Ada yang aneh menanti kedatangannya di rumah. Aiko sudah menduga hal ini akan terjadi, apalagi sang mama sudah menyebarkan berita, dimana dia diterima menjadi seorang sekretaris.
Tentu, hal itu bukanlah kabar baik bagi, Aiko. Mengetahui etikanya di kantor pada saat menekuni hari pertamanya bekerja cukup buruk. Aiko bahkan tidak yakin, haruskah dia bertahan dengan perangai boss yang begitu buruk.
Gila aja! Mana bisa Aiko tahan, apalagi si boss punya gelagat aneh. Aiko jadi takut sendiri kalau sesuatu yang buruk bisa terjadi padanya.
"Eh, anak perawan ting-ting mama akhirnya pulang juga."
Aiko sudah dapat menebak, apa yang akan terjadi setelahnya. Aiko menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman, walaupun dia suatu saat akan berhenti dengan cepat, tetap saja Aiko harus membuat mamanya bahagia bukan?
Nikmati saja dulu jamuan mama yang megah untuknya. Kapan lagi melihat kakaknya---yang memang sudah duduk menatap dirinya dengan tatapan iri, terlihat kalah dimatanya.
"Papa bangga sama kamu!" Tukas Papa yang ternyata sudah duduk lebih dulu, hanya saja Aiko kurang melihat dengan jelas, tadi.
Aiko tersenyum, "Tuh kan, apa mama bilang. Setiap orang punya rejekinya sendiri." Aiko ingin tertawa mendengar ucapan mamanya itu. Perasaan baru kemarin dia kena omel, gara-gara jadi parasit yang hidup menggelandang di rumah. Sekarang sudah berubah saja rupanya!
"Selamat ya, atas kemenangan kamu." Tukas Kakaknya---Erika yang daritadi diam dengan wajah kusut. Akhirnya, Aiko bisa bernafas lega dengan wajah penuh kemenangan.
"Oh iya, Keberuntungan pasti akan berpihak padaku." Ujar Aiko seraya mengatakannya dengan raut wajah dramatis, dan menepuk-nepuk d**a kanannya.
Setelah makan malam selesai, Mama memanggil Aiko untuk mendekat. Ketika perempuan itu mendekat, Mama mendekap tubuhnya dengan kuat.
"Maafkan mama, karena selama ini selalu membandingkan kamu dengan Erika." Ucap Mama sembari mengelus pelan puncak kepala Aiko. Membuat Aiko sedikit luluh mendengarnya.
"Semua yang mama lakukan itu untuk kebaikan kamu. Mama gak mau, kamu dicap sebagai investasi bodong." Aiko yang awalnya mau sedih-sedihan, jadi sedih beneran gara-gara mamanya bilang, Aiko gak boleh dicap sebagai investasi bodong. Terkadang, Mamanya memang salty dan savage disaat yang bersamaan.
"Udah, kamu kembali ke kamar sana. Mama gak mau kamu lelah terus besoknya sakit." Aiko cemberut, emang mamanya gak pernah lembut kalau nyuruh, sekalinya lembut pasti ada maunya.
Aiko melangkah pelan masuk ke dalam kamar. Tak disangka, Erika sudabh berbaring di atas ranjang kesayangannya. Aiko menghela nafas lelah, "Mau ngapain lagi sih lo?" Tanya Aiko kesal.
Erika bangkit lalu melipat kedua tangannya di d**a. Berjalan memutari sang adik dengan tatapan menelisik yang kuat, dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Lo gak bohong kan, dek?" Aiko memutar bolamatanya jengah. Sudah dia duga, akan begini pertanyaan Erika. Kenapa dia tidak menanyakannya saja tadi.
Memang dasar kakak suka iri dengki! Lihat adeknya sukses dikit, bukannya malah bantu doa supaya makin jaya, malah ditanyain macam-macam.
"Ya masa gue mau bohongin kalian, udah gila kali gue. Demi dipuji mama doang, harus sampai nipu dan bohongin orang tua gue segala." Jawab Aiko dengan nada sedikit menyindir, Erika tampak kesal, "His, yaudahlah ya. Emang udah rejeki lo kali, siapa tau gue bukan jadi karyawan aja besoknya, tapi jadi istri Ceo, kaya di novel-novel online."
"Idih, ngarep ceunah!" Ujar Aiko, yang langsung dapat kekehan dari Erika. "But, gue gak mungkin iri dengki sama kesuksesan adik sendiri." Erika menepuk pelan bahu adiknya.
"Gak usah dendam sama gue." Ucapnya setelah itu pergi meninggalkan Aiko yang cengo, karena kaget si Erika tau apa yang tadi ada di batinnya.
Sepertinya antara Erika dan Pak Leo punya kekuatan batin, ceunah.
***
Aiko berjalan malas masuk kedalam pintu lift. Dia membawa setumpuk dokumen, yang harus dia fotocopy. Alasan dari diberikannya pekerjaan fotocopy itu, tak lain dan tak bukan. Karena Pak Leo tidak mau melihat Aiko, gabut.
Sungguh simple dan bikin ngeselin, bikkn Aiko sampai harus bolak-balik ruangan paling atas sama ruangan kedua dibawah.
Ternyata banyak pegawai yang memperhatikan, Aiko. Syukurlah salah satu dari mereka menepuk bahu Aiko, lalu bertanya.
"Gak cape, bolak-balik terus saya lihat." Tanya wanita dengan tinggi semampai, rambut disanggul kecil, lalu mengenakan name tag bertuliskan, "Kerin."
Aiko terkekeh pelan, "I-iya ini, disuruh sama Pak Leo." Jawab Aiko sedikit gugup, apalagi kalau orang baru yang lebih dulu menyapanya. Maaf saja, Aiko rada-rada kurang akrab.
Wanita bernama kerin itu malah mengernyit, membuat guratan keheranan muncul dengan sendirinya, di wajah Aiko.
"Ck, kok bisa? Bukannya itu tugas office boy ya, kok Pak Leo sekejam itu nyuruh wanita cantik kaya kamu, bawa dokume yang tingginya udah ngalahin menara burj khalifa?" Kerin berdecak, sedikit membuat Aiko terkekeh geli karena ucapannya.
"Ya mana saya tahu, jujur aja saya capek mbak. Tapi kalau pun mau berhenti, sayang banget gajinya lumayan."
"Bener juga sih, apalagi jadi asisten seorang Pak Leo itu, benar-benar pekerjaan langka dan berduit. Cuma... harus siap sama konsekuensinya." Ailo cemberut.
Memang, konsekuensinya sudah ia dapatkan sekarang. Dia kerja jadi asisten, bukan jadi b***k. Kerjaanya dia harusnya, ngurusin segala keperluannya Pak Leo. Bukan malah ngerjain hal gak guna kaya gini.
Aiko malah baru berpikir, gunanya ijazah wisuda apa ya? Kayanya ilmu yang dia dapat waktu perguruan tinggi, tidak bisa dia gunakan sekarang.
Pak Leo benar-benar membuat Aiko kesal. Ini baru dua hari dia bekerja di kantor sebagai asistennya, bagaimana setahun ke depannya?
"Eh iya, Kamu gak pernah gitu ngamatin Pak Leo dari jauh." Aiko yang lagi riweh urus fotocopyan, menggeleng pelan mendengar pertanyaan, Kerin.
"Duh, Saya gak pernah nguping masalah itu. Urus-urusan diri sendiri aja masih ribet mbak. Apalagi ngurusin hidup orang."
Kerin tampak terkesan lalu bertepuk tangan, "Bagus, kamu memang harus seperti itu. Hanya saja, saya terlalu kepo sama urusan Pak Leo. Maklum, saya dengar kabar kalau Pak Leo itu punya kekasih gelap." Kerin sengaja berbisik di akhir ucapannya, membuat Aiko bergidik dan penasaran disaat yang bersamaan.
"Perasaan, gak ada yang salah deh kalau punya kekasih gelap. Apalagi, setahu saya, Pak Leo belum memiliki pasangan hidup, Jadi... dimana letak gelapnya?"
Kerin tertawa kecil, bahkan lebih mirip suara tawa yang lirih. Karena nyatanya tidak ada yang mendengar Kerin, bahkan disaat keadaan kantor sedang hening.
"Gelap dalam tanda kutip." Bisik Kerin pelan.
Yang dibisikkan malah mengernyit bingung, "Maksudnya gimana sih mbak?" Tanya Aiko yang jengah sendiri, merasa kalau Kerin sedang mempermainkannya dengan cara menjeda ucapannya.
"Kamu ini b**o apa gimana? Kekasih gelap itu, maksudnya ya sesama jenis." Aiko melongo tidak percaya, mendengar apa yang dikatakan oleh seniornya.
"Hah, Masa sih?"
###
A/N : i********: @im_yourput