Aiko memilih untuk tidak mengambil pusing ucapan Leo, yang memang tidak pernah benar menurutnya. Sekarang, pria itu malah menyuruhnya untuk mengerjakan laporan didalam ruangan. Hal itu membuat Aiko sedikit curiga, walau sebenarnya tidak mau terlalu peduli.
Dinginnya ruangan tidak pantang membuat Aiko, sedikit melirik kearah bossnya itu. Kenapa ya, Pak Leo tampak begitu berbeda.
Bukan dari sikapnya saja, namun penampilannya juga berbeda. Tampak lebih berwibawa dan tentunya lebih tampan.
Aiko segera menggeleng, tidak percaya dengan apa yang sedang dia pikirkan. Bagaimana bisa dia memikirkan pria mengesalkan itu? Cih, Aiko tidak boleh membiarkan pria arogan dan cerewet menguasai dirinya.
"Siapa yang sedang kamu tatap?" Pertanyaan yang membawa aura dingin itu, membuat Aiko bergidik ngeri.
"Tidak ada." Jawab Aiko santai, lalu kembali fokus pada laporan, yang tertera di atas meja. Melihat segini banyaknya laporan, Aiko sendiri sudah hendak menyerah. Namun, dia tidak akan membiarkan malas menghampirinya, demi Mamanya yang suka memamerkan pekerjannya didepan para tetangga.
Aiko bahkan sudah tidak ingat, dokumen ke berapa yang sudah dia proses sampai waktu ini, Rasa lelah menyerang dirinya. Tanpa sadar, Aiko menelungkupkan kepalanya di atas meja.
Membiarkan gumulan awan mimpi mulai memasuki dirinya. Tidak peduli pak Leo bisa saja memecatnya, hari ini. Rasa lelah sudah mengundang kantuk, lebih baik diterima kan?
Aiko tidak tahu saja kalau Pak Leo sudah mengamati segala gerak-geriknya. Kedua sudut bibir pria itu tertarik, membentuk sebuah senyuman tipis.
"Lihat, bagaimana gadis ini berhasil memanggil sisi gelapmu. Kali ini, aku tidak akan pernah membiarkan gadis ini kesepian." Jari jemari jenjang itu mulai menyentuh lengan putih, Aiko.
"Shhh--- Bagaimana gadis ini bisa memanggilku." Leo merasa seperti tersengat listrik ketika dia memegang lengan, Aiko.
Ketika Leo menatap lebih intens, gairahnya sedikit tersulut. Mau tidak mau Leo harus memalingkan wajahnya. Dia tidak akan membiarkan, Aiko tersentuh sebelum wanita itu yang memintanya.
"Kita lihat saja, apa aku bisa menjeratnya ke dalam pesonaku." Senyum miring itu terlihat kejam, bahkan ketika Leo mulai berpaling dan segera kembali ke tempatnya.
Menanti Aiko sadar, dengan mengurus banyak tumpukan dokumen, yang sialnya harus dia selesaikan hari ini.
Leo memang sudah menjadi dirinya yang lain. Sisi kelam, yang susah dipaksa muncul, namun tanpa sadar berhasil menguasai tubuh, Leo.
Cukup lama gadis itu tertidur, setelah bangun pun, dia tidak melihat keberadaan pria yang sempat menatap kearahnya, tadi.
"Pak Leo kemana?"
Aiko melangkah untuk menyusuri ruangan, berharap menemukan Pak Leo yang mungkin saja sedang sengaja bersembunyi darinya.
"Ini udah jam berapa sih?" Aiko melirik arloji berwarna silver miliknya. Aiko cukup terkejut, ternyata dia tertidur selama 2 jam dan sekarang sudah masuk jam makan siang.
"Astaga! Mampus deh gue, bakalan kena omel Pak Leo dah alamatnya nih." Aiko menghela nafas, lalu membawa setumpuk berkas dan dokumen itu kedalam kubikelnya.
Lipstiknya mungkin sudah hilang karena tidak terasa lagi di bibir, Aiko. Sementara untuk bedaknya, Aiko bisa merasakan kalau, bedaknya telah hilang karena keringat.
Saat sedang asik merapikan diri, seseorang datang ke meja yang ada di dalam kubikelnya. Sosok pria dengan jaket hijau khas, abang ojol.
"Permisi mbak."
Aiko menoleh, "Ini pesanan atas nama Aiko Dee Anastasya, kalau boleh tau orang itu yang mna ya mbak?" Aiko mengernyit.
"Pesanannya apa?" Tanya Aiko.
"Paket A, sushitei."
Aiko melongo tak percaya, "Maaf pak, kayanya salah orang deh, saya mana sanggup beli makanan semahal itu."
Bapak-bapak ojol itu malah mengernyit, "Pesanannya sudah dibayar, jadi tenang aja mbak."
Aiko tampak menimbang, namun akhirnya dia mengambil pesanan tersebut. Kebetulan dia juga sedang sangat lapar.
***
"Tumbenan kamu minum kopi, gak mesen makan juga?" Tanya Kerin, wanita dengan rambut pendek, bahkan saking pendeknya sudah sangat mirip dengan potongan rambut laki-laki. Ditambah, stylenya cukup casual walaupun berada di kamtor.
"Iya nih, habis mesen sushitei." Jawab Aiko santai, memamerkan sederet gigi putihnya, yang lebih mirip dengan cengiran.
"Lah, udah gajian atau bagaimana?"
Aiko mengendikan bahunya, "Aku gak tau, tiba-tiba dapet sushitei. Mungkin langganan dari orang tuaku, biasanya mereka sering order makanan disana."
Aiko memang tetap turun ke kantin kantor. Bukan karena dia mau makan lagi, tapi karena tenggorokannya butuh air, hanya saja Aiko khilap membeli kopi bukannya air mineral.
Pak Bos
Aiko, kembali ke ruangan saya
Sebuah pesan singkat yang membuat gadis itu mengernyit heran. "Kenapa ko?" Tanya Kerin, melihat raut wajah gadis itu berubah.
"Ini, Pak bos nyuruh dateng ke ruangannya. Padahal ini masih jam istirahat." Dengusnya.
Namun setelah itu, Aiko memasukkan ponselnya, kedalam kantong blazer cream yang ia kenakan sekarang. Tidak mau peduli dengan pesan sang atasan. Toh juga, sekarang masih masuk jam istirahat, masa Pak Leo gak tahu aturan sampai harus menyuruh karyawannya korupsi waktu.
"Kamu gak mau ke ruangan, pak bos?" Tanya Mbak Kerin, melihat Aiko yang tampak tenang kembali, menyeruput secangkir coffelattenya.
"Nggak, aku sibuk."
"Nanti kamu kena omel, terus nangis lagi."
Aiko mendelik tajam ke arah, Kerin. "Maksud mbak ngomong gitu ke aku, itu apa?" Tanya Aiko.
"Iya, kan kamu tiap kena omel pak Bos, langsung misuh padahal kamu sendiri yang cari masalah."
Aiko menuli, lalu mengendikan bahunya acuh. Kalau menurut dia hal itu gak salah, maka Aiko akan tetap pada pendiriannya, jadi jangan salahkan Aiko.
"Terserah kamu ajalah, aku sudah memperingati. Nanti kalau ada apa-apa, kamu kabari aku aja." Aiko mengangguk paham.
Tak berselang beberapa lama, Daniel datang menghampiri kedua wanita itu. Mereka sebenarnya gak ada yang merasa aneh sama kedatangan Daniel, hanya saja pria itu tampak ngos-ngosan karena berlari.
"Aiko, Hhhh---Pak Boss nyariin kamu!" Tukas Daniel.
"Santai niel, santai, coba kamu tarik nafas dulu supaya gak lupa ada nafas didalam diri kamu." Mbak Kerin malah kaget dan langsung berdiri.
"Aikoh---cepetan ke ruangan pak bos. Dia kelihatan galak banget pas nyariin kamu!" Aiko tampak kesal, "Iya..." Ujarnya lalu bangkit.
Sepeninggalnya Aiko, Kerin bertanya pada Daniel, "Nyariin Aiko sampai ngos-ngosan gitu?" Kerin sedikit heran.
"Mbak gak tau aja, Pak Boss waktu nyariin Aiko, udah kaya malaikat mut yang siap jemput pasiennya." Kerin tertawa kecil, "Kurasa udah gila otak kau itu?"
Daniel melengos, "Dih, yaudah kalau gak percaya."
Aiko segera masuk ke dalam ruangan, yang memang terlihat sangat horor itu sekarang. Dengan memantapkan hati, yakin kalau semua pasti baik-baik saja, Aiko melangkah masuk ke dalam sana.
"Ada apa pak?"
"Kenapa, kamu tidak segera datang saat saya memberikan pesan kepadamu?" Suara yang terdengar serius dan dingin disaat yang bersamaan itu, mampu membuat bulu kuduk Aiko berdiri.
"M-maaf pak, itu kan masih jam istirahat. Jadi saya gak boleh korupsi waktu. Karena sejujurnya, saya membutuhkan istirahat."
Pak Leo menarik satu sudut bibirnya, "Saya kan sudah memberikan kamu waktu untuk istirahat." Aiko yang menunduk, tak sadar kalau Pak Leo berdiri mendekat kearahnya.
Ketika pria itu sudah berada tepat dihadapan, Aiko, barulah Aiko sadar dan terkejut bukan main.
Pak Leo mendekatkan bibirnya kearah telinga kanan, Aiko. "Saya sudah memberikanmu waktu untuk istirahat lebih dulu, bukan?" Lalu pak Leo diam sejenak, membiarkan jantung Aiko berdebar kencang, "maka jangan salah kan saya, karena meminta bayaran. Akibat pelanggaran kamu."
Aiko terkejut, lalu menatap Pak Leo yang sudah kembali tegap di hadapannya. Saat kedua mata mereka bertemu, entah kenapa Aiko baru tersadar kalau bibir mereka bertemu satu sama lain.
###
Instagram : @im_yourput