?" tunjuknya pada Karin. "Udah saling kenal ya Kak! Ini Karin yang sering aku ceritain itu lho!" jawab Biru sambil merangkul Karin. "Eghem!" Suara deheman pria di belakang Cio, membuat Cio menghentikan ucapannya. "Ya, kita udah pernah ketemu sama Karin. Jadi ceritanya Karin itu-!" ucap Dhafin. "Ia Ru, aku cuma kenal gitu aja sama mereka! Mereka nolongin aku, itu aja kok!" potong Karin. "O, yang kamu dicegat preman itu bukan?" tanya Biru. Cio berinisiatif duduk sendiri tanpa diminta Biru dan temannya. Pertemuan itu menjelaskan bagaimana hubungan Cio dan Biru yang sudah terjalin dua tahun tanpa diketahui orang tua Biru, karena orangtua Biru yang menginginkan anaknya serius untuk belajar. Hal ini tentu saja membuat hati Karin ambyar, karena ia sudah merasakan bunga-bunga cinta dari awal bertemu Cio. Namun, cinta itu harus kandas sebelum berkembang. Ia sadar, ia tak boleh merusak kebahagiaan temannya. Teman yang setia, selalu menerima kekurangannya. Tapi, hati ini jujur belum bisa menerima sepenuhnya. Apakah ia ikhlas, atau masih adakah keinginan untuk merebut? Nada dering gawai membuyarkan lamunannya. "Halo, dengan Karin?" suara pria yang tak asing ditelinganya. "Ya, dengan siapa?" jawabnya. "Gak kenal suaraku?" "Aku Dhafin, kamu apa kabar?" "Ooo ... Mas Dhafin. Kabar aku baik kok Kak. Kabar Mas gimana? Ada apa nelfon aku Mas?" "Kabar aku baik. Ok, langsung to the point aja, aku tau kamu suka Albert," jawab Dhafin yang menyebutkan nama lain Cio. "A ... a ... siapa bilang? Mas Dhafin terlalu tinggi khayalannya!" bantah Karin dengan kikuk. "Aku suka Biru!" serunya. "Dan, aku ingin Biru jadi milik aku!" lanjutnya lagi. "Maksud Mas Dhafin apa?" "Gak usah berpura-pura gak ngerti. Aku tau kamu paham! Apa kamu mau hanya mencintai dalam diam, dan hanya mengorbankan perasaanmu saja? Maaf, aku tak ingin hanya jadi pemeran kedua dalam sebuah drama!" jawabnya dengan tegas. "Tapi Biru kan-!" "Biru belum menikah dengan Albert. Baru pacaran, orang menikah saja bisa cerai. Masa, cuma pacaran gak bisa putus!" sanggah Dhafin. "Mereka saling mencintai Kak!" "Hah! Persetan dengan cinta! Jika kau tak ingin membantu. Aku bisa saja membongkar kehidupanmu yang sebenarnya. Bahwa ibumu seorang kupu-kupu malam dan kau bahkan tak diketahui siapa ayah kandungnya. Dan, sekarang kau bekerja sebagai pemandu musik. Benar, keturunan hina tak dapat dirubah. Kamu bisa merubahnya jika kamu memilih Albert dan kau akan hidup seperti ratu!" balas Dhafin. "Kau gila! Jangan pernah ungkit bagaimana kehidupanku atau akan kusobek-sobek mulutmu!" bentak Karin yang mulai hilang kesabarannya. Terdengar suara terbahak-bahak yang mencemooh Karin. "Hei jalang, jangan mencoba membenarkan dirimu! Sekarang kau tinggal pilih, mengikuti alur atau langsung mendakinya hingga ke puncak!" "Kau-, kau sebut dirimu temannya! Tapi, kau menikungnya! b******k!" balas Karin. "Perdebatan alot ini takkan berujung Nona! Aku sudah mencari tau tentang dirimu yang sebenarnya, aku bisa membinasakanmu hingga ke akar-akarnya! Kau tak punya pilihan Nona!" selanjutnya, hanya ada keheningan karena pembicaraan itu telah terputus, tanpa balasan dari Karin. " b******k, apa yang pria kurang ajar itu inginkan! Aku harus memberi tahu Biru agar ia bisa waspada." Belum sempat Karin ingin mengabari Biru, sebuah fotonya yang sedang bergelayut manja pada p****************g masuk ke gawainya. Tentu saja Karin shock atas semua ini. Disisi lain, ia ingin agar temannya bahagia. Tapi, jika ia teruskan maka, dia yang akan terluka. Hatinya bimbang harus memilih. Menghancurkan Biru, akan mendapatkan Cio. Menyelamatkan Biru, maka akan mengubak luka di kehidupannya. Sementara di tempat lain, pria yang disebut b******k oleh Karin sedang menyusun rencana busuk untuk memisahkan Cio dan Biru. Hatinya terlalu busuk untuk sebuah pertemanan, bahkan kekeluargaan. Dhafin, seorang anak janda culas yang sekaligua berprofesi sebagai rentenir. Ia dari kecil sudah berteman dengan Cio, dan selalu iri dengan kehidupan mewah yang dirasakan oleh Cio. Ia benci dengan Cio, tapi ia pandai menyembunyikan kebusukannya tanpa pernah ketahuan. Ia tau Biru anak orang kaya, ia tak rela jika Biru bersama Cio. Ia ingin hidupnya berubah menjadi pria parlente, ia ingin hidup mewah. Dari awal, ia mengetahui hubungan Cio dan Biru membuatnya semakin membenci Cio. Ia ingin Cio mati, hilang dari muka bumi. Inilah yang sedang ia susun dan rencanakan, mengambil hati Biru dan menyingkirkan Cio. Sekali tepuk, 2 lalat ia tangkap. *** Malam inagurasi adalah malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh mahasiswa baru sebagai puncak masa pengenalan kampus. Begitu juga dengan Biru dan Karin, mereka begitu bersemangat untuk mengikuti acara tersebut. Tapi, mereka tak sadar. Akan ada bahaya besar yang mengicar mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD