PART 28 - PENANGKAPAN

1716 Words
“Ada apa ini?” tanya seorang bapak yang berdiri paling depan diantara bapak-bapak lain. “Pak, tadi saya dengar ada keributann didalam rumah itu. Sepertinya ada perkelahian dirumah itu.” ucapku dengan begitu serius kepada bapak yang aku belum tau namanya itu. “Pak Dewa, itu rumahnya mbak Linda.” jawab seorang bapak yang memiliki tumis tipis diwajahnya. “Mbak Linda yang beberapa hari yang lalu dibahas sama ibu-ibu disini itu, Pak.” ujar seorang bapak yang lain. “Iya pak, yang baru pindah kesini itu, baru sekitar beberapa minggu katanya belum sebulan.” tambah bapak lainnya. Aku baru tahu ternyata nama mbak itu adalah mbak Linda. “Maaf pak, aku bukannya bermaksud tidak sopan. Tapi apakah bisa bapak memastikan kalau mbak Linda baik-baik saja? Aku benar-benar khawatir karena tadi kudnegar perdebtatan didalam cukup keras.” kutatap wajah satu persatu bapak-bapak didepanku ini. Mereka jelas terlihat seperti bingung dan mungkin tak percaya dengan ucapanku. “Tidak untungnya buatku kalau sampai mengatakan kebohongan pak, aku hanya benar-benar khawatir dengan keadaan mbak Linda.” ucapku lagi dengan seikit keras. “Baiklah, mari kita periksa sama-sama.” bapak yang tadi disebut dengan nama pak Dewa itu akhirnya mau mengikuti permohonannku. Merekapun memasuki halaman diikuti olehku dan mas Tomo dan suara gonggongan anjingpun menjadi keras kembali. “Permisi.” pak Dewa menggedor pintu rumah itu beberapa kali. “Permisi.” teriak bapak lainnya. Seorang pria membukankan pintu dengan wajahnya yang awalnya terlihat marah namun saat melihat kehadiran kami berubah bingung. “Apa apa?” tanyanya. “Mohon maaf sebelumnya kalau kami mengganggu. Tadi kami mendengar keribuatan dari rumah ini, apa semuanya baik-baik saja?” tanya pak Dewa dengan nada suara yang serius namun masih begitu sopan. “Semua baik-baik saja ya. Tidak ada yang ribut dan berdebat disini.” tingkat pria itu mulai berubah seperti salah tingkah. Ia jelas sedang menutupi sesuatu. “Tapi tadi salah satu dari kami mendengar dengan jelas bahwa ada keributan dari dalam rumah ini.” ucap pak Dewa lagi. “Kalian pasti salah dengar ya. Itu tadi suara TV yang dinyalahkan cukup keras, jadi mungkin kalian menduga itu adalah berdebatan atau pertengkaranku dengan Linda. Padahal sebenaranya tidak ada yang terjadi dengan kami.” pria itu kini tampak lebih tenang. Ia bernar-benar berbakat menjadi penjahat dan penipu. “Kalau begitu apa aku bisa melihat mbak Linda sebentar?” aku sudah tak tahan lagi ingin memastikan keadaan mbak Linda baik-baik saja. “Ah, Linda? Dia sudah tidur?” ucap pria itu sambil menoleh kedalam rumah. “Kamu bisa menemuinya besok saja ya.” tambahnya. “Apakah ada lagi yang bisa kubantu?” tanyanya pada kami semua. Aku sudah kehabisan akalku karena rencananya tidak berjalan sesuai rencanaku. “Jadi disini benar-benar tidak ada keributankannya? Kalau tidak ada kami akan pergi dan minta maaf sudah mengganggu.” ucap pak Dewa. Sepertinya ia dan bapak yang lain akan segera pergi meninggalkan rumah ini, namun aku tak bisa membiarkannya. “Tunggu, apa aku bisa menumpang kekamar mandi sebentar?” tanyaku tiba-tiba. “Maaf kamar mandinya sedang rusak ya. Jadi bukannya aku tidak mengijinkan namun karena memang sedang rusak.” ujar pria itu. Kulirik pak Dewa dan bapak-bapak lain. Ini jelas adalah hal yanh mencurigakan. Kuharap mereka menyadari itu. “Karena mbak Lindah baru pindah kesini dengan mas nya. Apakah bisa kita bebricang-bincang didalam sebentar. Sekalian bentuk pendekatan kami antar tetangga di komplek ini.” ujar pak Dewa. “Boleh, namun karena sudah malam, mungkin bisa lain kali ya. Linda juga sudah tidur, tidak enak kalau kita berbicara dan nantiinya akan membangunkan dia. Pria ini benar-benar layak untuk mendapatkan penghargaan, Ia begitu lihai menutupi kejahatannya. “Apa ada lagi yang dibutuhkan?” tanya pria itu. “Tidak ada, kami memohon maaf sudah menganggu.” ujar pak Dewa dengan sopannya. “Tidak apa-apa.” jawab pria itu. Ia masuk kedalam rumahnya dan saat menutup pintu aku mendengar suara wanita yang meminta tolong dari dalam. “Tolong…” rintihan itu terdengar lagi. “Tunggu dulu.” ujar seorang bapak. Ia sepertinya mendengar apa yang kudengar. “Tadi ada suara minta tolong dari dalam.” ujar bapak itu. “Iya, aku juga dengar suara itu.” tambahku. Pria dihadapan kami ini kini terlihat gelisah, ia menatap kami dan tanpak berpikir untuk mengucapkan alasan berikutnya. “Tolong ijinkan kami melihat kedalam.” ujar pak Dewa. “Kalian tidak boleh masuk. Ini bukan rumah kalian. Saya bisa laporkan kalin kalau masuk rumah orang tanpa ijin ya.” ia berdiri didepan pintu dan menghalangi kami untuk masuk kedalam. “Maaf pak, tapi kami harus memeriksa kedalam.” ujar pak Dewa lagi yang dudukung oleh bapak-bapak lainnya. Karena pria itu masih melarang, akhirnya seorang bapak memaksa menerobos masuk kedalam rumah. Pria itu memegang kerah baju bapak yang akan masuk hingga posisi mereka seperti orang yang akan berkelahi. “Eh…eh…” dua orang bapak memegang kedua tangan pria itu, namun karena pria it uterus memberontak, akhirnya tubuhnya ditahan oleh tiga orang bapak-bapak. Pak Dewa, aku, mas Tomo dan yang lainnya memasuki rumah ini.  Kami begitu terkejut saat melihat dilantai sudah ada wanita yang tampak lemas dengan darah yang mengalir dikepalanya. Wajah kirinya sudah tampak lebam kemerahan, pria itu sudah menyisksa wanita ini dengan begitu kejamnya. “Astaga! Cepat angkat!” ujar pak Dewa bersamaan dengan bapak lainnya. Para bapak yang melihat mbak Linda sudah tampak tidak berdaya begitu terkejut ,begitupun dneganku dan mas Tomo. Akhirnya mbak Linda yang kurasa masih hidup ini diangkat keatas sofa oleh pak Dewa dibantu bapak lainnya. “Cepat ambil mobil, kita harus segera bawa dia kerumah sakit.” ujar pak Dewa sambil menatap cemas pada mbak Linda. “Pak Nyoman, tolong telepon polisi.”tambah pak Dewa. “Mbak…” aku mencoba memastikan keadaan mbak Linda. Aku merasakan denyut nadinya masih ada saat kumemegang pergelangan tangannya. Saat kumenyentuhnya ia membuka matanya sedikit dan menatapku dengan mata yang terlihat begitu merah dan berantakan. “Makasi..” ucapnya lirih padaku, begitu pelan hingga nyaris tak kudengar. “Pegang dia pak. Jangan sampai dia kabur.” teriak bapak lainnya dari teras. “Mas, kita tunggu disini dulu sampai mbak Linda dibawa kerumah sakit ya.” ucapku pada mas Tomo yang wajahnya terlihat sedikit pucat. Ia pasti terkejut dengan hal yang dilihatnya saat ini. “I…Iya..Iya dek.” jawab mas Tomo dengan tatapan yang masih melihat mbak Linda diatas sofa. Tak lama kemudia sebuah mobil hitam sudah tiba didepan rumah. Seorang bapak keluar mobil dan segera membukakan pintu mobil. Pak Dewa yang dibantu seorang bapak lainnya segera mengangkat mbak Dewi menuju kedalam mobil. “Lepaskan!” teriak pria yang sudah menyiksa mbak Dewa itu. Tangan kanannya dipegang oleh seorang bapak, tangan kirinya juga begitu. Ia dipeluk oleh seorang bapak lainnya dari belakang yang tubuhnya cukup besar dengan rambut yang tampak begitu lebat. Bapak lainnya berdiri didepannya dan memeastikan pria itu benar-benar tisak bisa kabur. “Sudah ditelepon polisinya, pak?” tanya pak Dewa pada bapak yang tadi kudengar bernama pak Nyoman saat ia baru saja melepas mbak Dewa kedalam mobil dibangku belakang. “Sudah pak, mungkin sebentar lagi akan sampai.” “Bagus kalau begitu, aku akan antarkan mbak Dewi kerumah sakit bersama pak Darmawan. Oh iya, mbak dan mas nya mau ikut?” pak Dewa menatap kepadaku dan mas Tomo yang mengikuti mereka sampai mobil. “Tidak pak, kami tidak ikut. Aku cuma memohon agar bapak-bapak tolong jaga mbak Linda.” ucapku. Aku tidak bisa masuk lebih dalam kedalam persoalan ini. Masalah ini sudah selesai, aku bisa lebih tenang sekarang, mbak Linda kuharap bisa membaik keadaanya. “Oh ya pak, saya bisa minta nomor telepon pak Dewa?” tanyaku sebelum pak Dewa masuk kedalam mobil. Aku meminta mas Tomo untuk menyimpan nomor pak Dewa dihandphonenya agar nanti mungkin aku bisa menhghubunginya untuk memastikan keadaan mbak Linda, itupun kalau mas Tomo mengijinkan. Mobil yang membawa mbak Lindapun pergi. Aku benar-benar lega melihat hal ini. Tak lama kemudian, rumah ini mulai dipenuhi oleh warga setempat yang mulai berdatangan dan memenuhi rumah ini. Mereka pasti sudah mendengar kabar mengenai masalah yang terjadi dirumah ini. “Mas, kita pulang aja yuk. Sudah selesai juga.” ucapku pada mas Tomo. “Tunggu dulu dek, mas mau lihat pria jahat itu ditangkap polisi.” aku tak menduga mas Tomo akan mengatakan hal itu. Kukira ia ingin segera pergi meninggalkan tempat ini dan segera mencari makanan karena sebelumnya ia sudah lapar. “Oke mas.” jawabku sambil tersenyum melihat mas Tomo yang nampak begitu fokus memperhatikan pria jahat itu. “Ini benar katanya wanita yang tinggal disini disiksa?” tanya seorang ibu tiba-tiba padaku. Aku tidak mengenal ibu itu namun besar dugaan dia adalah warga dari komplek perumahan ini. “Iya bu.” jawabku singkat. “Itu lo bu, dia yang sering main kesini kan? Aku sering lihat dia lewat depan tokoku.” tambah seorang ibu lainnya sambil menunjuk kearah para bapak-bapak yang sedang menahan pria jahat itu. “Iya benar! Aku juga sering lihat dia kesini sejak mbak Linda itu pindah kesini, gak nyangka ternyata dia orang jahat ya.” tambah seorang wanita lainnya yang ikut berkumpul didekatku. “ Ini mereka sepertinya masih pacaran kan. Baru pacarana aja sudah begini apalagi menikah nanti. Aduh, kita harus jaga anak-anak gadis kita dengan benar.” seorang wanita yang terlihat paling berbeda penampilannya diantara ibu-ibu lainnya ikut berbicara bersam kami. Ibu ini menggerai rambutnya yang terlihat sedikit pirang, ia mungkin sudah mewaranai rambutnya, Penampilannya terlihat modern, ia menggunakan celana legging hitam dan kaos yang cukup ketat, sangat berbeda dibandingkan ibu-ibu lain yang kebanyakan menggunakan daster dan rok panjang “Oh ya, mbak ini siapa ya? Aku baru lihat disini?” ujar ibu-ibu yang terlihat modern itu. “Aku? Aku temannya mbak Linda.” jawabku singkat. “Oh begitu.” para ibu-ibu ini kembali membicarakan perihal mbak Linda. Aku mundur sedikit agar tidak  ikut-ikutan memabahas hal yang menurutku tidak terlalu penting ini, karena yang terpenting saat ini adalah mbak Linda dan bayi dikandungannya bisa selamat.  Tak lama kemudian, kami mendengar suara sirine mobil polisi yang suaranya terdengar semakin dekat kearah kami. “Sudah datang dek.” ujar mas Tomo. Ia menuju jalanan dan tampak bersemangat melihat 2 mobil polisi. Aku mengikuti mas Tomo. Kami memilih menyingkir kepinggir jalan agar memudahkan para polisi untuk lewat dan menangkap pria jahat itu. Kedua tangan pria itu diborgol dan bapak-bapak yang menahannya diminta untuk ikut datang kekantor polisi untuk memberikan kesaksian dan informasi mengenai tindakan criminal yang sudah dilakukan oleh pria yang sudah ditangkap itu. Tak membutuhkan banyak waktu untuk para polisi itu mengerjalan tugasnya. Sebuah mobil polisi pergi membawa penjahat dan mobil lainnya masih tinggal disana. Mereka memmasang garis polisi didepan teras dan kulihat sedang memeriksa bagian dalma rumah. “Sudah mas. Kita pergi makan sekarang?” tanyanyaku pada mas Tomo. Yuk dek, gak nyangka mas akan lihat hal seperti ini secara langsung seperti hari ini.” ucap mas Tomo sambil terus memperhatikan para polisi yang masih ada. “Iya mas.” jawabku. “Yuk mas.” aku memanggil mas Tomo untuk segera meninggalkan rumah ini dan menuju motor vespanya yang begitu berjasa hari ini. Aku tak bisa membayangakan bagaimana aku bisa menolong mbak Linda kalau bukan karena bantuan mas Tomo dan motor vespanya ini. “Dek, kita makan diagang bakso yang tadi kita lewati ya terus nanti disana kamu harus certain semua ke mas ya. Bagaimana ceritanya kamu bisa tahu kalau ada ornag yang dalam keadaan berbahaya seperti yang terjadi pada mbak Linda itu.” ucap mas Tomo sambil menggunakan helm hitamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD