“Mal….” Dewi berdiri disebelahku saat aku tengah sibuk menyapu halaman home stay. Ini baru sekitar jam 6 pagi. Aku sangat terkejut melihatnya yang muncul-muncul tiba-tiba.
“Eh, Iya Wi?” tanyaku pada Dewi sambil memegang dadaku. Tidak biasanya sepupuku ini bangun sepagi ini saat liburan kuliah, ditambah ia juga menggunakan sepatu olahraga.
“Mau kemana?” tanyaku lagi. Aku memperhatikan penampilannya yang begitu modis dengan celana legging hitam, kaos oblongnya dan rambutnya yang dikuncir kuda.
“Mau lari pagi.” ucapnya dengan sangat semangat.
“Tumben.” ucapku.
"Aku mau olahraga bareng pacarku, Mal." senyum Dewi mengembang begitu besarnya, ia terlihat sangat cantik pagi ini.
"Kamu punya pacar, Wi? Sejak kapan? Kok gak cerita?" protesku diikuti oleh rasa penasaran pada kisah asmara sepupuku ini.
"Baru Mal, baru satu hari, kemarin sore aku terima dia" Dewi berlari kecil memutariku sambil memainkan rambutnya.
" Oh, pantas saja kamu senyum-senyum sendiri kemarin. Aku tanyain kamu malah bilang rahasia."
"Aku malu mau ceritanya... " ujar Dewi. Ia menghentikan larinya dan berdiri didepanku.
"Sekarang gak malu? " tanyaku.
"Udah gak kalau sekarang... hehehe." Dewi memainkan rambutnya lagi. "Maaf ya, aku gak bisa ngajak kamu, aku mau lari pagi berduaan aja sama dia. "
"Aku juga gak mau ikut, Wi. Nanti aku malah gangguin kamu lagi. " balasku sambil mulai menyapu lagi.
"Ngomong-ngomong pacarmu kenal dimana, Wi? Orang mana? " aku penasaran juga perihal pria mana yang bisa menaklukan hati sepupuku ini.
"Orang sini, Mal. Kamu kenal kok orangnya. Pernah ketemu juga sama dia. "
"Aku kenal? yang benar? tunggu-tunggu aku mikir dulu... " aku mulai memikirkan siapa saja orang dari Bali yang kukenal. Kalau ku ingat-ingat, yang kukenal tidaklah banyak.
"Bli Ade? " tebakku bercanda.
"Bukan, Mal. "
"Siapa? aku belum kenal banyak orang disini. Mas Tomo bukan? "
"Bukanlah... masa mas Tomo sih, dia punya kamu Mal. " bantah Dewi.
"Siapa dong, Wi? aku gak ada ide lagi ni."
"Kamu ingat Yudi, gak Wi?" tanya Dewi dengan wajah menanahan senyuman.
"Yudi?" aku sepertinya tidak asing dengan nama ini,. Aku mencoba mengingat-ngingat dimana aku pernah mendnegarkan nama ini.
"Oh... tau..tau..." jawabku saat baru mengingat kalau bibi pernah bercerita padaku tentang sosok Yudi saat akan berangkat kepasar dulu.
"Yudi yang dulu gemuk itu kan? yang..." jawabku dengan bersemangat .
"Iya yang itu, tapi sudah beda dia sekarang, udah gak seperti dulu lagi, Mal." Dewi memotong ucapanku padahal aku belum selesai berbicara.
"Iya, aku tahu, dia udah gak gemuk lagi kan? Sudah bagus badannya." tambahku melanjutkan ucapanku yang terpotong Dewi tadi.
"Naah iya benar. Kok kamu bisa tahu, Mal? Kamu pernah ketemu sama dia?" Dewi menatapku penuh curiga.
"Belum Wi, bibi yang cerita soal dia. Waktu itu aku sam bi Ayu mau pergi kepasar, terus ketemu sama bapaknya Yudi, begitu." jelasku pada Dewi.
"Oh... Iya, calon mertua ku itu..." Dewi mengibaskan rambutnya bergaya bak model lalu tertawa karena tingkah sendiri. Sikapnya benar-benar percaya diri, hal inilah yang membuatku begitu bangga memiliki sepupu sepertinya.
"Cieeeeee, yang sudah bahas-bahas calon mertua. Mau nikah memangnya kamu, wi?" godaku.
"Ya maulah, tapi gak sekarang juga Mal. Namanya jodoh gak ada yang tahu kan Mal, siapa tau nanti aku malah berjodoh sama dia, terus bapakknya jadi mertuaku kan... hahaha." Dewi tertawa lagi mendengar ucapannya sendiri.
"Iya tau deh, yang sedang berbunga-bunga karena mendapatkan dambaan hati."
"Ngomiong-ngomong kamu kok belum pergi, wi? Nanti keburu siang." tambahku. Aku heran melihat Dewi yang masih saja menunggu di Home Stay padahal ia bilang akan lari pagi.
"Ini nungguin Yudi, dia bilang mau jemput disini." ucap Dewi dengan gembiranya. Semua orang yang melihatnya pasti tahu kalau gadis ini sedang dimabuk asmara. Rasa bahagianya begitu tak bisa ditutupi.
"Kok bisa kamu pacaran sama Yudi, Wi? Perasaan dulu kalian ribut mulu macam kamu sama kak Andi." tanyaku. Aku ingat bebeberapa tahun yang lalu aku berlibur kesini. Dewi dan Yudi sudah berteman sangat akrab saat itu dan tubuh Yudi masihlah gempal. Dia selalu mengikuti arah Dewi pergi dan akan berhenti ketika Dewi memarahinya. Lalu mereka akan berdebat dan akan bermain bersama lagi beberapa menit kemudian. Kalau kupikir-pikir mereka berdua benar-benar lucu saat itu.
"Panjang ceritanya Mal, Yudi kan sudah jadi polisi dia sekang terus ambil kuliah malam juga, sejak SMA kita jadi jarang ketemu, beda banget sama sebelum-belumnya. Terus pas ketemu dia sudah bagus tuh badannya, aku sampai kaget lihat dia berubah banget gitu. Terus kita mulai dekat lagi, awalnya sih aku gak ada perasaan apa-apa ya, tapi lama-lama jadi berubah. Udah ya... aku malu ceritanya."
"Kok malu , Wi? Kan belum selesai ceritanya?" aku meminta Dewi untuk menceritakan lagi kisahnya.
"Lain kali ya..." ucapnya. Aku cukup terkejut mendengarnya, karena Dewi biasanya adalah orang yang sangat suka bercerita namun kali ini dia malah merahasiakan kisahnya sendiri.
"Iya, aku tunggu ya." balasku. Aku melanjutkan sapuku karena langit sudah lebih terang dari yang sebelumnya masih gelap. Kuperhatikan pemandangan langit diatasku.
Apa yang dikerjakan Ryuzaki pagi ini?
Apa Ryuzaki sudah berangkat?
Apa pesawatnya sudah jalan?
Aku ingin sekali melihat pesawat yang membawanya pagi ini.
"Liati apa Wi?" tanya Dewi
"Liat pemandangan aja, Wi. Cantik ya langitnya." ujarku. Aku tidak ingin Dewi tahu kalau sebenarnya aku sedang sedih, jadi kuputusakn untuk tidak mengatakan kebenarannya pada Dewi, kalau aku mulai meikirkan sosok Ryuzaki dan mulai merasa sedih karena akan ditinggal olehnya.
"Biasa aja perasaan, Mal" Dewi ikut memandnagi langit diatas kami.
"Permisi..." dari arah pintu gerbang home stay, aku melihat sosok pria dengan tubuh tinggi berdiri.
"Yudii..." teriak Dewi sambil berjalan menghampirinya. "Sini masuk..." Dewi menarik tangan pria yang dipanggilnya Yudi.
"Ini Mala, kamu ingat gak? Mala ini Yudi." Dewi memperkanalkan kami dengan wajah yang begitu sumringah.
"Hai Yudi, gak nyangka aku bisa ketemu kamu lagi." ucapku
"Ah, Mala, Mala yang dulu kesini itu kan?" suara Yudi begitu berat terdengar. Dulu suaranya tidaklah begini, waktu ternyata bisa mengubah seseorang sedrastis ini.
"Iya." aku tersenyum melihat penampilan Yudi saat ini. Bukan bermaksud menggoda, namun kini aku tidak heran kenapa bibi berkata padaku bahwa dia disukau banyak wanita, penampilannya memang cukup menarik. Dengan tubuh yang terlihat bagus dan terlatih, ia juga memiliki wajah yang enak dipandang, auranya juga sangat cowok banget. Aku bingung menjelaskannya, tapi dia benar-benar terlihat seperti pria yang keren.
"Nah, kalian berdua udah saling ingatkan satu sama lain. Yuk sekarang kita lari, di. Sebelum kesiangan" Dewi menarik tangan Yudi yang terlihat bergitu berotot dibalik kaos putih yang ia gunakan.
"Bentar dulu, wi. Aku mau ngobrol sama Mala dulu." Yudi menolak permintaan Dewi dan melepaskan tangan Dewi yang suedang menggandengnya. Dewi menatap kearah Yudi dengan kesal.
"Nanti aja kita ngobrolnya, lebih baik kalian lari aja sebelum siang." ucapku. Aku melihat wajah Dewi yang terlihat mulai masam karena perlakuan Yudi padanya. Aku tidak ingin mereka berdua malah bertengkar karena hal sepele seperti ini.
"Ya sudah, kapan-kapan kita ngobrol ya, Mal." ucap Yudi. Ia lalu menarik tangan Dewi yang diam dengan wajah masamnya. "Yuk, kita pergi Wi."
"Gak ah, malas kamu aja olahraga sendiri aja. Aku gak jadil lari aja." Dewi sepertinya ngambek karena sikap Yudi padanya tadi.
"Kamu jangan gitu, Wi. Masa ngambek sih. Yuk kita lari, nanti panas lo." Yudi menarik lengan Dewi dengan lembut hingga Dewi bergerak kearahnya.
"Ayoo Dewi cantik..." tambah Yudi.
"Ya udah, Mal, aku lari dulu ya." pamit Dewi dengan wajahnya yang masih manyun walau sudah digoda oleh Yudi.
"Aku juga ya Mala." Yudi melambai padaku lalu mulai berjalan keluar home stay bersama Dewi.
"Sudah, jangan manyun lagi dong. Nanti cantiknya hilang lo." goda Yudi lagi.
"Iiiihh,, jangan pegang-pegang." Dewi melepaskan tangan Yudi yang memegang kedua pundaknya.
"Tuhkan... Tuhkan... jelek mukanya kalau ngambek begitu."
"Biarin!" teriak Dewi.
Kedua pasangan itu masih saja berdebat sambil berjalan. Tiba-tiba aku teringat, aku lupa menanyakan apakah Dewi sudah minta ijin pada Dewi apa dia sudah minta ijin atau tidak kalau mau pergi. Tapi kalau dipikir-pikir, tidak mungkin Dewi berani pergi diam-diam. Dia pasti sudah meminta ijin, karena dia pasti tahu bibi pasti marah kalau kami keluar tanpa ijin dari dia.
Aku melihat sekeliling halaman dan baru menyadari aku baru menyapu setengahnya. Langit sudah semakin terang, mungkin ini sudah mau jam 7 pagi, jadi kupercepat gerakanku agar bisa menyelesaikan untuk menyapu seluruh halaman ini dengan cepat.
Saat menyapu aku mendengar suara mesin pesawat yang mengudara. Reflek aku berlari mengikuti pesawat itu sambil membawa sapu lidi dengan pegangan panjang yang kugunakan untuk menyapu. Aku bahkan tidak menyadari bahwa aku berlari mengikuti pesawat itu hingga ke jalanan, diluar home stay.
Itu mungkin pesawat yang membawa Ryuzaki. Mungkin dia dalam sana. Ryuzaki bilang penerbangannya jam 7 pagi. Jadi kemungkinan besar itu adalah dia. Apa dia bisa melihatku dari atas sana?
Apa dia bisa melihat kalau aku menunggu disini? Entahlah, aku tak tahu. Namun kuharap ia bisa merasakan bahwa aku sedang memikirkannya saat ini.
Tuhan menganugerahiku dengan hal yang luar biasa. Aku memiliki kemampuan untuk melihta potongan masa depan, namun sayang aku tak bisa menebak kapan kemampuan itu akan muncul dan potongan masa depan seperti apa yang akna kulihat. Seandainya aku bisa mengaturnya, seandainya aku bisa melihat potongan masa depan yang ingin kulihat sesuai yang kumau. Hal pertama yang ingin kulihat saat ini adalah kisahku dan Ryuzaki. Apakah kami bisa bertemu nantinya, atau mungkin kemarin dalah pertemuan terkahir kami. Apakah dia seperti yang kak Andi katakan, pria yang hanya mempermainkan perasaanku saja atau dia benar-benar mengganggapku spesial seperti ucapnnya. Aku ingin mengetahuinya. AKu ingin mengetahui rahasia akan ceritaku dengannya nya.
Iya, andai aku bisa melihat potongan masa depan yang kuingankan...