Bibir mereka bertemu dan sekarang, Aiko merasakan kalau bibir Pak Leo dengan kurang ajar bergerak. Aiko refleks mendorong tubuh pria dewasa nan cungkring itu, lalu melengos pergi keluar ruangan.
Aiko mau nangis dulu di kamar mandi, gak tau apa! Ini pertama kalinya dia ngerasain hal yang biasa ada di drama korea, yang sering Aiko tonton.
"Ceo gila!" Ujarnya setelah melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Aiko meraba bibirnya, padahal dia baru saja memoles liptint tipis untuk menghilangkan bau sushi di mulutnya. Sekarang, sudah terganti dengan bau bibir, Pak Leo.
Aiko bergegas mengambil liptint yang ada disaku blazernya. Lalu memoleskannya lagi, Astaga kenapa Ceo gila itu selalu tak terduga.
Pantas saja banyak yang tidak betah bekerja dengan pria gila itu! Aiko menggurutu sembari memoles bibirnya. Tidak peduli karyawati lain yang masuk, dan menganggapnya gila karena bicara sendiri.
Karena pada nyatanya, Aiko memang sedang bermonolog untuk meluapkan kekesalannya. Perlakuan itu sudah termasuk pelecehan kan? Maka Aiko akan bisa meminta tanggung jawab!
"Lihat aja! Aku gak akan biarin hal ini terjadi lagi." Gerutunya kembali, lalu merapikan sedikit anak rambutnya, kemudian melangkah keluar dari toilet.
Sementara itu, Leo merasa kepalanya kembali sakit. Dia tidak siap berpisah dengan kehidupan yang sangat sebentar ini. Dia harus mencari cara agar bisa berada ditubuh ini lagi.
Blur...
Semuanya mendadak gelap dan Leo terjatuh dan berpegangan pada meja. Ketika Aiko masuk, dia sungguh terkejut dan karena panik, langsung menelpon ambulance.
Satu kantor heboh karena suara sirine ambulance yang berada di depan kantor mereka. Awalnya semua bingung, kenapa ada ambulan tiba-tiba datang ke kantor. Lalu melihat Aiko dan beberapa pegawa medis membawa sosok pria yang sangat mereka kenal. Mereka syoknya bukan main.
"Anjir! Ini Pak Leo meninggal?" Tanya salah satu karyawan laki-laki, yang langsung mendapat tatapan horor dari yang lain.
"Gila kau! Pak Leo masih hidup, cuma emang dia diemukan tak sadarkan diri, sama si anak baru." Balas si butet yang sedaritadi mengamati kawan kantornya.
Aiko menemani dengan perasaan khawatir dan cemas. Dia gak tau, kalau bosnya itu baru ditinggal marah-marah ke toilet, udah tumbang aja. Tau gitu, Aiko gak usah pergi kesana.
Mereka sampai cukup cepat di rumah sakit. Letak rumah sakit tersebut lumayan dekat, Aiko harus mengurus administrasi dulu baru bisa melihat kondisi pak bosnya itu.
"Huh, nyusahin aja sih. Harusnya kan yang bayar aku itu, dia. Kenapa sekarang aku harus bayarin rumah sakit untuk dia." Gerutu Aiko dengan suara sepelan mungkin. Namun, suster yang ada didepannya ini tampaknya mendengar gerutuan, Aiko.
Aiko buru-buru melengos pergi, setelah membayar administrasi rumah sakit dari, Pak Leo. Setelah ini tolong, ingatkan Aiko untuk menagih hutang biaya rumah sakit yang mahal ini.
"Bagaiman dok?" Tanya Aiko, begitu masuk kedalam ruang UGD. Dimana Leo dirawat untuk sementara disana.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, dia hanya terlalu syok akan sesuatu."
Mendadak, pipi Aiko bersemu malu. Dia tidak menyangka kalau reaksi akan kecupan singkat antara mereka, malah membuat Leo, pingsan.
Anggap saja sekarang, Aiko sedang kepedean karena merasa, Pak Leo juga menjadikannya orang pertama di cium. Aiko jadi tidak sabar mengeluarkan ejekannya untuk sang bos.
Biarkanlah Aiko kurang ajar, karena Leo sudah lebih dulu bertindak kurang ajar padanya. Selama Aiko merasa tidak bersalah, maka dia akan melakukannya.
***
Leo terbangun dari mimpi indahnya. Menyadari aroma khas dari rumah sakit, menyapa indra penciumannya. Leo bahkan terkejut, kenapa dia nida berada disini. Lebih tepatnya, kenapa dia berada di rumah sakit, dan kenapa Aiko berada di sisinya?
Wanita itu bahkan duduk dengan tidak santai dengan mata terpejam, dan mengadahkan kepalanya. Leo terheran, "Sejak kapan dia disini?" Gumaman kecil Leo, rupanya membangunkan, Aiko.
"Oh, pak! Udah sadar ternyata." Aiko segera bangkit, bahkan tanpa ilfeel dia merapikan tatanan rambutnya yang lumayan tidak rapi, di depan Pak Leo.
"Pak, Saya minta uang ganti rugi." Ujar Aiko, menyodorkan tangan seraya meminta uang ganti rugi membayar biaya rumah sakit.
Leo terdiam, dia masih mencerna apa maksud, Aiko. Kenapa wanita itu meminta uang ganti rugi, kepadanya? Leo masih tidak mengerti.
"Kenapa bengong, pak?" Tanya Aiko.
"Jangan panggil saya bapak." Ujar Leo, yang membuat Aiko mengernyit pelan.
"Lalu?"
"Panggil saya, Leo."
Aiko menggeleng kecil, "Gak bisa gitu, pak." Ujar Aiko, "bapak lebih tua lho, dari saya."
"Yaudah, panggil saya mas!" Kesal Leo, karena suara Aiko yang besar dan membuat seisi ruangan menoleh kearahnya.
"Mas? Kita gak seakrab itu lho, ya."
Leo memutar bolamatanya jengah, Aiko memang perempuan keras yang tidak ingin dibantah. "Terserah kamu, sekarang katakan pada saya, kenapa saya bisa ada disini?" Tanya Leo, pada Aiko.
"Mas pingsan." Jawab Aiko, santai.
Hal itu malah membuat kerutan berupa kernyitan di dahi, Leo. "Kenapa, kan bapak sendiri yang nyuruh saya manggil, mas?" Aik berdecih.
"Baik, terserah kamu." Aiko memutar bolamatanya malas. "Kok terserah saya, kan yang nyuruh si bapak. Gimana sih?"
Leo menghela nafas, sudah cukup mendengar Aiko bicara sesering ini, maka sekarang Leo harus membuat Aiko berhenti bicara.
"Katakan saja seperlunya, jangan terlalu banyak bicara." Aiko mau emosi aja mendengar lanjutan dari, ucapan si Bos.
"Bapak pingsan, terus saya bawa ke rumah sakit. Terus juga, saya bayarin biaya rumah sakitnya."
Leo mengangguk paham, "Nanti saya akan mentransfernya ke kamu." Aiko tersenyum, "bagus, sekalian bunganya, Pak." Leo menggeleng pelan.
Aiko bangkit, hendak berbalik ketika merasa urusannya disini sudah tidak ada lagi. Namun, dia merasa ada yang aneh dengan Pak Leo.
"Eh... Pak Leo yang asli udah balik rupanya. Berati yang kemarin itu siapa?" Aiko bertanya-tanya.
"Apa maksud kamu?" Leo memgernyit pelan. Aiko malah cengengesan, "Gak ada pak, saya cuma mau pamit pulang. Tapi melihat bapak yang sendiri disini, saya jadi gak tega."
Aiko kembalo ke tempatnya, lalu berdehem pelan, "Saya tunggu sampai infus bapak habis deh." Aiko tersenyum.
Leo agak aneh melihat sikap Aiko yang mendadak penuh aura positif. "Kamu begini, malah membuat saya semakin takut." Aiko tertawa renyah, "bapak ada-ada aja, niat saya kan baik."
Sebenarnya pikiran Aiko masih terngiang-ngiang sama ciuman singkat itu. Entah kenapa, Aiko mendadak ketagihan. Kaya ada manis-manisnya gitu.
"Kamu mendadak melamun, membuat saya semakin merasa aneh." Ucapan Pak Leo, membuat Aiko menggeleng pelan.
"Astaga, kenapa gue bisa mikirin hal itu?" Gumamnya, yang terdengar ditelinga Leo.
"Apa yang kamu katakan?" Tanya Leo.
Aiko menatap Leo, arah matanya fokus menatap bibir merah tanpa pelembab milik, Leo. Entah setan apa yanh merasukinya, Aiko dengan cepat mendekatkan bibirnya kearah bibir Leo.
Hal itu membuat Leo mendadak kaku dan syok di tempat. Sepertinya Aiko sedang gila saat ini.
###
Hikd...
Maaf aku gak update kemarin
Wkwkwk aku liburan. Ini aja aku mau jalan-jalan lagi..
Kalian kalau weekend kemana aja nih?
Wkwkwk jangan lupa komen