PART 36 - DIA...

1623 Words
Baru usai makan malam, dan baru aku ingin bersantai untuk menenangkan hatiku yang masih merasa sedih karena mendengar ucapan Ryuzaki tadi. Aku mengingat saat kami berdua diatas motor dan dalam perjalanan pulang, Ryuzaki dan aku tidak banyak berbicara satu sama lain, itulah hal sangat kusesali tadi. Aku tidak punya banyak kesempatan untuk berbicara dengannya, namun aku malah tidak memafaatkannya. Sekarang aku sendiri yang rugi karena tidka tahu kapan aku bisa berbicara dan bertemu dengannya lagi. “Bu, aku kan sudah bilang, aku gak suka Ryuzaki itu. Gak bener orangnya.” kak Andi baru keluar kamarnya dan duduk disofa diruang tengan bersama bibi dan paman. Aku terkejut mendengar ucapannya. Tak kusangka kalau dia akan mengatakan hal itu pada bibi dan paman juga. Dia terlihat baik-baik saja saat makan malam tadi, tidak mengatakan apapun, ternyata kak Andi malah membahas hal itu saat ini. “Kenapa to ndi? Dia anak baik kok. Ibu sudah ngobrol juga sama jadi ibu paham seperti apa dia orangnya. ” balas bibi santai terkesan ucapan kak Andi itu bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan. “Iya, kamu jangan mikir negatif terus sama orang. Bapak gak pernah ajarkan anak-anak bapak seperti itu lo ya.” sambung pamanku. Aku yang takut memperkeruh suasana hanya duduk saja di sofa lainnya bersebelahan dengan Dewi. Awalnya, kak Andi sebenarnya tidak tahu kalau hari ini aku pergi dengan Ryuzaki, namun karena makanan yang kubawa pulang untuk dimakan-makan bersama saat makan malam, disitulah kak Andi tahu kalau makanan yang kubawa dibelikan oleh Ryuzaki. Dia jadi mengetahui kalau aku hampir setengah hari pergi dengannya hari ini. “Bukan begitu pak, aku sudah coba cari informasi soal dia. Aku dengar dia banyal ceweknya. Playboy dia itu katanya pak.” ucap kak Andi.  “Itu katanya kan, ndi. Kata orang. Ya belum tentu kalau berita itu benarkan. Kamu tahu sendiri kadang informasi itu kalau semakin banyak dibicarakan semakin bisa berubah dari aslinya.” pamanku mengganti siaran TV ke saluran berita. “Pak jangan diganti, mau tayang sinetron kesukaanku pak.” protes Dewi saat melihat paman mengganti siaran TV.Dewi memang sudah seminggu ini selalu berada diruang TV untuk menonton sinteron kesukaannya. “Kamu sinetron terus.” ucapan pamanku terdengar kesal namun ia tetap mengubah saluran TV sesuai permintaan Dewi. “Pak, ini informasi yang aku dapat bukan hanya dari satu dua orang, tapi dari banyak orang, pak. Dari informasi yang Andi dapat, Ryuzaki itu memang punya banyak cewek,  gak bisa betah lama juga sama stau cewek, nanti ganti, terus ganti, ganti lagi, begitu terus..” kak Andi masih berusaha meyakinkan yang lain akan pernyataannya. “Begini aja ndi, mungkin dulu dia kurang baik orangnya, tapi sekarang sudah berubah.” balas pamanku yang kukenal sangat baik dan hampir tidak pernah berpikir negatif tentang orang lain. “Iya, kamu lihat sendirikan bagaimana dia tungguin Nirmala dirumah sakit berjam-jam. Itu kalau ibu gak suruh pulang mungkin dia bisa sampai tengah malam lo nungguin NIrmala. Kalaupun dia cuma pura-pura, bisa keliatan itu.” bibiku membuka fakta yang belum kuketahui sebelumnya, aku baru tahu kalau bibikulah yang meminta Ryuzaki untuk pulang dan beristirahat. “Aduh bu, Andi ngomong begini, karena aku itu peduli sama Nirmala. Tidak mau Nirmala dekat orang yang salah. Itu aja!” aku menahan nafasku beberapa detik karena terkejut mendengar kak Andi yang mulai menaikan nada bicaranya. “Bapak sama ibu paham itu ndi. Kita juga pasti gak mau kalau Nirmala didekati oleh orang salah, orang yang gak benar, bukan kamu saja.” pamanku menepuk-nepuk