I'm In Love With You And Now You Know

899 Words
Penulis POV Seorang siswi SMA dengan penampilan yang belum mengenal skin care atau fashion sedang duduk sendiri memperhatikan teman-temannya yang sedang bermain sepak bola di lapangan. Sesekali ia tersenyum dan terlihat sangat bahagia saat seorang siswa laki-laki itu melihat kearahnya, yah entah kearahnya atau ke arah lain namun itu cukup menerbangkan angannya dan membuat kupu-kupu berterbangan di dadanya seolah menggelitik seluruh tubuhnya. "I like the way you try so hard when you play ball with your friend" Tulisnya dalam sebuah story sosial medianya, khas remaja yang segala sesuatu ia tuliskan di media sosialnya. Alay? Tidak itu adalah salah satu ciri khas mereka yah, anak remaja. Namun, pertumbuhan dan perkembangan mereka kadang tak sama, tidak seperti seragam mereka, kadang diantara mereka ada yang sudah mengenal trend kadang juga ada yang tidak mau keluar dari zona nyamannya sendiri. Cukup mereka berpendapat aku nyaman dengan ini, apa masalahnya dengan orang lain? Atau bahkan diantara mereka menganggap aneh segala sesuatu yang tidak sama dengan dirinya dan ada hasrat untuk mengolok-ngolok, mungkin di jaman sekarang ini namanya adalah bullying. Yah, mereka kadang tak ragu membully teman mereka yang sedikit 'berbeda' dari mereka namun itu bukan bentuk kebencian melainkan pada masanya itu adalah rasa sayang yang di utarakan dengan cara berbeda namun tak jarang hal tersebut malah menimbulkan sebuah kebencian. Seperti sekarang ini status sosial media sang siswi SMA yang baru saja di tulisnya menjadikan awal dari sebuah penomena bullying yang mengerikan baginya, mungkin tak akan terlupakan. "Hahahahaha..." Tawa menggema di seluruh ruang kelas, semakin riuh saat siswi dengan kacamata dan rambut seakan menutupi setengah wajahnya masuk kedalam kelas. "Ada apa?" Tanyanya polos. "Heh Cupu, lo bikin status gini buat siapa?" Tanya seorang sisiwi yang lebih modis bahkan seragamnya di potong pendek sambil memperlihatkan Handphonenya. Mata gadis yang di sapanya dengan kata 'cupu' itu terbelalak apalagi saat seorang siswa yang penuh dengan keringat masuk "Buat Gio?" seketika isi kelas itu riuh. Siswa yang lumayan tampan itu terlihat kebingungan dan siswi yang di sapa 'cupu' itu tertunduk malu. Melihat reaksi sang siswi, seketika membuat si usil tergelak, "Hahahahah jadi bener? Lo nggak ngaca yah? Hahahah". "Apaan sih lo? bawa-bawa nama gue segala?" Tanya Gio. "Noh lihat" Ia menunjukan Hand phone nya. "Lah terus? Suka-suka dia dong mau tulis apa pun? Emang dia minjem jari lo? Minjem Akun lo? Atau minjem HP lo? Lo juga bisa kali nulis kek gini. Gituh aja lo ribetin." Jawab Gio setelah melihat Hand phone dan status yang di tunjukan. Jawaban yang tak ia duga sebelumnya, bahkan gadis yang di sapa dengan kata 'cupu' itu pun sekarang mulai berani mengangkat kepalanya dan sedikit tersenyun namun di tahan. "Ieeewwww ini buat lo" seolah tak menyerah. "So tahu, kan yang maen bola tadi 10 orang, 5 tim gue, 5 tim lawan. Udah lah diem lo sebentar lagi guru masuk" Jawab Gio dan seisi kelas mulai hening mendengar ucapan dari Gio. "Dan Lo ngapain bengong di situ? Duduk ngapa ngalangin jalan orang tau" Ucap Gio kepada siswi yang kerap di sapa 'cupu'. Ia tergagap mendengar Gio berbicara padanya dan segera duduk di susul dengan riuh teman-teman sekelasnya. Di sisi lain, raut kecewa dari seseorang tergambar jelas, mungkinkah dalam hatinya timbul kebencian untuk temannya? Atau rasa ingin membully kembali? Guru pun masuk dan pembelajaran di mulai dengan sebagaimana mestinya. Dan bel tanda pembelajaran berakhir pun berbunyi semuanya bersiap untuk pulang, seperti biasanya siswi yang selalu di sapa 'cupu' memilih untuk keluar kelas paling akhir saat kelas mulai hening, sepertinya hal tersebut adalah zona ternyamannya. Namun, kali ini berbeda ia tidak sendirian di urutan terakhir penghuni kelas. "Woy, kenapa lo nggak bangunin gue? Kemana orang-orang." Ucap Gio, entah benar-benar ia tertidur atau memang hanya untuk membuka percakapan saja. "Su, sudah pa pa pada pulang" Jawab nya tergagap-gagap. "Biasa aja jawabnya jangan kaget begitu gue bukan setan. Lah lo kenapa masih disini? Nungguin gue?" Tanya Gio kembali. "Eenggak, aku malah nggak tau ada kamu di belakang." Jawabnya. "Beuh lo punya dunia sendiri apa? Nggak sadar gue yang nge jogrog segede ini?" ucapnya seakan kecewa, kecewa? karena apa? karena kehilangan perhatian gadis itu kah? "Maaf" Jawabnya dan tersenyum malu. "Cantik juga senyuman lo, yok balik" Ajaknya. Dalam kepala sang gadis berputar-putar ribuan pertanyaan. Apa ini? Dia bicara padaku? Ada apa dengannya? Apa ini artinya dia ngajakin pulang bareng? Stop jangan kepedean! Bersikap sebagaimana biasanya aja! "Kenapa lo jalannya lambat banget sih? Nanti sopir lo nungguin lama kasian." Gio kembali membuka suara. "Aku nggak ada sopir, aku pulang naik Bis Kota kok. Atau kalau udah mentok bis nya gak ada yah naik ojol aja!" Jawab sang gadis. "Aneh, kita rasanya satu TK, satu SD, satu SMP, sekarang satu SMA satu kelas malah, gue bahkan nggak inget nama lo, rumah lo, dan bahkan ngobrol agak banyak pun baru sekarang iya nggak sih?" Pernyataan Gio sungguh membuat sang siswi tersentak. "Tapi lo inget kita satu sekolah terus, amazing" Jawabnya sambil tersenyum "Maksud lo?" Gio seakan terhipnotis oleh senyuman sang siswi. Sang siswi itu menggeleng dan tersenyum. Gio masih mematung saat gadis itu berlalu meninggalkannya dan melambaikan tangannya saat bis kota datang. Hei... maksud gue, gue inget kita satu sekolah sejak TK, gue juga inget nama lo tapi belum officially lo ngenalin diri lo ke gue, dan gue pengen mengenal lo lebih jauh. Namun gue lega saat tau kalau lo memang suka juga sama gue, maafin gue yang belum bisa mengakuinya dan memperlakukan lo lebih baik. Karena gue belum tau caranya. Batin Gio.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD