“Ciee…cieee…cieee yang baru pulang kencan.” entah sudah berapa kali Dewi mengodaku sejak kupulang dari petualangan singkatku bersama mas Tomo.
Aku jadi mengingat bagaimana ketika makan bakso tadi mas Tomo terus menerus menagih janjinya padaku agar aku mau menceritakan mengenai bagaimana aku bisa mengenal mbak Linda dan bisa mengetahui bahwa dia dalam bahaya. Itu bukan hal yang mudah karena aku harus membuat cerita yang meyakainkan agar mas Tomo tidak mengetahui perihal kemampuanku melihat masa depan. Aku mengatakannya bahwa aku tak sengaja mendengar keributan mereka saat menonton film didalam biskop dan berbicara dengan mbak Linda di toilet. Syukurnya mas Tomo cukup dengan jawabanku yang singkat itu dan tidak menanyakan hal lainnya.
“Bagaimana kencannya, Mal?” tanya Dewi lagi.
Aku mengusap rambutku yang masih basah karena baru selesai mandi dan keramas. Aku duduk disebelah Dewi diatas ranjang dan menatap Dewi yang sedang membaca Novel N.H Dini milikku yang dibelikan Ryuzaki untukku. Aku belum sempat membacanya, namun sepupuku ini sudah membaca setengah halamannya.
“Bagus ceritanya, Wi?” tanyaku saa melihat wajah Dewi yang tampak begitu menikmati bacaannya.
“Jangan ditanya, Mal. Nyesel aku gak beli Novel ini dari dulu, padahal aku sering lihat novel ini di toko buku, tapi karena aku gak terlalu kenal penulisnya terus gambar sampul depannya juga gak menarik aku lebih milih untuk beli novel lainnya.” ujar Dewi.
“Oh ya, bagaimana kencan sama mas Tomo?” Dewi masih terus menanyakan hal yang sama padaku.
“Aku cuma nonton terus makan bakso sama mas Tomo, Wi. Kita gak kencan.” jawabku masih sambil mengeringkan rambutku.
“Cowok sama cewek yang gak ada ikatan keluarga pergi jalan keluar berdua, itu kencan, Mal. KENCAN.” balas Dewi. Ia bahkan mempertekan kata akhirnya soal kencan.
“Aku kira kencan itu hanya untuk orang yang sudah bersama aja Wi, kaya sudah pacarana atau menikah gitu. Kalau Cuma pergi sama teman masa disebut kencan juga. ”
“Ya gak gitu juga ,Mal. yang kamu lakukan sama mas Tomo itu hitungannya kencan. Aduh aku tuh ya paling capek bahas-bahas soal beginian sama kamu.” Dewi meletakan novelnya lalu memukulkan bantal kepalanya kelenganku.
“Ya sudah, gak usah bahas-bahas hal seperti itu lagi kalau begitu, Wi. Supaya kamu gak capek.” aku membalas ucapan Dewi sambil bangkit berdiri mencoba menghindari serangan bantal darinya.
“Mau kemana, Mal? Belum juga selesai certain soal kencannya.” teriak Dewi saat aku bergegas keluar kamar.
“Mau jemur handuk, Wi.” jawabku dengan cepat setengah berlari keluar kamar.
Aku tak bisa menahan tawaku menghadapi tingkat sepupuku itu. Dia benar-benar bisa membuat suasana menjadi begitu menyenangkan walau dengan omelannya.
“Kenapa senyum-senyum sendiri, Mal?” kudengar suara kak Andi yang ternyata sedang duduk santai di sofa diruang tengah. Kulihat sekilas acara TV yang sedang kak Andi tonton, ia ternyata sedang menonton pertandingan sepak bola. Acara TV yang bisa mmebuatnya betah duduk berjam-jam selain berita.
“Tadi aku dan Dewi sedang membahas hal yang lucu.” jawabku. Aku berjala mendekati sofa dan duduk disebalah kak Andi. Kupikir nanti saja aku menjemur handukku toh rambutku belum kering juga.
“Paman gak ikut nonton ya kak? Biasanya dia paling suka nonton sepak bola begini.”
“Bapak sudah tidur, capek kayanya.” jawab kak Andi. Ia memperhatikan rambutku yang pasti terlihat berantakan dan belum benar-benar kering.
“Oh ya,Mal. Kakak sebenarnya mau mengatakan hal ini dari kemarin-kemarin tapi karena belum sempat dan belum ketemu waktu yang pas, jadi kak Andi belum sempat mengatakannya.” sudah cukup lama aku mengenal kak Andi, namun ini baru pertama kalinya aku mendengar nada serius dari ucapannya padaku.
"Kakak rasa ini waktu yang pas." tambah kak Andi lagi masih dengan ekpresi yang sangat tak biasa ini.
“Ada apa, kak? Mau bilang apa?” tanyaku dengan tak kalah serius juga.
“Begini, kak Andi bukannya mau atur-atur Mala ya, karena kak Andi sadar Mala juga sudah cukup besar juga. Tapi kalau boleh jujur, kakak kurang suka kalau Mala dekat-dekat dengan cowok Jepang itu.” ucap kak Andi dengan begitu lancarnya, tak ada rasa canggung dari nada suaranya. Sepertinya ia sudah cukup matang menyiapkan kalimat ini.
“Oh… Kalau aku boleh tau, kenapa kak Andi tidak suka kalau aku dekat dengannya? Apa karena mas Tomo?” mungkin ucapanku ini memberi kesan untuk kak Andi bahwa dia adalah orang yang mengharapkanku untuk berhubungan dengan mas Tomo. Aku berharap dia tak tersinggung dengan ucapanku.
“Bukan, Mal. Bukan karena Tomo. Kak Andi Cuma khawatir aja sama kamu.” jawab mas Tomo dengan wajah yang lebih serius.
“Kenapa bisa khawatir, kak? Keadaanku baik-baik saja kan.” aku tak paham dengan ucapan kak Andi padaku ini.
“Begini Mal. Kak Andi pergaulannya cukup luas disini, apalagi didaerah Kuta, dari kecil kakak sudah ada dilingkungan ini. Kak Andi kenal cukup banyak orang juga disini.” ucap kak Andi. Kalimatnya terdengar menggantung ditelingaku. Aku tak menjawab apapun dan menunggu apa yang ia akan katakan selanjutnya.
“Kak Andi itu dapat informasi kalau Ryuzaki itu banyak ceweknya disini. Dia suka main-main sama cewek, Mal.” lanjut kak Andi. Ia menatap kedua mataku, lalu melanjutkan ucapannya lagi. “Kak Andi takut kamu nantinya cuma dipermainkan saja sama dia.”
“Terima kasih, kak. Aku paham kak Andi begitu peduli padaku hingga tak mau aku disakiti oleh orang lain, tapi aku dan Ryuzaki hanya berteman saja, tidak lebih. Jadi kak Andi tidak perlu khawatir akan apapun.” aku mencoba mengatakan hal yang sesungguhnya pada kak Andi sekaligus mengucapkan hal yang bisa membuatnya lebih tenang dan tak perlu cemas memikirkan keadaanku. Ryuzaki juga bukanlah tipe pria yang akan menyukai wanita sepertiku, aku sudah melihat sendiri seperti apa wanita-wanita yang mendekatinya dan ia dekati. Mereka semua begitu cantik, sangat mengerti fasion dan memiliki tubuh indah seperti model. Wanita-wanita itu bagaikan ratu jika dibandingkan denganku yang seperti babu, aku jelas sangat jauh dari mereka.
“Dek, kakak ini cowok. Kakak bisa lihat bagaimana sikap cowok kalau sedang tertarik pada cewek. Ryuzaki itu memperlakukan kamu lebih dari sekedar teman saja. Percaya sama kak Andi.”
“Maksud kak Andi, Ryuzaki menyukaiku? Cewek sepertiku?” aku tak percaya dengan ucapan kak Andi dan tak merasa tak cukup percaya diri untuk menjadi sosok yang disukai Ryuzaki. Bagaimana mungkin Ryuzaki bisa tertarik denga wanita sepertiku. Itu salah satu hal paling mustahil yang pernah kudengar.
“Iya, Mal. Itu keliatan jelas kok. Kamunya aja yang kurang peka, atau mungkin kamu yang masih terlalu muda sampai tidak bisa membedakan ketika pria tertarik denganmu atau hanya sekedar menganggapmu sebagai teman.” kak Andi mengeraskan suaranya.
“Pelanin suaranya kak, nanti paman sama bibi bangun.” kulirk jam di dinding yang sudah menunjukan pukul 10.23 menit. Sudah cukup malam dan sudah masuk jam tidurku sebenarnya.
“Iya, jadi begitu Mal. Percaya sama ucapan kak Andi. Cara Ryuzaki liatin kamu, perhatian yang ia berikan dan bagaimana perlakuannya untukmu itu beda, Mal.” kak Andi memelankan suaranya.
“Bagaimana kalau itu memang budaya Jepang, kak? Mungkin di Jepang itu hal yang normal.” sanggahku pada ucapan kak Andi. Aku bukannya bermaksud tidak sopan dengan tidak menerima ucapan kak Andi, aku hanya berpikir mungkin karena kami berasal dari negara yang berbeda jadi budaya kami berbeda, dan mungkin memang begitulah normalnya pria memperlakukan wanita di Jepang.
“Gak Mal, bukan soal budaya. Pria dari negara manapun akan memiliki cara yang sama saat memperlakukan wanita yang membuatnya tertarik. Pria itu naluri alaminya seperti pemburu, Mal. Saat pria menyukai atau tertarik pada seorang wanita, ia akan berusaha mendapatkan wanita itu. Sangat simple.” jelas kak Andi. Kini dia sudah membawa topik mengenai pemburu, membuat pikiranku semakin bercabang-cabang.
“Begitu ya kak. Ehm….”aku mungkin harus mempercayai ucapan kak Andi kalau Ryuzaki menyukaiku, walau dalam hatiku aku masih tidak mempercayai hal itu.
“Iya, Mal. Kak Andi gak mau kamu dipermainkan oleh pria-pria kurang ajar diluar sana, yang hanya memanfaatkan wanita-wanita polos sepertimu.” ucap kak Andi lagi.
“Terima kasih kak. Aku akan lebih hati-hati dengan Ryuzaki.” balasku pada kak Andi. Aku harap ucapanku ini bisa membuat suasana kami menjadi lebih cair, tidak seserius ini, karena aku benar-benar tidak nyaman harus berbicara dengan kak Andi dengan begitu serius seperti saat ini.
“Iya bagus, begitu lebih baik. Ya udah kamu tidur sana, sudah jam segini.” kak Andi memberikan handukku yang ada diatas sofa.
“Iya kak.” aku mengambil handuk itu dan segara menjemurnya diteras samping rumah didekat kamar mandi lalu kembali kekamar untuk bersiap beranjak tidur.
Saat masuk kembali kekamar, kulihat Dewi masoh sedang membaca Novelnya. “Kak Andi bahas apa sama kamu, Mal?” tanta Dewi tiba-tiba. Rasa penasaran gadis satu ini memang tidak pernah berkurang sedikitpun.
“Soal Ryuzaki.” jawabku dengan jujur.
“Ryuzaki kenapa? Kak Andi gak kasi kamu berhubungan sama Ryuzaki ya?” tanya Dewi lagi, tatapannya tidak terlepas dari novel yang dibacanya.
“Mungkin lebih tepatnya, kak Andi mau aku lebih hati-hati padanya.” kusisir rambutku yang masih setengah basah ini. Aku harusnya tidak keramas saja, karena tidak baik untuk kesehatan jika tidur dalam keadaan rambut yang masih basah, namun tadi saat tiba dirumah aku tak bisa tahan dengan keadaanku rambutku yang begitu lengket ini, jadilah aku mandi dan keramas malam-malam.
“Oh… Aku tadi lihat kalian bicara serius, namun aku tak bisa dengar apa yang sedang kalian berdua bicarakan, ternyata soal Ryuzaki.” ucap Dewi dengan santai. Ia tidak membahas apapun lagi, kukira ia akan memberikan pendapat perihal nasehat kak Andi padaku padahal aku ingin mendengar pendapatnya kali ini.
“Kalau menurutmu bagaimana, Wi?” tanyaku.
Dewi meletakan novel ditangannya, lalu menjawab pertanyaanku. “Soal Ryuzaki? Jujur, aku awalnya tidak percaya dengannya ya seperti yang kak Andi rasakan. Namun setelah melihatnya dirumah sakit menunggumu begitu tekun, aku sedikit merubah pikiranku terhadapnya. Mungkin dia bukanlah pria seburuk itu.”
Aku hanya mengangguk beberap kali mendengar ucapannya. Aku ingat bagaimana Dewi mengatakan bahwa Ryuzaki itu adalah cowok Playboy jadi aku harus hati-hati padanya, namun kini pandangannya itu sudah sedikit berubah.
“Tapi, mungkin masih bisa berubah ya, kita lihat saja nanti bagaimana sikapnya, aku butuh lebih banyak waktu untuk bisa menilai dia orang seperti apa. Setelah itu baru aku akan memutuskan dia itu pria yang baik atau tidak." saat berbicara dengan serius seperti ini, aku merasa seperti melihat versi wanita dari kak Andi, mereka berdua terlihat begitu mirip.
“Iya Wi. Terima kasih ya.” jawabku padanya.
Dewi benar, butuh waktu untuk menilai seseorang. Aku baru mengenal Ryuzaki dan belum cukup sering bertemu dan berbicara dengannya. Jadi kurasa terlalu cepat untuk menyimpulkan seperti apa Ryuzaki itu. Apakah dia pria yang benar-benar baik atau dia hanya pria yang suka mempermainkan perempuan seperti yang kak Andi katakan padaku. Aku sebenarnya tidak terlalu memusingkan hal itu saat ini karena walau aku merasakan sesuatu padanya, aku hanya memandang Ryuzaki sebagai temanku saja, tidak lebih.