5. Adiknya bangun

1264 Words
Tidak terasa sudah satu minggu lamanya, Aiko bekerja sebagai asisten yang merangkap b***k. Pekerjaannya kalau gak ganti galon, ya pasti fotocopy banyak dokumen. Terkadang, Aiko berpikir dia kayanya gak cocok kerja disini. Selain karena pekerjaannya itu-itu mulu, Aiko juga harus memutar otak ketika Pak Leo tiba-tiba melemparkan pertanyaan gila padanya. "Menurutmu, Lebih dulu keluar ayam atau telur?" Aiko menghela nafas, dia tidak mau menaruh dengki terlalu lama. Bisa-bisa dia kualat sama pak Leo. Untung dia cuma beda beberapa tahun, setidaknya Aiko bisa mengumpat dibelakang, Pak Leo. Pertanyaan unfaedah itu diberikan Pak Leo, dan sampai sekarang Aiko memilih untuk diam dan tidak menjawab. Alis pria itu berkerut, menandakan dia heran kenapa Aiko belum buka suara sampai sekarang. "Kenapa diam saja?" Tanya Pak Leo dengan nada suara datar. Aiko masih diam, dia melirik sekilas kearah Pak Leo, tanpa mau menjawab pertanyaannya. Tidak ada gunanya menjawab pertanyaan unfaedah yang diberikan oleh, Pak Leo. "Aiko, mengapa kamu diam saja?" Aiko memilih untuk melengos, anggap saja Aiko adalah bawahan kurang ajar. Dia lebih memilih diberikan cap tersebut daripada harus balas menjawab ucapan gila atasannya. "Aiko!" Panggil Pak Leo, begitu Aiko jalan menjauh darinya. "Aiko kalau kamu melangkah lagi, gaji kamu saya potong!" Dengan segera Aiko mematung sebelum benar-benar memutar knop pintu ruangan. Kalau tidak, mungkin tidak akan bisa membayar banyaknya skincare mahal yang sudah dia pesan di aplikasi online. Aiko mendesis, lalu berbalik. Pak Leo sepertinya tau apa yang menjadi kelemahannya. Padahal mereka bekerjasama baru seminggu. Hal itu membuat Aiko harua ekstra menambah tingkat kesabarannya. "Pak kalau ngancam gak usah bawa-bawa gaji dong." Ujar Aiko dengan tatapan sinisnya. Pak Leo malah terkekeh, "Terserah saya dong, mau ngancam kamu pake apa aja. Saya kan masih atasan kamu!" Aiko dengan kesal mendekat. "Jadi, katakan pada saya menurut kamu. Lebih dulu telur atau ayam?" Aiko tampak berpikir, "Menurut saya sih, Telur." "Salah!" Aiko jengah sendiri, "Saya salah pak, karena tidak tau jawaban yang benar." Aiko memberikan senyumnya pada si pria aneh. "Ck, Kamu terlalu bodoh! Karena jawabannya memang belum bisa ditemukan sampai sekarang." 1 2 3 Aiko menarik kedua sudut bibirnya, lalu setelah itu berbalik. "Maaf, saya permisi ke toilet ya, pak." Ujar Aiko sopan sebelum benar-benar pergi ke luar. Aiko dengan segera masuk kedalam toilet dan mengunci pintunya erat. Tak peduli suara gebrakan diluar sana membuat banyak orang terkejut. "CEO ANJIM!" Setelah puas menumpahkan uneg-uneg dan kekesalannya. Aiko memilih untuk membersihkam wajahnya dari make up seperti bedak dan eyeshadow. Yang dia gunakan hanya lipstip mate berwarna sedikit peach. Biarkan orang berkata apa tentangnya, yang jelas suasana hati Aiko sedang tidak baik saat ini. Walaupun jam makan siang telah tiba. Dia masih merasa kesal dengan wajah memerah. Ini bukan pertama kalinya, Aiko mendengar pertanyaan gila bin gak jelas itu. "Ayoloh, kenapa muka kamu ditekuk begitu?" Aiko menoleh ketika pria dengan proporsi tubub ideal, dengan rambut yang sengaja diwarnai pirang. Aiko cemberut, lalu menghela nafas lelah dan hanya memandang makanan yang baru saja dia ambil dari kantin, tidak berselera sama sekali. "Ada apa?" Wanita yang sudah lumayan dekat dengan, Aiko. Duduk tepat disebelah Aiko. "Ceritakan, Apa masalahmu Aiko?" Tanya mbak Kerin, yang datang dan langsung memberikan pertanyaan pada Aiko. "Biasalah, atasan kita yang gak waras itu berulah lagi." "Hah?" Daniel mengernyit, "maksud kamu?" Tambahnya yang hampir tersedak kalau saja makanan itu berhasil dia suapkan. "Ya dia nanyain aku, Mana duluan keluar, Ayam atau telur?" Kerin bahkan sudah tersedak duluan mendengar pertanyaan Aiko. "Uhuk... uhuk..." "Nah, mbak aja udah kesedak denger pertanyaan gila pak boss. Apalagi aku yang mendengar lebih dulu." "Kamu yang sabar ya, kalau perlu kamu tes balik dia biar ngerasain, apa yang kamu rasain." Ucapan Kerin rupanya menarik perhatian, Aiko. "Bagaimana maksudnya mbak?" Sebelum mengatakannya, Kerin mendekat pada Aiko, lalu berbisik pelan. "Kamu tanyakan saja sesuatu yang bisa membongkar rahasia dia." "Contohnya?" "Tes aja dia! Beneran gay apa nggak?" "Uhuk... uhuk... " giliran Daniel yang tersedak karena ucapan nyeleneh, Kerin. *** Aiko tampak memikirkan lagi usul, Kerin. Sepetinya dia bisa melakukan hal itu untuk mengecek kondisi kesehatan seksual, Pak Leo. Sekaligus membuat Pak Leo jengkel disaat yang bersamaan. Bukankah itu termasuk sekali jalan dua laba? Setelah makan siang, Aiko sudah berdiri stay di tempatnya. Menanti kedatangan Pak Leo, yang entah makan siang dimana hingga baru datang sekarang. Ceklek! Aiko memasang senyum pepsodentnya, menyambut kembalinya Pak Leo. Melihat sikap aneh, Aiko. Leo tampak mengernyit dan memicingkan matanya. "Setan apa yang sudah merasukimu?" Tanya Pak Leo, dengan suara sedikit cemprengnya. Maklum, Aiko tidak pernah mendengar suara atasannya itu benar-benar berat seperti bariton. Aiko terkekeh pelan, "Bapak ada-ada saja, kenapa Pak Leo hanya berdiri di sana. Silahkan duduk di kursi kebanggaan bapak." Leo tampak biasa saja dan menuruti ucapan Aiko. Aiko masih diam di tempat, belum ada niatam untuk pindah dari tempatnya. Pak Leo mendesis, "Sebenarnya apa yang kamu rencanakan pada saya?" Pertanyaan Pak Leo, sukses membuat wanita dengan tinggi tidak lebih dari 160 cm itu, menegang. Aiko belum saja mulai, tapi insting Pak Leo seakan tajam dan tidak membiarkannya untuk menjalankannya. Wanita itu memilih untuk tertawa kecil, "Maksud bapak apa?" Lalu Aiko menepuk tangan dengan pelan, "sayangnya saya tidak punya rencana apapun terhadap, Pak Leo." "Oh ya?" Walau ragu, Aiko tetap mengangguk. Sepertinya Pak Leo sudah tidak curiga lagi padanya. Aiko harus menunda tes itu untuk waktu ini, biarkan dia melakukannya ketika, Pak Leo sibuk. "Baiklah, kamu bisa kembali ke ruangan kamu." Aiko mengangguk pelan. Kebetulan ruangannya sebelahan dengan ruangan, Pak Leo. Jadi dia bisa melihat kalau ada laki-laki muda dengan pakaian santai seperti di pantai, masuk ke dalam ruangan, Pak Leo. Seketika, perasaan buruk dan desas-desus mengenai si pak boss yang gay, muncul begitu saja di benaknya. Aiko harus segera melakukan tes itu, semoga saja anggapannya benar. "AIKO!" Teriakan nyaring Pak Leo membuat Aiko mau tidak mau, bangkit dan masuk kedalam ruangan, Pak Leo. "Iya pak?" Ucap Aiko begitu masuk kedalam ruangan, "by the way, bapak punya imtercom yang bisa manggil saya tanpa harus teriak-teriak kaya di hutan." Sibuk mengomel, Aiko malah tidak menyadari kehadiran seseorang yang kini berdiri bersama dengan mereka. "Wah, berani sekali dia ngomel ke kamu." Aiko menatap sinis pria yang mengenakan pakaian nyentrik ini, dan sama anehnya dengan Pak Leo. "Diam kamu." Tukas Pak Leo tajam. "Aiko, tolong kamu pesankan makanan seafood untuk manusia itu." Tunjuk Pak Leo pada pria tersebut. Aiko jadi makin curiga, karena dia masih menunggu waktu yang tepat. Barulah Aiko, akan melancarkan aksinya. Setelah membawa apa yang menjadi pesanan bosnya, Aiko meletakkannya di atas meja. "Terimakasih, mbak." Ujar pria tersebut. "Baik banget deh kamu, Muach!" Aiko terkejut bukan main ketika pria tersebut memberikan kiss byenya pada, pak boss. Fix! Aiko harus segera meluruskan hal ini. Setelah si pria itu pergi, Pak Leo tampak menghela nafas lega, lalu melemparkan pandangannya pada Aiko yang masih berdiri disana. "Apa yang kamu lakukan?" Aiko mendekat kearah Pak Leo, lalu mendorong pria tersebut hingga bersandar pada kursi empuk itu. "A-apa yang kamu lakukan?" Aiko tampak berpikir dan berdiri tepat di depan, Pak Leo. Hal itu membuat Pak Leo bangkit, namun kembali terpental karena menabrak tubuh, Aiko. Duk! Aiko duduk tepat dipangkuan Pak Leo, dan sekarang wanita itu malah bergerak memutar, yang membuat Pak Leo ingin menjerit karena Aiko malah membuat "adiknya" bangun. Aiko terkejut bukan main saat merasakan sesuatu mengeras di bawah sana. "Ups!" Aiko segera bangkit dan menoleh ke belakang sejenak, melihat mata Pak Leo yang melotot tajam padanya. Lalu Aiko tertawa kecil, "Maaf pak, saya cuma nge-tes bapak doang. Ternyata masih suka sama rawa-rawa ya, pak." Ujarnya dengan kurang ajar. Begitu Aiko keluar, Pak Leo menggenggam erat kursi kebanggannya. "AIKOOO!" ### Asisten kurang ajar = Aiko
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD