My Name Is Hilary Bahira Chana

1335 Words
Apa-apaan ini? Aku kenapa? Kok jantungku dag dig dug begini? Aduh jangan-jangan aku serangan jantung? Aku kan masih muda? Apa yang tadi aku omongin yah? Salah nggak yah? Aduh Gio pasti ilfeel sama aku? Aduh gimana dong? Masa iya aku ngobrol sama Gio? Ini benerankan? Dia inget kita satu sekolah semenjak TK? Walau dia nggak pernah nganggep aku ada? ish jangan-jangan dia juģa suka sama aku? eeettt jangan kepedean itu nggak mungkin. Batin siswi yang kerap di sapa dengan sapaan 'cupu' itu sambil terus menggeleng-gelengkan kepala dan memegang dadanya saat duduk di Bis kota, ia tidak sadar bahwa seseorang sedang memperhatikannya. "Hai, kamu baik-baik saja?" Tanya seseorang. Seketika ia tersadar dan tersenyum malu. Bodoh, bodoh, bodoh.... Batinnya merutuki dirinya sendiri. Ia turun di depan pintu masuk sebuah komplek perumahan mewah, membuat seseorang yang sedang memperhatikannya berfikir keras, Benarkah gadis itu tinggal di komplek perumahan ini? Tapi masa iya dia naik bis? Temen aku aja yang anak pembantu di komplek ini pake motor, apa jangan-jangan dia anak pembantu juga? Ah... bodo amat ah. Tapi gadis itu lucu banget, cute. Batin seorang yang sejak dari depan sekolah duduk di samping gadis tersebut. Hilary POV Ah Hari ini terlalu terik untuk jalan kaki, tapi entah kenapa rasa itu sirna, awan seolah memayungiku dan kupu-kupu berterbangan mengiringi langkahku, ah... senangnya hari ini, mari bergembira. Walau harus berjalan dua blok dari pintu masuk komplek untuk menuju rumahku rasanya itu adalah hal yang biasa saja. "tittt... titttt... tiiitt" Suara kelakson sebuah motor besar mengagetkan lamunanku. Ah Gio, dia tinggal di komplek ini juga? Ah, iya dia kan tinggal di blok A ish kenapa aku bisa nggak sadar? Penulis POV Bisa-bisanya dia jalan sambil jingkrak-jingkrak, ah anak ini. Batin Gio. "Hei lo kalo jalan yang bener napa?" Tanpa sengaja Gio membentaknya, sebenarnya itu adalah bentuk kekhawatiran Gio. Namun sepertinya di salah artikan oleh perasaan gadis itu. Wajah nya seketika mendung dan seolah menahan air mata. "Maaf" ucapnya dan berlari. Gio mengejarnya dan menahannya. "Gue anter, naik." Ucap Gio. Gadis itu terpaku. "Naik, gue tahu rumah lo kok, semenjak TK gue hafal rumah lo, ayo naik yah panas nih." Lanjut Gio, kini nada suaranya lebih rendah dari sebelumnya. Ada rasa bersalah dalam batin Gio saat melihat ekspresi gadis tersebut saat ia membentaknya tadi. "Makasih gak apa-apa aku pulang sendiri aja" Suara gadis itu seolah menahan tangis. "Enggak kali ini gue maksa." Bentak Gio kembali, seketika air mata gadis tersebut jatuh. "Eh, malah nangis" Gio turun dan menarik lengan gadis tersebut lalu memaksa gadis itu naik ke motor gedenya. Gio dengan iseng ngegas motor nya seketika gadis itu memeluknya dari belakang. Gio tersenyum, dan gadis itu mencengkram kuat pinggangnya seolah ketakutan. Kini mereka tiba di depan rumah gadis itu yang sebenarnya lebih mewah dari rumah Gio. Mata gadis itu terbelalak saat melihat mobil mewah milik ibunya terparkir di depan rumahnya, seketika ia berlari tanpa pamit kepada Gio. Ada perasaan kesal di hati Gio. Anak itu, nggak tau terimakasih. Batinnya namun entah kenapa ia malah tersenyum. "Biiiiiiii....!" "Iya non" Jawab seseorang di dalam rumah. "Ada mommy?" "Iya Non di atas." Jawabnya. "Bi tolong tanyain sama mommy boleh nggak aku nemuin dia? Daddy ada juga bi?" "Baik non, tuan ada juga rupanya mereka sedang meeting sama pengacara tuan juga nyonya non." "Pengacara yah bi?" langkahnya melemah dan pergi meninggalkan seseorang yang kerap menemaninya di rumah super mewah itu. Ia memasuki kamarnya dan segera membersihkan diri. Toktoktok "Masuk aja nggak di kunci" jawabnya mempersilahkan. "Hilary sayang ini mommy nak." Ia langsung berlari ke arah pintu dan memeluk seorang wanita cantik bak model. "Mommy, aku kangen." "Gimana sekolahnya? Lancar? Gimana Mang Ujang masih suka ngebut-ngebut?" "Mang Ujang kan udah nggak kerja disini" Jawabnya polos. "Lah, siapa sekarang sopir kamu? Kenapa mommy nggak tahu?" "Aku nggak pake sopir sekarang, aku naik bis lebih hemat." "Astaga! Mommy harus bicara sama Dady kamu." "Mom jangan berantem lagi sama Dady, aku yang mau kok." "Enggak bisa di biarin sayang." Terdengar suara cek cok dari arah ruangan sebelah dan itu membuat hati gadis itu hancur. Selang beberapa lama pintu kamarnya kembali di ketok oleh seseorang. Asisten dari ayahnya masuk membawa beberapa gaun cantik. "Non, ini gaun untuk acara malam ini nanti mommy non yang akan membawa non kesalon sesuai kesepakatan dengan ayah non." Ucapnya. "Baik, kalau boleh tahu acara apa?" "Acara amal perusahaan nanti Tuan akan jemput non sama mommy non ke salon, tapi non harus ganti baju dulu sama gaun dan sepatu ini. Dan mommy non menunggu diluar." "Baik saya segera ganti baju dan turun, terimakasih." Malam pun tiba Mommy dan Daddy nya seolah pasangan aktor dan aktris di depan semua orang terlihat sangat bahagia dan ia kini bak seorang putri semua orang memujinya namun entah kenapa rasanya sangat tidak nyaman, entah pujian itu tulus atau tidak. "Hai jeng cantik banget, ini anaknya?" Seseorang menyapa mommy. "Iya, Hillary sayang sini ini tante Donna yang rumahnya di blok A." "Hallo Tante." sapanya. "Tante Donna ini anaknya sekolah di sekolah kamu juga loh." ia hanya tersenyum dan anak laki-laki yang sedari tadi acuk tak acuh dan malah main game di samping ibunya mengganggu pikirannya. "Ini anak tante" "Kenalan dulu dong sayang." "Hai, aku Hilary Bahira Chana." Ia menyebutkan namanya, seketika anak laki-laki itu mendongakan kepalanya dan terpaku melihat gadis yang kini menyebutkan nama lengkapnya di hadapannya. "Hai, Gio Agni Sugiono." Jawabnya sambil matanya terus terpaku ke arah Hilary. "Akhirnya officially kita kenalan juga" Lanjutnya kembali. Hilary tersenyum dan menarik lengannya yang kini di genggam erat oleh Gio, namun tidak berhasil. "Mommy, Tante boleh nggak aku mengajak Hilary jalan-jalan?" Tanya Gio. "Boleh sayang ucap Mommy Hilary." Tangan yang sedari tadi ia genggam kini di tariknya hingga mau tak mau Hillary mengikutinya. "Lo cantik malam ini." Pipi Hilary memerah mendengar pujian dari Gio. "Iya berkat make up." Jawab Hilary menyembunyikan ke gugupannya. "Eh loh tangannya jadi dingin begini?" Tanya Gio sambil menarik lengan Hilary yang terbebas dan kini keduanya ada di genggaman Gio. "Apaan sih." Ucap Hilary. Gio tersenyum dan mencium tangan Hilary. "Sayang." Suara bariton Stephan Chana. "Daddy" Hilari beralih memeluk ayahnya, ada rasa rindu dalam dadanya, memang tadi ayahnya menjemput ia dengan ibunya namun tak ada percakapan diantaranya. "Siapa ini?" Tanya nya kembali. "Hallo om saya Gio." Sapa Gio "Dia temen sekolah aku, anaknya tante Donna Dad." Sela Hilary, "Ouh, kamu masih kecil jangan pacar-pacaran dulu." Goda sang ayah, "Enggak kok Dad" Hilary tersipu malu. "Tadi cium-cium tangan segala." jawabnya kembali. Gio salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dan Hilary hanya tersenyum. "Mulai besok Daddy yang akan antar jemput kamu di sekolah yah." Ucap sang ayah, "Pasti karena tadi Mommy marah-marah yakan?" Tebaknya. "Enggak, karena anak itu. Sepertinya Daddy harus ekstra jagain kamu." Jawab sang ayah. "Ih Daddy apa-apaan sih." Hilary merajuk. "Ih beneran kok, soal Mommy kamu tadi marah-marah emang iya. Daddy juga udah siapin sopir baru buat kamu. Tapi melihat kamu di cium-cium begitu Daddy jadi berubah fikiran." Sang ayah terus menggoda, "Ih Daddy." rengeknya. Gio semakin salah tingkah di buatnya. "Nitip anak saya yah, saya ada tamu dulu. Awas jangan macem-macem." ancaman Stephan Chana seolah menjadi beban berat baginya. "Daddy kamu galak juga yah?" Gio buka suara setelah Stephan berlalu. "Enggak kok, galakan Mommy." Jawabnya polos. Gio hanya tersenyum. "Hei, kita nggak bisa pulang bareng lagi dong?" Ucap Gio "Emang kita pernah pulang bareng?" Tanya Hilary. "Ish tadi siang? Kamu nggak ingat?" Ada perasaan kesal pada nada suaranya, "Ouh itu di hitung pulang bareng yah?" Hilary balik bertanya, membuat Gio semakin kesal. "Terserah lo deh."Jawabnya acuh, "Eh iya aku belum berterima kasih. Makasih yah tebengannya tadi walau kamu bentak-bentak aku nggak jelas." Jawaban Hilary membuat Gio merasa bersalah. "Maaf," ucapnya. "Loh? Kok minta maaf?" Hilary kebingungan, "Tau ah" Ucap Gio Ketus. "Hilary sayang udah malem pulang yuk!" Ajak Mommy mengintrupsi percakapan mereka. "Nak Gio, Hilary nya pulang dulu yah." lanjutnya kembali. Hilary menganggukan kepala sebagai isyarat ia pamit dan tersenyum sangat manis. Sepertinya malam ini adalah malam yang tak akan telupakan oleh kedua anak remaja ini. Akankah malam ini akan menjadi awal kisah mereka? Entahlah, biarkan waktu yang menjawabnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD