Aku berjalan beberapa langkah dan pria itu mengikutiku. Ia tersenyum lagi padaku, lalu menyapuku kembali. “Hai…” Suaranya terdengar begitu jelas, hingga membuatku tak tahan untuk membalas sapaannya. “Hai…” balasku juga. “Senang bisa bertemu denganmu lagi.” ucapnya. Aku tersenyum melihatnya. Rasanya masih seperti bukan hal yang yang nyata, masih begitu sulit untuk kuterima, namun hal ini benar adanya. Ryuzaki ada disini, dia kembali lagi dan kini dia ada tepat didepanku. “Apa kabarnya?” tanyanya dengan Bahasa Indonesia yang terdengar begitu kaku, tidak selancar sebelumnya. Tinggal lama di Jepang sangat mempengaruhi kemampuan berbahasanya ternyata. “Baik, kamu apa kabar?” tanyaku balik. “Saya juga baik.” ucapnya. “Ehm, sebenarnya saya datang tadi pagi, tapi kamu tidak bekerja jadi say