lengan kak Andi. Paman mungkin sadar kalau anaknya itu sedang emosi. “Iya ndi, benar kata bapak. Ibu juga gak mungkin sembarangan kasi Nirmala pergi sama orang kalau menurut ibu orangnya gak baik.” “Iya bu.” nada suara kak Andi sudah normal lagi. Emosinya mungkin sudah mereda. “Tapi Andi tetap gak suka kalau Nirmala sama cowok Jepang itu.” kupikir percakapan ini akan berakhir disini, ternyata kak Andi tetap melanjutkannya. Aku semakin tidak nyaman dengan kondisi saat ini, karena akulah yang membuat perdebatan ini dimulai. “Kamu ngomong begini bukan karena Tomo, kan?” tanya bibiku. “Gak lah bu… Ya masa karena Tomo.” bantah sepupuku ini. “Yang benar?” tanya bibiku lagi terlihat kurang percaya pada ucapan kak Andi. “Beneran bu. Ya memang Andi bantuin Tomo  buat deketin Mala, tapi  ya bukan karena Tomo juga aku jadi ngelarang Mala dekat-dekat sama Ryuzaki itu tapi karena aku memang takut kalau Mala salah dapat teman aja.” “Iya ndi, ini kita dari tadi bahas soal Mala, tapi kita malah gak tanya ke orangnya bagaimana. Kan selama ini Mala yang paling dekat sama Ryuzaki. Bapak juga percaya kalau Mala pasti bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk buat dia. Iya kan, Mala?” pamanku menlihat kearahku diikuti oleh anggota keluarga lainnya. “Iya paman.” jawabku singkat. “Iya apa? Paman tanya pendapatmu soal Ryuzaki bagaimana?” pamanku bertanya lagi padaku. Kulirik Dewi yang ikut-ikutan menatapku dengan serius padahal dari tadi dia fokus ke layar TV saja. “Menurutku, Ryuzaki itu orangnya baik. Dia itu sangat perhatian sama Mala. Dia juga tidak pernah berkata kasar atau memperlakuan Mala dengan tidak baik.” “Tuh, Mala bilang Ryuzaki itu orangnya baik.” pamanku menatap kearah kak Andi seakan menunggu responnya. “Aku… aku bilang begini bukan karena sedang membela siapa-siapa ya. Ini berdasarkan perngalamnku saja” aku melanjutkan ucapanku lalu melirik ke kak Andi. “Oke, terus ingat gak waktu kita ke pasar malam, Ryuzaki itu sedang jalan sama cewek lain. Itu siapa coba.” balas kak Andi. “Dewi kamu ingat kan cewek yang kita jumpai waktu itu?”  kak Andi kini bertanya pada Dewi. “Iya ingat kak, cantik  ceweknya, tapi masih cantikan aku sih.” balas Dewi dengan nada acuh tak acuh. “Tuh pak, bu. Waktu kita jalan, kita lihat Ryuzaki itu sedang sama cewek lain, eh beberapa hari kemudian dia malah sok-sok an perhatian sama Mala.” aku menatap kak Andi. Ingin sekali aku katakana padanya kalau mbak Bella itu Cuma berteman saja sama Ryuzaki, namun aku tidak ingin memperpanjang perdebatan ini. “Ngawur kamu, bukan sok-sok an ndi, memang dia perhatian begitu. Terus kamu tanya gak hubungan mereka apa? Pacarana atau cuma berteman?” tanya bibi pada kak Andi. “Ya nggaklah bu, ngapain aku tanya-tanya begituan ke orang.” “Kamu ingat gak, berapa banyak orang yang pikir Dewi itu pacarmu kalau kalian berdua lagi jalan sama-sama.” tambah bibi. “Iiihhhhh, apaan sih bu, ngapain dibahas. Malas banget. Amit-amit aku punya pacar kaya kak Andi.” Celetuk Dewi sambil menggosok lenggannya. “Eh, aku juga gak mau punya pacar seperti kamu. Udah bawel, sok cantik lagi. Kasian banget cowok yang suka sama dia.” balas kak Andi. “Bu… kak Andi bilang aku sok cantik…” Dewi memajukan bibirnya dan memberikan wajah sedih kearah bibiku. “Idih.. sok manjaa…” kak Andi mengikuti mimic wajah Dewi hingga membuatnya terlihat begitu lucu. “Kalian berdua kok malah ribut lo. Udah ndi, jangan godain adikmu terus.” bibi menepuk punggung kak Andi. “Sudah ya.. sudah malam. Kita tidur aja.” Pamanku hendak bangkit berdiri namun dibatalkannya saat kak Andi mulai berbicara lagi. “Kan aku belum selesai bicara pak.” “Bicarakan apalagi ndi? Sudah mau jam 10 lo ini. Harus tidur kita, besok pagi-pagi bapak ada kerjaan.” Pamanku membetulkan posisi duduknya lalu mengambil bantal sofa dan menaruk di belakang punggungnya sebagai sandaran. “Begini pak, intinya Andi harap bapak sama ibu jangan sering-sering kasi Mala keluar sama Ryuzaki itu aja. Andi belum percaya sama dia.”  mendengar ucapan kak Andi, ingin sekali aku memberitahukan kabar terbaru mengenai Ryuzaki. “Iya, asal kamu juga jangan menilai orang dari satu sisi saja ya ndi. Kamu kan ikut ngobrol sama dia waktu dia datang makan malam disini. Keliatan kok dia orangnya baik, tidak seperti yang kamu bayangkan.” balas pamanku. “Nanti Andi coba deh, kenal dia. Biar Andi tahu dia memangnya orang gak benar atau gak.” Aku lega mendengar ucapan kak Andi, tidak menyangka dia mau merubah pikirannya dan mau belajar untuk mengenal Ryuzaki. “Kapan si Ryuzaki itu mau ketemu kamu lagi, Mal? Biar pas dia datang kak Andi ngobrol-ngobrol sama dia.” tanya kak Andi. “Ehm… jadi begini kak, Ryuzaki itu besok pagi akan kembali ke Jepang.”  aku berhati-hati mengatakan ini. “Beneran? Jangan sedih ya Mal.” ucap Dewi tiba-tiba, ia terlihat terkejut mendengar ucapanku. “Oh, woalah. Cepat sekali baliknya.” bibiku juga ikut terlihat terkejut mendengar itu, begitupun pamanku. “Terus Mala tau kapan dia akan balik kesini lagi?” tanya kak Andi yang terlihat santai mendengar kata-kataku. “Belum tau kak, kata Ryuzaki dia mau selesaikan pekerjaannya dulu di Jepang, nanti saat sudah selesai baru dia balik kesini.” jawabku. Aku sebenarnya sedih mengingat hal ini, namun aku mencoba biasa saja agar yang lain tidak mengetahui kesedihan yang kurasakan saat ini. “Tuhkan… Ini ni, ciri-ciri cowok yang gak benar, ya seperti ini. Sengaja dekat-dekat, kasi perhatian, ini itu, ajak kesini kesitu, belikan ini itu, tapi terus pergi dan gak bisa kasi kepastian kapan baliknya.” kak Andi berargumen dengan semangatnya,  dari ekspresinya saja aku tahu kalau kak Andi kini merasa menang atas pendapatnya, padahal kukira ia akan benar-benar mau mencoba mengenal Ryuzaki karena kau yakin kalau dia tidaklah seburuk yang kak Andi nilai selama ini. “Sudah…sudah… tadi Mala bilang kalau Ryuzaki akan kembali lagi kesini saat sudah selesaikan pekerjaankan. Jadi kita tunggu saja.” ucap pamanku. “Iya, benar itu. Sudah kita tidur aja. Jangan begadang-begadang.” bibiku berdiri lalu mengambil remot TV dan mematikannya. “Bu, Dewi masih mau nonton.” rengek Dewi. Ia mencoba mengambil remot yang ada dimeja, namun diambil lagi oleh kak Andi. “Bu.. ini kak Andi gak kasi aku nonton lo.” “Sudah kalian berdua tidur. Kamu tidur juga Wi, begadang itu gak bagus buat kesehatan dan kulit, mau cepat keriput?” teriak bibiku dari dalam kamar. Pamanku bangkit berdiri dan mengambil remot TV. “Sudah, sini biar bapak aja yang bawa, biar kalian gak ribut aja.” Pamanku mengambil remot itu dan membawanya masuk kekamar. “Bapak lo…” teriak kak Andi. “Aku mau nonton…” sambungnya. “Sudah kamu tekan manual aja daripada remot dijadikan bahan keributan.” teriak pamanku lalu menutup pintu kamarnya. "Kamu sih.." kak Andi menatap kesal kearah Dewi. “Na...na...na....Udah ah, aku tidur aja nanti aku cepat keriput lagi. Yuk Mal, kita tidur.” Dewi pura-pura tidak mendengar ucapan kak Andi. Ia menarik tanganku dan aku mengikutinya masuk kekamar, meninggalkan kak Andi yang sedang berjongkok didepan TV dan mencoba menacari saluran TV yang ia ingin tonton. “Met olaharaga yeee…” teriak Dewi pada kak Andi dari dalam kamar. “Bawel…” balas kak Andi dan tetap fokus pada layar TV didepannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD