Hilary keluar dari ruang kepala sekolah tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam sana. Ia masuk kelas dan membawa tas nya dan pergi begitu saja.
"Hai, gimana? Ada apa? Kamu mau kemana?" Tanya Gio bertubi-tubi. Belum sempat Hilary menjawab Andin yang mendengar itu langsung mengolok-olok mereka.
"Cieeee yang sudah aku-kamu." Laura yang mendengar itu seolah terpancing emosinya.
"Halaaaahhhh palingan di keluarin dari sekolah? Mana Daddy lo? Ups maksudnya om-om lo, sugar Daddy lo? ada belain lo nggak ahahaha, yah p*****r mana yang di belain Daddy nya." ucapan Laura brnar-benar sangat keterlaluan,
"Lo bener-bener yah!" Bentak Gio. Hilary berlari keluar kelas dan entah pergi kemana, di susul oleh Gio.
"Si Gio ngapain sih?" Tanya Andin.
"Buta dia buta!" Laura mencak-mencak.
"Jangan-jangan beneran itu bokapnya, kenapa kita nggak selidiki dulu bukan maen tùduh dan lapor kepsek." ucap Andin.
"Peduli amat yang penting namanya rusak!" Jawab Laura.
"Gimana kalo lo di tuntut pencemaran nama baik?" Ucap Andin kembali.
"Nggak mungkin lah, bokap gue pasti bisa usahain yang terbaik buat gue. Lagian kepsek kan tante gue" Jawab Laura dengan PD nya.
"Bener juga sih!" Andin seolah mengamini ucapan Laura,
"Lagian keluarga kaya mana yang rela anaknya naek Kopaja? Pembokat gue aja anaknya di kasih motor buat berangkat ke sekolah. Lagian lihat dandanan dia kek gituh." Laura mencibir Hilary habis-habisan,
"Eh lo jangan gituh, jangan menilai orang dari penampilannya!" Jawab Andin.
"Nah lo mau berteman sama gue kenapa? Gue tanya kenapa?" Tanya Laura sedikit nyolot.
"Yah gue ngerasa se prekwensi aja." Jawab Andin.
"Se-prewensi artinya sama-sama kece, sama-sama fashionable, sama-sama enak buat nongkrong kan? Apa itu kalau bukan soal penampilan? Hah? Bisa jawab nggak lo?" Laura lebih nyolot dari sebelumnya.
"Woles kali, yah seenggaknya kalo nyinyir gue masih suka nggak enakan!" Jawab Andin,
"Serah lo, berteman sana sama si cupu!" Laira terlihat sangat jengkel dengan ucapan temannya itu.
Seseorang terus mengejarku di saat aku ingin sendiri. Kenapa? Kenapa Gio seperti itu? Seolah aku penting baginya. Batin Hilary.
"Hilary tunggu." Gio kini dapat menyusul Hilary. "Lo atlet marathon apa lari lo kenceng amat!"
"Nggak ada yang nyuruh kamu buat ngejar aku!" Jawabku singkat.
"Ada!" Jawab Gio, ia menatapku sekaan bisa membaca pikiranku "Hati ini yang menyuruh otak gue dan di teruskan perintahnya kekaki gue buat ngejar lo!" Jawabnya sambil menenangkan nafasnya.
"Udah deh jangan bikin aku baper! Aku lagi pengen sendiri!" Jawab Hilary, entah kenapa Gio seolah senang dengan jawaban Hilary,
"Aku temenin, bolos bareng kali-kali seru jugakan?" Goda Gio,
"Aku nggak bolos aku di score!" Jawab Hilary
"Berarti aku bolos buat nemenin kamu di score!" Jawab Gio tidak mau kalah,
"Ish!" Hilary hanya mendesis,
"Nah gituh dong senyum. Kita ke Caffe kakak aku yuk, kita minta ruang PIV biar nggak ada yang ganggu." ajak Gio.
"Ngapain?" Tanyaku sewot.
"Ish ngeres aja, kan lo mau nenangin diri katanya." Jawab Gio,
"Siapa yang ngeres?" Hilary sedikit membela diri. Gio malah tertawa terbahak-bahak.
"Udah yuk aku traktir deh, aku tebak kamu nggak punya uang." Ucap Gio,
"Iya sih aku nggak pernah di kasih uang jajan, ongkos bis kota aja aku minta bi Inah" Jawab Hilary polos,
"Nah, loh. Bokap lo Tajir kan?" Tanya Gio,
"Kata orang sih gituh tapi aku ngerasa biasa aja." Jawab Hilary,
"Tunggu bi inah pembokat lo? Secara teknis lo minta sama dia, tapi lo tau kan itu uang bokap lo?" Tanya Gio,
"Mungkin, karena yg aku minta kan cuman 20.000 ke bi inah buat Bis kota atau ojol doang, aku bekel makanan buatan Bi Inah, lebih hemat." Jawbanya simple,
"What? Lo belanja baju, dan lain-lain gimana?" Gio semakin penasaran dengan keseharian Hilary,
"Baju? Mereka tiba-tiba ada dikamarku. Ajaib kan?" jawab Hilary. Entah kenapa rasa sedih Hilary sirna seketika hanya dengan berbicara hal receh, sedikit melupakan kata-kata pedas kepala sekolah tadi. Namun tatapan Gio seolah tak percaya dengan yang Hilary bicarakan.
"Waahhh...ckckckck serasa princess di castil-castil disney." Ucap Gio,
"Apaan sih?" Tanya Hilary, dan ia tersenyum sangat manis. Gio seketika terpaku melihat senyuman itu, dan saat tersadar ia sedikit kikuk,
"Hei, gara-gara lo motor gue di sekolah tau, ini sudah lumayan jauh!" Ucapnya.
"Ish, Caffe Kakak kamu dimana? Kita naik angkot atau Taxi online aja gimana? Tapi aku nggak punya uang, kamu yang bayar yah, ada rasa sesal kenapa nggak minta uang jajan saja dari pada kartu-kartu ini yang entah bagaimana penggunaan nya.
"Enak aja, yang ngajakin siapa?" Jawab Gio mengejek Hilary,
"Yaudah jalan kaki aja yuk!" Ajak Hilary,
"Hahahah gemesin banget sih kamu, ekspresi kamu cepet berubah. kayaknya cara komunikasi kamu itu lewat ekspresi kamu yah?" Ucap Gio, ada sesuatu yang berbeda dari kata-katanya dan jantung Hilary seakan tak menentu.
Dua remaja yang seolah seperti sedang berkencan berjalan bersama seakan tidak ingin terpisahkan, saling membesarkan hati masing-masing, saling menjaga tutur agar tidak ada yang tersinggung. Kadang tertawa, kadang berlari kecil seolah saling mengejar. Hingga mereka sampai di sebuah Caffe yang masih tutup.
"Kak!" Panggil Gio.
"Nah, Lo Bolos?" Jawab seseorang yang tiba-tiba muncul di balik meja.
"Iseng lo keterlaluan, liat Hilary jadi terkejutkan!" Bentak Gio.
"Cieeee... marah!" Ujar seseorang yang di panggil kakak,
"Nggak lucu, kak kita boleh duduk diatas yah?" Ucap Gio,
"Ah lo kebangetan, bolos buat pacaran." Goda kakaknya Gio,
"Siapa yang pacaran?" Gio lebih nyolot jangan tanya Hilary perasaan nya kini campur aduk dia hanya tertunduk.
"Hei, kok kayak terciduk Pol PP sih tertunduk gituh, biasa aja kali neng." Goda kakak Gio.
"Diem lo kak!" Bentak Gio
"Hahahahahh, lo sensi banget deh, sana naik, mau karoke juga boleh tapi nanti jam 3 beresin yah mau di pake sama costumer, kayaknya seusia lo, katanya mau ngerayain hari spesial sama temen-temenya pengen sama karoke kit segala." Penjelasan kakak Gio panjang lebar,
"Heeemmppp, makanan yang ada aja yah nggak usah belanja dulu kelamaan!" Jawab Gio.
"Beuh semprul, punya adik." lalu manggut kepada Hilary. Hilary makin kikuk.
"Ayo keatas, jangan di pikirin kata-kata kakakku. Kakakku emang suka becanda, dia baik kok." Ucap Gio seakan menenangkan.
"Ini kita nggak apa-apa?" Tanya Hilary yang baru pertama kali menginjakan kaki di tempat seperti ini.
"Lo pertama kali masuk Caffe?" Tanya Gio seolah mengerti dengan gerak gerik Hilary. Hilary hanya mengangguk.
"Bener-bener deh priencess." Sampai muncrat.
Sementara di tempat lain Laura mengundang teman-temannya buat nongkrong di Caffe Sky untuk merayakan kemenangan perasaannya atas masalah Hilary.
Tiba-tiba langkah Hilary terhenti.
"Kenapa?" Tanya Gio.
"Aku balik aja deh." Jawab Hilary menampakan wajah yang seakan memikirkan banyak hal.
"Lah, kenapa?" Tanya Gio.
"Aku...." Kata-kata Hilary terhenti.
"Kenapa? Nggak punya duit, gue yang teraktir ini kan?" Tanya Gio kembali, Hilary hanya menggeleng. ,"Kebiasaan lo, gemes deh. Ada apa-apa itu bilang jangan biarkan kepala mu meledak karena memikirkan banyak hal dan memendamnya!" Lanjut Gio kembali. Entah kekuatan dari mana Hilary mau buka suara.
"Aku takut, orang lain melihat kita disini, aku takut anggapan mereka mengenai aku cewek b*******n dan hal semacam itu semakin meluas dengan aku berduaan sama kamu di sini." ucapnya.
"Emang kita mau ngapain? Siapa yang bisa b****ing lo? Gue? Lo itu berharga tak ternilai dengan apa pun, nggak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa b*****g lo" Nada Gio meninggi dan membuat kakaknya curi dengar.
"Mereka nggak percaya aku, mereka nggak berfikir seperti itu." Air mata Hilary pun terjatuh.
"Itu mereka, walau pun seluruh dunia nggak mempercayai lo, gue akan selalu percaya." Ucapan Gio membuat mata Hilary terbelalak. "Udah yuk, kita nggak di ruangan tertutup kok, ada balkon diatas. Lo bisa cerita apa pun ke gue, dan gue siap bantu lo." Lanjut Gio kembali.
Akhirnya Hilary melangkahkan kakinya mengikuti Gio dan menyeka air matanya.
Apa ini? Aku bisa sedekat ini dengan Gio? Aku? Cupu? Apakah ini nyata? Apa tadi yang dikatakan Gio? Dia akan selalu mempercayaiku? Kenapa? Apa karena kasihan padaku? Ini pasti mimpi, tiba-tiba aku di tuduh menjadi sugar baby, tiba-tiba aku di score, tiba-tiba aku berduaan sama Gio, ini pasti mimpi, ini bukan hal-hal yang mungkin terjadi padaku. Seseorang bangunkan aku. Batin Hilary.
"Kenapa diem aja? Ada apa? Mikirin apa lagi?" Tanya Gio. Hilary hanya tersenyum. "Jadi issu yang di sebarkan Laura yang membuat kamu di score?" Tanya Gio kembali Hilary hanya mengangguk. "Kenapa nggak di jelasin itu bokap lo?" Pertanyaan Gio tak berhenti-henti.
"Kepala sekolah nggak mempercayainya, dia mengira aku anak pembantu keluarga Chana. Dan juga dia bilang Stephen Chana mantan pacarnya, aku dilarang keras menggunakan namanya hanya untuk keuntunganku atau mengaku-ngaku. Awalnya dia tidak akan men-score aku, tapi karena aku bilang aku anak Stephen Chana aku malah di score. Nama Daddy memang tidak menguntungkan." Jelasnya panjang lebar.
"Hahahahaha...." Tiba-tiba Gio tertawa, dan ekspresi Hilary seolah memberikan banyak tanya. "Maaf, maaf bukan aku senang diatas penderitaan kamu, maaf. Kamu cerita masalah kamu dengan gaya seperti itu semua orang tidak akan percaya kamu menderita, cute banget sih." Lanjut Gio kembali.
"Kamu itu kenapa sih? Aku nggak mau cerita lagi." Memang pada dasarnya Hilary anak manja bahkan cara berbicaranya pun cenderung kekanak-kanakan, hanya saja Hilary selalu menyendiri dan terlihat seolah mempunyai kepribadian tertutup. Sebenarnya ia hanya tidak tahu cara memulai berinteraksi dengan orang lain dan orang-orang tidak ada yang mencoba berkomunikasi dengannya.
Waktu pun sudah menunjukan pukul 14.30, semua makanan sudah habis di santap kedua anak remaja yang terus bercerita kesana-kemari tanpa henti, sesekali mereka tertawa, sesekali terdengar rengekan. Seseorang yang mendengarnya pasti mengira mereka sepasang kekasih.
"Aku antar pulang yah" Pinta Gio.
"Jalan kaki lagi?" Tanya Hilary
"Hahahah, enggak lah kan ada kakak aku nanti kita minta duit buat naik taxi online." Jawab Gio.
"Udah numpang ngadem, makan gratis, pulang minta duit kok rasanya aku jadi cewek nggak tau malu banget yah." Ucap Hilary mengundang tawa Gio.
"Gue nggak pernah se-happy ini nongkrong sama orang, lo buat gue tertawa terus." Hilary malah cemberut.
"Jadi siapa yang menghibur siapa ini?" ucapnya kecut.
Hidup ini lucu, nggak bisa di tebak. Dan aku sebatas ingin bilang aku senang ada kamu.
Batin Hilary.