“Besok siapa yang bisa antarkan Nirmala kerumah sakit untuk check up?” aku yang hendak keluar kamar tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan bibi, kak Andi dan Dewi diruang tengah.
“Aku kuliah bu sampai sore. Jadi gak bisa.” jawab kak Andi.
“Kalau Dewi?” tanya bibi pada Dewi.
“Aku bisa bu, tapi sore. Pagi gak bisa.”
“Jadwalnya Nirmala kan pagi, dokternya ada tugas katanya dirumah sakit lain dari siang sampai malam. Jadi bisanya pagi saja.” jelas bibiku
“Kalau bapak gak mungkin bisa juga, dia lagi antarkan tamu.” sambung bibi. Paman memang sejak pagi ini sampai beberapa hari kedepan akan sibuk untuk mengantar tamu-tamunya yang berasal dari Singapore katanya.
“Ibu juga kerja, gak bisa ibu tinggalkan.” aku benar-benar tidak enak mendengar hal ini, aku hanya menjadi beban saja untuk mereka.
“Minta tolong bli Ade atau bli Komang saja bu.”aku mendengar kak Andi mencoba memberikan saran. Namun sepertinya itu tidak mungkin karena bli Ade sedang sakit, jadi yang menjaga home stay hanya bli Komang dan bli Made yang sibuk untuk menjaga bagian kitchen dan harus bisa bersiap masak kalau ada tamu yang mau memesan makanan.
“Gak bisa ndi, Ade lagi sakit. Sudah dua hari ini dia ijin gak kerja.”
“Saki tapa, bu? Ya ampun, aku kok baru tau.” Kak Andi terdnegar terkejut mendengar keadaan bli Ade.
“Kamu sih sibuk. Ibu tadi siang mampir kerumahnya untuk jenguk karena gak biasanya Ade itu sampai ijin kerja. Ade bilangnya sakit flu dan demam juga. Ibu sudah suruh dia cek kerumah sakit, takutnya demam berdarah, karena ibu dengar sudah ada beberapa yang kena DB disekitar sini.” jelas bibiku.
“ Astaga, semoga bli Ade gak apa-apa. Nanti pulang kuliah aku mampir kerumahnya sebentar deh.” Kak Andi dan bli Ade memang cukup akrab, mungkin karena usia mereka yang tidak terlalu terpaut jauh membuat mereka lebih cocok.
“Dewi ikut juga ya kak.” ujar Dewi.
“Iya, nanti aku pulang kuliah jam 4’an setelah itu kita langsung kesana ya.”
“Jadi ini siapa yang bisa antar Nirmala?” tanya bibiku lagi. Aku segera keluar kamar, karena tidak nyaman terus menerus menguping pembicaraan mereka.
“Bi, Mala besok pergi sendiri saja ya. Bisa pakai ojekkan.”
“Ehh Mala…” bibi, kak Andi dan Dewi terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba ditengah pembicaraan mereka.
“Jangan sendirianlah. Kamu belum benar-benar sembuh juga.” Kak Andi menolak ideku.
“Mala sudah baikkan kok kak. Beneran.” aku mencoba meyakinkan kakak sepupuku ini bahwa aku memang sudah baik-baik saja dan sudah bisa beraktivitas normal.
“Iya, jangan dulu pergi-pergi sendiri, Mal.” Dewi mendukung ucapan kak Andi.
“ Kalau ibu minta tolong Ryuzaki aja bagaimana? Tomo kan pasti kuliah jadi gak mungkin bisa ibu mintakan tolong.”
“Kenapa harus dia sih bu.” kak Andi memang tidak langsung menolak gagasan dari bibi namun dari ucapannya jelas menunjukan kalau ia tidak setuju dengan ide itu.
“Kenapa sih ndi, kamu kayanya gak suka banget sama dia. Ryuzaki anaknya baik kok.” ucap bibi yang jelas-jelas menunjukan bahwa ia menyukai Ryuzaki.
“Bukannya gak suka bu, tapi namanya pria asing seperti itu, kita gak tahu sifat aslinya bagaimanakan.”
“Iya benar, tapi selama Nirmala sakit dia rajin banget lo jenguk Nirmala. Keliatan tulus dan baik anaknya.” bibi masih mendukung Ryuzaki.
“Iya kak, kayanya baik orangnya.” tandas Dewi.
“Kok kamu malah dukung dia sih Wi.” Protes kak Andi.
“Bukan soal siapa dukung siapa sekarang kak. KIta kan harus cari jalan keluar buat hal ini.” Dewi sangat jarang berbicara sebijak ini, jadi aku cukup kaget mendengar ucapannya.
“Tuh dengar, masa adekmu lebih maju mikirnya daripada kamu.” ucap bibi.
“Mala sendiri mau kan diantara Ryuzaki?” bibiku tiba-tiba bertanya padaku. Kak Andi dan Dewi yang sedari tadi memandangi acara TV dihadapan mereka, ikut memandangiku dan menunggu jawabanku.
“Aku siapapun yang antar boleh saja bi, tidak masalah asal tidak merepotkan saja.” ucapku.
“Ya sudah, sebentar ibu coba telepon Ryuzaki ya.” bibi melangkah menuju kamarnya yang terletak tepat disebelah kamar Dewi. Ia hendak mengambil hand phone miliknya.
“Ibu punya nomor Ryuzaki?” tanya Dewi terkejut, suaranya setengah berteriak hingga mungkin terdengar oleh bibiku yang masih berada didalam kamarnya.
“Iya punya. Pas dirumah sakit ibu minta.” jawab bibi saat ia keluar kamar dengan handphone ditangan kanannya. Ia lalu berjalan menuju sofa, duduk didekat Dewi dan kak Andi. Aku mengikuti bibi, duduk disofa lainnya.
“Luar biasa pergerakan ibu.”
“Pergerakan apa sih Wi. Kamu ada-ada aja.” bibi menyahut ucapan Dewi. Ia telah menggunakan kaca matanya dan mulai menekan-nekan tombol di handphoennya.
“Sebentar ya….”
“Iya halo, Ryuzaki.” Bibiku sepertinya sudah mulai berbicara dengan Ryuzaki, ternyata ia cepat juga mengangkat telepon bibi.
“Mohon maaf sebelumnya kalau ibu menganggu ya.” lanjut bibiku.
“Iya, kok tahu sih kalau ibu butuh bantuan.” tawa bibi terdengar begitu merduanya. Mendegar ucapan bibi, aku kadang berpikir bahwa Ryuzaki mungkin memang benar-benar bisa membaca pikiran orang.
“Begini, ibu mau minta tolong, kalau seandainya besok Ryuzaki tidak sibuk apakah bisa antarkan Nirmala untuk check up ke dokter. Ini gak tau kok bisa tiba-tiba semua orang sibuk, tidak ada yang bisa antarkan Nirmala kedokter jadinya.”
“Jam? Pagi, mungkin sekitar jam 8 atau jam 9 pagi.” bibiku diam sejenak, sepertinya Ryuzaki sedang mengucapkan sesuatu.
“Iya benar, memang harusnya begitu ya.”
“Oke, jadi bisa ya. Terima kasih banyak lo ya, ibu benar-benar minta maaf sudah merepotkan sebelumnya.” sepertinya Ryuzaki bersedia untuk mengatarku besok.
“Iya, terima kasih ya, Ryuzaki jaga kesehatan juga.” Bibi mematikan teleponnya lalu menatap kepada kami bertiga secara bergantian.
“Sudah selesai.Jadi besok Nirmala siap-siap aja dari jam 8 ya, nanti Ryuzaki mau antarkan.” ucap bibi.
“Baik bener ni anak ya.”
“Iya bu, dari dulu aku baik.” celetuk Dewi.
“Maksud ibu ini si Ryuzaki baik banget anaknya. ”aku setuju dengan ucapan bibi walau aku tidak tahu faktanya seperti apa, namun Ryuzaki benar-benar pria yang baik, akupun dapat merasakan hal itu darinya.
“Iya semoga aja memang baik beneran dia, bu.” kak Andi lagi-lagi memulai perdebatan dengan bibi.
“Hush, ibu gak suka lo ya kalau kamu mikirnya buruk terus ke orang lain, ndi. Bukan hanya ke Ryuzaki saja tapi ke orang-orang lain juga.”nada suara bibi yang biasanya terdengar tenang dan lembut kini sedikit meninggi namun tidak ada nada kemarahan darinya.
“ Bu, ini itu namanya waspada bu. Tetap harus hati-hati kita sama orang yang tidak terlalu dikenal. Kan ibu sendiri yang dari dulu ajarkan Andi seperti itu.
“Iya benar. Tapi kan beda ndi namanya waspada dan memberikan ucapan yang tidak baik pada orang lain ditambah berpikir negatif terus seperti ini.”
Inginku menghentikan perdebatan diantara ibu dan anak ini karena benar-benar membuatku merasa tidak nyaman. Akulah yang menjadi penyebab mereka membahas topik ini.
“Iya bu…Iya… aku hanya mau Mala tidak mendapatkan teman yang kurang baik. Itu saja.” kak Andi akhirnya mengalah pada ucapan bibiku.
Iya ibu paham kok, ndi. Maksud kamu baik.” bibi juga sepertinya sedang mencoba menghentikan perdebatanya dengan putra sulungnya.
“Terima kasih ya kak.” aku manambahi ucapan bibi. Aku tidak pernha menduga bahwa kak Andi ternyata seperhatian dan sepeduli iyu padaku.
“Sama-sama Mal.”
***
Pagi ini aku sudah selesai mandi dan sudah rapi sejak pagi-pagi. Aku paling tidak menunggu, jadi ak berusaha untuk membuat orang lain menunggu juga. Aku lebih awal mempersiapkan diri, agar ketika Ryuzaki datang, aku bisa langsung pergi dengannya.
Orang-orang sudah pergi semua, jadi kuputuskan untuk menunggu Ryuzaki di ruang tunggu home stay saja.
“Wuah udah cantik aja pagi-pagi. Mau kemana, Mal?” tanya bli Komang padaku sambil menyapu lantai keramik ruangan yang terlihat kotor bekas jejak kaki para tamu.
“Mau ke dokter, mau check up, bli.”
“Oh, sama siapa?” tanya bli Komang lagi.
“Sama Ryuzaki.” ucapku. Aku tidka tahu apakah bli Komang masih mengingat Ryuzaki atau tidak.
“Ryuzaki? Orang Jepang? Kamu punya teman orang Jepang, Mal?” tanya bli Komang sedikit terkejut, nampaknya ia benar-benar melupakan sosok Ryuzaki.
“Iya, waktu itu bli sempat ketemukan. Itu lo tamu pria Jepang yang minggu lalu datang, waktu itu ada dua orang yang datang kesini, tapi cuma satu orang saja yang menginap.” kucoba untuk membangkitkan memori ingatan bli Komang.
“Oh yang itu! Iya-iya ingat, yang ngobrol sama Nirmala disini itu kan?” tanya bli Komang mencoba mengkonfirmasi jawabannya.
“Iya benar yang itu.”
“Oh… iya-iya.” ucap Bli Komang.
Tak lama setelah itu, aku mendengar suara motor yang memasuki halaman home stay. Kusegera bangun dari kursiku dan melihat bahwa Ryuzukilah yang datang. Ia terlihat berpenampilan berbeda lagi hari ini. Ia menggunakan celana panjang kain berwarna cream dan kemeja putih lengan pendek. Sudah dua kali aku melihatnya memakai celana panjang, pertama saat makan malam bersama dan saat ini. Perubahan kecil itu membuatnya terlihat jauh lebih rapi.
“Ryu…” aku setengah berteriak memanggil Ryuzaki saat ia hendak menuju kerumah. Segera kuambil helm diatas meja ruan tunggu dan memanggil Ryuzaki untuk menghentikan langkahnya menuju rumah. Ia berbalik kearahku saat mendengar panggilanku. Seperti biasa, aku disambut oleh senyuman khasnya, senyuman yang membuatku sangat suka melihat wajahnya.
“Pelan-pelan, jangan lari. Jalan saja.” ucap Ryuzaki saat melihatku berlari kecil kearahnya. Aku tidak bisa mendengar ucapannya dan tetap berjalan dengan cepat. Aku terlalu bersemangat pagi ini karena ini pertama kalinya aku akan pergi berdua dengannya walau tujuanya hanya untuk check up saja.
“Apa matahari sudah berpindah.” ucapnya saat melihatku yang sudah berdiri tepat didepannya.
“ Berpindah?” aku segera melihat sinar mentari yang masih berada ditimur dari balik dedaunan pohon dilahalaman home stay. “Matahari tidak pindah ucapku.”
“Maksud saya, matahari sepertinya sudah berpindah kesini, karena wajahmu hari sangat cerah.” ujar Ryuzaki sambil menatap wajahku dengan sedikit menunduk.
“Apa Ryuzaki barusan berbicara gombal padaku?” rasanya aku tidak mempercayai pendengaranku sendiri mendengar hal ini. Harusnya akulah yang menganggapnya sebagao sinar mentari, karena wajahnya yang selalu cerah dan berseri setiap hari.
“Sudah jangan melihatku seperti itu.” ujar Ryuzaki lagi. Ia mengambil helm ditangan kananku lalu memakainkannya dikepalaku, tidak lupa ia mengaitkan kancing helm. Ia bahkan meresleting jaket kain berwarna putih yang kugunakan hingga menutupi seluruh kaos biru dongker yang kugunakan.
“Nah sudah siap.” ucapnnya dengan santai. Ia bisa berindak begitu santai, sedangkan aku masih mematung, begitu terkejut sekaligus terlena dengan perlakuannya padaku.
“Ayo naik.” Mungkin perlakuannya padaku ini adalah hal normal yang dilakukan pria Jepang pada teman-temannya. Aku juga masih mengingat bagaimana Ryuzaki terlihat begitu baik dan ramah pada wanita lainnya, jadi bentuk perhatian yang ia berikan padaku mungkin adalah hal normal yang tak perlu lebih-lebihkan.
“Nirmala, ayo naik.” ucap ulang Ryuzaki.
“Hah? Iya.” aku pasti terlihat begitu kikuk saat ini, namun apalah dayaku, aku bahkan merasa tak bisa mengendalikan tubuh dan perasaaku dengan benar saat berada didekat pria ini.
"Ya Tuhan… Aku seharusnya tidak seperti ini. Aku harus menfokuskan pikiranku untuk belajar dan membanggakan ibu dan keluargaku. Jangan dulu berpikir sesuatu yang belum saatnya seperti ini." bisik batinku mencoba mengingatkanku.