Aiko melangkah malas masuk kedalam rumah. Masih terbayang, bagaimana raut wajah terkejut dari atasannya itu, ketika Aiko nekat mengecup bibirnya.
Astaga, apa yang akan Aiko katakan jika besok mereka kembali bertemu di kantor. Aiko tidak bisa membayangkan hal itu memang terjadi.
Mama menatap ekspresi suram yang ditampilkan Aiko. Rasa penasaran dan takut kalau Aiko dipecat, membuat Mama membuka suara.
"Kamu dari mana aja, ko?" Tanya Mama.
Aiko menghela nafas lelah, lalu merebahkan tubuhnya diatas sofa. Dia masih terbayang adegan ciuman yang dimulai olehnya, daripada memikirkan tugas kantor, yang menumpuk.
"Dari kantor, ma." Jawab Aiko lesu.
Mama menyipit curiga, lalu segera menghampiri putri bungsunya itu. Berusaha berpikir dan mencari celah, semoga apa yang dia takutkan tidak terjadi. Baru beberapa minggu kerja jadi sekretaris masa sudah mau dipecat.
"Kamu kenapa, pulang-pulang muka lesu gitu?" Mama menggigit bawah bibirnya dengan takut, "kamu gak mungkin dipecat kan?"
Aiko mendengus kemudian bergerak gak karuan hanya untuk bangkit dari rebahannya yang indah, "Kayanya sih lagi bentar, ma." Lirihnya setelah itu pergi meninggalkan sang mama yang tidak dengan begitu jelas, mendengar ucapan Aiko.
"Apa yang anak itu katakan?" Pikirnya.
Keesokan paginya, Aiko sudah bangun dan dengan malas masuk kedalam kamar mandi untuk sikat gigi. Dia berjalan lunglai dan lemas, lihat! Dia bahkan sudah lebih mirip dengan zombie yang ada di film.
Suara helaan nafas terdengar, apalagi Aiko masih memikirkan kejadian yang membuatnya malu setengah mati. Kok bisa, Kenapa Aiko bisa segila itu?!
Tak!
Aiko meletakkan gelas berisi air kumurnya dengan tidak santai, lalu menatap cermin yang ada didepannya.
"Gue sejelek itu ya?" Ujar nya ada bayangan yang ada dicermin.
"Cermin-cermin siapa wanita yang paling cantik?" Aiko menyipit kearah cermin tersebut, "awas aja kalau gue denger nama Erika sialan itu yang kesebut."
Mungkin memang benar, Aiko sekarang sudah gila. Apalagi dia memakai pakaian yang sedikit lebih tertutup dan bahkan mengenakan masker.
"Kamu pake masker ya, ko?" Tanya Papa setelah melihat putri bungsunya dengan style yang tidak biasa. Aiko terkekeh kecil, "Ya memang begitu, karena ada perbaikan sedikit jadi harus pake masker." Jawabnya tanpa ekspresi, lalu duduk menghadap Erika yang menyipit tajam padanya.
"Lo gak selemah itu kan, buat sakit karena ngurus pekerjaan sekretaris. Kalau memang lo gak kuat mending resign, terus bilang ke gue biar gue yang gantiin."
Aiko udah siap sama umpatannya, tapi melihat kedua orangtua yang sedang memperhatikannya, membuat Aiko mengurungkan niatnya.
Erika kembali terheran dengan sikap adiknya itu. Selain tidak menjawab pertanyaanya, Aiko bahkan tidak mengimentari atau mengajak dirinya berdebat seperti biasa. Walau secara alamiah mereka memang bersaing untuk mengetahui siapa yang lebih unggul, Tapi Erika juga punya kekhawtiran terhadap adiknya itu.
"Tumben kalem, lagi sariawan lu?" Tanya Erika.
Papa berdehem, "Erika, jaga ucapan kamu. Kalian itu adek kakak udah kaya musuh aja. Mau bagaimanapun, kalian bakalan saling cari besoknya." Tegur papa.
Mendengar hal itu, Aiko melirik dengan sebelah alis terangkat lalu menghela nafas kasar, dia kembali memasang maskernya dan hendak bangkit.
"Mau kemana kamu?" Tanya Papanya, begitu Aiko bangkit dan menyambar kunci motor diatas nakas.
"Mau kerja dong pa, masa mau pergi ngamen."
"Aiko, jangan kurang ajar! Kebiasaan banget anak ini." Tukas mamanya, hal itu membuat Aiko tidak habis pikir dan tidak mengatakan apapun setelahnya.
Aiko mulai menstarter motornya dan pergi menjauh dari komplek rumahnya.
***
"Ko!"
Aiko mendadak kaku ketika mendengar suara pria menyapanya. Ketika berbalik sedikit, dia akhirnya bisa merilekskan diri. Ternyata yang memanggilnya bukan, Pak Leo. Melainkan Daniel, kakak sahabatnya.
"Sakit kamu?" Tanya Daniel, ketika menyadari Aiko yang kini menutup wajahnya kebawah dengan masker.
"Uhuk... Uhuk... I-iya nih kak, aku lagi gak enak badan." Aiko pikir, dia akan berpura-pura sakit ketika orang bertanya, kenapa dia memakai masker.
"Sakit apa? Astaga kalau sakit kamu izin aja. Daripada masuk terus sakitnya tambah parah, gimana?" Aiko mengernyit, untung saja wajahnya tidak terlalui nampak dengan jelas. Kenapa si Daniel perhatiannya sampai seheboh ini?
Daripada ketemu sama Pak Leo dijalan, mendingan dia langsung masuk lift dan kembali keruangan nya.
"Yaudah kak, aku permisi ya mau keruangan." Tukas Aiko, segera meninggalkan Daniel yang memberikannya sebuah senyuman tipis.
Aiko kembali keruangannya dan merebahkan diri di kursi. Tidak menyangka, ketika Aiko melihat dari luar, Pak Leo malah sudah ada didalam sana.
"Aduh, gue harus gimana? Kenapa sih tu orang cepet banget datengnya." Dengus Aiko sebal.
Mana setelah itu, intercom bunyi dan Aiko bisa mendengar dengan jelas, kalau sekarang Leo menyuruhnya untuk masuk dan mengambil berkas.
"Sial!" Dengus Aiko setelah mendapat panggilan tersebut.
Dengan langkah ragu, dia berhenti sejenak didepan pintu. Hendak mendorong, namun setelahnya mengurungkan niat lagi.
"Ih, gue harus apa?" Pikirnya.
"Masuk!" Suara Leo membuat Aiko mematung.
Aiko masuk, untung ada masker yang menutup sebagian wajahnya. Setidaknya, pipi merah Aiko tidak begitu terlihat.
Begitu melihat Aiko yang menggunakan masker, timbul kernyitan didahi pak bosnya itu. Aiko harus ber-akting supaya pak bosnya gak nanya yang aneh-aneh, apalagi masalah kemarin.
"Bawa dokumen ini cepat." Aiko yang daritadi udah was-was sambil nahan nafas, akhirnya bisa bersyukur dan tersenyum lega.
"Baik pak." Ujarnya yang berjalan mendekat kearah Leo.
Wajah pria itu tampak masih heran dengan, Aiko. Membuat wanita itu terlihat salah tingkah, dan andai Aiko tidak mengenakan maskernya. Kemungkinan, Leo akan menertawakan dirinya karena berhasil salting.
"Apa yang terjadi pada dirimu?" Tanya Pak bosnya itu dengan suara datar dan hanya melihat sekilas, lalu kembali sibuk setelahnya.
"Hahaha A-anu pak, saya lagi uhuk... Sakit." Jawab Aiko, wanita itu menggerutu dalam hati, karena sekarang dia jadi terlihat jelas kalau lagi salting.
"Iya, saya rasa kamu memang benar-benar sakit." Giliran Aiko mengernyit.
"Sakit jiwa tepatnya."
Aiko menatap tak suka kearah atasannya itu, setelah mengatakan hal yang menyinggung perasaannya. Bisa gak sih, tuh orang jangan bikin kesel sehari doang.
Aiko memilih untuk tak menanggapi dan mengambil setumpuk dokumen itu untuk dia bawa. Ketika Aiko hendak berbalik, suara Leo kembali terdengar.
"Saya rasa kamu butuh psikiater, karena kalau tidak. Hal itu malah merugikan diri kamu sendiri." Langkah Aiko mendadak terhenti.
Wanita itu berbalik dan menatap bingung kearah atasannya itu. Atasan menyebalkan yang pernah ia temui selama ini.
"Excuse me, maksud bapak apa ya?"
Leo tampak bungkam dan sok fokus kearah layar dekstop yang bisa Aiko tebak, tidak ada yang bisa dia lihat selain walpaper.
"Tidak ada, hanya kamu tidak bertanggung jawab dan pergi begitu saja, setelah kemarin berhasil mencium saya." Balasnya dengan raut wajah santai dan tenang.
Aiko mendadak gugup, namun ketika dirinya teringat dengan masalah kemarin. Bayangan Leo yang menyentuh bibirnya lebih dulu, membuat wanita itu mendengus sebal.
"Sebenarnya siapa yang lebih dulu mencium siapa, disini?"
Mata itu terkunci pada tatapan Aiko. Seakan mengikat Aiko untuk tetap diam di tempat dan tidak berpikir, untuk beranjak kemana-mana.
"Maksud kamu?"
"Bapak gak inget, bapak yang duluan nyosor kemarin?"
"Nyosor?" Pria itu mengernyit
"Bapak aneh deh, kemarin malah nempel-nempel ke saya, kok sekarang malah balik lagi bikin saya tengsin." Ujar Aiko yang udah kesel banget dan memutuskan pergi, walau Leo memanggilnya untuk kembali.
###
Kangen ya wkwkw berapa hari aku gak apdet?
Maaf yak wkwk
Instagram : @im_yourput