Tidak ada percakapan setelah itu. Leo seakan menjauhinya, atau Aiko doang yang merasa seperti itu? Wanita itu segera merapikan blouse panjang berwarna pink muda miliknya. Aiko lupa untuk menyetrikanya kemarin, sehingga terlihat agak kusut sekarang.
Dia tidak mau Leo malah menertawai dirinya yang tidak bisa merias diri. Aiko memang penuh dengan kekhawatiran. Dia harus berjaga-jaga dari pria itu sekarang.
Setelah merasa make-up nya tidak luntur atau lecet, barulah wanita itu keluar dari toilet. Memasang wajah ceria yang diawali dengan senyuman lebar. Bahkan para karyawan yang tak sengaja lewat, ikut disapa sama Aiko.
Ketika masuk keruangan atasannya, Aiko sudah melihat pria itu siap dengan setelan jas yang rapi dan pomade gel terlihat licin di rambutnya.
"Kamu sudah siap kan?" Tanya pria itu, Aiko mengernyit, "Siap untuk..." Leo menyunggingkan senyum dibibirnya.
"Kamu lupa? Hari ini ada rapat penting di Yayasan Mentari." Aiko sedikit terkejut, namun berusaha menutupinya dengan berdehem.
"Baik." Jawabnya tanpa menoleh kearah lawan bicara, dimana Leo menatapnya dengan sebuah smirk aneh.
Aiko menghela nafas ketika harus mengikuti sang atasan dari belakang. Katakan pada Aiko, kalau ada yang mencari peran menjadi pembantu, maka Aiko akan cocok untuk itu.
Aiko masuk kedalam mobil, tepatnya duduk disamping atasannya itu. Leo berdehem ketika jarak Aiko dan Leo, terlalu dekat.
Aiko mendengus sebal, "Maaf pak, soalnya disini udah gak ada ruang. Mobilnya sempit sih." Balas Aiko sengit, sengaja memancing singa yang masih tenang di kandang rupanya.
"Apa kamu bilang? Mobil saya sempit?" Aiko mengangguk mantap dengan senyum lebarnya.
"Cih!" Leo memutuskan pandangan sengit yang ia layangkan pada Aiko. Memilih menatap keluar jendela. Aiko menahan untuk tidak mengeluarkan tawa kemenangannya.
Setelah Aiko mengecek jadwal kembali, bukannya Leo tidak ada jadwal kemana-mana sekarang? Tapi kenapa, Leo malah sok sibuk dan mengajaknya untuk pergi keluar.
Memang benar kata orang, terkadang pikiran orang kaya susah ditebak. Lebih baik, Aiko menikmati perjalanannya ini dengan tenang, sebelum atasannya yang ngeselin itu bikin ulah lagi.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, dimana mereka menempuh jarak yang lumayan jauh, merekapun akhirnya sampai disebuah rumah dengan cat warna-warni. Aiko bisa melihat ada gambar pelangi di dinding samping rumah tersebut.
"Ikuti dan jangan membuat masalah, paham?" Ujar Leo sebelum turun dari mobil. Aiko mengernyit, wajahnya terlihat merah menahan marah. Lihat saja, siapa yang nanti membuat masalah.
Seorang wanita paruh baya dengan sanggul kecil dan menggunakan blouse berwarna putih serta bawahan rok span hitam selutut, menyapa mereka.
"Akhirnya anda datang, kami semua sudah menanti kedatangan anda." Ujar wanita itu sopan.
Leo tersenyum, "Maaf saya terlalu sibuk, jadi belum sempat mampir dan bertemu mereka." Ucapan Leo membuat Aiko mendadak punya teori konspirasi.
Apa jangan-jangan, atasannya itu sudah punya anak? Namun karena malu dia menitipkannya di yayasan ini? Pikirnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tukas Leo begitu wanita paruh baya yang tadi masuk lebih dulu, Aiko terkejut bukan main.
"Eh... Saya h-hanya sedikit lapar." Jawab Aiko ngarang.
Leo berdehem, kemudian masuk kedalam yayasan itu terlebih dahulu. Meninggalkan Aiko yang berdiri mematung, tidak mengerti dengan apa yang harus dia lakukan sekarang?
Leo berbalik ketika merasakan tidak ada orang yang mengikutinya dari belakang, "Hei, apa yang sedang kau pikirkan? Cepat ikut aku sekarang." Aiko terkesiap mendengar ucapan Leo, yang sudah mirip lengkingan.
Mau tidak mau Aiko harus menuruti ucapan atasannya itu. Leo memang ahlinya bikin orang tengsing.
Tak disangka setelah Aiko mengikuti Leo dari belakang, dia bisa melihat banyak anak yang sedang menantinya. Aiko tersenyum melihat anak kecil yang bisa Aiko hitung jumlahnya, mungkin 15 orang yang ada disini.
Aiko mendekat untuk berbisik, "Ini semua anak-anak..."
"Iya, mereka anak-anak yang ditelantarkan orangtuanya." Balas Leo dengan suara kecilnya.
"Kalian tidak merindukan paman?" Ucap Leo, namun tidak ada sahutan dari mereka. ketika Leo bersuara lagi barulah mereka bersuara, "Paman membawakan kalian mainan yang banyak."
"Terimakasih paman."
Aiko membantu Leo membagikan makanan dan mainan yang entah kapan berada disana. Leo memang sudah merencanakan ini rupanya.
Melihat Leo yang tersenyum ketika membagikan mainan dan hadiah kepada anak-anak disini, membuat hati Aiko sedikit menghangat dan dirinya sangat aneh akan hal itu.
"Apa yang sedang kamu pikirkan sekarang?" Aiko tersentak saat Leo tiba-tiba berdiri disampingnya.
"Bapak kenapa suka ngagetin saya sih? Jantung saya cuma satu lho pak, bukan sembilan." Leo tersenyum satu sudut.
"Anak-anak itu terlihat bahagia." Gumam atasannya itu. Aiko melirik sekilas, kemudian kembali berbalik. Salah satu hal yang harus Aiko hindari, adalah ketika jantungnya tiba-tiba menggila melihat senyuman atasannya itu.
Salah satu bocah perempuan mendekat kearah Aiko, "Kakak, mau ikut main sama kami?" Tanya bocah itu. Aiko mengangguk dan tersenyum, "Baik, ayo kita main." Leo berbalik kearah Aiko, dia cukup terkejut mendengar ucapan asistennya itu, bukankah dia harus segera kembali ke kantor saat ini?
Namun melihat kebahagiaan yang berada didepan, membuat Leo tidak mungkin merusak karena menarik Aiko untuk pergi.
"Eh mau kemana?" Ucapan Aiko membuat Leo terpancing dan melihat bocah perempuan berlari kearahnya, Aiko mengejar ketika bocah itu berusaha menjadikan Leo sebagai tameng. Hingga tanpa sadar, Leo ikut bermain bersama dengan mereka.
###
Aiko melirik Leo yang tiba-tiba saja tumbang dan bersandar pada bahu, Aiko. "Astaga, kenapa pake jatuh kesini segala sih?" Gumam Aiko dengan nada kesalnya.
"Kita langsung ke rumah tuan muda, atau kita kembali ke kantor?" Tanya supir yang kini melirik Aiko dari kaca mobilnya.
Aiko terdiam, dia tampak bepikir. Kalau dia ke kantor, bukankah dia akan kembali bekerja, tubuhnya cukup lelah setelah bermain tadi.
"Ke rumah tuan muda." Jawab Aiko dengan mantap.
Tanpa sadar Aiko juga tertidur dan bersandar pada kepala Leo, yang ikut bersandar di bahunya.
"Nona." Panggilan supir tersebut membuatnya bangun dan menoleh ke sekitar.
"Sudah sampai?" Tanya Aiko. Pria tua baya itu mengangguk, "Saya antarkan nona pulang saja, bagaimana?" Tawar pak supir.
"Nanti saya cari taxi aja pak, bapak pulang aja istirahat. Lagian bapak kan harus banyak istirahat." Seakan mengerti ucapan Aiko, pria tua baya itu mengangguk, "Terimakasih, nona."
Aiko tidak tahu kalau ternyata pak supir langsung meninggalkannya saat itu juga, padahal Aiko dan Leo belum keluar dari mobil.
Karena pria tua itu sudah pergi, sekarang hanya ada Aiko yang harus membangunkan Leo.
"Pak, Kita udah nyampe." Ucapnya, seraya menepuk-nepuk dengan pelan, pipi tak bergizi, milik bossnya itu.
Sadar tak ada jawaban atau gerakan, Aiko jadi panik sendiri. "Pak bangun pak! Aduh jangan pingsan dong!" Aiko bahkan menggeser posisinya agar Leo terjatuh dan sadar, namun pria itu sama sekali tidak menunjukan
Aiko merogoh saku blazer hitamnya lalu menelpon ambulance. Ia melirik dengan cemas kearah Leo, sembari menanti ambulance yang ditunggu datang.
###
Ada apa dengan leo?
Btw komen dong sis, biar ada semangt buat ngelanjutin hikd...
Ig : @im_yourput