GURU BARUKU

1124 Words
"Pagi Mom, Dad." Dengan ceria Hilary menyapa ayah dan ibunya. "Nanti pulang sekolah ke salon yah sama Mommy" tanpa membalas sapaan anakny, "Memang nanti malam ada acara lagi?" Tanya Hilary. "Enggak ada tapi itu rambutnya udah begitu, nanti di rapihin biar lebih cantik yah sayang." Mommy setengah memaksa, "Enggak usah mom" jawabnya datar. "Ya udah, gak apa-apa senyamannya kamu aja sayang." Kali ini Daddy angkat bicara. "Kenapa sih? kan biar makin cantik. Anak-anak lain banyak kok yg cat rambutnya meng curly rambutnya." Ujar sang Mommy, "Aku nggak mom" Jawabnya ekspresinya berubah tidak senang "Dad, berangkat sekarang yuk, kalau Dad masih mau makan aku duluan ke mobil yah." Hillary tidak jadi menyentuh sarapannya, "Iya sayang ayo" Jawab sang Daddy. "Hei sayang mommy masih belum selesai bicara." Mommy setengah berteriak, "Udah jangan maksa deh, biarin aja nanti juga dia bakalan pergi ke salon sendiri kalau dia ngerasa perlu. Lagian jangan banding-bandingin anak kenapa?" Sang Daddy berusaha menengahi. "Kamu nggak faham yah, anak SMA penampilannya kayak gituh?" Ujar sang Mommy, "Lalu harus kayak gimana? Biarin aja dia jadi diri sendiri jangan paksa jadi apa yang kamu mau." Jawab sang Daddy dengan nada yang naik setengah oktaf, "Dad, hurry up" teriak Hilary dari luar saat terdengar nada tinggi ibunya. Entah kenapa setiap keinginan ibunya bukan inginnya. Ia tidak suka berjam-jam di salon, ia juga tidak suka menghadiri acara-acara glamour, tapi itu adalah keseharian ibunya, yang kadang melibatkannya. Sesampainya di sekolah ia menjadi pusat perhatian karena diantar mobil sport mewah, dan ini untuk pertama kalinya. "Dad lain kali jangan di masukin ke dalem, di depan aja turunin akunya." rengeknya "Hei kenapa?" Daddy nya malah kebingungan, "Malu, lihat dilihatin lagian Dad mencolok banget sih mobilnya. Besok-besok pake yang biasa dipake mang ujang aja." Ucap Hilary seolah sudah punya firasat bahwa itu akan menjadi awal kesengsaraanya, "Ish, iya deh Dad ikut kata kamu. Low profil banget anak Daddy." goda sang Daddy, "Bukan gituh Dad" Ucap hilary ketus. "Iya, iya, iya sana Daddy ada meeting kamu masuk kelas gih." Hilary turun sambil menunduk dan segera berlari ke kelas. What si Cupu? Jangan-jangan itu sugar Daddy nya. Nggak nyangka so polos tapi kelakuannya b***t, dia kan k**e tiap hari naik bis tiba-tiba naik mobil sport aja? Batin laura saat melihat Hilary turun dari mobil Daddy nya. "Pagi" Sapa Gio What nggak salah si Gio nyapa si Cupu? Awas aja Cupu gue sebarin ke******n lo, untung gue photo saat lo keluar dari mobil mewah tadi. Batin Laura makin dengki. Dan Guru pun masuk ke kelas, Hilary terkejut ternyata Guru pengganti itu adalah orang yang ia temui di bis. "Selamat pagi, saya Hildan Guru Bahasa Inggris yang baru, saya disini menggantikan Ibu Nunung karena beliau sudah habis masa kontraknya dan lebih memilih mengabdi di sekolah lain. Sebelumnya ada pertanyaan?" Laura tiba-tiba mengangkat tangannya. "Bapak kalau menurut bapak seorang siswi yang tiap hari naik bis tiba-tiba diantar mobil sport itu bisa di bilang p*****r nggak pak?" Ucapan Laura kini sedikit keterlaluan, Gio mencengkram tangannya kuat seakan ingin menghajar Laura. "Belum tentu, kita tidak boleh berburuk sangka apalagi sesama teman." Jawab Pak Hildan Bijak. Kini Andin yang mengangkat tangan. "Pak Bapak sudah berkeluarga?" "Saya berkeluarga, saya mempunyai ibu, ayah dan dua orang adik." Jawab sang Guru, "Maksudnya bapak sudah menikah gituh" Andin seolah tidak puas dengan jawaban Giri barunya, "Saat ini belum, sudah kalau pertanyaannya aneh-aneh terus, saatnya saya yang ingin mengenal kalian. Saya akan absen satu persatu yah." Pak Hildan mulai menyebut nama siswa dan siswi satu persatu. kini giliran nama Hilary yang dipanggil. "Hilary Bahira C" Hilary mengangkat tangan, Pak Hildan melihat Hilary, rupanya gadis cute kemarin batin Pak Hildan. "Apa kepanjangan C?" Tanya Pak Hildan, "Cupu pak" Jawab Laura di susul dengan riuh tawa seisi kelas. Hilary hanya menunduk wajahnya merah padam. "Saya nggak nanya kamu, saya nanya Hilary." Jawab Pak Hildan yang seakan agak kesal dengan kelakuan Laura. "Hilary?" Panggil Pak Hildan. "Chana Pak, Hilary adalah anak tunggal Stephane Chana. Emang dasar anak ini low propile makanya dia menyembunyikan identitasnya." Jawab Gio yang sudah geram akan kelakuan Laura. "Masa? Kok naik kopaja tiap hari? Segituh miskinnya kah anak tunggal keluarga Chana?" Kini Andin yang menimpali. "Sudah, sudah, sudah. Kita lanjutkan pembelajarannya." Sang guru menengahi, Jam istirahat pun tiba dan kini semua mata tertuju pada Hilary. Hilary tidak tahu apa yang terjadi namun semua mata seolah mengejek Hilary. Bahkan Laura terlihat tersenyum sinis ke arah Hilary saat keluar dari ruangan kepala sekolah. "Ada apa dengan mereka?" gumam Hilary. Gio terlihat berlari kearah Hilary. "Tadi lo kesini sama siapa?" Bentak Gio setengah ngos ngosan, sontak membuat semua melihat kearahnya dan Hilary. Laura yang melihat itu seakan mendapat Jackpot, ia menghampiri Gio dan bersiap memanas-manasi Gio. "Baru sehari pacaran udah maen bentak-bentakan jangan gituh ah ahahahahaha" ledeknya. "Diem lo gue nggak lagi ngomong sama lo!" Bentak Gio. Mata Hilary berkaca-kaca ia masih belum terbiasa dengan sikap Gio yang seperti itu. "Jangan nangis jawab gue please!" Kini Gio melembutkan suaranya saat melihat ekspresi Hilary. "Sama Daddy" Jawabnya. "Ahahahahah Daddy? Daddy om-om yang nge b******g lo?" Laura dengan sangat kencang, membuat perhatian kini kembali tertuju pada mereka. "Bukan itu beneran Daddy aku, ayah aku" Jawab Hilary air matanya kini tak terbendung. "Aku percaya, semalam kan Daddy kamu yang bilang akan jagain kamu iya kan? Kamu jangan pendem masalah sendiri nanti bilangin sama Daddy kamu kelakuan dia!" Ucap Gio melihat Laura dengan kesal. Hilary menggeleng. "Nggak akan berani lah, dia kan dipanggil saat di butuhin. Hahahahah penampilan cupu ternyata suhu. Miskin aja so, soan pengen terlihat kaya berani di b*****g om-om." Laura mengejek seolah ingin puas, "Kebangetan lo yah!" Bentak Gio. "Apa lo belain terus pacar lo!" Laura tidak kalah nyolot, "Jaga mulut lo!" Bentak Gio, "Haahahah lo denger Cupu bahkan dia aja nggak ngakuin lo pacarnya." Laura mulai playing victim, "Emang kita nggak pacaran!" Jawab Hilary sambil berlalu pergi, ada rasa tertolak dalam hati Gio tapi hal itu ada benarnya. "Hilary tunggu." panggil Gio. "Hilary kamu dipanggil ke ruang kepala sekolah" Panggil seseorang. Hilary mengangguk dan segera pergi meninggalkan Gio. "Rasain lo, pasti lo dikeluarin deh sudah mempermalukan nama sekolah!" Ucap Laura seakan tahu apa yang terjadi pada Hilary. "Lo kenapa sih?" Bentak Gio "Lo yang kenapa? Apa hebatnya si Cupu?" Laura tidak kalah sewot, "Lo belum tahu siapa dia, lo bakalan nyesel ngelakuin ini sama dia!" Ancam Gio "Gue nggak takut, bokap gue punya segalanya!" Entah dia beli PD dari mana, dia begitu bangga akan kekuasaan ayahnya, "Hah masa? Gue kasih tahu, kekayaan bokap gue aja nggak ada apa-apanya dibanding Hilary" Gio ngerasa gerah berhadaoan dengan orang seperti Laura, "Iya lah emang dia nggak ada apa-apanya hahahaha" Gelak tawa Laura meledek. "Terserah lo, yang pasti gue sudah ingetin lo! Lo bakalan nyesel. Gue orang pertama yang bakal ngolok-ngolok lo karena perbuatan lo! Inget itu!" Gio seolah mengancam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD