Dania tidak berhenti menertawakan cerita yang baru saja, Aiko berikan. Dania secara khusus datang ke rumah gadis itu, bukan tanpa sebab. Karena Aiko sendirilah yang mengundangnya kemari.
Bahkan, Dania baru saja selesai mandi baru mendapat pesan dari Aiko. Kalau bukan karena membahas masalah pekerjaan mereka yang begitu sulit, Dania mungkin masih memilih untuk merebahkan dirinya di atas bedcover lembut bergambar winni the pooh.
"Jadi katakan, apa aku salah karena melakukan hal itu untuk kebaikan boss ku?" Dania semakin terkikik mendengar pernyataan Aiko, yang menegaskan kalau dia memang tidak bersalah akan hal yang menimpa, pak boss tercintanya.
"Gila sih! Gue gak tau kalau lo bakalan senekat itu!' Dania bahkan sampai membawa bantal lembut Aiko untuk mengganjal perutnya, yang sakit karena terlalu banyak tertawa.
"Gue gak nekat, cuma terlalu baik sampai ngorbanin diri untuk boss sendiri." Ujar Aiko, mengendikan bahunya dengan ekspresi masam.
"Terus, apa kabar sama tititnya boss lo?" Aiko terkikik geli, "kalau soal itu, gue gak tau. Mungkin aja dia nyolo di kamar mandi, atau gimana. Toh juga gue gak peduli, karena akan ada bahan gibahan gue sama mbak Kerin.'" mendengar jawaban acuh Aiko, Dania menggeleng pelan.
Walau bagaimanapun, tindakan yang dilakukan oleh sahabatnya ini. Adalah sebuah tindakan salah yang keluar dari jalur etika. Dari dulu, Aiko emang gak ada adab. Tapi bukan karena dia emang b***t, melainkan karena dia terlalu baik.
Dania jadi inget, mereka berdua waktu itu masih kelas 3 Sekolah dasar. Mereka berdua punya teman bernama Ella. Dia memang hidup berkekurangan, beda sama mereka yang lumayan.
Hanya saja Ella malah memanfaatkan kepolosan dan kebaikan, Aiko. Sampai sahabatnya itu pernah disuruh mencuri uang mamanya sendiri. Bahkan karena hal itu, Mamanya Aiko marah besar dan mulai membandingkannya dengan sang kakak.
Ya memang itu salah satu penyebab, mamanya bisa membandingkannya dengan sang kakak. Kalau diingat-ingat, sampai sekarang pun sahabatnya itu tetap saja usil dan nekat.
"Jangn begitu lagi, lo gak inget apa kejadian dulu?" Peringat Dania. Aiko cemberut, lalu mengambil ponselnyaa yang tergeletak diatas nakas.
"Sebenarnya gue gak enak sama pak bos, tapi gue masih punya akal sehat gak bantuin pak boss turn off. Gila aja, gue masih suci gini mau disentuh gara-gara keusilan gue sendiri." Aiko bergidik ngeri.
Dia saja masih sangat ingat bagaimana benda tumpul itu berdiri, dibalik celana bahan mahal yang dikenakan oleh pak boss.
"Lo gimana sih? Yang bikin dia begitu kan lo sendiri, emang s***p nih anak." Aiko cemberut.
"Padahal kalau dipikir-pikir lagi, Pak Leo lumayan ganteng loh." Ujar Dania. Kebetulan dia sudah sempat searching, boss perusaahan foodie tersebut. Walhasil, wajah pak Leo memang pada dasarnya sudah tampan, walau agak ceking.
Mendengar hal itu, Aiko malah bergidik ngeri. Dia merasa Pak Leo lebih mirip sama tengkorak hidup, daripada sebuah makhluk tampan titisan dewa yunani.
"Padahal dia itu lahir di china, tapi gak ada sipit-sipitnys gue lihat, matanya mah belo."
"Dih, ngapa dah lu jadi bahas dia. Awas telinganya gatel gara-gara kita gibahin." Dania terkekeh geli.
"Masih mending kalau telinga gatel, kalau burung berdiri?" Sindir Dania dengan sengaja, membuat Aiko menyipit tajam kearahnya.
"Suka ya lo? Ya udah besok kalau ketemu di kantor gue salamin." Jelas Aiko, hal itu membuat Dania yang awalnya bahagia karena sempat ketawa, jadi batal.
"Awas, nanti kena karma lo. Malahan lo sendiri yang suka sama dia!" Akko bergidik ngeri mendengar ucapan, Dania. Aiko rasa hal itu tidak mungkin terjadi, karena Aiko sudah keburu mencoret nama Leo dari daftar incarannya.
###
Aiko datang agak siangan ke kantor, dia juga sudah mengabari pak boss. Walau hanya dibaca saja, Aiko tetap melaksanakan izinnya untuk masuk agak siangan. Apalagi, perut Aiko yang memang mulas dari tadi pagi, tidak bisa diajak kompromi.
Begitu Aiko datang ke kantor dengan bantuan abang ojol. Semua orang sudah sangat sibuk bekerja. Tidak seperti biasanya, bahkan ketika Aiko melirik kearah meja Mbak Kerin, wanita itu sudah sangat sibuk menatap layar laptop.
Karena merasa tidak ada yang aneh, Aiko dengan segera duduk tenang, sembari melihat beberapa daftar yang harus dia kerjakan. Dia sebenarnya ingin bertemu dengan Pak Leo dan memyampaikan permintaan maafnya.
Aiko sadar diri, kalau apa yang ia lakukan kemarin sudah diluar batas. Walaupun, Tetap saja bagi dia Pak Leo adalah dalang dibalik ini semua.
Aiko begitu sibuk menyusun laporan yang para karyawan titipkan. Aiko akan membawakannya ke dalam dan membiarkan Pak Leo memeriksanya, satu-persatu.
Aiko tidak menyadari kalau suara langkah sepatu pantopel semakin mendekat kearahnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini?"
Aiko refleks mendongak, menatap siapa yang sekarang berdiri dihadapannya. Nampaknya, Aiko terkejut bukan main. Pasalnya, Pak Leo tidak pernah berusaha membuat suaranya menjadi agak berat bukan?
"Bekerja." Jawab Aiko dengan tenangnya.
Aiko kira, Pak Leo akan pergi begitu saja. Tak taunya, Pria dengan setelan maroon itu masih berdiri didepan kubikel khusus miliknya. Seingat Aiko, Pak Leo juga tidak pernah memakai gel rambut seperti yang dipakainya, sekarang.
"Bukankah, kamu itu seorang asisten?"
"Maka berdirilah dan ikut aku masuk kedalam ruanganku." Karena Aiko tidak menaruh curiga, Aiko menurut. Toh juga enakan diruangan pak bos. Mengingat, ruangan itu penuh dengan yang Aiko inginkan. Bahkan bahasanya begitu baku dan formal.
Pak Leo bukannya tidak terlalu fasih bahasa indonesia, kan? Tapi sepertinya, Aiko tidak yakin dengan pikirannya sendiri.
Aiko duduk berhadapan langsung dengan meja. Dia harus segera memeriksa dengan detail, laporan yang akan dia teruskan kepada Pak Leo.
Semakin lama Aiko serius, dia malah semakin merass kalau Pak Leo sedang memperhatikannya dari kursi kebanggannya itu. Aiko mau menoleh, tidak berani. Takut saja, kalau Pak Leo memang benar memperhatikan setiap gerak-geriknya.
"Pak, ini dokumen yang bisa langsung bapak tangani." Ujar Aiko, menyerahkan map cokelat itu kepada, Leo.
Bukannya menerima, Leo malah semakin menatap intens kearah Aiko. Wanita itu terlihat penasaran, alih-alih tidak nyaman dengan kelakuan bossnya itu.
Tidak biasanya seorang Leo Kenzo Zhao, mau memperhatikan asisten kesayangannya dengan sangat intens. Kesayangan dalam tanda kutip, dimana Leo pasti selalu marah setiap Aiko salah melangkah.
"Pak, Bapak suka ya sama saya?" Tanya Aiko dengan raut wajah santainya.
Pak Leo menarik sebuah senyuman tipis, yang bahkan Aiko sendiri tidak akan sadar hal itu.
"Apa terlalu jelas?"
Aiko terdiam, mencerna maksud dari ucapan bosnya itu. Tidak biasanya, Leo mau membalas gombalan receh tidak berfaedahnya.
"Pak leo sakit ya?"
"Tidak."
"Mohon maaf aja nih pak, masa gara-gara saya bikin turn on jadi makin aneh gini?"
Pak Leo melolot tajam dengan tatapan yang cukup tajam. Aiko bahkan sampai merinding melihatnya. Padahal biasanya, Pak Leo pasti misuh bukannya melotot.
Bahkan ucapan setelah melotot, lebih membuat Aiko menganga lebar karena terkejut.
"Justru saya berterimakasih, karena kamu sudah membantu saya."
###
komentarnya yuk guys wkwk biar lapak ramee