11. Cutie Leo

1040 Words
"Dia mengalami syok ringan." Sampai sekarang, Aiko masih bertanya-tanya. Apa yang membuat bossnya itu bisa syok? Setahunya, dia tidak melakukan apapun yang membuat atasannya itu sampai harus menderita syok ringan. Setelah mendengar ucapan dokter tadi, mata indah itu tak lepas dari sosok pria yang kini berbaring dengan nyaman diatas ranjang vip. Untungnya, Dompet Leo masih ada disaku jasnya. Aiko tidak perlu repot mengeluarkan uang pribadinya hanya untuk membayar biaya rumah sakit, Leo bukan? Wanita itu duduk sembari menatap sosok pria yang selalu menjadi bayangannya. "Kalau dilihat dari segi wajahnya, Pak Leo emang ganteng sih. Cuma gantengnya gak wajar sama sekali. Ada gitu pipi tirus sampai kelihatan tulang pipinya begini." Aiko bahkan menekan-nekan tulang pipi milik Leo. Aiko berdecak setelah melihat arloji berwarna merah muda miliknya. Ini sudah jam 9 malam dan dia belum pulang. Namun, dia juga tidak bisa meninggalkan Pak Leo sendiri disini. Walaupun dia punya perasaan benci sama atasannya yang suka bikin tengsin itu, tetap saja Aiko masih punya rasa kemanusiaan. Coba aja Aiko tahu nomer kelurga yang bisa dihubungi, tapi Aiko bahkan tidak tahu siapa orang tua, Pak Leo. Tanpa sadar Aiko memejamkan mata dan menelungkupkan kepalanya disebagian ranjang. Lelah juga dia daritadi diajak main sama anak-anak kecil. Wanita itu terbangun setelah mendengar teleponnya berbunyi. Aiko mengigit bawah bibirnya, ketika mengetahui siapa yang menelponnya sekarang. Memangnya siapa lagi kalau bukan sang mama? Aiko sepertinya harus menyiapkan alasan yang tepat untuk ini. "Halo ma." Ujar Aiko dengan suara pelannya. "Halo, Aiko kamu dimana? Ini sudah jam 9 malam dan kamu belum pulang juga?!" Aiko terhenyak mendengar suara mamanya. Dia refleks menjauhkan handphone itu dari telinganya. "A-aiko izin nginap di kantor ya ma." "Hah, Kamu ngapain nginep disana, Kerjaan kamu sebanyak itu?" Mama kembali memberikan banyak pertanyaan kepada, Azlyn. Aiko sempat melirik kearah bosnya itu, lalu menelan ludah sebelum akhirnya menjawab, "Iya ma." "Kamu lembur sama siapa? Jangan sampai mama dengar kamu macam-macam diluar sana." Aiko menghela nafas lelah. "Aiko gak mungkin macam-macam, Ma." Tukas Aiko, setelah itu sambungan terputus. Setidaknya Aiko bisa melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu. Toh dia memang benar, tidak melakukan hal yang diluar batas. Dia hanya menemani Leo, sampai pria itu benar-benar sadar dan siuman. Tidur wanita itu harus kembali terusik ketika jari seseorang sedang menusuk-nusuk pipinya. Mau tidak mau, Aiko harus segera membuka kelopak matanya. "Pak Leo?" Ujarnya setelah menyesuaikan diri dengan cahaya dan semakin jelas melihat wajah lugu, Atasannya. Tunggu, Aiko tidak salah lihat kan? Kenapa tatapan pak bosnya itu berubah lugu? "Halo, sayang." Sapanya. Aiko membulatkan matanya, serta mulutnya yang tiba-tiba terbuka lebar. Ini sungguh gila! Kenapa tiba-tiba? Aiko segera bangkit dan memencet bel. Berharap suster dan dokter segera datang untuk memeriksa kondisi kejiwaan atasannya itu. "Kamu mau kemana?" Langkah Aiko terhenti ketika mendengar suara imut tersebut. Aiko ingin mengabadikannya sekarang juga, hingga saat Leo tersadar nanti dia akan mengatakan, kalau Aiko adalah kesayangan atasannya itu. Membayangkannya saja sudah membuat Aiko geli sendiri. "Sayang, kok kamu berubah jadi patung?" Aiko segera mendekat. "Sumpah pak, kalau bapak beneran sadar. Bapak bakalan malu pernah bilang begini ke aku." Bukannya membalas, Leo malah menarik pinggang Aiko untuk mendekat. Melingkarkan kedua tangannya erat setelah itu. "P-pak?" "Jangan tinggalin aku." Tak lama dokter dan suster yang memeriksa, datang. Mereka segera memeriksa keadaan Leo. Hal yang membuat Aiko harus menahan malu adalah, ketika Leo tiba-tiba merengek seperti saat ini. "Aku tidak mau disuntik! Heeeee mamaaa aku takut disuntik." Aiko malah semakin dibuat malu ketika Leo memeluknya semakin erat. "Astaga, ada apa dengannya?" Dokter tersebut juga tampak penasaran. "Sepertinya ada yang salah disini. Anda bisa menghubungi psikiater masalah ini." "Sayang... Jas ku geter-geter." Aiko meraih saku jas Leo dan mengambil ponselnya. "Dr. Revan?" Bacanya. *** "Dia kumat lagi." Aiko sudah kembali di rumah mewah milik Leo. Dr. Revan yang membawanya kemari. Awalnya Aiko hendak pulang karena tahu, ada yang akan menjaga Leo. Hanya saja, Leo tiba-tiba menangis ketika Aiko pergi. Bahkan sekarang, Aiko harus kembali menahan malu karena Leo masih memeluk dirinya, bahkan menyandarkan kepalanya di d**a Aiko. "Dasar tukang cari kesempatan!" Batin Aiko dengan kesal. "Sebenarnya atasan saya ini kenapa sih dok?" Tanya Aiko penasaran. "Sebenarnya saya tidak boleh membocorkan hal ini. Karena penyakit pasien saya terlalu langka dan aneh." Aiko mengernyit, "Maksud dokter langka dan aneh, dia bakalan mati cepet?" Dr. Revan terkekeh, "Kalau urusan itu hanya Tuhan yang mengatur, saya tidak tahu menahu." "Mungkin nona adalah orang yang tepat untuk mengetahui hal ini. Karena, Pak Leo tidak mempunyai orang terdekat selain sepupunya." Aiko terheran, namun tetap membiarkan Dokter Revan melanjutkan ucapannya. "Saat ini kamu sedang bertemu dengan, Kenzo." "Hah?" Aiko tidak mengerti sama sekali, maksud dari ucapan Dokter Revan. "Kenzo?" "Jika kamu sudah bertemu dengan Kenzo, maka saya yakin kamu juga sepertinya sudah bertemu dengan, Zhao." Aiko mengernyit untuk yang kesekian kalinya, "Zhao, siapa lagi itu?" Dokter Revan menghela nafas, "Pak Leo memiliki penyakit kejiwaan yang diakibatkan dari trauma masa lalunya. Dia memiliki 3 kepribadian didalam dirinya." Jelas Dokter Revan. Jangan ditanya betapa terkejutnya Aiko mengetahui hal tersebut. Ini sangat gila! Dia bahkan tahu penyakit aneh bossnya. Ketika wanita itu melirik atasannya. Pria itu sudah berada di alam mimpi rupanya. "Tapi kamu tenang saja, efek dari kepribadian itu tidak akan bertahan lama. Paling dua hari sampai lima hari." "H-hah?" Dokter Revan dengan detail memberitahukan Aiko, mengenai apa yang harus dia persiapkan dan amati. Karena kepribadian Zhao, adalah kepribadian yang paling sadis dan kejam. Lebih tepatnya sisi lain dari Leo. "Kok beda ya? Dia malah terlihat seksi kalau sedang berada di kepribadian, Zhao." Dokter Revan tersenyum, "dia pasti sangat menyukai anda." Aiko tertawa kecil, "Dia?" Tunjuknya pada Leo yang tertidur di dadanya. Aiko segera menggeleng, "Tidak mungkin." Balasnya. "Oh iya, dia menderita penyakit ini dari lama ya?" Tanya Aiko sebelum Dokter Revan pergi. "Dari usianya 18 tahun." "Dokter sepertinya sudah mengenal Pak Leo begitu lama." Dokter Revan tersenyum. "Saya sudah mengenal pasien saya begitu dalam. Di negara ini, dia hanya tinggal sendiri dan memulai karir dari awal. Dia tidak pernah mengabari keluarganya yang ada di luar negri." Aiko beralih menatap Leo, yang masih berada dipelukanya. Dua hari kedepan dia akan menjadi baby sitter sementara. "Cutie Leo." Gumam, Aiko lalu terkekeh pelan wajah damai Leo yang tertidur. ### Jangan lupa komentarnya qaqa hikd... Instagram : @im_yourput
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD