PART 27 - BERHASIL DITEMUKAN

1586 Words
Sudah cukup lama aku meminta mas Tomo untuk melaju terus lurus mengikuti jalan yang entah kemana ujungnya. “Dek, ini mau jalan lurus terus?” tanya mas Tomo, suaranya terdengar tidak seyakin sebelum-sebelumnya. Andai ia tahu bahwa aku merasakan keraguan yang sama dengannya ia pasti tidak akan mau mengikuti permintaanku. “Ehm, mas tau gak kira-kira didekat sini ada perumahan seperti komplek atau BTN gitu gak mas?” tanyaku balik pada Mas Tomo tanpa menjawab pertanyaannya karena aku juga tidak tahu harus menjawab apa. “Ada sih, tapi sudah lewat tadi. Kamu ingat gak sebelum pom bensin tadi ada jalan lagi belok kekiri?” “Aku gak ingat mas.” aku terlalu fokus melihat motor-motor dan tak terlalu memperhatikan jalan yang kami lewati. “Ada dek, nanti kita belok kejalan itu, terus gak jauh dari sana ada komplek perumahan kalau gak salah, ada teman kampus mas tinggal disana.” jawab mas Tomo. “Memangnya kita mau kesana, dek?” mas Tomo mencoba kepinggir jalan dan menghentikan motornya. Jujur aku hanya benar-benar mengikuti insting dan perasaanku saja saat ini. Jadi aku tidak tau akan benar atau tidak keputusanku ini. “Ehm… iya mas, kita coba kekomplek itu ya.” jawabku sedikit ragu namun kucoba menutupinya. “Oke, kita kesana ya tapi kamu harus janji setelah ini ceritakan semua ke mas ya ada apa.” “Iya mas.” aku tak punya pilihan lain saat ini selain menyeyujui permintaan mas Tomo. Kamipun menuju arah pom bensin dan menuju komplek perumahan yang tadi disebutkan oleh mas Tomo. Saat akan berbelok, aku melihat sesuatu yang kucari. Iya, motor yang kucari dan pasangan itu ada didepan warung bakso dipinggir jalan. Aku tidak tau apakah mereka sudah selesai makan atau belum, aku harus mencari tau. “Mas..mas…mas… berhenti mas, berhenti.” Aku menepuk bahu mas Tomo agar ia menghentikan motornya. Mas Tomopun mengikuti perintahku. Ia meminggirkan motorya lagi dipinggir jalan tepat didepan jalan menuju komplek yang bersebrangan dengan warung bakso itu. “Kenapa dek?” tanya mas Tomo. “Itu mas. Kalau gak salah itu orang yang kucari.” ucapku sambil menunjuk seorang wanita yang sedang berdiri didekat tukang bakso. Warung bakso itu memakai tenda hijau dan dikelilingi kain juga, jadi sebenarnya aku tidak bisa siapapun didalamnya, namun karena wanita itu sedang berdiri didekat bapak penjual bakso, aku dapat melihatnya dengan jelas. Terima kasih Tuhan… Terima kasih… “Kita nyebrang kesana aja ya dek?” tanya mas Tomo memperhatikan dagang bakso yang terlihat ramai itu. “Mungin kita sekalian bisa makan juga dek. Kayanya enak bakso disana, banyak pembelinya, pada ngantre gitu.” ujar mas Tomo. Dia pasti sudah merasa lapar karena kami sudah sampai dijam makan malam. “Mas sudah lapar banget ya?” tanyaku. Aku tidak tega membiarkan mas Tomo kelaparan. “Sedikit, dek, tapi masih bisa ditahan kok.” jawab mas Tomo. “Oh iya, itu kan sudah ketemu temannya dek, kenapa gak langsung ditemui aja, kenapa kita sembunyi-sembunyi begini.” “Nanti mas kita temui, kita tunggu sampai dirumah mereka dulu ya.” jawabku. “Kenapa begitu dek?” tanya mas Tomo lagi. “Ya lebih baik begitu mas.” ucapku tanpa melepaskan pandanganku dari wanita yang mungkin baru selesai makan bakso bersam pasangannya itu. “Eh mas…mas… mereka naik motor lagi tuh.” sambungku samhil meminta mas Tomo untuk mengikuti mereka lagi. Kedua pasangan itupun terus berjalan mengikuti jalan utama. Melakukan pengintaian seperti ini mengingatkan pada saat aku dan Dewi dalam proses menolong Wulan, aku tak pernah menduga akan mengalami hal serupa seperti ini lagi saat ini. Tak sampai 10 menit, kedua pasangan itu berhenti disebuah rumah. Aku meminta mas Tomo untuk berhenti juga dengan jarak cukup jauh dari mereka. Kulihat sekeliling daerah tempat kami bertemu. Kupikir ini bukanlah tempat yang kulihat di visionku. Tidak ada rumah bercat biru dan juga tidak ada gonggongan anjing. Disekitar rumah ada rumah-rumah warga dan tanpak begitu sepi padahal ini belumlah terlalu malam.   “Itu rumah apa ya?” tanyaku pada diriku sendiri. “Gak tau juga mas, dek.” jawab mas Tomo padahal aku sedang tidak bertanya padanya. “Mas tunggu disini ya, aku kesana sebentar aja.” aku melihat pasangan itu sudah masuk kedalam rumah itu. Aku takut terjadi sesuatu disana, jadi aku harus memastikan bahwa wanita itu akan baik-baik saja. “Mas ikut ya.” jawab mas Tomo turun dari motornya mengikutiku. “Iya mas.” kami berdua tidak melepas helm kami. Kupikir ini cara yang baik untuk menyamar, agar orang-orang tidak dapat melihat wajah kami juga. Aku dan mas Tomo berjalan berlahan-lahan sambil mengendam-endap, kalau ada yang melihat kami, pasti ia berpikir bahwa aku adalah pencuri atau orang jahat. Aku mengehenyikan langkahku saat aku dapat melihat rumah itu lebih jelas, aku dapat melihat sebuah papan kayu berdiri tegak didepan pagar rumah ini. Dipapan itu tertulis jelas bahwa disini merupakan pratek bidan. Apa mereka akan mencoba untuk mengaborsi bayi itu? Tapi tidak mungkin, aku jelas melihat kalau wanita itu bertengkar dengan pria itu dirumah mereka, bukan diklinik bidan ini. Atau, apakah mungkin masa depan sudah berubah. Mungkinkah wanita itu menyetujui kemauan pria itu. “Kenapa dek?” tanya mas Tomo. Dia mungkin menyadari bahwa aku tengah sibuk dengan pikiranku sendiri. “Gak ada mas.” bohongku. Aku masih bingung, aku tidak mungkin masuk kedalam klinik bidan ini karena aku pasti akan ketahuan dan wanita yang kutemui tadi mungkin akan menganggapku orang yang jahat yang senagaja mengikuti dia. Aku bisa dalam masalah yang lebih besar kalau hal itu terjadi. “Kita tunggu disini aja ya mas.” ucapku pada mas Tomo. “Oke dek.” mas Tomo memang pria yang sangat baik, ia tidka banyak menuntutku dan begitu menuruti permintaanku walau kutahu dipikirannya pasti sedang bergejolak dengan hal yang sedang kami lakukan kini. Beberapa motor lewat dijalanan dan pengendaranya reflek menoleh kearah kami berdua. Syukurnya aku dan mas Tomo menggunakan helm jadi wajah kami bisa kami tutupi sedikit.Tak lama kemudian, wanita dan pria itu keluar dari klinik itu. Mereka tampak berdebat didepan motor mereka, namun sayang aku tak dapat mendengar isi perdebatan mereka. “Mas…mas…ayo kita kembali kemotor.” aku menarik tangan mas Tomo dan segera bergegas menuju motor kami yang kami parkirkan didepan warung yang berjarak sekitar 20 meter dari klinik ini. Kamipun mengikuti kembali kemana motor yang membawa pasangan itu pergi. Tanpa kusangka ternyata mereka kembali kearah dagang bakso yang tadi kami lihat dan mereka ternyata belok menuju komplek perumahan yang tadi mas Tomo katakana padaku. Berarti benar perasaanku, kemungkinan dikomplek perumahan inilah aku melihat potongan masa depan itu. “Bakso…bakso.., tunggu ya.” ucap mas Tomo. Dia pasti benar-benar sudah lapar. “Nanti kita makan disana ya mas.” aku tak tega melihat mas Tomo sebenarnya, namun hal ini tidak bisa aku kerjakan dengan setengah-setengah, aku harus sampai tuntas menyelesaikan masalah ini, kalau aku masih bisa dan masih punya waktu.   Kamipun memasuko komplek perumahan yang baru pertama kali aku datangi ini. Saat memasuki komplek ini ada sebuah gazebo yang kulihat sekelompok bapak-bapak sedang berkumpul, aku takt ahu pasti namun jumlah mereka sekitar 5 atau 6 orang. Mereka tampak sedang bermain catur dan asik membahas sesuatu. Komplek ini benar-benar terlihat hidup, namun keadaan berbeda kulihat saat mulai semakin memasuki komplek ini dan memasuki sebuah gang bertuliskan gang Matahari. Nama gang dikomplek ini adalah nama-nama bunga dan sepertinya gang Matahari ini adalah gang paling baru karena terlihat banyak rumah yang belum ada lampunya dan rumahnya lebih banyak yang terlihat tidak terawat sama sekali. Saat pasangan itu berbelok ke gang Matahari, aku dan mas Tomo memutuskan untuk berhenti didepan gang saja. Aku sudah mendengar suara gonggongan anjing dari kejauahan. Kemungkinan rumahnya tidak jauh dari sini. “Mas… mas bisa bantu aku gak?” tanyaku mencoba memberanikan diri dengan keputusan yang akan kubuat. “Minta tolong apa dek?” tanya mas Tomo dengan wajah yang terlihat tegang juga. “Mas ingat gak bapak-bapak di gazebo tadi yang berkumpul itu?” tanyaku. “Iya terus?” tanya balik mas Tomo menatap kedua mataku. “Mas tolong panggil mereka sekarang ya. Tolong suruh mereka kesini.” ucapku buru-buru. Aku pikir inilah cara terbaik untuk menolong wanita itu, karena kalau aku dan mas Tomo yang melakukannya terlalu berbahaya. “Bilang aja ada yang butuh bantuan. Tolong ya mas. Cepatan.” mintaku pada mas Tomo lagi. “Tapi dek…” mas Tomo masih tak mau beranjak. Ia mungkin sudah lelah mengikuti permintaanku dari tadi yang tak jelas ujungnya ini. “Mas, waktu kita mepet. Cepat pergi sekarang atau ada yang mungkin akan meninggal.” ucapku lagi. “Meninggal? Kamu serius? Ya sudah mas kesana ya. Kamu ikut juga ayo.” Mas Tomo memintaku mengikutnya namun aku menolak dan berkata akan menunggu disini saja. Mas Tomopun menerima itu dan segara menuju sekelompok bapak-bapak itu. Saat mas Tomo pergi, aku setengah berlari menuju rumah yang kucari. Aku dapat melihat rumah bercat biru dengan tulisan 15A dan suara gonggongan anjing terdengar semakin keras. Sebuah pohon mangga besar menyambutku saat aku tiba didepan rumah yang kuduga adalah rumah dimana wanita itu akan disiksa oleh pria yang kejam itu. Aku mencoba melangkah mendekati rumah bercat putih itu dan suara gonggongan anjing semakin kudengar. Ternyata anjing itu adalah peliharaan yang dirantai dihalaman rumah ini, entah itu dimiliki oleh sang wanita atau pria aku tidak tahu. Sayup-sayup aku mendengar suara wanita yang meneriaki sesuatu. Mereka pasti sudah memulai perdebatan mereka. Aku harus mencoba menghentikan hal itu. Kuambil sebuah bati kecil dan melempar jendela diteras rumah itu. Tak ada yang keluar, dan kulempar kembali hingga 3 tiga dan pria itu dengan wajah penuh kemarahannya membuka pintu rumahnya dengan keras. “Siapa itu?” teriaknya dua kali. Aku dengaan cepat bersembunyi dibelakang tong sampah besar yang ada didpan rumah ini, didekat jalanan jadi pria itu tidak melihatku. Saat pria itu masuk, aku segera bangkir berdiri dan melempar batu kembali kejendela rumahnya sebanyak dua kali. Pria itu keluar kembali dan berteriak dengan nada penuh kemarahan. Ia melangkah kehalaman rumahnya dan mulai memeriksa sekeliling rumah. “Siapa itu, jangan main-main ya?!” teriaknya lagi. Aku berusaha setenang mungkin dan menoleh kebelakangku berharap mas Tomo cepat datang. Pria itu memasuki kembali kedalam rumahnya. Hal ganjil yang kurasakan adalah aku tidak lagi mendengar perdebatan antara kedua pasangan itu. Ya Tuhan… Apa wanita itu baik-baik saja. Aku bangkit berdiri dan akan melemparkan batu lagi, namnun kuhentikan saat kulihat mas Tomo dan para bapak-bapak sudah memasuki gang berjalan kearahku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD